Mahasiswa IQTAF Belajar Metode Pembelajaran Al-Qur’an di Ponpes Kuningan Jawa Barat

  • 0

Mahasiswa IQTAF Belajar Metode Pembelajaran Al-Qur’an di Ponpes Kuningan Jawa Barat

Category : Berita

Kuningan, Jawa Barat. IQTAF News. Sekitar 120 Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir berkunjung ke Pondok Pesantren Ash-Shidqu dan Pondok Pesantren Husnul Khotimah di Kuningan Jawa Barat (06/12/2016). Kegiatan ini merupakan Praktikum Pengalaman Lapangan (PPL) yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain mahasiswa dari Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir juga dari Prodi Studi Agama-agama dan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.

IMG_3978Dalam kegiatan ini, mahasiswa diberi tugas oleh dosen pendamping untuk mencatat informasi dan pengetahuan yang terkait tentang: 1) Kitab Tafsir dan Kitab Hadis apa yang dipakai dalam pengkajian kedua Pesantren tersebut?; 2) Bagaimana metode pembelajarannya?; dan 3) Bagaimana toleransi masyarakat Cigugur dan dikuatkan dengan dalil al-Qur’an dan hadis.

Pertama, Kitab-kitab tafsir yang digunakan dalam pengkajian di Pesantren As-Shidqu seperti Tafsir Jalalain, Tafsir al-Maraghi, Tafsir al-Munir, Tafsir al-Razi, Tafsir al-Thabari dan lain-lain. Sedangkan kitab-kitab hadis yang dipakai adalah Kutub al-Tis’ah dan kitab-kitab pendukung lainnya seperti Subulus Salam, Fath al-Bari, Jami’ al-Ushul dan lain-lain.[1] Tidak terlalu berbeda, Pondok Pesantren Husnul Khotimah juga menggunakan berbagai macam kitab-kitab tafsir, hanya saja dikumpulkan dalam bentuk satu kitab yang dicetak untuk dikaji. Adapun kitab hadis yang dipelajari adalah ‘Araba’in al-Nawawi.[2]

Kedua, Habib Anis Assegaf menjelaskan metode pembelajaran yang digunakan di Ponpes As-Shidqu [As-Shidqot_untuk pondok putri][3] mengacu pada metode pesantren Darul Mustafa[4] di Yaman dengan 3 aspek penekanan yaitu: a) Masudul ‘Ilmi [agar ilmunya bertambah]; b) Tazkiyah, maksudnya ilmu tasawuf, wirid, zikir [mensucikan hati]; dan c) Taghogatu Da’wah, maksudnya adalah agar menjadi Da’i yang berkualitas. Contohnya, di Pesantren ini, diterapkan peraturan tidak boleh terlambat untuk berjama’ah (masbuk), apabila terlambat maka santri dihukum untuk melaksanakan shalat taubat.[5] Ketiga penekanan metode ini lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas dengan tujuan merubah yang baik menjadi lebih baik.[6]

Sedangkan metode pembelajaran di Pondok Pesantren Husnul Khotimah memakai metode modern mecontoh di Pesantren Gontor Jawa Timur dengan menerapkan Bahasa Inggris dan Arab dalam interaksi keseharian,[7] baik diskusi, ceramah dan lain-lain dalam proses pembelajaran di kelas.[8] Mata pelajaran yang diajarkan juga cukup banyak di antaranya, al-Qur’an, al-Hadis, Tafsir al-Qur’an, Ulum al-Qur’an, Ulum al-Hadis, Fiqh, Ushul Fiqh, Aqidah Akhlak, Shirah Nabawiyah, Fiqh Shiroh. Dalam bidang bahasa, di antaranya Bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Balaghah, Qawaid, Nahwu-Sharaf, dan Khaf/Imla’. Sedangkan bidang science dan social di antaranya Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Antropologi, Tata Negara, Komputer. Dan Ekstrakurikulernya dibagi beberapa bidang yaitu Bela Diri, Seni, dan Olahraga.[9]

Ketiga, Toleransi Masyarakat Desa Cisantana Kec. Cigugur Kab. Kuningan Jawa Barat. Asal mula terdapat banyak agama di wilayah ini adalah pada tahun 1965 ada sebuah agama yang diyakini mayoritas masyarakat, yaitu Agama Djawa Sunda (ADS). Ketika ada peraturan dari Negara yang mewajibkan penduduk Indonesia untuk memeluk salah satu dari lima agama yang disahkan oleh Negara, maka mayoritas masyarakat ADS beralih ke Agama Katolik dan ada pula yang beralih ke agama-agama lain.[10] Hingga saat ini perkembangan agama-agama tersebut masih terus beranak-pinak dari keturunan-keturunan yang dilahirkan secara turun-temurun di Desa Cisantana tersebut. Kondisi masyarakat pun terbilang harmonis menurut laporan Kepala Desa Cisantana (nama tidak diketahui). Menurutnya, desa tersebut belum pernah terjadi keributan dan konflik antar agama, karena hubungan kekeluargaan yang masih erat antar pemeluk agama, satu keluarga dengan nasab Ayah dan Ibu bisa saja memiliki agama yang beragam.[11]

Keharmonisan beragama Desa Cisantana tercermin dalam QS. Al-Kafirun [109]: 6;

َلَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Sosio-kultur tak ada sekat baik secara komunikasi, perkembangan ekonomi harus tetap bekerjasama dengan baik. Sementara dalam agama tak ada campur baur yang berarti dibatasi dengan toleransi.[12]

 

 

 

__________________________

[1] Syahrul Pebriandi, “Laporan Hasil Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) ke Pondok Pesantren As-Shidqu, Pondok Pesantren Husnul Khotimah dan Kampung Cigugur Kuningan”, 06 Desember 2016.

[2] Tria Meldiana, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir”

[3] Pada tahun 2015 pesantren ini meraih Juara 2 sebagai Pondok Pesantren Terbersih se-Jawa Barat.

[4] Tria Meldiana, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir”

[5] Anzah Muhimmatul Iliyyah, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin”, 06 Desember 2016.

[6] Imas Maulida, “Laporan PPL Kunjungan Pondok Pesantren As-Shidqu dan Husnul Khatimah” (Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016)

[7] Evi Latifah, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Kuningan”.

[8] Mega Nur Fadhila, “Tugas PPL ke Kuningan”.

[9] Tria Meldiana, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir”

[10] Khanifatur Rahma, “Laporan Kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke Kuningan Jawa Barat”, 2016.

[11] Penida Nur Apriani, “Laporan Praktek Pengalaman Lapangan ke Kuningan Jawa Barat”, (Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016)

[12] Penida Nur Apriani, “Laporan Praktek Pengalaman Lapangan ke Kuningan Jawa Barat”, (Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016)