Teori Nasakh: Penerapan Al-Qur’an dan Al-Sunnah

  • 0

Teori Nasakh: Penerapan Al-Qur’an dan Al-Sunnah

Category : Artikel

Oleh: Nia Ariyani[1]

Abstrak

“Nasakh” adalah pembatalan terhadap pelaksanaan hukum. Nasakh terbagi menjadi berbagai macam-macam bagian. Di antaranya, nasakh al-Qur’an dengan al-Qur’an, nasakh al-Sunnah dengan al-Qur’an, nasakh al-Sunnah dengan al-Qur’an, dan nasakh al-sunnah dengan al-Sunnah.

Dalam pembagian terhadap nasakh, para ulama berbeda pendapat tentang adanya nasakh dalam al-Qur’an. Ada‘ulama yang menyetujui nasakh dalam al-Qur’an dan adapula ‘ulama yang tidak sepakat adanya nasakh dalam al-Qur’an.

Teori nasakh adalah teori yang membahas mengenai pengetahuan nasakh. Hal ini menjadi bahan penelitian bagi kalangan ‘ulama-‘ulama fiqh. Sehingga kajian teori nasakh tetap eksis dan sangat dibutuhkan sampai saat ini.

Keyword: teori, nasakh, al-Qur’an, al-Sunnah.

Pembahasan

Nasakh adalah bagian ilmu dalam sebuah Ilmu Fiqh. Dalam ilmu Fiqh mengetahui tentang nasakh sangat diperlukan untuk mengistinbath sebuah hukum. Di sinilah, tujuan penulis mendeskripsikan teori hukum, yaitu untuk mengetahui Ilmu tentang nasakh itu sendiri. Hal ini agar teori nasakh dapat diketahui secara luas. Sehingga dapat mengamalkan, menilai, bahkan menjadi pejuang dalam menyelesaikan problematika istinbat (penetapan) hukum yang ada pada masyarakat.

Penulis membagi pengetahuan tentang teori nasakh dalam beberapa bagian, yaitu: Pertama, pengertian nasakh; kedua, syarat-syarat nasakh; ketiga, macam-macam nasakh; dan keempat, pandangan para ‘ulama tentang nasakh.

Pengertian Nasakh

Secara etimologi (bahasa) pengertian nasakh (نسخ) terbagi menjadi tiga yaitu: “al-ibthāl” اَلْإِبْطَالُ (penghapusan), “al-izālah” اَلْإِزَالَهُ (peniadaan), dan “al-naql” اَلنُّقُلُ (perpindahan).[2]

Sedangkan secara terminologi (istilah) banyak berbagai pendapat, antara lain:

رَفْعُ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ بِدَلِيْلٍ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ

“Membatalkan suatu hukum dengan dalil yang datang kemudian.”

Menurut Chaerul Umam, dalam bukunya “Ushul Fiqh 1” menjelaskan bahwasanya seandainya nasakh yang di-nasakh-kan tidak datang tentulah hukum yang telah ada tetap berlaku.[3]

Muḥammad al-Khuḍarī dalam bukunya “Ushul Fiqh,” mengatakan bahwa nasakh,[4] adalah:

النسخ وهو رفع الشارع حكما شرعيا بدليل شرعي, وهو جائز عقلا

“An-Nasakh adalah jalan hukum yang syar’i dengan dalil syar’i, ia dibolehkan atau tidak dibolehkan berdasarkan akal..”

Abd. al-Wahhāb Khalāf, dalam bukunya “‘Ilmu ‘Ushul Fiqh,” menyatakan bahwa:

النسخ في اصطلاح الأصوليين : هو إبطال العمل بالحكم الشرعي بدليل متراخ عنه[5]

“Amal dibatalkan dengan hukum syar’i dengan dalil yang terakhir”

منقولة عن الفقهاء : أن النسخ هو اللفظ الدال على انتهاء أمد الحكم لشرعي مع التأخير عن مورده[6]

Dari berbagai pendapat yang dikemukakan di atas. Maka dapat disimpulkan bahwa nasakh adalah penghapusan atau pembatalan suatu hukum yang datang kemudian.

