Mengenal Fāthimah al-Zahrā

  • 0

Mengenal Fāthimah al-Zahrā

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Sayyidah Fāthimah al-Zahrā dilahirkan pada tanggal 20 Jumadil Akhir tahun 45 dari kelahiran nabi Muhammad saw, atau 5 tahun setelah beliau diangkat menjadi nabi dan rasul.

Detik-detik kelahirannya dihadiri oleh arwah para wanita mulia yaitu Siti Hawa, Asiyah binti Mazahim, Kultsum saudari nabi Mūsā as dan Maryam binti Imrān.

Fāthimah adalah wanita ahli surga dan beliau diciptakan oleh Allah dari saripati apel surga.

“Rasulullah saw bersabda, saat aku isra’ mi’raj, aku diberikan apel surga, lalu setelah kambali ke dunia, sari apel surga itu telah menjadi nutfah (sperma), lalu aku mendatangi Khodijah, maka jadilah Fāthimah. Setiap kali aku rindu kepada surga, aku cium Fāthimah.” (al-Dzahābī, Mizān al-I’tidāl, jilid. 3, h.540)

Fāthimah adalah salah satu wanita terbaik di seluruh alam.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خير نساء العالمين أربع :مريم بنت عمران ،خديجة بنت خويلد، فاطمة الزهراء وآسية

“Rasulullah saw bersabda, wanita terbaik di seluruh alam ada 4 orang yaitu Maryam binti Imrān, Khadijah binti Khuwailid Fāthimah al-Zahrā, dan Asyiah. (al-Ḥākim, al-Mustadrak al-Shaḥiḥain, jilid, 3, hlm. 172)

Al-Qur’an memasukkan Fāthimah sebagai ahl al-bait nabi Muhammad saw yang disuci.

Allah Ta’ala berfirman.

 إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan Dia mensucikan kalian sesuci-sucinya. (QS. al-Aḥzāb/33: 33)

Al-Suyūthī dalam kitab al-Dūr al-Mantsūr fī Tafsīr al-Ma’tsūr mengutip hadis nabi Muhammad saw bahwa yang dimaksud ahlul-bait dalam ayat ini adalah Rasulullah saw, Ḥasan, Ḥusein, Fāthimah dan ‘Alī ibn Abī Thālib. (al-Suyūthī, al-Dūr al-Mantsūr, jilid. 6, h. 604)

Nama-nama Fāthimah

  1. Fāthimah
  2. al-Shiddiqah
  3. al-Mubarakah
  4. al-Thahirah
  5. al-Zakiah
  6. al-Radhiah
  7. al-Mardhiah
  8. al-Muhaddatsah
  9. al-Zahra

“Diriwayatkan dari ‘Alī ibn Abī Thālib, ya Rasulullah, mengapa putrimu dinamankan Fāthimah? Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya AllahTa’ala telah melindunginya dan keturunannya dari api neraka.”

Dalam riwayat Ibn Abbās berkata, Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya putriku Fāthimah adalah Haura insiah (Manusia bidadari) karena dia tidak haid. Dan dinamakan Fāthimah karena Allah Ta’ala melindunginya dan orang-orang yang mencintainya dari api neraka.

Kedudukan Fāthimah

“Rasulullah saw bersabda, wanita yang paling utama di seluruh alam adalah  Khadijah binti Khuwailid, Fāthimah binti Rasulullah, Maryam binti Imran dan Asiah isteri Fir’aun.”

“Aisyah berkata, tidak ada seorangpun yang mirip dengan Rasulullah saw perkataannya dan ungkapan kata-katanya selain Fāthimah”.

“Apabila Fāthimah datang menemui Rasulullah saw, beliau berdiri menyambut dan menciumnya lalu dipegang tangannya dan di persilahkan duduk di tempat duduknya. Apabila Rasulullah saw datang ke rumahnya, Fāthimah berdiri menyambut ayahnya dan menyium tangannya.” (al-Ḥakim al-Mustadrak, h. 174)

“Rasulullah saw bersabda, Aku bagaikan sebuah pohon, Fāthimah adalah cabangnya, Ali adalah batangnya dan Hasan Husein adalah buahnya.” (Mustadrak)

Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda; “Fāthimah adalah darah dagingku. Siapa yang mencintai Fāthimah berarti mencintaiku dan siapa yang menyakiti Fāthimah berarti menyakitiku.”

