Kematian

  • 0

Kematian

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Kematian adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan itu faktual dalam kehidupan. Para nabi kekasih Allah Ta’ala juga mengalami kematian walau namanya tidak pernah mati. Pendek kata, kematian itu pasti adanya.

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Alī Imrān/3: 185)

Kematian adalah pintu dan setiap manusia pasti akan memasukinya. Kematian bukan karena usia lanjut, sakit, kecelakaan atau sebab-sebab biologis lainnya, tetapi kematian adalah ketetapan Allah Ta’ala yang datang tepat pada waktunya, kehadirannya tidak dapat dimajukan satu detikpun dan tidak dapat pula ditunda sesaatpun.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. al-A’rāf/7: 34)

Sebuah kenyataan bahwa manusia menyaksikan kematian. Berbagai faktor ditelusuri secara medis, namun tak seorangpun sanggup menghindar dan lari dari kematian.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. al-Jumū’ah/62: 8)

Rasulallah saw bersabda, ada dua hal yang dibenci oleh manusia yaitu kematian dan kekurangan harta.

Padahal kematian akan menghentikan manusia dari kesalahan dan dosa dan kekurangan harta akan meringankan hisab pada hari kiamat.

Menyikapi kematian

1. Selalu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala.

Berbaik sangka kepada Allah Ta’ala atas segala yang menimpa, baik kesenangan atau kesusahan, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin. Semua itu adalah bentuk cinta Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi, kasih sayang-Ku lebih luas dari murka-Ku. Dalam hadis lain, Allah Ta’ala berfirman, Aku tergantung prasangka hamba-ku kepada-Ku. Apabila hamba berprasangka baik, maka baik akibatnya, namun apabila hamba berprasangka buruk, keburukan akan menimpa dirinya.
Kematian dan kehidupan hanyalah batu ujian yang harus dilalui oleh anak manusia. Dan setiap manusia pasti akan diuji oleh Allah Ta’ala.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. al-Mulk/67: 2)

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. al-Ankabut/29: 2)

2. Beramal saleh

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan antara kebenaran dan kebatilan, antara amal baik dan amal buruk dan antara keimanan dan kekafiran. Sebelum ajal datang, maka setiap manusia tidak boleh berhenti berjuang. Karena dunia adalah tempat beramal tanpa hisab sedangkan akhirat tempat hisab tanpa amal.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم- قال: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له، رواه مسلم۔

Dari Abū Hurayrah bahwa Rasulallah saw bersabda, apabila anak Adam meninggal dunia,maka terputus amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Hadis ini tidak menjelaskan bahwa doa orang hidup tidak sampai kepada orang yang telah mati.

Hadis ini menegaskan bahwa kematian akan menghentikan gerakan amal seseorang kecuali tiga hal, artinya sekalipun orangnya sudah meninggal dunia, namun karyanya tetap bernilai, Hadis ini mengajarkan agar selama masih hidup harus membangun amal saleh yang permanen, manfaat di dunia dan akhirat, yaitu:

Pertama, sedekah jariah.
Sedekah jariah adalah pemberian yang pahalanya terus mengalir sekalipun orang tersebut telah meninggal dunia. Di antara amal yang termasuk sedekah jariyah adalah;

1. Membangun masjid atau membantu pembangunan masjid, termasuk di dalamnya pengelolaan masjid.
2. Membangun sarana sosial seperti membangun sekolah, rumah sakit, madrasah, pesantren, sarana irigasi dan sebagainya.
3. Mewakafkan harta dijalan Allah, baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak untuk kemaslahatan umat.
4. Menulis buku yang berguna bagi masyarakat.
5. Memberikan beasiswa untuk pendidikan yang bermanfaat.
6. Memberikan bantuan untuk kepentingan dakwah Islam.

Kedua, ilmu yang bermanfaat.

Selama nyawa dikandung badan, manusia harus semangat mencari ilmu karena ilmu yang bermanfaat tetap hidup sekalipun yang mempunyai telah tiada.

Ketiga, anak saleh yang mendoakannya.

Tugas berat yang dilaksanakan bagi orang tua adalah berusaha mendidik anak-anaknya agar menjadi orang soleh, sebab doa anak yang saleh akan terus diterima oleh kedua orang tuanya, sekalipun orang tuanya telah tiada.

3. Membawa bekal dalam Safar.

Kematian bukan akhir perjalanan, tetapi kematian adalah awal perjalanan menuju perjalanan akhirat. Perjalanan masih panjang dan harus bawa bekal yang banyak. Allah Ta’ala memerintahkan agar setiap muslim mengejar akhirat dengan tidak melupakan dunia.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. al-Qaṣaṣ: 77)

Perjalanan panjang akhirat mempunyai banyak rintangan dan kendala, di antaranya:

1. Sakaratul maut

Sakaratul maut dan derita dicabutnya ruh sungguh luar biasa sakitnya, tidak ada penyakit yang lebih sakit daripada sakaratul maut.

Saat sakaratul maut menjemput ada kegetiran yang dialami oleh manusia.

Pertama, merasakan sakitnya sakaratul maut seperti sakit perut yang dahsyat, lisan yang kelu, hilangnya kekuatan tubuh.

Kedua, kesedihan anak, isteri dan keluarga yang akan berpisah selamanya.

Ketiga, kesedihan berpisah dengan harta, rumah, mobil dan sebagainya.

2. Buasnya alam kubur

Kubur adalah tempat yang sangat mengerikan. Siksa kubur akan dialami oleh para pendosa. Kubur akan menyiksa para pezina, pemakan harta anak yatim, orang yg meninggalkan shalat dan sebagainya. Pada saat itu hari-hari para pendosa adalah siksa.

3. Barzakh

Barzah adalah waktu perjalanan sejak meninggal dunia sampai datangnya hari kiamat.

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. al-Mukminun/23: 100)

Dalam perjalanan barzakh ini,
Rasulallah saw bersabda; “hadiahkanlah untuk orang-orang yang sudah meninggal.” Sahabat bertanya, “apakah hadiah untuk orang mati?” Sedekah dan doa. Demikian Rasulullah saw menjawab.

4. Kiamat

Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, bilakah terjadinya? Katakanlah, sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. al-A’rāf/7: 187)

Wallahu a’lam