PELEPASAN WISUDAWAN SARJANA KE-101 FAKULTAS USHULUDDIN UIN JAKARTA

  • 0

PELEPASAN WISUDAWAN SARJANA KE-101 FAKULTAS USHULUDDIN UIN JAKARTA

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Menyambut hari wisuda, Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta adakan pelepasan alumni wisuda sarjana ke-101 pada Kamis, 18 Agustus 2016. Acara tersebut berlangsung di Ruang Teater Prof. Dr. Abdurrahman Parto Sentono Lt. 4 Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebanyak 45 mahasiswa Fakultas Ushuluddin dinyatakan lulus dan akan mengikuti wisuda sarjana ke-101, hari Sabtu 20/08/2016 di ruang Auditorium Harun Nasution. Program Strata Satu (S1); dari Prodi Perbandingan Agama berjumlah 6 orang, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam berjumlah 9 orang, Prodi Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir berjumlah 23 orang, dan dari Program Magister (S2) berjumlah 7 orang.

Dalam sambutan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si menyampaikan ‘wisuda ke-101 kali ini dari fakultas Ushuluddin sedikit berkurang, wisuda kemarin yang ke-100 berjumlah 47 orang, sekarang berjumlah 45, kurang 2 orang, ini menunjukkan menurunnya semangat mahasiswa.’ Paparnya

Selesai menyebutkan semua nama-nama beserta IPK wisudawan fakultas Ushuluddin, Ikhsan juga menambahkan, ‘wisudawan terbaik dari Ushuluddin seperti Nanang Rosidi dengan IPK. 3,85/Cumlaude dari Prodi AFI, Khilda Fauzia dengan IPK. 3,83/Cumlaude dari Prodi IQTAF dan Annisa Khalida dengan IPK. 3,70/Cumlaude dari Prodi PA semestinya diajukan ke Rektorat agar memperoleh beasiswa untuk lanjut studi S2/ Program Magister khusus di Fakultas Ushuluddin.’ Tegasnya sambil tertawa

Selanjutnya kesan-pesan disampaikan Wisudawan terbaik Fakultas Ushuluddin, Nanang Rosidi dari Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam. Ia tidak menyangkah menjadi peserta wisudawan terbaik, ketidakpercayaannya itu ia dimasukan ke anggota Grup Whatsapp khusus wisudawan terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. ‘Saya sangat bangga, padahal saya lulus ujian skripsi pada 26 Oktober 2015 dan hampir setahun tidak diurus untuk daftar wisuda karena kesibukan sebagai staf di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.’ Imbuhnya

Calon Wisudawan ini juga meluapkan kebimbangannya, ‘dari mana memulai belajar Filsafat, kemana seharunya sebagai alumni Ushuluddin? Karena Ushuluddin suatu kata yang rawan dan banyak memberi peluang orang untuk berburuk sangka terhadapnya. Banyak anggapan bahwa orang-orang yang mengambil jurusan di Fakultas Ushuluddin adalah orang-orang yang tidak memiliki masa depan yang jelas dan cerah, terutama orang-orang yang orientasi hidupnya hanya melihat segala hal dari kaca mata materi dunia dan memandang bahwa kuliah untuk mencari kerja, mereka menilai tidak ada yang bisa diharapkan ke depannya dan mau jadi apa kelak. Akan tetapi, saya menyontoh senior-senior kita dulu, seperti Burhanuddin Muhtadi dan lain sebagainya, yang penting menjadi alumni Ushuluddin adalah mampu menulis, mungkin dari cara ini sangat bermanfaat buat orang, karena saya sendiri biasa suka menulis dan baca artikel di media-media.’ Anggapnya

Sambil menyampaikan kesan dan pesan, Nanang Rosidi dikejutkan Dr. Syamsuri, MA yang baru datang, mungkin beberapa detik sebelumnya beliau mendengar atas penyampaiannya di Mimbar Teater Room tiba-tiba berhenti. Kemudian, Syamsuri memberi penegasan bahwa ‘lulusan Ushuluddin yang penting akal pinter dan bener, jadi apa saja/apapun bisa, politisi atau pejabatpun bisa, insyallah lulusan Ushuluddin masa depan cerah.’ Celotehnya

Sambung ucapan Rosidi, ‘menghapus stigma dari pandangan bahwa lulusan Ushuluddin tidak jelas, maka penunjang kesuksesan yang terpenting adalah kepribadian, keislaman, kebangsaan Indonesia. Kita yakin track record alumni Ushuluddin mampu bersaing di mata Indonesia atau lebih jauh yakni Dunia, karir oke – rumah tangga juga oke, hehe.’ Sambungya

Dalam acara pelepasan wisudawan kali ini juga diperkenalkan sebuah wadah alumni yang nantinya sebagai sarana informasi dan komunikasi yang terbentuk dalam Alumni Fakultas Ushuluddin (ALFU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Untuk memperjelas peran alumni, Pimpinan Fakultas menghadirkan perwakilan dari pengurus alumni untuk memperkenalkan jejak didirikannya sebuah wadah silaturrahmi. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang SDM dan Kelembagaan Alumni Fakultas Ushuluddin (ALFU), Arwani, S.Th.I [periode 2014-2016].

