Mengendalikan Hawa Nafsu

  • 0

Mengendalikan Hawa Nafsu

Category : Artikel

Oleh:  Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Al-Hawā atau hawa nafsu adalah potensi negatif yang ada di dalam diri. Kecederunganya kepada nafsu seksual dan nafsu perut.

“Rasulullah saw bersabda, hati-hatilah dengan hawa nafsu karena hawa nafsu itu membutakan dan membuat tuli.”

Orang yang sedang dimabuk asmara sulit menerima kebenaran dan nasehat karena hawa nafsu telah membutakan dan membuat tuli mata hati. Rasulallah saw mengingatkan agar umatnya hati-hati dengan hawa nafsu yang akan menjerumuskannya kedalam kenistaan dan penyesalan.

Rasulullah saw bersabda,

اخاف على امتي من بعدي ثلاثا ضلالة الاهواء واتباع الشهوات في البطون والفروج والغفلة مع المعرفة

Aku sangat mengkhawatirkan kepada umatku sepeninggalku tiga hal, pertama, kesesatan hawa nafsu. Kedua, mengikuti syahwat perut dan seksual. Ketiga, Lalai setelah mengetahui.

Kekhawatiran Rasulullah saw terhadap umatnya sangat beralasan karena ketiga hal tersebut akan membinasakan dan menghancurkan masa depan manusia.

Bahaya hawa nafsu

  1. Memperturutkan hawa nafsu membawa manusia kepada kesesatan.

Orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya selalu cenderung kepada perbuatan yang melampaui batas. Kejahatan seksual, perselingkuhan, pembunuhan dan sebagainya. Hawa nafsu itu bagaikan api yang berkobar di dalam dada, apabila diperturutkan akan semakin menggila, bagaikan api yang disiram bensin, semakin disiram, semakin menyala dan sulit dikendalikan.

Tidak sedikit manusia yang buta mata hatinya dalam memperturutkan hawa nafsunya. Atas nama cinta mengikuti hawa nafsunya melakuan perzinaan.  Setan menghiasi kemaksiatan dengan keindahan. Orang dalam kondisi seperti ini tidak dapat menerima nasihat karena hanya nasehat setan yang menjadi pedoman hidupnya.

Rasulullah saw bersabda,

اذا اراد الله بقرية هلاكا اظهر فيهم الزنا

Apabila Allah hendak menghancurkan suatu negeri, maka akan marak perzinaan.

Saat perzinaan dianggap lumrah, kemaksiatan dianggap biasa dan kejahatan sudah merata, maka siksa Tuhan akan datang segera.

2.Hawa nafsu membawa kepada kehancuran

Rasulullah saw bersabda,

ثلاث منجيات، وثلاث مهلكات، فأما المنجيات: فتقوى الله في السر والعلانية، والقول بالحق في الرضا والسخط، والقصد في الغنى والفقر، وأما المهلكات: فشح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب المرء بنفسه

Ada tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang membinasakan. Tiga hal yang menyelamatkan adalah bertakwa kepada Allah baik dalam keadaan sepi atau ditengah keramaian, berkata yang benar, baik dalam keadaan senang maupun marah dan hemat, baik dalam keadaan kaya atau miskin. Adapun tiga yang membinasakan adalah bakhil (pelit) yang ditaati, memperturutkan hawa nafsu dan bangga terhadap diri sendiri.

Tidak sedikit manusia hancur dan binasa karena selalu mengikuti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti hawa nafsunya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.

“Rasulullah saw bersabda, setiap manusia akan dikumpulkan bersama yang diikutinya. Siapa yang mengikuti hawa nafsunya dalam kekafiran, maka dia akan dikumpulkan bersama orang-orang kafir dan tidak bermanfaat amalnya sedikitpun.”

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allâh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allâh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-An’ām/6: 119)

  1. Menuhankan hawa nafsu

Puncak kesesatan para pengikut hawa nafsu adalah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Argumentasi rasional dibangunnya untuk mempertahankan kesesatannya.

Apabila argumentasinya lemah, maka mereka menggunakan analogi rendahan. Tidak sedikit seorang yang maksiat berkata, kenapa saya disalahkan dan dihukum, bukankah masih banyak orang lain yang melakukan kejahatan lebih besar dari saya? Padahal kejahatan dan kemaksiatan besar atau kecil adalah kejahatan.

Perzinaan sekali atau berulang kali adalah kejahatan. Mencuri sedikit atau banyak adalah kejahatan.  Bukankah pepatah mengatakan, tidak ada orang mati kesandung gunung tetapi orang mati kesandung kerikil, artinya kehancuran sering kali bukan pada intensitas kejahatan tetapi karena kejahatan itu sendiri walaupun kecil.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?(QS. al-Jātsiyah/45: 23)

Rasulullah saw bersabda, orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya.

Solusi mengendalian hawa nafsu:

  1. Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.

Keinginan yang kuat untuk selalu berada di jalan yang lurus dan memohon pertolongan yang maha kuasa, akan mengantarkan seorang hamba menjadi pemenang dalam pertarungan batin. Pertarungan dalam batin seperti pertarungan dua dua orang petinju.  Seorang petinju ditutup matanya sedangkan petinju yang lain tidak ditutup matanya. Manusia dalam bertarung melawan setan seperti petinju yang ditutup matanya, setan dapat melihat manusia tapi manusia tidak dapat melihat setan, maka pertahanan yang paling aman adalah berlindung kepada Allah yang Maha kuasa dengan selalu berdzikir kepada-Nya

  1. Selalu mengingat kematian

Rasulullah saw bersabda, orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian dan orang yang lemah adalah mereka yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan selalu berangan-angan atas nama Allah.

Dalam perjalanan hidup ini yang pasti hanyalah kematian, dan setiap manusia pasti akan mengalaminya.

  1. Berjuang terhadap diri sendiri

Perubahan itu datang dari dalam diri sendiri bukan berharap dari orang lain.

Rasulullah saw bersabda,

افضل الجهاد ان يجاهد الرجل نفسه و هواه

Jihad yang paling utama adalah seseorang yang berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya.

Empat langkah menuju kesucian hati adalah:

Pertama, bertobat, kembali ke jalan Tuhan setelah tersesat di jalan setan.

Kedua, murāqabah, sadar bahwa manusia selalu dalam pengawasan Allah Ta’ala

Ketiga, selalu melakukan introspeksi diri terhadap semua perbuatan yang pernah dilakukan pada masa lalu.

Keempat, ‘mujāhadah al-nafs’, yaitu berjuang melawan diri sendiri yang mengajak kepada perbuatam dosa dan maksiat.

Wallhu a’lām

Selamat pagi dan kendalikan diri dari ajakan hawa nafsu