Keragaman dalam Penafsiran Al-Qur’an

  • 0

Keragaman dalam Penafsiran Al-Qur’an

Category : Artikel

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Pada hari Rabu, 21 September 2016, Seri Seminar Nasional bertajuk keragaman dalam menafsirkan al-Qur’an dilangsungkan di Teater Room Prof. Dr. Abdurrahman Parto Sentono Lt. 4 Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat. Seminar ini berlangsung pukul 09.00-13.00 WIB membahas tema “Pendekatan Interdisipliner dalam Kajian Al-Qur’an” yang menghadirkan Prof. Dr. Rd. Mulyadhi Kartanegara, MA (Pakar Filsafat), Ahmad Rafiq, MA, Ph.D (Pakar Antropologi) Eva Nugraha, MA (Pakar Tafsir dan Ilmu al-Qur’an) sebagai pemateri dan Moh. Anwar Syarifuddin, MA sebagai moderator. Sementara yang hadir dalam seminar ini diperkirakan sekitar 273 orang yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa, PTAIN, PTAI, Aktivis dan Penggiat Kajian Tafsir di sekitar UIN Jakarta.

Pada sesi pertama, bertindak sebagai moderator adalah Moh. Anwar Syarifuddin, MA dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta sebagai sesi pembuka, menyajikan diskusi berbasis teoritik di balik kajian Qur’anic Studies. Pembicara Pertama adalah Prof. Dr. Rd. Mulyadhi Kartanegara, MA Guru Besar Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Dalam presentasinya yang berjudul “Epistemologi Qur’ani: Asas Qur’ani Bagi Sains”. Mulyadhi memaparkan pembahasan epistemologi pada saat ini sangat diperlukan kerana sedikitnya maklumat mengenai hal itu, apalagi, apabila kita membahas mengenai epistemologi Islam. Mulyadhi telah menulis tentang epistemologi Islam dalam sebuah buku yang bertajuk Menyibak Tirai kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam (Mizan 2003), di mana diuraikan mengenai dengan tajuk-tajuk utama epistemologi Islam, berdasar pada bahan-bahan dan maklumat yang diperolehnya dalam karya-karya falsafah dan ilmiah Islam. Dengan demikian, yang perlu dipahami dari tanda yakni pengetahuan yang tidak bisa diserap oleh indera, tapi oleh hati manusia bagi yang dikehendaki-Nya. Allah memberi tiga sistem pada manusia yaitu indera, penalaran, dan fungsi hati. Dari tiga sisitem ini manusia perlu mengolah kepekaan hati. Maka dari itu, mempelajari, memahami, mendalami al-Qur’an sebagai cara untuk mendekati Allah.

Ahmad Rafiq, MA. Ph.D, dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi pembicara kedua dengan presentasi berjudul “Antropologi al-Qur’an[?]: Transmisi dan Transformasi dalam Resepsi Al-Qur’an”. Pertama, sebagai sebuah pendekatan, antropologi pada dasarnya interdisipliner. Membaca al-Qur’an dengan pendekatan antropologi menempatkan al-Qur’an sebagai obyek kajian interdisipliner dalam keseluruhan fenomena kemanusiaan sebagai teks yang berada dalam ruang sejarah sekaligus bernilai teologis. Memahamani al-Qur’an sebagai sebuah epistemologis. Dimensi teoligis dalam al-Qur’an berbeda dengan dimensi teologis dalam Injil, karena Injil ada perubahan teks dari aslinya. Contohnya, al-Fatihah tidak hanya dipakai untuk praktek sebagai bacaan, akan tetapi ada sistem pengetahuan yang terbentuk, karena dimensi praktek sangat interdisipliner al-Qur’an. Kedua, kajian Resepsi al-Qur’an berada pada ranah Fungsi, baik informatif maupun performatif. Resepsi secara generik berarti bagaimana orang menerima atau bereaksi terhadap sesuatu. Resepsi al-Quran menjadi obyek pendekatan Antropologi dengan dimensi-dimensi yang holitistik, unversalistik, etnografik, komparatif, kontekstual, kritis, historis, dan dialogis.

“Resepsi al-Quran adalah uraian bagaimana orang menerima dan bereaksi terhadap al-Qur’an dengan cara memaknai, merespon, memanfaatkan, atau menggunakannya baik sebagai teks yang memuat susunan sintaksis atau sebagai Mushaf yang memiliki maknanya sendiri atau sekumpulan lepas bunyi atau kata-kata yang memiliki makna tertentu”

Eva Nugraha, MA, dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta menjadi pembicara terakhir dengan presentasi berjudul “Sosiologi al-Qur’an: Sebuah Pendekatan Memahami Teks Al-Qur’an dalam Perspektif Sosiologis”. Menurut Eva, tema ini penting sekali untuk dibahas, karena saat ini banyak sekali kondisi sosial yang jelas sekali berbeda dengan masa saat al-Qur’an diturunkan ataupun jamannya para sahabat dan tabi’in. Betul, bahwa para ulama terdahulu sudah melakukan upaya-upaya untuk memaknai dan menafsirkan al-Qur’ansecara tekstual (bi al-ma’tsur) dan kebahasaan (bi al-ra’y). Hanya saja tantangan yang dihadapi akibat adanya globalisasi, revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, eksplorasi ruang angkasa, ekskavasi arkeologis –untuk menyebutkan sedikit diantaranya—telah merubah tatanan sosial masyarakat muslim yang hidup saat ini.

Eva menambahkan permasalahan sosial kekinian yang dialami manusia itu sendiri. Pertama, sosiologi al-Qur’an di sini membicarakan kecenderungan kebiasaan/perilaku masyarakat, hubungan interaksi masyarakat, struktur hubungan manusia dengan manusia. Menafsirkan al-Qur’an dengan struktur hubungan kemasyarakatan (kontekstual) dari masa lalu ke masa sekarang. Kedua, Data menunjukkan, kemiskinan di dunia ini terdapat pada masyarakat Islam, karena agama seolah-olah sebagai pelampiasan, agama semestinya sebagai penentu keberlangsungan integrasi sosial. Ketiga, untuk menciptakan manusia yang baik dengan pola tiga hal, yakni individu, struktur fungsional/organisasi/kelompok, dan penyerahan diri pada Allah. Dengan demikian, al-Qur’an disajikan sebagai solusi berbagai masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh manusia. (M.NTs)

Berita lain:

Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FU Gelar Seminar Nasional