Perbaikan Diri

  • 0

Perbaikan Diri

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Perjalanan hidup manusia mengalami pasang surut ruhani. Iman terkadang naik dan kadang turun.

Para teolog mengatakan yang pasang surut bukan ruhaninya tapi amalnya. Sebab sekalipun seseorang melakukan perbuatan maksiat, kepercayaannya kepada wujud Allah tetap eksis.

Ulama akhlak mengatakan bahwa pasang surutnya amal seseorang karena temperamen batinnya yang tidak stabil. Pendek kata, setiap manusia pernah  mengalami dan merasakan pasang surut imani yang berefek kepada naik turunnya amal soleh.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ 

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. al Ra’ad/13: 11)

Para mufassir (ulama tafsir) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata al-nafs dalam ayat ini adalah potensi batini atau ruhani. Maksudnya adalah, Allah Ta’ala tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu melakukan perubahan dari dalam dirinya sendiri. Al Qur’an mengisyaratkan bahwa perubahan dari fitrahnya karena dipengaruhi oleh faktor eksternal.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Alī Imrān/3: 14)

1.Wanita

Salah satu anugerah Allah Ta’ala kepada umatnya adalah diciptakannya wanita. Wanita diciptakan sebagai pendamping hidupnya dalam menjalankan roda kehidupan.

Nabi Adam as dalam menjalankan peran kekhilafahannya diciptakan oleh Allah Ta’ala Siti Hawa sebagai pendampingnya.

قال صلى الله عليه وسلم: الدنيا متاع، وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة

Rasulullah saw berabda, dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah.

Wanita yang salehah akan mempengaruhi laki-laki kepada kebaikan dan takwa. Sebaliknya, wanita yang buruk akhaknya akan mempengarui laki-laki kepada keburukan.

المرأة عماد البلاد إذا صلحت صلحت البلاد وإذا فسدت فسدت البلاد

Wanita adalah tiang negara. Jika wanita itu baik maka baiklah negara, jika wanita itu buruk maka buruklah negara.

Pendapat ulama ini secara faktual terbukti dalam pentas sejarah. Tidak sedikit laki-laki yang sukses karena dukungan wanita solehah dan tidak sedikit pula laki-laki yang tergelincir oleh rayunan wanita yang tidak salehah.

Oleh karena itu, al-Qur’an mengajarkan agar setiap hamba berdoa agar diberikan wanita  salehah, sebagai penyejuk hati dan pendamping sejati.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Furqān/25: 74)

  1. Anak

Anak termasuk salah satu ujian dan cobaan bagi seorang ayah dalam mendekatkan dirinya kepada Allah. Anak dapat menjadi mutiara hati seorang ayah, kebanggaan bahkan estafet dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Disisi lain anak juga dapat menjadi fitnah dan musuh bagi ayahnya.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. al-Taghābun/64:15)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Taghābun/64: 14)

  1. Harta, emas dan perak

Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi seseorang adalah harta. Secara etimologis al-māl atau harta artinya condong atau cenderung. Manusia sangat condong dan cenderung untuk memiliki dan menguasa harta.

Islam mengajarkan agar umatnya memiliki harta. Namun, Islam mengajarkan agar manusia tidak dikuasai oleh harta. Untuk membuktikan bahwa seseorang cinta kepada Allah Ta’ala adalah rela memberikan sebagian hartanya di jalan Allah Ta’ala

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Tawbah/8: 60)

Orang yang menjadikan harta sebagai kebanggaan dirinya tanpa memberikan haknya di jalan kebenaran sungguh nilai dirinya sangatlah rendah.

‘Alī ibn Abī Thālib berkata, “siapa yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kemuliaannya, maka nilai dirinya sama dengan kotoran yang keluar dari perutnya.”

  1. Kuda pilihan atau. kendaraan

Kuda pilihan atau kendaraan sejak zaman dahulu telah menjadi kegemaran manusia. Kecintaan manusia terhadap kendaraan sudah bergeser dari alat transportasi menjadi prestise. Tidak sedikit manusia yang lemah imannya merasa bangga naik mobil mewah dari pada dirinya sendiri. Padahal semewah apapun kendaraan dan semahal apapun mobil hanyalah alat transportasi, tidak lebih dari itu. Ketika seseorang merasa mulia dengan kendaraannya dari pada dirinya sendiri, maka telah gagal keimanannya.

الْخَيْلُ الثلاثة؛ لرجل أجر، ولرجل ستر، وعلىرَجُلٍ وِزْرٌ” إِلَى آخِرِهِ

Kuda itu mempunyai tiga akibat. Adakalanya bagi seseorang membawa pahala,  menjadi penutup, dan  mengakibatkan dosa, hingga akhir hadis.

