Ushuluddin: Antara Eksis dan Tragis*

  • 0

Ushuluddin: Antara Eksis dan Tragis*

Category : Artikel

Penulis: Zainal Abidin[1]

pppPernah mendapatkan pertanyaan seperti ini, “Ngapain kuliah di Ushuluddin, mau jadi pengangguran? Bukannya lebih baik kuliah di Fakultas yang sudah jelas prospek kerjanya?” atau bahkan seperti ini “Apakah imanmu sudah benar-benar kuat, untuk masuk Ushuluddin?” kedua pertanyaan inilah yang sering terlontar dari masyarakat bahkan dijadikan bahan pertimbangan untuk masuk di Ushuluddin.

Sangat disayangkan bila sikap masyarakat yang hanya memberikan opini negatif, tanpa mengetahui seluk-beluk Ushuluddin dijadikan tolok ukur penilaian. Sebenarnya apa keistimewaan Ushuluddin itu? Bagaimana kontribusi Ushuluddin terhadap masyarakat? Pertanyaan mendasar seperti ini haruslah diungkapkan untuk mendapatkan penjelasan tentang Ushuluddin lebih lanjut, dan merubah opini negatif menjadi sebuah keoptimisan.

Visi Fakultas Ushuluddin adalah “Menjadikan Fakultas Ushuluddin sebagai salah satu fakultas yang terkemuka dalam pengembangan dan pengintegrasian ilmu-ilmu dasar keislaman dan ilmu-ilmu social yang berdimensi etis, ke-Indonesia-an dan kemanusiaan.”[2] Dengan Visi tersebut tujuan utama pembelajaran di Fakultas Ushuluddin adalah untuk mengaplikasikan keislaman dan kesosialan di masyarakat.

Ushuluddin secara garis besar memang tidak memberikan spesifikasi kerja terhadap mahasiswanya.  Tetapi karena alasan itulah para alumni Ushuluddin dapat lebih luwes dalam dunia kerja. Bahkan, Ushuluddin cenderung memberikan jiwa kepemimpinan yang kuat dan berpikir lebih kritis, hingga tak jarang nama-nama besar muncul dari bilik Ushuluddin.

Berbagai rekam jejak alumni Ushuluddin menguakkan bahwa Ushuluddin merupakan salah satu fakultas yang harus tetap diperhitungkan. Dalam beberapa dekade terakhir Rektor UIN Syarif Hidayatullah adalah para lulusan dari Ushuluddin seperti Prof. Dr. Harun Nasoetion, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab. MA, dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. Begitu juga seperti Prof. Dr. M. Din Syamsudin, Dadi Darmadi, Farid F Saenog dan alumni penting lainnya merupakan bukti keberhasilan Ushuluddin dalam menggembleng para mahasiswanya.

