Allah Maha Pencemburu

  • 0

Allah Maha Pencemburu

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Allah adalah al-Ghayyur, artinya Maha Pencemburu. Cemburu akan timbul bila ada cinta, tanpa cinta tak mungkin ada cemburu. Allah Ta’ala cemburu kepada hamba-Nya, Karena Allah mencintai hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Mā’idah/5: 54)

Allah Ta’ala menciptakan hamba-Nya dengan cinta-Nya dan tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia agar terjalin hubungan cinta.

Allah berfirman dalam hadis qudsi, “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal Aku.” Allah mencintai hamba-Nya dan hamba pun mencintai Allah Ta’ala, Kekasihnya.

Allah Ta’ala telah membuktikan cintanya dengan beberapa tanda.

Pertama, Allah Ta’ala telah menciptakan hamba, lalu  diberikannya seluruh fasilitas hidup, bumi sebagai hamparan, langit sebagai naungan, makanan berserakan, ikan bertaburan, binatang ternak tak terbilang. Pasangan hidup disedikan, anak-anak dianugerahkan dan Rasulallah saw dihadirkan sebagai pembimbing menuju cinta Allah swt.

Kedua, Allah Ta’ala

menegaskan cinta-Nya secara eksplisit yang termaktub dalam al Quran, di antaranya:

  1. Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang berbuat baik.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imrān/3: 134)

Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu kekasih Allah Ta’ala adalah orang-orang yang berbuat baik.  Kebaikan adalah dambaan setiap manusia. Seorang kekasih selalu berbuat baik kepada kekasihnya tanpa minta balasan dari sang kekasih.

“Rasulallah saw bersabda, doa yang diijabah adalah mendoakan orang lain dan orang yang didoakan tidak mengetahuinya.”

Muḥsinīn (orang-orang yang berbuat baik) adalah kekasih Allah Ta’ala.

  1. Allah Ta’ala mencintai orang-orang sabar.

Sabar adalah maqom mulia dan kesabaran itu indah.

Allah berfirman,

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imrān/3: 146)

Derita dan air mata adalah biasa bagi orang beriman.

“Rasulallah saw bersabda, sungguh menakjubkan kepribadian orang mukmin. Apabila mendapat nikmat bersyukur dan bila mendapat ujian, bersabar.”

Para nabi telah menjalankan risalah kenabiannya dengan sabar dan Allah Ta’ala menjadi kekasih orang-orang yang sabar.

  1. Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang bertawakkal.

Orang yang bertawakkal adalah mereka yang mampu bersandar diri kepada Allah Ta’ala atas segala yang dialaminya.

Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imrān/3: 159)

Setelah semua diusahakan secara profesional dan proporsional, maka seorang mukmin bertawakkal kepada kekasih sejatinya yakni Allah Rabbul ‘alamin.

  1. Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang menyucikan diri.

Allah itu maha suci dan Dia hanya mau menerima orang-orang yang selalu menyucikan diri.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. al-Taubah/8: 108)

Menyucikan diri lahir maupun batin.

Jurjani dalam bukunya, “Hikmah al Tasyri’ wa Falsafatuhu” mengatakan bahwa; semua ibadah hanya bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala.

Orang yang selalu menyucikan diri tidak merasa suci saat beribadah karena semakin dekat kepada Allah Ta’ala semakin tersingkap kekurangannya.

Untuk itu orang yang beriman beribadah semata-mata dalam rangka penyucian dirinya dan orang-orang yang selalu menyucikan diri adalah kekasih Ilahi Rabby.

  1. Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang bertakwa.

Takwa adalah perisai diri dan maqom tertinggi. Orang yang takwa adalah mereka yang selalu memelihara dan menjaga dirinya baik lahir maupun batin.

Dan orang yang bertakwa dicintai oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imrān/3: 76)

Orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa. dan kekasih dari orang yang bertakwa adalah Allah Ta’ala.

Cara membalas cinta Allah

  1. Mengikuti dan taat kepada Rasulallah saw.

Ibnu Katsīr berkata dalam Tafsirnya, salah satu tanda amal diterima oleh Allah Ta’ala adalah ikhlas dan sesuai contoh dari nabi Muhammad saw.

“Rasulallah saw bersabda, kalian tidak akan dapat memperoleh akhirat kecuali dengan meninggalkan dunia dan telanjang darinya.”

“Aku berwasiat kepada kalian hendaknya mencintai apa yang Allah Ta’ala cintai dan membenci apa yang dibenci oleh Allah Ta’ala.”

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imrān/3: 31)

  1. Beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

Karena kecintaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, Allah Ta’ala menciptakan manusia agar beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. al-Dzāriyāt/51:56)

Beribadah kepada-Nya adalah berlari kepada-Nya dari kejaran dunia.

Rasulallah saw bersabda, “larilah kalian dari kebaikan dunia sebagaimana kalian lari dari sesuatu yang haram. Rendahkanlah dunia sebagaimana kalian merendahkan bangkai dan bertobatlah kalian kepada Allah Ta’ala dari kebaikan dunia dan keburukan amal kalian, niscaya kalian akan selamat dari siksa yang sangat keras.”

Orang beriman tidak akan pernah salah dalam bercinta. Mereka akan mencintai kekasihnya saja.  Kebaikan dunia dan keburukan amal tidak akan pernah mengantarkan cinta sejati. Rumah megah, mobil nan mewah, uang yang berlimpah tidak akan pernah bercinta dengan hamba, karena dunia hanyalah jembatan menuju akhirat.

Bagaimana mungkin seseorang mencintai jembatan bukan pencipta jembatan? Bagaimana seseorang mencintai isteri dan anak, bukan pencipta anak dan isteri?

Bagi orang beriman dunia hanyalah sarana untuk mencintai Allah Ta’ala bukan bercinta dengan apa yang Allah ciptakan.

  1. Bersyukur kepada-Nya.

Semua yang ada adalah milik Allah Ta’ala. Pada hakikatnya manusia tidak memiliki apa-apa termasuk dirinya sendiri. Maka tidak boleh manusia menikmati sesuatu karena sesuatu itu. Allah Ta’ala telah membuktikan cinta-Nya kepada hamba dengan memberikan semua kebutuhan hamba. Allah Ta’ala selalu memberikan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Tugas hamba kepada Allah Ta’ala sebagai bukti cintanya adalah menggunakan semua semata agar Allah Ta’ala senang kepadanya.

Rasulullah saw bersabda, tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya 4 hal:

Pertama, tentang umurnya dimana dia habiskan.

Kedua, tentang masa mudanya dimana dia gunakan.

Ketiga, hartanya, dari mana dia peroleh dan kemana digunakan.

Keempat, tentang cintanya kepada Rasulallah dan keluarganya.

Allah Maha Pencemburu, maka jagalah diri agar menjadi kekasih sejati.

Wallahu a’lam.