Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Al-Qur’an

  • 0

Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Al-Qur’an

Category : Artikel

Oleh: Nia Ariyani[1]

Abstrak

Manusia adalah “khalifah” (pemimpin) yang diciptakan oleh Allah swt, untuk menjaga, mengelola, dan memakmurkan lingkungan. Namun, pada tahun 2017-2018 terakhir ini, isu mengenai lingkungan merambah didalam berbagai aspek kehidupan.Mulai dari isu industri yang merusak air, isu para pemodal capital yang mengeruk habis tambang, sampai isu penebangan hutan yang berujung kepada kebakaran hutan, dan isu air sungai yang menyebabkan kebanjiran. Dari sinilah dapat dinyatakan bahwa Indonesia mengalami krisis global yang serius terhadap lingkungan.

Lingkungan merupakan tempat dimana manusia hidup. Lingkungan juga tempat manusia mengembangan generasi. Untuk menjaga, mengelola, dan memakmurkan lingkungan. Maka, manusia yang notabanenya sebagai khalifah harus mempunyai panduan dalam menjaga, mengelola, dan memakmurkan alam.Disinilah pentingnya yang disebut “al-Hudā” (petunjuk), “al-Furqān” (pembeda), dan “al-Zikr” (pemberi peringatan) dalam al-Qur’an.

Ekologi merupakan hubungan interaksi atau timbal balik antara manusia dan lingkungan. Sehingga, dalam sebuah hubungan  interaksi (timbal-balik) mempunyai tata cara atau petunjuk yang ada di dalam al-Qur’an.

Keyword: Munusia, Lingkungan, Ekologi,  Al-Qur’an.

Pendahuluan

Indonesia merupakan Negara yang mempunyaibentangan alam yang luas. Di dalam bentangannya terdapat beranekaragam jenis tumbuhan, hal ini disesuaikan dengan kondisi geografisnya. Dalam menguraikan lokasi penyebaran suku bangsa yang menjadi pokok deskripsi etnografi perlu dijelaskan ciri-ciri geografinya, yaitu iklimnya (tropical, mediteran, iklim sedang, dan iklim kutub), dan sufat daerahnya (pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah, jenis kepulauan, daerah rawa, hutan tropical, sabana, stepa, dan gurun) suhunya dan curah hujannya.[2]

Dari letak geografis itulah, maka manusia dan lingkungan merupakan dua hal yang sangat penting dalam kehidupan, terutama manusia yang membutuhkan lingkungan. Manusia dan lingkungan merupakan bagian dari ekologi. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.[3]

Hubungan timbal balik antara; manusia dan lingkungan merupakan suatu kesatuan ciptaan Tuhan, yang antara masing-masing sub sistemnya saling membutuhkan. Kerusakan salah satu sub sistemnya akan menjadikan rusak secara keseluruhan.[4]

Jika hubungan manusia dan lingkungan ini tidak diindahkan maka akan terjadi bencana dan kerusakan. Disinilah pentingnya manusia harus arif dan bijaksana terhadap lingkungan.Sebagaimana Allah swt. berfirman:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١ قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ ٤٢

Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan dan ulah manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar); Katakanlah (Muhammad), “bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu.Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah swt.” (QS. al-Rūm [30]: 41- 42)

Dari ayat di atas dapatlah dilihat bahwa kerusakan lingkungan adalah disebabkan karena perbuatan manusia. Di sinilah pentingnya manusia harus arif dan bijaksana terhadap lingkungan. Maka dari itu perlu membahas Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Pandangan Al-Qur’an sangat dibutuhkan.

Nasruddin Anshory dan Sudarsono dalam bukunya Kearifan Lingkungan dalam Persfektif Budaya Jawa, mengartikan bahwal lingkungan adalah suatu sistem kompleks yang berada diluar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme.[5]

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah swt, maka menjaga, mengelola, dan memakmurkan lingkungan adalah sebuah keniscayaan. Sebab, yang sebenarnya yang membutuhkan lingkungan bukanlah lingkungan itu sendiri. Namun, manusialah yang membutuhkan lingkungan.

