Cerita Mahasiswi Tafsir Hadis: “Dosen-dosenku Yang Super”

  • 0

Cerita Mahasiswi Tafsir Hadis: “Dosen-dosenku Yang Super”

Category : Cerita

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Perkanalkan nama saya, Rohmatul Maulidiana Aulia (Diana, nama panggilan) asal Sidoarja Jawa Timur, seorang mahasiswi, saat ini semester 2, mau naik ke semester 3 di Program Studi Ilmu Al-Qur’an (Bilingual Class) Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sekarang tinggal di Pondok Pesantren “Ayatirrahman” di Jln. Desa Waru Kampung Tulung Kuning RT. 07 RW. 06 Desa Waru Kec. Parung Kab. Bogor Jawa Barat Indonesia 16330. Pengasuhnya sendiri adalah bunda Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA, sekaligus Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Di sini, aku akan bercerita sedikit tentang dosen-dosenku yang super, bukan pendekar ataupun dalam cerita film “zoro one piece”.

Selama menjalani perkuliahan di Program Studi Tafsir Hadis (sekarang: Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir) banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan alasan pertama adalah karena saya merupakan murni lulusan SMP-SMA Negeri di Sidoarjo Jawa Timur, sehingga saat saya memasuki dunia perkuliahan di Prodi ini ada ketertarikan tersendiri. Di samping itu, para dosen yang ‘Subhanallah’ saya dibuat takjub “ceilleeee”. Melihat dan mendengar riwayat pendidikan mereka mungkin tidak asing ditelinga saya ataupun mahasiswa lain.

Melihat jam 08.00 WIB, bukan bunyi, melainkan sebagai tanda masuk jam kuliah. Mahasiswa dan dosen bergegas memasuki kelas, namun, selang beberapa menit, tiba-tiba muncul pertanyaan dari dosen, sebelumnya aku belum mengenalnya, atau ‘mungkin setiap dosen ketika mengajar mahasiswa baru selalu menanyakan tujuan dari memilih jurusan Tafsir Hadis,’ pikirku. Mungkin barangkali ini sering dilontarkan kepada senior-senior dulu waktu awal masuk kuliah. Pertanyaan yang sama, kira-kira bunyinya begini: ‘Kamu kuliah jurusan Tafsir Hadis, kalau lulus mau jadi apa?’ Mulutku terdiam, tapi ada beberapa teman yang menjawab. Dalam hati (mbatin), aku bisa menjawabnya atas pertanyaan tersebut. ‘Lulusan Tafsir Hadis tidak harus menjadi guru agama, kita juga bisa menjadi Mufassir, Muhaddits, Da’i/Da’iyah, Guru dan bahkan kita juga bisa menjadi Kyai ataupun Bu Nyai.’ “Amin, mudah-mudahan”

Oh maaf, lupa, aku hanya ingin mengenalkan beberapa dosenku, bukan bercerita.. heeee

Saat pertama kali saya memasuki perkuliahan sangat amat merasa asing, namun berkat motivasi-motivasi dari para dosen di sini yang membuat saya untuk tidak menyerah dalam belajar, terutama dari bunda, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA dengan melihat semangat beliau memotivasi saya untuk semakin giat belajar. Selain itu, ada Dr. K.H. Ahsin Sakho M. Asyrofuddin, MA, dengan ciri khasnya beliau dalam menerangkan tentang Ilmu Al-Qur’an dengan suara yang lemah-lembut, saya pribadi dibuat terkesan olehnya. Selain itu, beliau yang super sibuk, tapi selalu meluangkan waktu untuk tetap hadir dalam kelas.

Selain Kyai Ahsin, ada juga Prof. Dr. Said Agil Husin al-Munawar, MA, mantan Menteri Agama Kabinet Gotong Rorong (22 Oktober 2001 – 21 Oktober 2004) juga tidak kalah menarik, beliau selalu menunjukkan betapa luasnya ilmu di dunia ini yang harus kita pelajari karena kitalah pemuda-pemudi penerus Bangsa. Di samping itu, kefasihannya dalam berbicara bahasa arab sungguh sangat menakjubkan.

Ada lagi yang menurut saya, dua dosen muda yang sangat memotivasi saya pribadi, yang pertama, Ustadz Arrazy Hasyim, MA dengan kekhasan beliau yang paling berbeda dengan dosen lain yang pernah mengajar saya, beliau selalu melarang mahasiswanya menghidupkan mobile-phone, yang saat ini mungkin sangat sedikit sekali dosen yang menerapkan hal tersebut, dan juga ada kata beliau yang selalu terngiang (opo iku terngiang,?) di otak saya. Saat disela-sela pengajaran, beliau menanyakan kepada para mahasiswanya dengan kalimat, ‘fahimtum?’, dan beliau meneruskan pertanyaanya, ‘safahimtum ghadan’. Suatu saat nanti kalian akan mengerti dan terbiasa asalkan kalian tetap semangat untuk mempelajarinya. Itulah ucapan beliau yang begitu besar memotivasi saya.

Kedua tak kalah muda dan menarik, yakni Ustadz Dasrizal, MIS, yang dikenal dengan suara indahnya, beliau adalah qari’ asal Indonesia berhasil menjadi juara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional pada 6 Juli 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam perkuliahan, beliau juga sangat telaten dalam mengajar para mahasiswanya untuk membaca kitab. Selain itu, beliau acap kali membagi pengalaman beliau yang menambah semangat kami dalam belajar.

Untuk yang terakhir, aku belum mengenalnya atau diajar sebelumnya. Tapi dari cerita kakak-kakak kelas, kalau beliau ini salah satu dosen yang ucapannya sungguh sangat mengena dalam memotivasi, walaupun saya pribadi belum pernah diajar dalam kelas beliau, yaitu Bapak Eva Nugraha, MA yang mungkin tidak asing bagi mahasiswa Tafsir Hadis. Tapi, aku hanya mendengar nasihat-nasihatnya saat seminar dan lebih dari itu saya juga berharap dapat ikut kelas beliau untuk semester selanjutnya. Sebenarnya masih banyak lagi para dosen yang memotivasi saya, namun jika saya sebutkan satu persatu tidak akan cukup untuk ditulis. Sekian brooo…

_____________________________________________________________________

Penulis: Rohmatul Maulidiana A.