Arwani menyampaikan, ‘ALFU dibentuk tahun 2014 akhir yang diketuai oleh Drs. Aries Budiono, tapi SK baru turun pada tanggal 4 Agustus 2016 dengan Kepengurusan Baru. Sesuai rapat, ALFU didirikan sebagai media informasi dan komunikasi yang terhubung ke Fakultas Ushuluddin. Permasalahan kenapa wadah ini baru berdiri adalah karena keterbatas soal anggaran. Rencana ke depan wadah alumni ini akan membuat website khusus.’ Tegas bos Building Manager

Menyambut peserta calon wisudawan dan calon anggota ALFU ini, Arwani membekali kepada wisudawan agar tetap optimis meraih masa depan cerah. Menurutnya, ‘ketidakjelasan lulusan Ushuluddin adalah “kejelasan”. Apapun lulusan dan jurusannya tanggung jawab kita tetap berkaitan dengan akhirat. Keluar dari pintu Ushuluddin menjadi orang sukses, tidak ada yang nganggur, realita yang dihadapi adalah persaingan. Dan yang terpenting dari itu semua adalah tetap melakukan sesuatu yang bermanfaat.’ Paparnya

Rencana dengan Dewan Mahasiswa Fakultas (DEMA) Fak. Ushuluddin bahwa pertemuan alumni pertama akan diadakan pada Milad Fakultas Ushuluddin yang akan datang. Sekali lagi, ‘Selamat bergabung di dunia Alumni Fakultas Ushuluddin.’ Tambahnya

Di sela-sela acara, Master of Ceremonies (MC), Ach. Baiquni, M.Ag mempersilahkan kepada para peserta wisudawan untuk menyampaikan pesan-kesan ataupun pertanyaan. Pertama, disampaikan oleh Nina Nurmilah dari Program Studi AFI. Menurutnya, di Fakultas ini mahasiswa tergolong agamanya baik-baik, tetapi ada beberapa mahasiswa yang ditemui tidak menampakan akhlakul karimah. Kedua, Rahmat Kamarudin dari Prodi AFI juga menyampaikan, ‘mengamati mahasiswa dalam interaksi sosial, semestinya mengadakan sejenis pekan budaya atau sejenis perlombaan untuk mempersatukan lintas jurusan ataupun angkatan.’ Sarannya

Ketiga dan keempat, wisudawan lain seperti Irpan Sanusi dan Afrizal Fahmi Ali dari Prodi IQTAF turut juga memberi saran dan kritik. Irpan menyesalkan Fakultas tidak mengadakan penguatan bahasa asing, padahal bahasa asing khususnya bahasa Inggris nantinya membantu UIN sendiri menuju World Class University (WCU), maka menyarankan fakultas perlu diadakan matrikulasi bahasa karena mahasiswa Ushuluddin dominan lulusan dari pesantren.

Tak kalah menarik, juga memancing gelak tertawa peserta lain karena pertanyaan yang dilontarkan Afrizal. Menurutnya, ‘koleksi di perpustakaan sudah semakin banyak, saya rasa tidak kesulitan mencari refrensi.’ Katanya. Dan yang lucu, ‘fasilitas seperti WC umum sering tutup jarang bukanya, justru ingin kencing saja nyeberang ke Fakultas lain, pribadi saya malu. Selain itu, fakultas kurang mengakomodir para mahasiswa untuk duduk di kursi, saya rasa duduk di lantai tidak elok sekelas mahasiswa Ushuluddin gitu loeh, heee. Ketika saya berkunjung ke perpus fakultas saja sering kehabisan kursi. Demi kenyamanan bersama, tolong tambahkan kursi lah.’ Saranya. ‘peserta lain pun tertawa dibuatnya, hahaha’.