Sejarah berdirinya Fakultas Ushuluddin sangatlah panjang. Ringkasnya, Fakultas Ushuluddin merupakan salah satu fakultas tertua di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia didirikan tanggal 5 Nopember 1962 sebagai bagian dari fakultas di IAIN cabang Jakarta. Sebagai fakultas tertua, ia memiliki sejarah yang cukup panjang yang secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Saat berdirinya, Fakultas Ushuluddin menepati ruangan di masjid Agung Al-Azhar. Namun karena jumlah mahasiswa semakin bertambah, dan ruangan di Masjid Agung Al-Azhar tidak memadai lagi untuk digunakan, maka pimpinan fakultas berusaha untuk mencari tempat yang lebih memadai.
  2. Tahun 1964 Fakultas Ushuluddin melaksanakan kegiatan opersionalnya di gedung milik Departemen Agama di Jalan Cemara No.42 Menteng, Jakarta Pusat. Pada tahun 1964 itu pula dibuka secara resmi Jurusan Ilmu Dakwah untuk tingkatan doktoral yang sebelumnya sudah memiliki tingkat Sarjana Muda.
  3. Jurusan Dakwah ini mengeluarkan alumninya (Sarjana Lengkap) untuk pertama kali pada tahun 1968.
  4. Pada tahun 1967 Fakultas Ushuluddin membuka Jurusan Perbandingan Agama. Seiring dengan pertambahan jurusan dan mahasiswa, Fakultas Ushuluddin membentuk panitia untuk mengusahakan ruang perkuliahan tambahan untuk mahasiswa baru.
  5. Tahun 1969 Fakultas Ushuluddin pindah ke gedung baru milik Departemen Agama di Jalan Indramayu No.14 Menteng, Jakarta Pusat. Gedung baru itu tidak hanya digunakan sebagai ruang perkuliahan, tapi juga sebagai pusat pelayanan administrasi.
  6. Setelah satu setengah dasa warsa terpisah dari induknya, maka pada tahun 1977 Fakultas Ushuluddin kembali ke kampus utama di Ciputat. Di kampus Ciputat, Fakultas Ushuluddin masih sering berpindah-pindah, meskipun hanya dari satu unit lain di lingkungan kampus.
  7. Tahun 1982, Fakultas yang dikenal sebagai sarang pemikir kritis ini mendirikan Jurusan Aqidah Filsafat. Dengan berdirinya jurusan ini, semakin kukuh pula citra Fakultas Ushuluddin sebagai fakulas pengusung pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia.
  8. Tahun 1989, Fakultas Ushuluddin mendirikan Jurusan Tafsir Hadis. Sampai kini Jurusan/Program Studi Tafsir Hadis merupakan jurusan yang paling banyak mahasiswanya. Tahun 2016 Program Studi Tafsir Hadis akan dipecah menjadi dua prodi: Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Hadis, sesuai Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta No. 477 Tahun 2016 tentang Penyesuain Nomenklatur Program Studi pada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  9. Tahun 1999 Fakultas Ushuluddin membuka dua program studi baru yaitu, program studi Sosiologi Agama dan program studi Pemikiran Politik Islam. Dari dua program studi ini diharapkan muncul dan berkembang wacana integrasi antara ilmu-ilmu agama (Islam) dan ilmu-ilmu sosial empiris.
  10. Tahun 2002, Presiden RI menerbitkan Kepres No. 31 tahun 2002 tanggal 20 Mei 2002 tentang perubahan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Perubahan ini diikuti pula dengan perubahan nama-nama fakultas di lingkungan UIN Jakarta, yang menyiratkan keinginan untuk melakukan akselerasi integrasi keilmuan di kampus ini. Fakultas Ushuluddin pun mendapat nama baru, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF).
  11. Seiring dengan pengembangan Fakultas di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sejak tahun 2009, Prodi Sosiologi Agama, dan Prodi Pemikiran Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dialihkan ke Fakultas yang baru didirikan, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sehingga Fakultas Ushuluddin dan Filsafat kini hanya memiliki tiga Jurusan atau Program Studi, yaitu Jurusan/Prodi Perbandingan Agama, Prodi Aqidah Filsafat, dan Prodi Tafsir Hadis. Seiring dengan hal itu telah diusulkan nama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat berubah menjadi Fakultas Ushuluddin tanpa Filsafat, namun hingga sekarang belum turun SK perubahannya. SK perubahannya belum turun, namun Kemenag sudah menetapkan nama Fakultas Ushuluddin, yaitu Fakultas Ushuluddin dan tanpa ada tambahan di belakangnya.[3]

Membaca sejaran berdirinya Fakultas Ushuluddin, ini memberikan bukti bahwa Ushuluddin memberikan kesempatan yang amat baik untuk mengembangkan potensi dan pengetahuan bagi para mahasiswanya. Karena, fasilitas-fasilitas penunjang yang terdapat di Ushuluddin banyak sekali. Di antaranya Perpustakaan Fakultas, Irian Corner, Chinkung Corner dan Ruang Jurnal. Di Ushuluddin juga terdapat kajian-kajian keagaman seperti adanya seminar keagaamaan Nasional maupun Internasional, beberapa kajian Al-Qur’an, Kitab Salaf, sampai muhadatsah. Beberapa komunitas juga banyak kita temukan di Ushuluddin mulai dari komunitas diskusi hingga kesenian.

