Rumahku Surgaku

  • 0

Rumahku Surgaku

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

 عن انس قال رسول لله صلى الله عليه و سلم : اذا اراد الله باهل بيت خيرا, فقههم في الدين, و وقر صغيرهم كبيرهم, و رزقهم الله الرفق في معيشتهم, و القصد في نفقاتهم, و بصرهم عيوبهم فيتوبوا منها. و اذا اراد الله غير ذلك تركهم هملا.  رواه الدارقطني 

Dari Ānas ra, telah bersabda Rasulullah saw, apabila Allah ta’ala ingin menghendaki kebaikan pada sebuah rumah tangga, maka Allah ta’ala akan mengkaruniakan keluarga tersebut kepahaman terhadap agamanya, orang yang muda dikeluarga akan menghormati yang tua, Allah ta’ala akan mengkaruniakan kepada mereka kemudahan dalam penghidupan mereka dan kecukupan (hemat) dalam nafkahnya, dan Allah ta’ala akan menampakkan aib dan keburukan keluarga tersebut kemudian mereka semua bertaubat dari keburukan tersebut.(menutup aib masing) Jika Allah ta’ala tidak menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah ta’ala akan biarkan begitu saja keluarga tersebut (tanpa bimbingan Nya). (HR. al-Daruquthnī)

Rumah tangga yang penuh kebahagiaan adalah surga, sedangkan rumah tangga yang selalu konflik dan permusuhan adalah neraka.

Untuk mencapai rumahku adalah surgaku, ada beberapa syarat sebagaimana dikemukakan oleh hadis di atas.

  1. Paham agama.

Agama menjadi sentral dalam menggapai kebahagiaan. Karena agama secara etimologis adalah ketundukan dan ketaatan. Suami yang mengerti agama adalah suami yang taat dan tunduk kepada Allah Ta’ala. Isteri yang beragama adalah isteri yang taat dan tunduk kepada suaminya dan anak-anak yang beragama adalah anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

“Rasulullah saw bersabda, kebahagiaan seseorang terletak kepada empat hal; pertama, memiliki isteri yang solehah. Kedua, mempunyai anak yang baik. Ketiga, mempunyai sahabat dan teman yang baik dan keempat, rizkinya ada di dalam negeri.”

  1. Menghormati dan menyayangi

Salah satu keindahan hidup adalah apabila seseorang dapat memberikan yang terbaik untuk orang lain. Apabila seseorang dihormati dan disayangi, maka akan timbul cinta dan kasih sayang. Rumah tangga akan bahagia, apabila yang lebih muda menghormati yang tua. Apabila yang muda menghormati yang tua, maka otomatis yang tua akan menyayangi yang muda.

Kegagalan keluarga saat ini adalah karena sopan santun telah tercerabut dari akarnya.

  1. Hemat dalam belanja

Pola hidup konsumerisme dan hedonisme menjadi pola baru dalam kehidupan modern. Akibat logis yang dilahirkannya adalah pemborosan yang tidak terkendali. Lebih besar pasak daripada tiang. Pengeluaran lebih besar daripada  penghasilan. Angan-angan tinggi, namun kemampuan lemah sekali. Dalam kondisi seperti ini rumah tangga hanyalah neraka. Salah satu penyebab terjadinya perceraian adalah karena pola hidup materialistis yang meracuni kehidupan rumah tangga

  1. Menutup aib diri.

Pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak. Setiap kita mempunya kekhilafan dan kesalahan. Rasulullah saw bersabda, manusia itu tidak sepi dari salah dan khilaf.   Menutup aib pasangan hidup adalah ibadah. Para ulama mengatakan bahwa salah satu rizki Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah Allah Ta’ala menutup aib hamba-Nya. Saat Allah Ta’ala sudah menutup aib suami dan istsri, maka tidak boleh diantara mereka membuka aibnya. “Rasulullah saw bersabda, siapa yang menutup aib saudaranya di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya di akhirat.”

Keluarga bahagia adalah anugerah Allah Ta’ala yang harus diperjuangkan bukan dinantikan. Apabila seseorang selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan dalam mewujudkan keluarga ideal, insyaAllah akan terwujud, namun keluarga yang menanti kebahagiaan tanpa ada upaya peningkatan kualitas diri, maka keluarga bahagia hanyalah hayalan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Rūm/30: 21)

Tingkat perceraian pernikahan dan perselingkuhan yang semakin tinggi, bukan disebabkan faktor ekonomi tapi karena adanya pelanggaran yang sangat besar yaitu tidak taat kepada agama. Apabila ada seseorang yang secara formal taat beragama, namun secara faktual konflik rumah tangganya karena adanya kehampaan diri, Allah tidak hadir dalam rumah tangganya.

Kesuksesan hidup dalam pandangan orang lain, belum tentu bahagia bagi keluarga itu, maka janganlah mengejar kesuksesan hidup dengan mengorbankan kebahagiaan keluarga.

Al-Qur’an mengilustrasikan tipologi keluarga.

Pertama, keluarga yang suaminya taat, namun isterinya tidak taat, seperti keluarga nabi Nūḥ dan nabi Lūth.

Kedua, keluarga yang isterinya taat namun suaminya pendurhaka, seperti keluarga Siti Asyiah.

Ketiga, suami dan isteri penjahat, seperti keluarga abu lahab dan suami isteri yang taat dan keluarga ideal, keluarga teladan sejati yakni keluarga nabi Muhammad saw.

Pernikahan dan hidup berkeluarga adalah pilihan. Saat seseorang melangsungkan pernikahan motifasinya hanya satu yaitu meneladani Nabi Muhammad saw dan ketika berumah tangga, maka kelurga ideal yang dapat diteladani adalah keluarga Rasulullah saw, nabi Muhammad saw. Itulah pilihan menjadi keluarga ideal.

wallahu a’lām.