Syarat-Syarat dan Macam-Macam Nasakh

  1. Syarat-syarat Nasakh

Amir Syarifuddin dalam bukunya “Garis-garis Besar Ushul Fiqh” menjelaskan syarat-syarat nasakh[7] sebagaimana ulama Mujtahid menerima adanya nasakh, syarat-syarat nasakh tersebut dapat dipenuhi sebagai berikut: a) Yang di-nasakh adalah hukum syara’, yaitu hukum yang bersifat alamiah, bukan dalil akal dan bukan pula yang menyangkut akidah; b) Dalil nāsīkh yang menjelaskan tidak berlakunya dalil terdahulu itu datang secara terpisah dan terkemudian dari dalil mansūkh; c). Dalil hukum yang di-nasakh-kan (mansūkh) tidak menunjukkan berlakunya hukum untuk selamanya.

Syarat-syarat nasakh juga dikuatkan Chaerul Umam di antaranya: a) Nasakh harus terpisah dari mansukh; b) Nāsīkh harus lebih kuat atau sama-sama kuatnya dengan mansūkh; c) Nāsīkh harus berupa dalil-dalil syara’; d) Mansūkh tidak dibatasi pada suatu waktu; dan e) Mansūkh harus hukum-hukum syara’.[8]

  1. Macam-Macam Nasakh

Khalid Ramadhan Hasan dalam kitabnya “Mu’jam fi Ushul Fiqh,” membagi nasakh menjadi 4 (empat) jika dilihat dari segi nāsīkh (yang menghapus):[9]

  1. Al-Qur’an di-Nasakh dengan Al-Qur’an

Contoh ayat al-Qur’an yang di-nasakh dengan al-Qur’an. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ (٦٥(

“Wahai Nabi (Muhammad) kobarkanlah semangat para Mukmin untuk berperang.Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orag-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. al-Anfāl [8]: 65)

Kemudian, ayat di atas di-nasakh dengan al-Qur’an.  Allah swt berfirman:

الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ) ٦٦(

“Sekarang Allah telah meringankan kamu karena, Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika diantara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizing Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q. S. Al-Anfal (8) : 66)

  1. Al-Qur’an di-Nasakh dengan Al-Sunnah

Ayat tentang wasiat terhadap kedua orangtua dan kerabat telah dihapus hukumnya dengan hadis Nabi: “Ketahuilah bahwa tidak ada wasiat terhadap ahli waris” contoh lain ayat tentang, “hukum cambuk (jilid) bagi perempuan dan laki-laki yang berzina dengan seratus kali cambuk” di-nasakh oleh hadis tentang rajam” pelaku zina.[10]

  1. Al-Sunnah di-Nasakh dengan Al-Qur’an

Contoh hadis Nabi yang menyatakan, “Menghadap ke Baitul Maqdis ketika shalat selama 16 sampai 17 bulan” (HR. al-Bukhārī). Kemudian, ketentuan ini dihapus oleh al-Qur’an surat al-Baqarah [2]: 144 yang menyerukan untuk menghadap ke Baitullah (Mekkah). Allah swt berfirman:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَ إِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“(Allah) berfirman, “Wahai Mūsā! Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada Apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”

  1. As-Sunnah di-Nasakh dengan Al-Sunnah

Contoh al-Sunnah yang di-nasakh dengan al-Sunnah adalah seperti larangan berziarah kubur pada waktu permulaan Islam. Kemudian Rasul dengan hadisnya yang lain membolehkan ziarah kubur setelah masyarakat mengetahui hakikat ziarah kubur. (HR. Muslim).

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِأَلَافَزُرُوْهَا (رواه مسلم)

“Dulu Aku (Nabi) melarang kalian untuk berziarah kubur sekarang ber-ziarah kuburlah kamu.”