Hal ini dijawab Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA selaku Kaprodi IQTAF, dikuatkan oleh Dr. M. Suryadinata, MA, Wadek III, Bid. Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, dan juga Dr. Bustamin, M.Si, Wadek II Bid. Administrasi Umum Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Pertama, mengamati sisi baik atau buruk akhlak seorang mahasiswa itu sudah tertera dalam kode etik mahasiswa, apabila melanggar maka akan diberi sanksi sesuai prosedur. Kedua, Perpustakaan selalu menjadi masalah inti bagi pengelolah, buku menumpuk, tempat/ruang terlalu kecil, rak tidak ada penambahan, dan solusinya paling tidak adalah memaksimalkan referensi melalui internet. Ketiga, kekuatan mahasiwa terletak pada bahasa ketika bergelut di dunia pendidikan atau kerja. Selain itu, sosialisasi sudah dilaksanakan oleh fakultas, dan juga pembinaan bahasa terkendala di anggaran, ini yang selalu menjadi alasan. Akan tetapi, di Pusat Pengembangan Bahasa (PBB) sudah ada anggaran, hanya saja mahasiswa tidak mengetahuinya. Dan yang keempat, pengadaan perlombaan antar jurusan atau angkatan semestinya alumni yang seharusnya menawarkan ide-idenya, kalau Fakultas sendiri terbatas oleh soal waktu dan tenaga.

Selain Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si, Dr. Bustamin, M.Si, Dr. M. Suryadinata, MA, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA, Dr. Syamsuri, MA, Dr. Media Zainul Bahri, MA, Maulana, M.Ag, Muallimin Ibrahim, S.Pd.I, dan Dra. Merrizarwida, juga tak ketinggalan Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag turut hadir tapi telat, dan baru bisa memberikan sambutannya dikarenakan baru selesai menguji Tesis di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Dalam sambutannya, Masri mengucapkan selamat atas peserta wisuda yang telah menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin. Ia juga menjelaskan akan dunia empiris, dunia nyata /hidup. Dunia empiris yang sama atau berbeda dari apa yang kita peroleh di kampus relatif teoritis. Semisal, politik sangat pragmatis, kadang-kadang bertentangan dengan nilai moral. Caranya adalah, apa yang diperoleh sekarang, kita dapat diimplementasikan dengan arif di masyarakat, asal tidak menghilangkan ideologi/keyakinan.

Di luar acara pelapasan wisudawan berlangsung, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA kaget dan menyayangkan atas wisudawan terbaik Fakultas tidak diraih oleh saudari Khilda Fauzia, terbaik justru diraih oleh saudara Nanang Rosidi, dan perbedaan IPK mereka sangat tipis 0,02. Sebelumnya, Lilik sudah merekomendasikan Khilda dengan IPK. 3.83 ke Pimpinan untuk menjadi wisudawan terbaik Fakultas, oleh Pimpinan tidak merespon. Pimpinan sendiri yang diwakilkan Kasubbag Akademik, Muallimin Ibrahim, S.Pd.I sudah memutuskan wisudawan terbaik Fakultas diraih oleh saudara Nanang dengan IPK. 3,85 sudah sesuai aturan Pedoman Akademik Strata Satu (S1) yang dilihat hanyalah nilai tertinggi. Alasan lebih memilih Nanang, karena lulus dengan IPK tertinggi. Berbeda dengan Lilik, justru Khilda angkatan 2012 lulusan tercepat/ tepat waktu juga IPK cukup tinggi sedangkan Nanang angkatan 2011.

Hal ini juga banyak tanggapan dari beberapa dosen Fakultas Ushuluddin. Dra. Banun Binaningrum, M.Pd juga menyayangkan saat rapat fakultas, aturan dan kriteria wisudawan terbaik hanya sebatas verbal belum tertulis. Senada dengan Banun, Eva Nugraha, MA dan Jauhar Azizy, MA ‘mengusulkan agar kedepannya dibuat Standard Operating Procedure (SOP), agar kejadian ini tidak terulang, sehingga argumennya sesuai aturan yang tertulis, juga proses penentuan wisudawan/wisudawati terbaik juga harus dikawal oleh Kaprodi/Sekprodi.’ Tandas mereka

Masalah ini juga mengundang komentar Dr. Yusuf Rahman, MA. Ia menyontohkan kriteria wisudawan terbaik di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta dengan menyesuaikan buku Pedoman. Kategori wisudawan sebagai berikut: 1) Dalam upacara  Wisuda  Sarjana biasanya dinobatkan wisudawan terbaik. 2) Wisudawan terbaik yang diusulkan oleh SPs ditetapkan oleh Tim. 3) Persyaratan penetapan menjadi wisudawan terbaik: a) Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi; b) Kualitas  Tesis dan Disertasi; c)  Masa penyelesaian studi tercepat dan/atau tidak melebihi masa studi yang ditentukan (4 tahun untuk S2 dan 5 tahun untuk S3); d) Tidak mahasiswa ahli status; dan e) Pertimbangan khusus dari Tim, terutama menyangkut integritas dan moralitas. (M.NTs)