Rasulullah saw bersabda, “Ya Fāthimah apakah engkau senang bila Allah menjadikanmu sebagai wanita ahli surga dan kedua anakmu menjadi pemuda ahli surga?”

Rasulullah saw bersabda

ابنتي فاطمة حوراء ادمية لم تحض ولم تطمث، انما سماها الله فاطمة لانه عز وجل فطمها ومحبيها عن النار

Putriku Fāthimah adalah manusia bidadari, yang tidak mengalami menstruasi. Allah menamakannya Fāthimah karena Dia melindungi dan menjauhi dirinya dan orang yang mencintainya dari neraka. (Majma al-Zawaid, jilid. 9, h. 172)

Diriwayatkan dari ‘Alī ibn Abī Thālib bahwa Rasulullah saw bersabda, “ya Fāthimah siapa yang berselawat kepadamu, niscaya Allah akan mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga bersamaku.”

Putra Fāthimah

Fāthimah memiliki empat orang anak yaitu  Ḥasan, Ḥusein, Ummu Kultsum dan Zainab.

Akhlak Fāthimah al zahra,

حبب الي من دنياكم ثلاثة : تلاوة كتاب الله والنظر الى وجه رسول الله والانفاق في سبيل الله

Yang aku cintai dari dunia kalian ada tiga, membaca kitabullah, memandang wajah Rasulullah dan berinfak di jalan Allah.

Fāthimah adalah seorang yang dilahirkan, dibesarkan dan dididik dalam naungan al-Qur’an.  Setiap kali al-Qur’an diwahyukan kepada ayahnya, pasti diketahuinya. “Aisyah berkata, akhlak Rasulullah saw adalah al Qur’an, demikian pula Fāthimah.” Setiap hari al-Qur’an selalu memenuhi hatinya, hingga beliau berkata yang paling dicintainya dari dunia ini yang pertama adalah membaca al-Qur’an. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di rumah wahyu, baliau tahu benar dengan akhlak ayahnya, Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Aisyah. Saat mendekati ajalnya, Rasulullah saw memanggil Fāthimah dan dipeluknya, seraya berbisik. Kemudian Fāthimah menangis tersedu-sedu. Kemudian, beliau berbisik lagi, Fāthimah berhenti menangis lalu tersenyum.

Aisyah bertanya, wahai putri Rasulullah saw, mengapa engkau menangis lalu tersenyum? Fāthimah menjawab, ayahku berkata, tidak lama lagi beliau akan meninggal dunia dan aku menangis. Kemudian beliau berbisik lagi, bahwa dari keluarga nabi yang pertama kali menyusul Rasulullah saw adalah Fāthimah, maka aku tersenyum. Fāthimah berkata, kecintaanku yang kedua setelah membaca al-Qur’an adalah aku senang melihat wajah Rasulullah saw.

Suatu hari datang orang miskin menghadap Fāthimah, seraya berkata, “wahai putri Rasulullah saw, apakah engkau memiliki makanan?” Dengan penuh kelembutan, Fāthimah menjawab, “aku tidak mempunyai makanan tapi aku memiliki cincin.”

lalu Fāthimah memberikan cincin itu kepada orang miskin agar dapat membeli makanan. Cincin warisan ibunya itu dijual oleh orang miskin dengan harga mahal hingga dia dapat membahagiakan keluarganya.

Suatu hari seorang sahabat melihat cincin indah yang ingin dijual oleh seseorang. Sahabat itu membelinya dengan niat hendak menghadiahkan cincin itu kepada Rasulullah saw. Beberapa hari kemudian,  sahabat itu menghadap Rasulullah saw, lalu memberikan hadiah kepada Rasulullah saw, dan ternyata hadiah itu adalah cincin sayyidah Fāthimah warisan dari ibunya. Rasulullah saw bertanya kepada Fāthimah, ya Fāthimah dimana cincin peninggalan ibumu? Fāthimah menjawab, cincin itu telah aku berikan kepada orang miskin. Rasulullah saw terharu, betapa Fāthimah sanggup memberikan semua yang paling dicintainya.

Beliau berkata, yang paling aku cintai adalah berinfak di jalan Allah Ta’ala.

Fāthimah adalah wanita ahli surga, teladan seluruh wanita. Akhlaknya mulia, taat dan cinta kepada suaminya, wanita suci yang selalu menjaga diri, berbakti kepada ayah dan ibunya, sayang kepada anak-anaknya dan selalu membela agama ayahnya.

*Selamat kelahiran*

*Putri Rasulullah saw* 

*Fāthimah al-Zahrā.*