Geliat Pentahqiqan Naskah-naskah Nusantara di Fak. Ushuluddin UIN Jakarta

  • 0

Geliat Pentahqiqan Naskah-naskah Nusantara di Fak. Ushuluddin UIN Jakarta

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA bercerita bahwa budaya Tahqiq (Filologi) di Mesir sangat banyak, karena para mahasiswa baik yang S2 maupun S3 di sana wajib membuat Tesis atau Disertasi kajian Tahqiq (Filologi), sehingga tradisi Tahqiq terus dilakukan sampai sekarang.

Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengusung Tema “Pendekatan Filologi (Tahqiq) dalam Kajian Al-Qur’an” yang berlangsung di Teater Room Lt. 4 Fak. Ushuluddin [20/03/2018]. Seminar tersebut menghadirkan beberapa pakar Tahqiq (Filologi) di antaranya: Dr. Mahrus El-Mawa, MA (Kasi Penelitian dan Pengelolaan HaKI Direktorat PTKI Ditjen Pendis Kementeriaan Agama RI), dan Dr. Islah Gusmian, MA (Kepala Pusat Kajian Naskah dan Khazanah Islam Nusantara/ IAIN Surakarta), juga Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA. (STAI Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah).

Pengantar pertama sebelumnya disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. Masri Mansoer, MA. Menurutnya, ‘sangat penting bagi kita dapat memahami pendekatan filologi klasik dalam upaya mengembangkan kajian al-Qur’an, maka tidak perlu diperdebatkan lagi, karena al-Qur’an otentik. Apabila, di dalam al-Qur’an dikatakan “…وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا” ini terjadi kreasi makna, apakah perempuan hanya diciptakan untuk kaum lelaki saja, atau sebaliknya? Maka untuk mengetahui makna-makna lain perlu pendekatan atau pemahaman ulang oleh pakar ahli sesuai disiplin keilmuannya.’ Terang Dekan, pakar Filsafat Islam.

Selanjutnya pemaparan seminar dimulai dengan penjelasan Dr. Faizah Ali Syibromalisi yang sebelumnya diuraikan pendahuluan oleh moderator Drs. A. Rifqi Muchtar, MA. Faizah mengatakan bahwa kegiatan Tahqiq mengupas sejarah, esensi dan urgensi kajian Tahqiq (Filologi) dalam khazanah keilmuaan Islam, Tahqiq sendiri dibedakan dalam 2 periode; klasik dan modern. Dalam masa klasik aktivitas atau gerakan mentahqiq buku atau Manuskrip muncul dan berkembang ketika penyampaian ilmu tidak lagi secara oral atau “talaqqi” (tatap muka) yang bermula pada abad IV Hijriyah Ulama’ Hadis banyak yang melakukan aktivitas mentahqiq hadis-hadis riawayat pendahulunya untuk menilai keotentisitasannya. Sedangkan pada masa modern aktivitas tahqiq bertujuan untuk memproduksi kembali naskah-naskah kuno yang umurnya sudah ratusan tahun agar dapat kembali hidup dan dipelajari untuk generasi sekarang, dan seterusnya.

Dari kiri: Ala’i Nadjib, Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA, Dr. Mahrus el-Mawa, Dr. Bustamin, M.Si, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA, Dr. Husnul Hakim, MA, Dr. Islah Gusmian, MA dan Drs. A. Rifqi Muchtar, MA

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA menjelaskan pentingnya menghidupkan karya budaya di dalam turats seperti kitab tafsir, yang akan bertemu dengan kajian fiqih, balghah, qira’ah dll.  Ketika melakukan tahqiq maka muhaqqiq diberikan kesempatan untuk paham berbagai disiplin keilmuan, walaupun sangat penting kajian tahqiq tersebut tak sembarang naskah dapat dikaji, bukan berarti bahwa hanya karena naskah tersebut berusia ratusan tahun dan berbahasa Arab maka boleh ditahqiq, tetap ada kualifikasi dan standart kwalitas naskah yang dapat ditahqiq.

Diteruskan oleh Dr. Mahrus el-Mawa yang menjelaskan tentang kekayaan Manuskrip Qur’an Nusantara (MQN) yang sangat banyak dan tercecer bahkan diluar negeri. Tercatat ada 445 MQN yang ada di dalam negeri dan 203 MQN yang ada diluar negeri, sedangkan yang dimiliki Perpustakaan Nasional Indonesia ada 10 MQN (Ali Akbar, 2010). Sedikitnya minat dalam kajian Filologi Turast Nusantara menjadikan sedikit pula kajian tentangnya pada hal masih banyak turast karya ulama’ nusantara yang belum mendapatkan perhatian untuk dijadikan bahan kajian sehingga diharapkan dengan adanya seminar ini mampu untuk membangkitkan ketertarikan para mahasiswa Ushuluddin khususnya dalam mengkaji turast-turast yang ada di Nusantara.

Dalam upaya meningkatkan minat mahasiswa, Mahrus el-Mawa juga siap untuk membantu sekaligus mendanai bagi para mahasiswa/i yang ingin melakukan riset tentang kajian naskah-naskah kuno karya ulama’ Nusantara. Bahkan menurut Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum sebentar lagi akan mendirikan “Pusat Kajian Manuskrip Nusantara” (PKMN), juga Museum Turats yang khusus riset kajian Tahqiq Manuskrip Nusantara.

Tak jauh berbeda yang dipaparkan Dr. Islah Gusmian, MA seorang penggiat kajian naskah. Ia mengungkapkan  tentang asyiknya mempelajari Tahqiq (Filologi) pada naskah Nusantara, karena banyaknya temuan-temuan mengejutkan dalam naskah klasik tersebut, semisal dalam sebuah naskah berbahasa Arab yang ditemukan di Madura yang berbunyi “barang siapa menanam tembakau maka dirinya sama halnya dengan ziarah ke makam nabi Muhammad, dan barang siapa ‘ngudud’ (merokok) selepas shalat dhuhur maka Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan kepadanya”, juga dengan naskah kuno berbahasa Arab yang artinya “Rukun Islam itu cuma satu saja, yaitu Syahadat.” ini kalau di zaman sekarang sudah halal darahnya, kelakar Dr. Islah yang disambut gelak tawa para audience.

Dr. Islah Gusmian juga menjelaskan bahwa dengan mempelajari dan mengetahui naskah kuno dapat pula diketahui sejarah kebudayaan dan peradaban itu sendiri, sehingga sangat penting bagi para akademisi Program Studi Tafsir terutama untuk konsen melakukan kajian Tahqiq kitab-kitab Ulama’ Nusantara, agar menghidupkan kembali tradisi leluhur dalam membangun lokalitas dan kepribadiaan bangsa dalam frame keagamaan. (Mohammad Makhlad/Ed: M.NTs)