Melihat, belum terwujudnya manifestasi kesadaran ekologi dalam pandangan al-Qur’an, dalam kehidupan. Maka, sebenarnya negara Indonesia mulai mengalami krisis global yang merambah dihampir semua lini kehidupan. Mulai dari krisis ekonomi, monetar (keuangan), sosial, politik budaya, bahan bakar, sampai krisis lingkungan hidup. Krisis lingkungan hidup merupakan permasalah yang disebabkan karena “Khalīfah fī al-Ardh” (pemimpin dibumi)  tidak memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) dengan baik dan tidak menyadari akan pentingnya lingkungan yang terjaga dengan baik. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan. Apakah yang membuat Indonesia mengalami krisis global dalam hal pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA)? Padahal, Indonesia adalah negara yang katanya mempunyai Sumber Daya (SDA) terbesar di dunia.

Sukidi, dalam bukunya, “Teologi Inklusif  Cak Nur”, menuliskan bahwa, seorang pakar ekonomi pembangunan dunia, E. F. Schumacher, dalam bukunya “A Guide for the Per-plaxed”, 1981, memberi tahu kita bahwa semua krisis berangkat dari krisis spiritual dan krisis pengenalan diri terhadap yang absolut, yaitu Tuhan.[6]

Krisis spiritual dan krisis pengenalan diri terhadap Tuhan merupakan hal yang harus diperhatikan bagi manusia yang berada di bumi Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus memahamai eksistensinya dalam kehidupan. Manusianya haruslah mempunyai karakter yang berpihak dan mencintai lingkungan sebagai “Khalīfah fī al-Ardh” (pemimpin di bumi).

“Khalīfah fī al-Ardh” (pemimpi di bumi), mempunyai peranan penting dalam Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Al-Qur’an, dalam kehidupan. Hari Bumi yang diperingati pada, tanggal 22 April dengan melakukan berbagai kegiatan antara lain: Penanaman pohon dan upacara adat. Semua itu bertujuan mengingatkan kita (sebagai pemimpin) agara senantiasa memperhatikan bumi.[7]

Namun, peringatan hari bumi ini, tidaklah menjadi solusi atas problematika sumber daya alam dan lingkungan. Peringatan hari bumi hanya sebatas peringatan yang belum diikhtiarkan (diusahakan) dalam kehidupan.Sehingga, bahaya alam diakibatkan oleh proses-proses manusia yang tidak menjaga alam merupakan kejadian yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kerusakan lingkungan.[8] Lalu, bagaimana Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran  Ekologi dalam Al-Qur’an?

 

Pembahasan

Manusia dan lingkungan merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Makhluk yang bernama manusia dilebihkan oleh Allah Subhanahu wata’ala berupa akal yang berkonsekuensi untuk tunduk dan patuh terhadap nilai-nilai yang diperintahkan Allah di dalam al-Qur’an. Di sinilah nilai-nilai manusia sebagai “Khalīfah fī al-Ardh” mempunyai tanggungjawab penuh terhadap penjagaan dan pengelolaan lingkungan.

Di dalam Filsafat Lingkungan memperlihatkan komitmen pada nilai-nilai ma-nusia, pada alam, dan pada kehidupan itu sendiri.[9] Artinya, lingkungan akan terjaga bila manusia memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya.

Di dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, hasil Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tahun 2000 di Jakarta, menghasilkan bahwa:[10]

  1. Lingkungan hidup sebagai alam sekitar dengan segala isi yang terkandung didalamnya merupakan ciptaan dan anugera Allah yang harus diolah, dimakmurkan, dipelihara, dan tidak boleh dirusak.
  2. Setiap Muslim khususnya warga Muhammadiyah berkewajiban untuk melakukan konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya, sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup, terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan berbagai tipe ekositemnya dan terkendalinya cara-cara pengelolaan sumberdaya alam. Sehingga terpelihara kelangsungan dan kelestariannya demi keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup manusia dan keseimbangan sistem kehidupan dialam raya.
  3. Setiap Muslim khususnya warga Muhammadiyah, dilarang melakukan usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam, termasuk kehidupan hayati seperti hewan, pepohonan, maupun lingkungan fisik dan biotik termasuk laut, udara, sungai dan sebagainya yang menyebabkan hilangnya keseimbangan ekosistem dan timbulnya bencana dalam kehidupan.
  4. Memasyarakatkan dan mempraktikkan budaya bersih, sehat, dan indah lingkungan disertai kebersian fisik dan jasmani yang menunjukkan keimanan dan keshalihan.
  5. Melakukan tindakan-tindakan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam menghadapi kedzaliman, keserakahan, dan rekayasa serta kebijakan-kebijakan yang mengarah, memengaruhi dan menyebabkan kerusakan lingkuangan dan tereksploitasinya sumber-sumber daya alam yang menimbulkan kehancuran, kerusakan, dan ketidakadilan dalam kehidupan.
  6. Melakukan kerjasama-kerja sama dan aksi-aksi praksis dengan berbagai pihak baik perseorangan maupun kolektif untuk terpeliharanya keseimbangan, kelestarian, dan keselamatan lingkungan hidup, serta terhindarnya kerusakan-kerusakan lingkungan hidup sebagai wujud dari sikap pengabdian dan kehalifahan dalam mengemban misi kehidupan dimuka bumi ini untuk keselamatan hidup didunia dan diakherat.

