Ayah Bunda

  • 0

 Ayah Bunda

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Kehadiran anak manusia di muka bumi tidak dapat dilepaskan dari ayah bunda.  Allah Ta’ala telah menciptakan manusia di muka bumi, dan itu disebut sebagai “sebab hakikat”, yakni pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala. Ayah bunda yang menjadi penyebab manusia ada di muka bumi disebut sebagai “sebab pendekat”, yakni karena melalui proses pernikahan ayah bunda, maka jadilah anak manusia.

Seseorang tidak dapat keluar dari hukum sebab akibat bahwa keberadaannya  adalah karena adanya ayah  bunda. Allah Ta’ala sebagai sebab hakikat dan ayah bunda menjadi sebab pendekat, maka wajib bagi manusia untuk beribadah kepada-Nya dan berbakti kepada ayah bunda.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ayah bunda dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra/17: 23)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ayah bundamu.” (QS. al-Nisa’/4: 36)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

 “Katakanlah, marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dan, berbuat baiklah terhadap ayah bundamu.” (QS. al-An’am/6: 151)

Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa kewajiban manusia adalah mengabdi kepada Tuhannya dan berbakti kepada ayah bundanya. Siapa yang mengabdi kepada Tuhannya, namun tidak berbakti kepada ayah bundanya, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya.

Rasulullah saw bersabda,

 عن عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ . قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra, aku bertanya kepada nabi Muhammad saw, perbuatan apakah yang dicintai oleh Allah? Rasulullah saw menjawab, shalat pada waktunya. Kemudian apa ya Rasulullah? berbakti kepada ayah bunda. Kemudian apa ya Rasulullah? Berjihad di jalan Allah.

 Tiga amal yang menyebabkan Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya:

 Pertama, shalat pada waktunya sebagai manifestasi ketaatan kepada-Nya.

Kedua, berbakti kepada ayah bunda, sebagai ungkapan syukur kepada keduanya. Rasulullah saw bersabda, siapa yang tidak bersyukur atau tidak berterima kasih kepada ayah bunda, maka dia tidak akan pernah bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Ketiga, berjihad di jalan-Nya.

Hadis di atas mengisyaratkan hal sangat penting. Seseorang akan dapat berjihad dengan baik, apabila shalatnya sudah bagus dan telah berbakti kepada ayah bunda. Apabila ibadahnya belum bagus, hubungan kepada ayah bunda kurang baik, maka jihadnya hanyalah hawa nafsu.

 عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : رضى الرب في رضى الوالد , وسخط الرب في سخط الوالد . رواه الترمذي

Dari ‘Abdullah Ibn ‘Umar ra, dari Nabi saw bersabda,  ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah karena murka orang tua.

Allah Ta’ala akan ridha kepada seseorang yang telah mendapat ridha orang tua dan Allah akan murka kepada anak yang durhaka kepada ayah bunda sekalipun ahli. ibadah. Apabila seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya, namun dia maksiat kepada Tuhannya, maka baktinya kepada ayah bunda hanya manipulasi belaka.

  1. Jangan berkata “ah”

Apabila ayah bunda telah berusia senja, fisiknya sudah lemah dan tak berdaya, dan engkau menemaninya sebagaimana mereka menjagamu sejak kecil, maka jangan sekali-kali menyakiti perasaannya dengan kata-katanya yang tidak sopan. Saat engkau masih anak-anak dan engkau melakukan kesalahan, maka dengan cinta dan kasih sayang dirubahnya kesalahanmu menjadi kebaikan. Ayah bunda tidak pernah marah kepadamu walau engkau mengotori tubuhnya dengan kotoranmu. Ayah bunda juga selalu menggendong dan menciummu walau badanmu berat dan kotor. Ayah bunda selalu memberi makan kepadamu walau mereka dalam keadaan lapar.  Saat engkau sakit, ayah bunda sedih dan berhari-hari tidak tidur menjaga dirimu. Kini keduanya telah tua renta, terkadang sering lupa bahkan saat keduanya sakit tidak mau cerita. Maka jangan berkata sesuatu yang menyakiti perasan keduanya. Bila engkau tidak sanggup melakukan sebagaimana mereka melakukan kebaikan kepadamu saat engkau masih kecil, dan itu pasti kamu tidak sanggup melakukannya, maka jagalah lisanmu dari kata-kata yang dapat melukai hati ayah bunda.

