Menuju Cinta Allah

Oleh: Fauzan NR

Mari renungkan pertanyaan ini, “Apakah kau mencintai Allah ?”

Nabi Muhammad Saw., merupakan rasul Allah (“the massenger of Allah”), nabi terakhir (khatam al-anbiyā`),  serta panutan dan teladanyang baik (qudwah/ uswah hasanaḥ) bagi umat Islam. Mengikuti sunnahnya merupakan tiket untuk mendapat cinta Allah, yaitu cinta dari Yang Mahapencinta yang didambakan oleh semua hamba yang mencintai-Nya.Allah berfirman;

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31 

“Katakan (Muhammad), ‘Bila kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Ālu ‘Imrān/3/31)

Saat menjelaskan ayat di atas, al-Ṭabarī dalam tafsirnya “Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīli Āyi al-Qur`ān” yang terkenal sebagai salah satu “Ummahāt al-Tafsīr” mengawali dengan memaparkan dua pendapat yang berbeda tentang sebab turunnya ayat. Menurutnya, yang lebih kuat adalah pendapat kedua. Pendapat ini berlandasan riwayat dari jalur Muhammad bin Ja’far bin al-Zubair. Al-Ṭabarī,berdasarkan riwayat tersebut, menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan utusan orang Nasrani Najrān yang mendatangi Nabi Muhammad Saw., yang menceritakan tentang Nabi ‘Īsā. Ayat ini dipahaminya sebagai bentuk perintah Allah kepada Nabi untuk memintabukti,apakah perkaataan utusan tersebut adalah benar-benar bentuk cinta kepada Allah dan pengagungan kepada Nabi ‘Īsā, dengan cara memerintahkan mereka untuk mengikuti Nabi. (Tafsir al-Ṭabarī).

Penafsiran al-Ṭabarī terhadap surah Ālu ‘Imrān/3/31memberi kesan bahwa ayat tersebut berlaku khusus untuk para utusan orang Nasrani Najrān, sehingga bisa pula dipahami bahwa ayat ini meminta bukti pada utusan tersebut dengan cara masuk Islam. Pemahaman terhadap ayat tersebut tidakhanya demikian. Bisa dipahami pula sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsīr bahwa ayat ini berlaku umum untuk siapapun yang mengaku cinta kepada Allah. Bukti pengakuan cintatersebut adalahdengancara mengikutiatau menyesuaikan semua perkara, baik ucapan atau perilaku sesuaiajaran dan anjuran Agama Nabi. Bila tidak, maka pengakuan tersebut adalah dusta.Menurutnya, ini sesuai dengan yang dikatakan Nabi dalam hadis sahīh;

مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَرَدُّ

“Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak berlandasan dari pekerjaan kami maka perbuatan tersebut tertolak (tidak diterima).”

Lebih lanjut, Ibn Katsīr menjelaskan bahwa orang yang mengikuti Nabi ia akan mendapat sesuatu yang lebih tinggi dibanding pengakuan cintanya pada Allah, yaitu Allah mencintainya. Yang kedua ini lebih agung dibandingkan yang pertama. Sebagian ahli hikmah yang alim berkata;

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَب

“Urusannya bukanlah kau mencintai, tetapi kau dicintai.” (Tafsīr Ibn Katsīr)

Bertolak dari penafsiran Ibn Katsīr ini, maka dewasa ini, umat Islamyang mengaku cinta kepada Allah pun harus membuktikannya. Pembuktian tersebut dengan terus menjalankan ajaran-ajaran Nabi Muhammad yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis-hadis (Perkataan, perilaku dan ketetapan serta akhlak Nabi)yang sahīh. Bila tidak, maka pengakuannya adalah dusta, tidak dapat dibenarkan. Walaupun demikian, pemahaman Ibn Katsīr tentang keharusan semua ucapan dan perilaku sesuai ajaran dan anjuran Islam tidak serta-merta dipahami bahwa orang yang belum bisa atau bahkan tidak bisa mengikuti Nabi secara keseluruhan berarti tidak cinta kepada Allah.

Pemahaman lain dari ayat ini bisa dikatakan bahwa Allah melegitimasi semua hal yang berkaitan dengan Nabi mulai dari ucapan, perilaku dan akhlaknya. Oleh sebab itu, semua hal tersebut juga bisa dipahami sebagai representasi atau bentuk dari cinta Allah. Seseorang yang bisa melakukan seluruhnya secara sempurna sebagaimana Nabi melakukan maka ia mendapatkan cinta Allah secara sempurna.Perkaraini –bila tidak mau dikatakan tidak mungkin- sangat sulit. Sebaliknya, bila tidak dapat melakukan secara sempurna maka sesuai itulah cinta Allah yang akan diperoleh.Akhirnya, dia yang dicintai Allah akan dicintai oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Muslim meriwayatkan, Nabi bersabda;

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّ يأُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْض (الحديث

Dewasa ini, banyak perkara-perkara penting yang “terlihat tidak penting” di kalangan umat Islam. Dikatakan demikian karena perkara-perkara tersebut sudah banyak dilupakan oleh umat Islam, khususnya para generasi muda. Perkara tersebut di antaranya adalah sejarah tentang Nabi, nama keluarga-keluarga Nabi, keistimewaan mereka serta peran penting dalam mendukung keberhasilan dakwahnya dan juga tentang para sahabat. Mereka adalah para pejuang keimanan yang harusnya selalu dikenang dan dicintai. Para pejuang suatu negara selalu dikenang dan dicintai serta diadakan perayaan dengan cara masyarakatnya masing-masing untuk mengenang mereka. Pejuang keimanan pun harusnya lebih dikenang dan lebih dicintai. Selain itu, mereka merupakan orang-orang yang berintraksi dengan Nabi, mengetahui tingkah lakunya. Mereka adalah pintu menuju Nabi. Maka mengenali mereka sebuah keharusan, karena ini adalah salah satu cara untuk mengikuti Nabi. Artinya, ini salah satu cara untuk membuktikan kecintaan kepada Allah hingga akhirnya menggapai cinta Allah.

Comments are Closed