Tidak hanya, Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tahun 2000 di Jakarta, yang menghasilkan bagaimana Muhammadiyah memandang persoalan tentang lingkungan. Namun, didalam Tanfidz Keputusan Tanwir Muhammadiyah tahun 1438/ 2017 M di Ambon, juga menghasilkan bahwa:

Visi dari Majelis lingkungan hidup adalah terwujudnya kesadaran, kepedulian dan prilaku ramah lingkungan warga Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya dalam rangka melaksanakan Amar “Ma’ruf Nahi Munkar.”[11]

Dari visi itulah menghasilkan sebuah program unggulan, yaitu:

  1. Sekolah ramah llingkungan
  2. Gerakan pungut dan shadaqah sampah
  3. GEMARI (Gerakan Hemat Air dan Energi) ALIMM (Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah)

Dari berbagai macam pengertian lingkungan dan gerakan-gerakan peduli lingkungan, dan hubungan manusia dan lingkungan. Maka disinilah peran manusia diciptakan oleh Allah Swt, sebagai “khalifah” (pengganti) untuk memakmurkan bumi. Sebagaimana dalam firman Allah Swt:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah dibumi.”Mereka berkata, apakah engakau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”Dia berfirman, “Sungguh,  Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 30)

Jika manusia mengabaikan penjagaan, pengelolaan, dan pengaturan, dan pemakmuran lingungan maka bencanalah alamlah yang akan terjadi dimuka bumi. Bencana adalah sebuah kerusakan yang akan mengakibatkan manusia terganggu dalam kehidupan.

Menurut “Asean Disaster Reduction Centre” (2003)  dan “The United Nations” (1992) mengartikan bahwa bencana adalah suatu gangguan serius terhadap fungsi masyarakat yang mengakibatkan kerugian manusia, material, atau lingkungan yang luas melebihi kemampuan masyarakat yang terkena dampak dan harus mereka hadapi menggunakan sumberdaya yang ada pada mereka.[12]

Menurut Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, menyatakan bahwa makna kata “Khalifah” merupakan bagian manusia. Dengan demikian, maka ini dapat diinterpretasikan sebagai Adam atau nabi lainnya – termasuk di dalamnya para ‘ulama.[13]

Di sinilah tugas seorang “khalifah” yaitu yang mengatur, membangun, menjaga, dan memakmurkan bumi. Baik dari segi pemimin kehidupan manusia maupun pemimpin dalam pemanfaatan sumber daya alam yang benar bagi keberlangsungan hidup manusia.

Bencana alam terjadi diseluruh dunia, khususnya Indonesia yang rawan bencana alam seperti gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan lain sebagaianya. Hal ini merupakan belum berjalannya “Khalīfah fī al-Ardh” (pemimpin dibumi) dengan baik, cerdas dan berkemajuan dalam kehidupan.Benarlah, bahwa yang merusak bumi adalah akibat buruk dari perbuatan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya QS. al-Rūm [30]: 41- 42 yang telah dijelaskan di atas.

Dari ayat diatas dapatlah dilihat bahwa kerusakan lingkungan adalah disebabkan karena manusia tidak menjaga lingkunagan. Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang tidak berwawasan lingkungan dan apatis terhadap lingkungan ini akan menyebabkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui akan terus menyusut habis. Sehingga, dengan habisnya sumberdaya alam.Maka, bencana bisa kapan saja terjadi. Di sinilah pentingnya seorang “Khalīfah fī al-Ardh” (pemimpin di bumi) yang cerdas dan berkemajuan dalam pemanfaatan sumber daya alam sangat dibutuhkan. Namun, bagaimanakah pelaksanaan pembangunan Sumber Daya Alam (SDA) yang berwawasan lingkungan?