Perkara-perkara Tidak Terjadinya Nasakh

Acep Hermawan dalam bukunya “‘Ulumul Qur’an” menjelaskan bahwa ‘ulama Ushul, sebagaimana Amir Abdul Aziz sepakat bahwa nasakh hanya mungkin terjadi pada ayat yang menyangkut “Amar Ma’rūf wa Nahī Munkar”. Termasuk yang bentuk kalimatnya khabar (berita) yang bermakna “thalab” (permintaan, tuntutan). Diluar ayat-ayat yang bentuk kalimatnya semacam ini, nasakh tidak terjadi. Berikut ini contoh ayat berbentuk khabar yang tidak mengandung makna thalab, janji (wa’d), ancaman (wa’id), dan kisah yang tidak mungkin terjadi nasakh.[11] Allah swt berfirman:

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَةٍ مِّنۡ طِيۡنٍ​ ‏ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلۡنٰهُ نُطۡفَةً فِىۡ قَرَارٍ مَّكِيۡنٍ‏ ﴿١٣﴾ ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰهُ خَلۡقًا اٰخَرَ​ ؕ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِيۡنَ ؕ‏ ﴿١٤

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah (12); Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), (13); Kemudian, air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian  kami enjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik.” (QS. al-Mu’minūn [23]: 12-14)

وَعَدَ اللهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى‏ لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَني‏ لا يُشْرِكُونَ بي‏ شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan Agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap)kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Nūr [24]: 55)

۞ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Dan kepada kaum Tsamud (kami utus) saudara mereka, Shaleh.Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Aku, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu peakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya. Kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).”(QS. Hūd [11]: 61)

Dari berbagai macam contoh ayat di atas hanyalah sekedar contoh hal-hal yang tidak terkena nasakh. Masih banyak lagi contoh-contoh ayat yang tidak terkena nasakh.Karena, pada prinsipnya semua ayat al-Qur’an hanya sedikit saja yang dianggap terkena Nasakh.

Pandangan ‘Ulama Tentang Nasakh

Nasakh dalam ayat al-Qur’an para ‘ulama berbeda pendapat:

  1. Abū Muslim al-Isfihānī berpendapat bahwa, tidak terdapat nasakh dalam al-Qur’an. Hal ini terdapat dua alasan. Alasan pertama, seandainya ada nasakh maka telah terjadi pembatalan hukum dalam al-Qur’an. Kedua, hukum al-Qur’an bersifat tetap sampai hari kiamat.
  2. Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa terdapat nasakh dalam Al-Qur’an. Hal ini juga terdapat dua pendapat: Pertama ini berdasarkan dalam QS. al-Baqarah [2]: 106, sebagaimana Allah berfirman:

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿البقرة:١۰٦﴾

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya, tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pendapat kedua berdasarkan dalam QS. al-Naḥl [16]: 101. Allah swt berfirman:

وَإِذَا بَدَّلْنَا آَيَةً مَكَانَ آَيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101(

 “Dan apabila kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang telah diturunkan-Nya, mereka berkata, “sesungguhnya Engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja,” sebenarnya kebanyak mereka tidak mengetahui.”

  1. Pendapat Orang Yahudi

Orang Yahudi mereka tidak mengakui adanya Nasakh, karena menurutnya Nasakh mangandung konsep al-bada’, yakni nampak jelas setekah kabur (tidak jelas).Nasakh itu adakalanya tanpa hikmah, dan ini mustahil bagi Alah.Dan adakalanya karena sesuatu hikmah yang sebelumnya tidak nampak.Ini berarti terdapat suatu kejelasan yang didahului oleh ketidak jelasan dan ini pun mustahil baginya.[12]

Kesimpulan

Nasakh adalah pembatalan, pengahapusan, atau penghilangan hukum setelah datang hukum yang kemudian. Nasakh mempunyai syarat-syaratnya, salah satu syarat nasakh yang di-nasakh adalah hukum syara’, yaitu hukum yang bersifat alamiah, bukan dalil akal dan bukan pula yang menyangkut akidah.

