Makna Sujud

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Saat Iblis diperintahkan sujud kepada Adam, Iblis menolak seraya berkata, aku lebih baik dari Adam. Aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Di dalam sebuah hadis, Rasulallah saw menjelaskan, seandainya aku diperintahkan agar manusia sujud kepada manusia, niscaya aku perintahkan agar seorang isteri sujud kepada suaminya. Dalam hadis lain, Rasulullah saw mengingatkan, tempat yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah saat sujud.

Makna sujud dalam kasus nabi Adam dan Iblis tentu bukan sujud dalam makna kepasrahan total sebagaimana seorang hamba sujud kepada Allah Ta’ala, tetapi penghormatan seorang makhluk kepada makhluk lain. Murka Allah Ta’ala kepada Iblis bukan karena Iblis tidak mau sujud kepada Adam, tetapi karena Iblis melanggar atau menolak perintah Allah Ta’ala.

Seringkali dalam kehidupan, manusia melihat subjek bukan kepada obyek. Seperti seorang pengendara melewati lampu merah karena tidak ada polisi bukan karena aturan  larangan melewati lampu merah. Contoh lain, seorang santri takut melanggar kalau ada kyai dihadapannya, namun bila kyai tidak ada maka aturan tidak dihiraukannya. Prilaku seperti ini adalah personifikasi Iblis dalam jiwa para pelanggar aturan yang melihat subyek dan tidak memperhatikan obyek.

Kalimat pengandaian yang dilakukan nabi Muhammad saw terhadap isteri agar sujud kepada suaminya memberi makna bukan sujud hakiki tetapi menghormati dan taat kepada suami. Karena ketaatan seorang isteri terhadap suaminya merupakan salah satu cara menggapai kebahagiaan rumah tangga, maka nabi Muhammad saw menggunakan kata sujud untuk menunjukkan signifikansi ketaatan itu. Saat sayyidah Fatimah al Zahra meningga dunia, sayyidina Ali ibn Abi Thalib berdiri disamping jenazah mulia itu seraya berkata, duhai isteriku sayang, aku ridha padamu.

Makna sujud dalam konteks suami isteri adalah harmonisasi antara ketaatan dan keridhaan. Ketaatan isteri kepada suaminya adalah kunci kebahagiaan rumah tangga dan ridha suami kepada isterinya adalah kunci keselamatan saat menghadap Tuhannya.

Harapan dan cita-cita mulia seorang hamba adalah agar bisa selalu dekat dengan kekasihnya. Dan kekasih sejati adalah Allah Rabbul Izzati. Semua ibadah yang diniatkan selalu menggunakan kata lillahi Ta’ala yakni qurbatan ilallah Ta’ala. Saat yang paling indah adalah ketika seseorang bisa dekat dengan kekasihnya lalu menceritakan isi hatinya.  Shalat adalah puncak simbol kedekatan karena shalat adalah mikrajnya orang mukmin dan shalat adalah komunikasi yang sangat efektif dalam menyelesaikan semua problem kehidupan. Betapa banyaknya seseorang yang mengobati sakitnya hanya dengan konsultasi kepada seorang psikolog walau bayarannya mahal.

Sebagai insan al natiq, manusia perlu bicara dan  yang mendengarkan pembicaraannya. Saat seorang shalat sungguh dia sedang berbicara dan Allah Ta’ala pendengarnya. Dan pada saat yang bersamaan, Allah Ta’ala adalah pembicara dan hamba sedang mendengarkannya.

Dengan harmonisasi dialogis akan terjadi kehidupan yang penuh kedamaian, ketenteraman dan keindahan.  Itulah sebabnya kata akhir dalam shalat adalah ungkapan salam, yakni kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan.

Pendek kata, hakikat makna sujud adalah komitmen hamba kepada Tuhannya yang melahirkan kedamaian. Komitmen suami-isteri melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga dan kedekatan seorang hamba kepada Allah Ta’ala akan mengantarkan kepada jati diri manusia.

Ibnu Arabi berkata, saat engkau sujud di atas tanah sungguh engkau sedang bercinta dengan ayah bundamu karena kalian diciptakan dari tanah dan ayah bunda kalian adalah tanah. Tanah sebagai alat bersuci, diatas nama kita hidup, dari tumbuhan yang di atas tanah kita makan dan dari air yang keluar dari dalam tanah kita minum. Sujud adalah kebutuhan. Siapa yang sujud, akan bahagia dan tidak sujud akan gelisah dan sengsara.

Wallahu ‘alam.

Comments are Closed