Dalam pelaksanaan pembangunan, sumbe-sumber alam Indonesia harus digunakan secara rasional. Penggalian sumber kekayaan alam tersebut harus iusahakan agar tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang menyeluruh dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.[14]

Manusia yang memperhatikan lingkungan untuk generasi yang akan datang adalah manusia yang berhasil mengamalkan rasa syukur kepada Tuhan. Ciri-ciri manusia yang bersyukur adalah manusia yang menjaga, manusia yang melestarikan, manusia yang mengelola alam dengan bijak, dan manusia yang memakmurkan bumi atau lingkungan. Manusia yang tidak bersyukur diperingatkan kepada Allah swt. dalam firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhamnu memakmurkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrāhīm [14]: 7)

Dari bentuk kesyukuran itulah manusia akan menjaga, memelihara, dan mengelola lingkungan dengan baik. Namun, agar terealisasi secara menyeluruh lingkungan yang baik, maka manusia dan lingkungan membutuhkan strategi pendekatan untuk tetap menjadi khalīfah (pengganti), atau pengelola alam untuk mengatur. Setidaknya ada 2 (dua) hal pendekatan yang dapat dilakukan oleh khalīfah atau manusia dalam mengatur alam:

  1. Pendekatan secara Struktural

Pendekatan secara structural adalah pendekatan melalui sistem pemerintahan. Yang maka hukum didalam pemerintahan akan sangat berguna dalam pengelolaan dan manajemen pembangunan terhadap alam. Sebagaimana hukum dalam fungsinya sebagai sarana pembangunan, menurut Michael Hager dapat mengabdi dalam tiga sektor:[15]

  1. Hukum sebagai penertib (ordering)
  2. Hukum sebagai alat penjaga keseimbangan
  3. Hukum sebagai katalisator
  4. Pendekatan secara Kultural

Pendekatan secara kulturan adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara mengetahui culture (budaya) atau kebiasaan yang ada didalam masyarakat terhadap menyikapi lingkungan.

Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Al-Qur’an

Manusia dan Lingkungan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan.Disinilah Ilmu Ekologi yang berlandaskan didalam Al-Qur’an sangat dibutuhkan dalam kehidupan.Untuk itu, manusia harus selalu menjaga lingkungan dengan baik. Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Al-Qur’an, adalah sebagai berikut:

  1. Tidak Bersikap Apatis Terhadap Alam

Sikap apatis merupakan suatu sikap masa bodoh atau sikap acuh tak acuh terhadap alam.Sikap apatis ini merupakan mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tatapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Sebagaimana, Allah swt, berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam itu banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tatapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah).Mereka seperti hewan ternak, bahka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. al-A’rāf  [7]: 179)

Sikap apatis terhadap alam ini akan sangat mengat menentukan keberlangsungan hidup dimasa depan. Karena, alam yang selalu disadari oleh orang-orang yang mempunyai hati untuk meresa, mempunyai mata untuk melihat, dan mempunyai mata untuk mendengar akan membawa manusia kepada kesadaran akan pentingnya menjaga, memelihara, dan melestarikan alam.

  1. Tidak Membuat Kerusakan

Kerusakan alam disebabkan karena manusia yang diamanahkan sebagai “Khalīfah fī al-Ardh” tidak menjalankan amanahnya secara baik dan benar. Padahal, salah satu tugas dari “khalifah” adalah mengelola, memelihara, dan memakmurkan bumi.

Jika manusia yang notabane nya “Khalīfah fī Al-Ardh” tetap melakukan kerusakan. Maka, hal ini telah diperingatkan kepada Allah Swt, dalam firman-Nya:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu kamu berbuat kerusakan dibumi setelah (diciptakan) dengan baik.Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-‘Arāf [7]: 56)

  1. Cerdas dan Berkemajuan dalam Pengelolaan Alam

Sebagai “Khalifah fī Al-Ardh”, maka menjadi cerdas dan berkemajuan dalam pengelolaan alam menjadi tanggungjawab bersama-sama. Maksud dari Khalifah yang cerdas dan berkemajuan dalam pengelolaan alam aini adalah khalifah yang dapat memakmurkan bumi dengan cara melakukan hal-hal solutif (solusi) dalam pem-bangunan berwawasan lingkungan.