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (QS. al-Naḥl/16: 8)

Kendaraan yang berakibat pahala bagi orang yang memilikinya adalah kendaraan yang digunakan di jalan Allah, seperti digunakan untuk berperang fī sabilillāh, untuk mencari nafkah, membantu orang yang membutuhkan.

Kendaraan yang berakibat menutup dari kebaikan, hanya sebagai perhiasan dan tidak mempunyai fungsi sosial.

Kendaraan yang berakibat dosa adalah kendaraan yang digunakan untuk perbuatan dosa dan maksiat.

  1. Ternak

Salah satu kebanggaan seseorang adalah apabila memiliki ternak, unta, sapi atau kambing. Salah satu infestasi yang menguntungkan dan membanggakan adalah hewan ternak. Hewan ternak menjadi kebanggaan pemiliknya. Salah satu  fungsi utama hewan ternak adalah dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan berqurban. Apabila orang merasa bangga dan bahagia saat hewan ternaknya disembelih lalu diberikan dagingnya kepada mereka yang berhak, itu menjadi tanda imannya meningkat. Nanum, apabila hewan ternak hanya jadi kebanggaan semata dihadapan manusia, maka hewan ternak akan membawa kepada kebinasaan. Karena pada dasarnya, semua hewan ternak adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-Ḥajj/22:37)

  1. Sawah ladang

Salah satu kekayaan anak manusia yang mempengaruhi pola pikir dan bertindak adalah memiliki tanah yang luas. Tanah yang luas menjadi simbol monopoli.  Istilah tuan tanah dalam masyarakat kita mengisyaratkan adanya penguasaan atas tanah oleh segelintir orang dan inilah monopoli dan penindasan manusia atas manusia. Kesenjangan sosial yang semakin tinggi karena adanya kelompok tertentu yang menguasai hektaran tanah, namun disisi lain, ada orang miskin yang tidak punya rumah karena tidak memiliki tanah. Padahal air, tanah dan semua kekayaan alam harusmya digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan orang banyak, bukan dimonopoli oleh segelintir orang.

Perbaikan diri

Dari enam faktor eksternal yang mempengaruhi pola berpikir dan bertindak, maka perlu adanya upaya perbaikan diri agar manusia tidak menuhankan materi.

Pertama, perbaikan akidah atau ishlāḥ al-aqidah, artinya mengembalikan lagi keyakinan manusia sesuai awal penciptaannya yaitu bertauhid.

Doktrin “Tiada Tuhan Selain Allah” menjadi poros dalam mengelola enam faktor di atas, hingga keenam faktor itu disamping merupakan anugerah Allah Ta’ala untuk mensejahterakan hidupnya, namun juga mempunyai nilai pengabdian kepada penciptanya.

Kedua, perbaikan mu’amalah atau ishlāḥ al-mua’malah.

Mu’amalah merupakan interaksi manusia dalam berbagai bidang kehidupan, seperti ekonomi, politik, pendidikan, kekeluargaan, kesehatan dan sebagainya.

Kaum muslimin harus meningkatkan dan  menguasai seluruh bidang kehidupan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Kebodohan, kemiskinan, dan kelemahan adalah penyakit yang harus segera diperbaiki.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. al-Qashash/28: 77)

Ketiga, perbaikan akhlak.

Dekadensi moral anak bangsa di seluruh sisi kehidupan, akan mewariskan kehancuran bagi generasi berikutnya. Kemaksiatan dan perbuatan dosa yang tidak malu saat terpublikasikan menjadi tanda bahwa bangsa itu berada pada awal kehancuran.

Saat pencitraan lebih besar daripada prestasi, kata-kata lebih banyak daripada karya dan saat publikasi lebih marak daripada kenyataan itulah saatnya kehancuran akan datang.

“Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.”

Keempat, perbaikan ibadah.

Sebagai hamba tugasnya hanyalah mengabdi. Saat pengabdian tiada lagi, maka yang terjadi adalah perbudakan. Ketika manusia tidak menjadi budak Allah Ta’ala, maka manusia akan menjadi budak syahwatnya.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah  melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. al-Jātsiyah/45: 23)

Saat manusia tidak mau beribadah, maka manusia akan dieksploitasi oleh manusia.  Kemerdekaan sejati adalah apabila manusia merdeka dari penjajahan oleh hawa nafsu.

Wallahu a’alām

Selamat pagi, ngopi dan  merenung tentang jati diri