Tipu Daya

  • 0

Tipu Daya

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

“Ghurur” adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu  yang cocok dengan hawa nafsu karena tipu daya setan. Orang-orang yang telah tertipu oleh kenikmatan dunia dan rayuan setan sering berkata, kita harus menikmati dunia karena akhirat belum pasti adanya. Kita harus mendahulukan kepentingan hidup di dunia karena kita hidup di dunia dan akhirat masih lama. Mari kita nikmati masa muda dengan kenikmatan dunia sebelum datang usia tua. Gaya bahasa beracun ini sering kali menipu anak manusia.

Hidup di dunia hanyalah sementara dan tidak lama.  Perbandingan dunia dan akhirat satu hari di akhirat sama dengan 1000 atau 50.000 tahun di dunia. Karena dunia hanya sementara, maka semua yang ada di dunia juga sementara.

Hidup adalah sementara. kaya dan miskin, muda dan tua, sehat dan sakit, cantik dan jelek semuanya sementara dan sebentar lagi akan berakhir. Hati-hati oleh tipu daya setan sangat menggoda.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqmān/31: 33)

Setiap manusia akan diminta pertanggungan jawab terhadap semua yang dilakukannya saat hidup di dunia. Seseorang tidak akan bertanggung jawab atas perbuatan orang lain.

Tipu daya setan dan gemerlapan dunia sering kali memperdaya manusia hingga terjerumus kedalam kubangan dosa dan maksiat.

 Allah Ta’ala berfirman,

 يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka menjawab, benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” (QS. al-Ḥadīd/57: 14)

Mensiasati tipu daya

Para ulama sepakat bahwa untuk mencapai maqom tertentu dalam jejak spiritualitas ada tiga syarat utama.

  1. Mengenal hakikat

Dunia pada hakikatnya hanyalah halte kehidupan. Bila saatnya datang sang penjemput, semewah apapun dunia harus ditinggalkan. Kesadaran bahwa dunia hayalah tempat persinggahan sementara, akan membuat manusia selalu mawas diri.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat dunia, menginginkan hidup abadi di tempat sementara. Dan itu adalah kebodohan yang nyata.

 Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imrān/3: 185)

Kesadaran bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, sudah cukup sebagai terapi dalam menghadapi tipu daya setan. Seandainya Allah Ta’ala memberikan kekayaan dan kesehatan yang prima itu hanyalah sementara dan tak lama lagi semua itu akan sirna. Apabila manusia sedang mendapatkan penderitaan dengan ujian berupa sakit dan kekurangan harta, itu juga sementara dan sebentar lagi semua derita akan berlalu. Semua itu datang dan tak lama lagi akan pergi. Jangan bangga dengan kesehatan dan kekayaan karena sebentar lagi akan datang kemiskinan dan sakit di sekujur badan. Apabila manusia sedang ditimpa musibah, jangan sedih dan meratap, karena semua penderitaan akan berakhir.

 Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. al-An’ām/6: 32)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. al-Baqarah/2: 86)

Orang-orang yang tidak mengenal hakikat dunia, akan melakukan perbuatan yang melampaui batas, bersenang-senang dengan “sampah kehidupan”, bermaksiat, memakan yang haram dan menzalimi dirinya sendiri. Saat meninggal dunia, maka tempat kembalinya adalah jahanam.

Allah Ta’ala berfirman,

 فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya).” (QS. al-Nāzi’at/79: 37-39)

  1. Menata kondisi batin

Hati selalu berubah dan tidak tetap. Dalam kondisi tertentu, manusia merasakan dekat dengan Tuhannya, hatinya tenang dan damai, lalu berbagai amal soleh menghiasi kesehariannya. Namun, dalam waktu yang lain, manusia merasakan kehampaan dan kesendirian hingga terbawa oleh bisikan setan.

Untuk memelihara agar kondisi batin selalu terjaga dan berada dalam koridor Ilahiyat, maka manusia harus melakukan beberapa hal;

Pertama, berdoa agar Allah Ta’ala selalu membimbingnya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Allah yang membolak balikkan hati, tetapkan hatiku selalu dalam agamamu.

Kedua, Berzikir tanda orang hidup dan tanpa berzikir orang akan mati. Kehidupan ruhani adalah berzikir dan tanpa berzikir, ruhani akan mati dan membeku. Selalu mengingat Allah Ta’ala dan menyebut-nyebut nama-Nya akan membangunkan kesadaran berketuhanan atau “lahut” di dalam diri manusia.

Ketiga, melakukan “riyadhah al-nufūs”.  Penyucian diri adalah salah satu cara agar kondisi selalu dalam keadaan sehat dan tidak terjangkiti penyakit hati.

  1. Berbuat sesuai hakikat

Rasulullah bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)

Dunia tidak lebih hanya bagaikan mencelupkan jari ketengah samudera yang luas, lalu perhatikanlah berapa banyak air yang ada di jarimu, nah itulah dunia.

Berjalan di muka bumi sesuai  dengan pengetahuan manusia tentang hakikat dunia. Karena dunia hanya peristirahatan sejenak, maka berbuatlah sesuai dengan itu.

Banyak orang yang tidak menyadari tipu daya dunia ini mereka terpesona mengejar kesenangan hidup di dunia dan tidak peduli dengan kehidupan akhirat yang lebih besar.

Seluruh usaha dan tenaga dikerahkan untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan hidup di dunia. Mereka meghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan, kemuliaan dan kesenangan hidup di dunia. Mereka tidak peduli dengan ancaman Allah, mereka tidak takut mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah, Karena mereka tidak yakin akan adanya kehidupan akhirat. Bagi mereka kehidupan itu hanya kehidupan dunia saja. Kita hidup kemudian mati dan berlalu begitu saja tanpa dituntut pertanggungan jawab. Mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia yang penuh tipu daya.  Sehingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi selama lamanya.

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu berbuat sesuai dengan pengetahuannya tentang hakikat dunia. Dengan menyelaraskan antara amal dan ilmu, manusia akan selamat dari tipu daya dunia.

wallahu a’lam