  1. M. Gatot P. Soemartono dalam bukunya, Mengenal Hukum Lingkungan Indonesia, menuliskan bahwa, pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia khususnya atau bahkan dunia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Pengertian pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar  dan berencana dalam menggunakan dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana dalam pembangunan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup.[16]

Maka dengan hal itu, Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat diperbaharui, seperti: air atau sungai, kayu, dan tumbuh-tumbuhan. Dan Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui, seperti: minyak bumi, batu bara, gas alam, dan sebagainya. Cara pemanfaatannya membutuhkan khalifah yang cerdas dan berkemajuan dalam pengelolaan dan pemakmuran alam. Khalifah yang cerdas dan berkemajuan ini, sebagaimana Allah Swt, berfirman:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “ Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurannya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (QS. Hūd [11]: 61)

  1. Memanfaatkan Alam Seperlunya

Manusia yang bijaksana terhadap alam adalah manusia yang memanfaatkan alam seperlunya atau tidak berlebihan dalam menggunakannya. Memanfaatkan alam seperlunya ini sangat dibutuhkan karena mengingat bahwa, khalifah dilarang melakukan usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam.Termasuk lingkungan alam hayati, seperti hewan-hewan, pepohonan, maupun lingkungan fisik dan abiotik termasuk air laut, udara, sungai, dan sebagainya.[17]

Bumi atau alam yang Allah ciptakan untuk kebutuhan hidup manusia di dalamnya. Namun, dalam memanfaatkan alam, manusia diperingatkan untuk mengambil keperluan yang ada didalam bumi seperlunya, tidak merusak dan tidak berlebihan dalam pemanfaatannya. Allah swt, berfirman:

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَٰيِشَ وَمَن لَّسْتُمْ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ

“Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepada-Nya.”(QS. al-Ḥijr [15]: 20)

  1. Tidak Serakah Menguras Kekayaan Alam

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَعَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah harta tentu ia masih menginginkan yang ketiga.Padahal yang memenuhi perut anak Adam hanyalah tanah-tanah (kuburnya) dan Allah tetap menerima tobat orang yang ingin bertobat.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Hadis di atas telah menginformasikan kepada setiap “khalifah” (pemimpin) di bumi atau anak Adam yang mempunyai dua lembah harta tentu ia masih akan menginginkan yang ketiga. Di sinilah pentingnya untuk mengingat bahwa hawa nafsu yang ada didalam diri setiap manusia harus dikendalikan dengan sempurna. Jiwa-jiwa keserakahan memang diberikan kepada manusia sebagai bentuk ujian atas orang-orang beriman. Allah swt, berfirman:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan meraka tidak diuji?” (QS. al-‘Ankabūt [29] : 2)

Ujian khalifah (pemimpin) atau manusia adalah sebuah keniscayaan. Namun, sebuah keniscayaan pula manusia berjuang dalam kehidupan untuk selalu menjaga lingkungan. Untuk itu, Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi dalam Al-Qur’an, adalah dengan manusia yang mengindahkan lingkungan, menjaga lingkungan, dan mengelola lingkungan dengan mengindahkan firman-firman Tuhan.

Penutup

Memperhatikan uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Lingkungan dalam Al-Qur’an, adalah manusia yang mengindahkan lingkungan, menjaga lingkungan, dan mengelola lingkungan dengan mengindahkan firman-firman Tuhan.Karena, dalam Ilmu Ekologi, yang membutuhkan lingkungan adalah manusia. Sehingga, lingkungan tanpa manusia, lingkungan akan tetap tunduk dan patuh kepada Tuhan-Nya. Sedangkan, manusia tanpa lingkungan, maka akan menyebabkan manusia tidak dapat hidup dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu, manusia yang notabanenya sebagai “Khalīfah fī al-Ardh” (pemimpin dibumi) harus memupuk kesadaran bahwa pentingnya mengindahkan firman Tuhan.Seperti yang telah diperingatkan untuk menjadi pemimpin yang menjaga, mengatur, dan melestarikan lingkungan.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al-Karim

Anshory, Nasruddin, dan Sudarsono, Kearifan Lingkungan dalam Persfektif  Budaya Jawa, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.

