Kisah Kehidupan

  • 0

Kisah Kehidupan

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Salah satu metode  dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammd saw adalah melalui kisah atau cerita.

Secara etimologis kisah artinya mengikuti jejak. al-Qur’an memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kisah kehidupan hingga sejarah para nabi dan musuh-musuhnya diabadikan agar  umat dapat mengambil pelajaran dari kisah masa lalu untuk mengukir masa depan yang gemilang.

Allah Ta’ala menamakan salah surat di dalam al-Qur’an yaitu “al-Qashash” yang artinya ‘kisah-kisah.’

Di dalam surat ke-28 ini, Allah  Ta’ala menjelaskan kisah Nabi Musa yang berhadapan dengan Fir’aun. Surat al-Qashash terdiri dari 88 ayat dan berisi tentang; “ketauhidan, akhlak mulia dan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara Nabi Musa dengan fir’aun.”

Allah Ta’ala menegaskan bahwa kisah di dalam al- Qur’an adalah “the best story, kisah terbaik.”

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yūsuf/14: 3)

Menurut para ulama bahwa tujuan kisah di dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut:

Pertama, untuk menjelaskan asas dakwah islam yaitu; mengajak manusia kepada ketauhidan.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. al-Anbiyā/21: 25)

Kedua, memberi kemantapan hati Rasulullah saw dan kaum mukminin dalam menjalankan roda kehidupan Islami.

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Hūd/11: 120)

Ketiga, membenarkan syariat nabi-nabi yang lalu, menjelaskan sepak-terjang mereka dan menghidupkan “atsār” risalah mereka.

Keempat, membenarkan risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad saw dan mengajak umat menuju kebenaran sejati sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya.

Dalam teori sejarah ada dua teori:

  1. Teori pengulangan peristiwa  atau siklus kehidupan.

Dalam teori ini, sejarah hanyalah pengulangan peristiwa, walau pelaku sejarahnya berbeda, namun karakter para pelaku sejarah tidak berubah.

  1. Teori linier.

Bahwa sejarah berjalan terus sesuai perjalanan anak manusia, walau bentuk dan tampilannya berbeda, namun esensi sejarah selalu sama. Sejarah hanyalah pertarungan baik dan buruk, benar dan salah, kebenaran dan kebatilan.

Kisah yang terbanyak di dalam al-Qur’an adalah “sejarah Nabi Mūsā dan Hārūn yang berhadapan dengan Fir’aun dan Haman.”

al-Qur’an memberikan gambaran rinci tentang kedurhakaan dan kejahatan Fir’aun, namun yang menarik al-Qur’an tidak pernah menyebut nama asli Fir’aun.

Fir’aun artinya raja atau presiden bukan nama seseorang. Sungguh pelajaran yang sangat tinggi bahwa seseorang tidak boleh menyebutkan identitas seseorang yang telah melakukan kesalahan dan kekhilafan karena yang harus dilawan bukan orangnya tapi kejahatan yang berselimut di dalam raganya.

Saat Nabi Nūḥ menangis dihadapan Allah Ta’ala karena anaknya membangkang dan tidak mau mengikutinya seraya berkata, “duhai Tuhanku dia anakku.” Allah Ta’ala menjawab dengan indah, “dia bukan anakmu, dia adalah amal yang tidak baik.”

Artinya yang durhaka kepada nabi Nuh bukan putranya tetapi amal buruk yang bersemayam di dadanya.

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Allah berfirman, hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hūd/11: 47)

Sebaliknya, terhadap orang-orang yang berbuat baik, Allah Ta’ala menyebut namanya dan memberi kabar gembira dengan pahala dan surga-Nya.

Apabila ada orang yang berbuat jahat, maka ajaklah menuju kebaikan, bukan membuka kejelekannya  kepada yang lain. Sebaliknya, apabila ada orang yang berprestasi, maka berilah penghargaan dan hadiah kepadanya.

Orang yang kurang ilmu, ingin dikatakan baik, dengan menjelekkan orang lain, ingin dianggap pandai, dengan menganggap bodoh orang lain, ingin dianggap lurus dengan menyesatkan orang lain, ingin dianggap mengikuti sunnah dengan membid’ahkan orang lain.

Setiap manusia mempunyai kisah kehidupan dan semua yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia akan diminta pertanggung jawabannya kelak.

“Rasulullah saw mengingatkan, “sesungguhnya dalam mencari dunia ada kerugian bagi akhirat dan dalam mencari akhirat ada kerugian bagi dunia, maka biarkanlah kalian rugi dalam urusan dunia karena memang dunia yang lebih pantas dirugikan.”

Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda, “kalian tidak dapat memperoleh akhirat kecuali dengan meninggalkan dunia dan telanjang darinya. Aku berpesan kepada kalian, hendaknya kalian mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh Allah.”

Dalam mengukir kisah kehidupan agar mulia di dunia dan akhirat, maka teladanilah kisah kehidupan para nabi dan rasul. Karena mereka pelaku sejarah yang baik, teladan umat manusia.

Kisah kehidupan adalah rekam peristiwa masa lalu, maka berbuatlah yang terbaik sekarang untuk membangun sejarah hidup yang penuh makna.

wallahu a’lām