Membangun Kasih Sayang

  • 0

Membangun Kasih Sayang

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Rasulullah saw diutus untuk membangun kasih sayang di seantero alam.

Al-Qur’an memulai surat-suratnya dengan lafadz basmalah yang berisi  kasih sayang. Surat al-Fātiḥah memulai dengan memuji Allah Ta’ala, lalu menjelaskan bahwa Allah Tuhan yang penuh kasih sayang. Nabi Muhammad saw adalah penebar kasih sayang. Inti agama adalah cinta dan kasih sayang.

Rasulullah saw bersabda, sungguh berbahagia orang yang baik akhlaknya, suci perangainya, tulus hatinya, bagus lahiriyahnya, menginfakkan kelebihan hartanya dan berbicara seperlunya yakni tidak berbicara yang tidak bermanfaat.

Rasulullah saw diajarkan oleh Allah Ta’ala agar selalu berlaku lemah lembut kepada umatnya dan umatnya diperintahkan agar meneladani nabinya, berperilaku dan berakhlak mulia.

Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Alī Imrān/3: 156)

Ayat ini secara eksplisit memerintahkan 5 hal, yaitu:

  1. Berlaku lemah lembut kepada sesama,

Dengan sikap lemah lembut, kelembutan hati manusia akan terpancar. Seseorang yang kasar dan arogan harus dilawan dengan lemah lembut. Api yang panas dan membakar jiwa harus ditundukkan dengan air dan kesejukan. Apabila seorang muslim melakukan kekerasan dan arogan, maka Islam akan rusak, padahal Islam itu damai, Islam itu sejuk dan Islam itu kasih sayang. Dengan Islam manusia diikat dalam persaudaraan dan dengan Islam manusia mencapai kehidupan yang bermartabat.

  1. Memaafkan orang lain.

Dalam salah satu khutbahnya Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya al-Qur’an adalah perkataan yang terbaik dan paling fasih. Cintailah orang yang mencintai Allah Ta’ala dan cintailah Allah Ta’ala dengan segenap hati kalian, jangan kalian bosan dengan kalam Allah dan berzikir kepada-Nya.

Orang yang kuat itu adalah orang yang memaafkan orang lain padahal dia mampu membalasnya, demikian Rasulullah mengajarkan. Memaafkan orang lain adalah budi pekerti yang mulia. Dan hanya dengan budi pekerti yang mulia, keburukan dapat dirubah menjadi kebaikan.

  1. Memintakan ampun

Orang yang mulia dan kuat imannya bukan saja mampu memaafkan kesalahan orang lain tetapi selalu memintakan ampun kepada Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan.

Rasulullah saw dengan kasihnya selalu memintakan ampun untuk umatnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Nisā’/4: 64)

Memohonkan ampun untuk orang lain adalah akhlak yang tinggi. Disepertiga malam bahkan disetiap waktu, orang-orang soleh dan para ulama selalu memohonkan ampun untuk umatnya. Itu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.

  1. Bermusyawarah

Isfahānī berkata, musyawarah adalah mengeluarkan pendapat kepada pendapat yang lain. Musyawarah dengan nabi Muhammad saw bukan berarti nabi Muhammad saw meminta pendapat para sahabat karena nabi Muhammad saw adalah sumber kebenaran otoritatif. Saat nabi Muhammad saw bermusyawarah kepada para sahabat bertujuan untuk menginformasikan firman Allah Ta’ala agar para sahabat mentaati dan mengikutinya.

Allah berfirman,

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. al-Zumar/39: 38)

Orang-orang yang bermusyawarah adalah mereka yang menyepakati suatu urusan dengan rasional dan obyektif hingga kemaslahatan masyarakat dapat terwujud.

Musyawarah pada intinya adalah mengaplikasikan firman Allah Ta’ala dalam dimensi sosial hingga tercapai keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. al-Syura/42: 38)

  1. Tawakkal

Tawakkal atau tawakkul adalah menyandarkan diri kepada orang lain dan dijadikannya sebagai wakil. Secara sederhana tawakkal  adalah mewakilkan diri kepada orang untuk melaksanakan sesuatu.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman hanya bertawakal. (QS. al-Tawbah/8: 51)

Di dalam ayat ini secara eksplisit  terungkap keyakinan, lalu bertawakkal.  Yakni yakin kepada Allah Ta’ala lalu menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. al-Talaq/65: 3)

Keyakinan dan tawakkal kepada Allah Ta’ala menjadi solusi rasional bagi orang yang beriman, namun sayangnya tidak sedikit orang yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala tetapi tidak meyakini-Nya.

Kelima perintah Allah Ta’ala di atas yakni berlaku lemah lembut, memaafkan, memohonkan ampun, bermusyawarah dan bertawakkal adalah bentuk dari kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya agar hamba-Nya mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Kesimpulan

Kasih sayang kepada sesama manusia bukan berarti membolehkan segalanya. Toleransi yang kebablasan bukan perwujudan dari cinta kasih tetapi karena kurang percaya diri.

Semua syariat agama adalah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada seluruh makhluk-Nya walau terasa berat dalam menjalankannya.

Wallahu a’lam.