Al-Qur’an untuk Indonesia

“Tak lama tapi berharga” itulah istilah ungkapan syukur kami setelah magang di Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an. Lajnah pentashihan Mushaf al-Qur’an yaitu suatu lembaga yang membantu Menteri Agama dalam bidang pentashihan serta mengawasi beredarnya Mushaf-Mushaf  al-Qur’an. Tugasnya yaitu mentashih dan mengoreksi al-Qur’an sebelum dicetak atau diterbitkan. Begitu mulia tugas ini, karena yang dilakukan merupakan salah satu cara menjaga keotentikan al-Qur’an.

Berawal dari mengikuti pelatihan Pentashihan Mushaf al-Quran standar SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) yang diadakan di Ruang Teater Prof. H.A.R Partosentono, Fakultas Ushuluddin Uin Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan LPMQ selama 12 hari,Kami mendapat ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an dan dan bagaimana caraya mentashih al-Quran. Diakhir pertemuan terpilihah 20 peserta terbaik akan diminta untuk magang dikantor Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), selama satu minggu.

Dari 20 peserta tersebut dibagi dua kelompok. Kami termasuk dalam kelompok  yang kedua yang anggotanya terdiri dari Abd Rahman, Iva Rustiana, Muhamad Firdaus, Fiqri Hidayat, Sutria Dirga, Mia Millatus Saadah, Imas Maulida, Evi Latifah, Lukita Fahriana dan Putri Sahara dan kami magang mulai dari Tanggal 29 Maret-5 April 2018.

Hari pertama magang, kami mengikuti forum diskusi yang diadakan oleh Lajnah. Dalam forum diskusi tersebut hadir pemateri dari BAWASLU yang bernama Muhammad Afifuddin. Beliau merupakan salah satu alumni Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Inti pembicaraan dari Forum diskusi tersebut adalah membicarakan tentang bagaimana cara melakukan pengawasan yang baik dan benar. Pembicaraan itu berkaitan dengan tugas Lajnah yang ke-3, yakni melakukan pengawasan terhadap peredaran mushaf al-Qur’an yang ada di Indonesia. Setelah forum diskusi selesai dan beristirahat. Dilanjutkan dengan belajar mentashih mushaf digital. Mushaf digital yang ditashih adalah mushaf digital kemenag yang berasis Android dan Os, dalam proses pentashihan tersebut Kami meneliti satu persatu huruf yang terdapat didalam al-Quran digital tersebut dan mencocokkannya dengan al-Quran standar Indonesia. Yang mana Setiap peserta diberi tugas untuk mentashih sebanyak 3 juz.

Pada hari kedua, Tim Kelompok kedua mendapatkan tugas untuk mentashih mushaf al-Qur’an. Lembaran master, yang kami koreksi yaitu dari percetakan Duta al-Azhar yang disebut dengan al-Qur’an tafsir inspirasi. Berbeda dengan hari pertama yang langsung berhadapan dengan layar android yang lebih melelahkan pada mata karena radiasi android. Lembaran master mushaf al-Qur’an ini ditashih sesuai dengan standar mushaf al-Qur’an Indonesia. Proses pentashihan ini tidak semudah seperti yang kami  pikirkan, banyak hal yang terjadi selama pentashihan berlangsung, mulai terasa pegal punggung dan mata yang ngantuk. Sehingga, butuh kehati-hatian dalam pentashihan agar tidak terlewat satu bagian pun.

Pada hari ketiga dan keempat, Kami mendapatkan tugas pentashihan master al-Qur’an tajwid warna. Master al-Qur’an tersebut termasuk dalam kategori tajwid akademis yang mengikuti kaidah hukum tajwid dalam pemberian warna dan mengikuti ketentuan warna yang sudah ditetapkan dalam mushaf tajwid warna standar Indonesia. Semakin saya dan teman-teman menemukan kesalahan, maka semakin senang kami untuk mentashih al-Qur’an karena merasa berhasil, meski masih dalam proses belajar.

Hari terakhir, Kamis pada tanggal 05 April 2018 kami mentashih mushaf al-Qur’an per kata dan tajwid warna yang ditandai dengan balok warna. Di hari ini kami mentashih hanya 1 juz dan selesai siang hari, karena kegiatan magang akan segera berakhir. Setelah itu acara penutupan, kami mengucapkan terimakasih, memohon maaf, dan memberikan kenang-kenangan kepada LPMQ. Setelah acara penutupan selesai, kami pun foto bersama, makan siang, shalat, dan berpamitan. Kemudian dilanjutkan dengan keliling gedung Bayt al-Quran tersebut. Pertama, kami diajak ke ruanagan audio visual untuk menonton sebuah video yang berjudul tentang Sejarah Penulisan Mushaf Al-Qur’an di Masa Awal. Kedua, kami berkeliling melihat berbagai mushaf al-Qur’an, pister dan kaligrafi disekitar ruangan gedung yang lainnya dan mengabadikannya lewat foto di handphone. Terakhir, kami mengunjungi museum istiqlal yang ada di gedung tersebut, berbagai poster, kaligrafi, manuskrip, benda-benda bersejarah terkait dengan al-Qur’an dan Islam pada masa awal. Setelah puas berkeliling, kami pun istirahat dan menunaikan shalat, kemudian pulang.

Dalam proses mentashih, kendala terbesar yang kami rasakan adalah ketika rasa pegal dan rasa ngantuk datang menghampiri. Di samping itu, kami merasa senang dan berkesan saat menemukan kesalahan dalam juz yang ditashih. Namun, kami juga merasa sedih dan hampa jika belum atau tidak menemukan kesalahan dalam juz yang ditashih. Saat tidak menemukan kesalahan, kami berfikir “apakah memang mushafnya yang sudah betul atau memang kami yang kurang teliti dan kurang cermat”. Wallahu ‘alam.

Kesan yang didapatkan selama magang ini, keberkahan yang selalu kami nikmati dan syukuri terlebih saat Allah memberikan nikmat yang luar biasa kepada kami. Kami  dipertemukan dengan guru-guru yang luar biasa, yang mana pekerjaan mereka setiap hari bersama al-Qur’an, mereka bersama-sama melakukan hal-hal kebaikan melalui al-Qur’an demi kemaslahatan umat. Kami  belajar, bahwa setiap hari jika kita terus bersama al-Qur’an, hidup akan terasa lengkap dan indah, tidak ada yang kurang. Bersyukur dalam sebuah kenikmatan, jalinan silaturrahim yang selalu terukir membalut rasa kekeluargaan dan kebersamaan. (Abd. Rahman)

Comments are Closed