  1. Jangan menggentak ayah bunda

Membentak ayah bunda akan melukai hati ayah bunda. Ketika ayah bunda sudah semakin tua, terkadang perilakunya seperti anak- anak. Oleh karena itu, perlu kasabaran, cinta dan kasih sayang dalam berkhidmat kepadanya. Jangan membentak mereka saat mereka melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati.

ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما

 “Dan jangan membentak keduanya dan hendaklah berkata kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.”

Rendahkan dirimu dihadapan mereka, artinya berlaku sopan dan penuh kasih sayang karena kasih sayang mereka telah kamu nikmati sejak lahir bahkan sebelum kamu dilahirkan sampai usiapunn masuk usia tua.

Diriwayatkan bahwa seorang anak muda mendatangi Rasulallah saw dan bertanya, “ya Rasulallah saw, aku mempunyai seorang ibu dan aku telah berbakti kepadanya, tetapi dia selalu marah kepadaku, apa yang harus aku lakukan?” Rasulallah saw menjawab, “berbaktilah kepadanya.”

Beberapa hari kemudian anak muda ini menghadap Rasulallah saw dan berkata, “ya Rasulallah saw, aku sudah berbakti kepada ibuku, tetapi dia masih marah kepadaku, apa yang harus aku lakukan?” Rasulallah saw menjawab, “berbaktilah dan berilah dia makan.” Beberapa hari kemudian, anak ini datang lagi dan berkata yang sama. Lalu Rasulallah saw bersabda kepada anak muda itu, “hai anak muda, berbaktilah kepadanya, dan ketahuilah, seandainya kamu potong daging pahamu, lalu kamu serahkan kepadanya, maka belum cukup baktimu kepadanya.”

Kasih sayang ayah bunda tidak akan pernah terbayar sekalipun seorang anak menyerahkan semua mobilnya, rumahnya, dan semua kekayaannya. Kasih ibu tiada bertepi, kasih ayah sepanjang masa dan itu tidak akan pernah terbayar dengan apapun kecuali berbakti kepada ayah bunda.

  1. Berdoa

 Berdoa bagi ayah bunda adalah syariat. Salah satu tanda anak yang soleh adalah anak yang mendoakan ayah bundanya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له، رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, apabila anak adam meninggal dunia, maka terputus semua amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yakni anak yang selalu mendoakannya. (HR. Muslim)

Diriwayatkan, suatu hari datang seorang laki menghadap Rasulallah saw dan bertanya, “ya Rasulullah saw, ayah bundaku telah tiada, apakah ada kewajibanku berbakti kepada keduanya?”

Rasulullah saw menjawab, “ada nak. Ada empat kewajiban bagi seorang anak terhadap ayah bunda yang telah tiada.”

Pertama, mendoakan keduanya. Kedua, memohon ampun untuk keduanya. Ketiga, memuliakan teman ayah bunda yang masih hidup. Keempat, bersahabat dengan teman ayah bunda sebagaimana mereka bersahabat sewaktu mereka masih hidup.”

 wallahu a’lam.

*Selamat jalan nenek kami tercinta AMISAH binti SAINI*

Semoga kami, anak cucu-mu menjadi anak dan cucu yang soleh, yang selalu mendoakanmu. Engkau adalah mutiara kami. Doa kami menyertai keberangkatanmu.

*Muhammad Zuhdi Zaini* Cucu.

Amisah binti Saini

Lahir : 10 Nopember 1913

Wafat : 20 Maret 2018

Prosesi Pemakaman

Hari ini, 21 Maret 2018

Jam. 07 Pagi di Karen Tengsin, Tanah Abang Jakarta Pusat.