Nasakh terbagi menjadi berbagai macam-macam bagian. Di antaranya, nasakh al-Qur’an dengan al-Qur’an, nasakh al-Sunnah dengan al-Qur’an, nasakh al-Sunnah dengan al-Qur’an, dan nasakh al-sunnah dengan al-Sunnah.

Para ‘ulama berbeda pendapat mengenai nasakh. Ada yang mengatakan bahwa nasakh diperbolehkan dalam al-Qur’an, ada juga yang mengatakan bahwa nasakh tidak diperbolehkan dalam al-Qur’an. Untuk menetapkan kesimpulan mengenai nasakh ini, para pembaca bisa melihat argument (pendapat) melalui mencari bukti-bukti, atau langsung meneliti mengenai teori nasakh.

Dari hasil eksplorasi (penggalian) mengenai teori nasakh, tujuannya bukan hanya untuk mengetahui teori.Tapi juga untuk menjawab problematika hukum yang diistinbatkan (ditetapkan) dalam masyarat.Tentunya penetapan Istinbat hukum harus berdasarkan keilmuan atau harus menguasai bidang-bidang keilmuan. Seperti: Ilmu Qur’an, Ilmu Fiqh, Ilmu Ushul Fiqh, Ilmu Bahasa, dan lain sebagainya. Semua itu adalah Ilmu pendukung dalam menetapkan sebuah hukum.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al-Karim

Al-Khudori, Syaik Muhammad, Ushul Fiqh, Penerbit: Darul Haq.

Al-Qattan, Manna Khalil,  Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta: Litera Antar Nusa, 1973.

Hermawan, Acep, ‘Ulumul Qur’an, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011.

Khallāf, Abd al-Wahhāb, ‘Ilmu ‘Ushul Fiqh, Penerbit: Darul Haq.

Shalah bin Muhammad bin ‘Uridhoh, Al-Burhān fī Ushūl Fiqih, Beirut: Dār al-Kutūb al-Ilmiyah, 1997.

Syarifuddin, Amir, Garis-Garis Besar Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.

Shidiq, Sapiudin, Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.

Umam, Chaerul, dkk, Ushul Fiqh 1, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000.

Zuhaili, Wahbah, Ushul Fiqh Al-Islam, Damaskus: Daar Al-Fikr, 1986.

_______________________________

[1]Nia Ariyani adalah Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2015.

[2]Lihat Lisanul ‘Arab

[3]Lihat Chaerul Umam, dkk, Ushul Fiqh 1, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), Cet. Ke-2, h. 195-196.

[4]Syaikh Muhammad Al-Khudori, Ushul Fiqh, Penerbit: Darul Haq, h. 247

[5]Abdul Wahhab Khollaf, ‘Ilmu ‘Ushul Fiqh, Penerbit: Darul Haq, 255.

[6]Sholah bin Muhammad bin ‘Uridhoh, Al-Burhan fi Ushul Fiqih, (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 1997), Cet. Ke-1, h. 246.

[7]Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), Cet. Ke-1,  h.86.

[8]Chaerul Umam, Ushul Fiqih 1, ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), Cet. Ke-2, h. 201.

[9]Lihat dalam buku, Sapiudin Shidiq, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), Cet. KE-1,  h. 238-240.

[10]Wahbah Zuhaili, Ushul Fiqh Al-Islam, (Damaskus: Daar Al-Fikr, 1986),Cet. Ke-1, h. 971. Dalam buku, Sapiudin Shidiq, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), Cet. Ke-1, h.239.

[11]Acep Hermawan, ‘Ulumul Qur’an, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), Cet. Ke-1, h. 174-175.

[12]Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Jakarta: Litera Antar Nusa, 1973), h. 328.

Download: Nia Ariyani_Teori Nasakh