Jazuli, Ahzami Samiun Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2014.

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990.

Kristanto, Philip, Ekologi Industri, Jogjakarta: Andi, 2002.

Kusumasari, Beyaola, Manajemen Bencana dan Kapabilitas Pemerintah Lokal, Jogjakarta: Gava Media, 2014/

Kumatmadmaja, Mochtar,  Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional, Binacipta: Bandung, 1996).

Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, Jakarta: Sinar Grafika, 2012.

Rozak, Abdul, Ekosistem Persfektif Beberapa Ahli dan Peranan Pendidikan Terhadapnya, dalam Junal Ilmiah Ilmu-Ilmu Ke-Ushuluddin-an, Vol. 1, no. 1, 2008.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah,   Jogjakarta: Suara Muhammadiyah, 2000.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Kepusan Tanwir Muhammadiyah, (Jogjakarta: Berita Resmi Muhammadiyah, 2017)

Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, Jakarta: Kompas, 2001.

Silalahi, Daud, Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum  Lingkungan Indonesia, Bandung: Alumni, 1992.

Takdir Rahmadi, Politik Hukum Lingkungan, Depok: Rajagrafindo Persada, 2016.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Jogjakarta: Suara Muhammadiyah, 2000.

Soemartono, R. M. Gatot P, Mengenal Hukum Lingkungan Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 1991.

Zawami, Ali, dan Ma’shum, Saifullah, Penjelasan Al-Qur’an Tentang Krisis Sosial, Ekonomi, dan Politik, Jakarta: Gema Insani Press, 1999.

 

____________________________________

[1] Nia Ariyani adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[2] Lihat Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), Cet. Ke-8, h. 335.

[3] Philip Kristanto, Ekologi Industri, (Jogjakarta: Andi, 2002), h. 31.

[4] Abdul Rozak, Ekosistem Persfektif Beberapa Ahli dan Peranan Pendidikan Terhadapnya, dalam Junal Ilmiah Ilmu-Ilmu Ke-Ushuluddin-an, Vol. 1, no. 1, 2008, h. 62.

[5] Nasruddin Anshory dan Sudarsono, Kearifan Lingkungan dalam Persfektif  Budaya Jawa (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 20008), Cet. Ke1, h. 1.

[6] Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur (Jakarta: Kompas, 2001), h. 227.

[7] Ali Zawami dan Saifullah Ma’shum, Penjelasan Al-Qur’an Tentang Krisis Sosial, Ekonomi, dan Politik (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), cet. Ke-1, h. 147.

[8] Edt, Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono, Konstruksi Masyarakat Tangguh Bencana (Bandung: Mizan Media Utama, 2012), Cet. Ke-1, h. 33.

[9] Nasruddin Anshory dan Sudarsono, Kearifan Lingkungan dalam Persfektif  Budaya Jawa (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 20008), Cet. Ke1, h. 61.

[10] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (Jogjakarta: Suara Muhammadiyah, 2000), h. 89-91.

[11] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Kepusan Tanwir Muhammadiyah, (Jogjakarta: Berita Resmi Muhammadiyah, 2017), h. 19.

[12] Bevaola Kusumasari, Manajemen Bencana dan Kapabilitas Pemerintah Lokal, (Jogjakarta: Gava Media, 2014), cet. Ke-1, h.3.

[13] Ahzami Samiun Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2014), Cet. Ke-2, h. 37.

[14] Daud Silalahi, Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum  Lingkungan Indonesia, (Bandung: Alumni, 1992), h. 30. Dalam buku, Takdir Rahmadi, Politik Hukum Lingkungan, (Depok: Rajagrafindo Persada, 2016), Cet. Ke-3, h. 47.

[15] Mochtar Kumatmadmaja, Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional, (Binacipta: Bandung, 1996), h. 11. Dalam buku Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), Cet. Ke-1, h. 21.

[16] R. M. Gatot P. Soemartono, Mengenal Hukum Lingkungan Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1991), Cet-Ke1, h. 69.

[17] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, (Jogjakarta: Suara Muhammadiyah, 2000), h. 90.

 Download: Karya Ilmiah_Cara Mewujudkan Manifestasi Kesadaran Ekologi