Akan tetapi, dalam usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan tentu masih adanya kekurangan dan kendala. Berbagai kendala yang kontras di fakultas Ushuluddin terletak pada kesalahan civitas akademika Ushuluddin sendiri. Misalnya, tentang kebersihan. Kebersihan di lingkungan Ushuluddin sangatlah ironis, baik di ruang kelas maupun kamar mandi. Bukankah kebersihan lingkungan merupakan salah satu cover yang mudah dilihat, yang juga mencerminkan citra Ushuluddin?

Kendala selanjutnya adalah terletak dari mahasiswa Ushuluddin. Penulis sangat menyayangkan program-progam yang diadakan prodi di Ushuluddin sepi peminat. Misalnya, program Kajian kitab Fathul Bari. Kajian ini merupakan salah satu program  dari jurusan Tafsir Hadis yang dilaksanakan setiap hari kamis pukul 15.15 WIB. Peserta kajian ini sangatlah sedikit. Apakah karena sosialisasi yang kurang menyeluruh, atau ada alasan lain yang menyebabkan sepinya peserta program tambahan seperti ini. Apabila karena minat mahasiswanya yang semakin menurun, apakah benar Ushuluddin sekarang kehilangan tradisi intelektualnya yang terkenal suka berdiskusi dan sangat kritis terhadap problem?

Penulis mendapatkan data secara tidak langsung tentang berbagai alasan mengapa mahasiswa baru tahun ini kuliah di Ushuluddin. Secara umum mereka mengungkapkan bahwa Ushuluddin merupakan pilihan terakhir setelah mendaftar di fakultas bahkan kampus lain dan mereka tidak diterima. Hal ini sangat disayangkan apabila mereka belum bisa menata kembali niatnya sebagai mahasiswa Ushuluddin. Penulis pun merasakan sendiri bagaimana atmosfer kelas ketika berlangsung diskusi, banyak mahasiswa yang  diam di kelas dan hanya numpang absensi saja.

Masihkah ada harapan di Ushuluddin untuk melahirkan alumni yang benar-benar berpengaruh bagi masyarakat seperti Ushuluddin yang dulu? Akankah Ushuluddin tetap bisa eksis? Atau bahkan semakin tragis?

Melihat keseriusan pihak Fakultas untuk mencapai visinya, berbagai usaha dilakukan untuk menjaga kualitas Ushuluddin. Pada tahun ajaran ini akan diadakanya kelas Bilingual dan pembatasan waktu kelulusan. Dengan adanya kelas Bilingual ini fakultas mempunyai harapan kepada mahasiswanya untuk memiliki keunggulan dalam kajian-kajian modern tanpa meninggalkan kajian-kajian klasik yang tetap menjadi acuan utama Ushuluddin. Selanjutnya pembatasan waktu kelulusan bagi tahun ajaran ini adalah sampai 5 tahun atau 10 semester seumpama melebihi waktu tersebut maka  akan di Drop Out (DO). Peraturan ini secara langsung memberikan tegasan kepada mahasiswa untuk benar-benar serius serta memiliki niat dan tujuan yang jelas.

Berbagai regulasi yang telah terorganisir dengan matang harus diimbangi action dan controlling dari semua pihak. Dengan menjalankan itu semua, visi untuk “Menjadikan Fakultas Ushuluddin sebagai salah satu fakultas yang terkemuka dalam pengembangan dan pengintegrasian ilmu-ilmu dasar keislaman dan ilmu-ilmu social yang berdimensi etis, ke-Indonesia-an dan kemanusiaan.” bisa tercapai dan Ushuluddin tetap pantas mendapatkan julukan jantungnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

__________________________________________________________________________

*Essay ini merupakan Juara 2 Lomba kategori Cipta Essay “Ushuluddin Dulu, Kini, dan Nanti” dalam rangka memeriahkan 53’th MILAD Ushuluddin, 2015

[1] Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an (Bilingual Class) Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[2] Pedoman Akademik Program Strata 1 2015/2016 (Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015), h. 170.

[3] Lihat Tim Penyusun Pedoman Akademik Program Strata 1 2015/2016 (Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015), h.169-170 atau akses http://ushuluddin.uinjkt.ac.id/index.php/profil/