Kebohongan Publik

  • 0

Kebohongan Publik

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Kebohongan publik didefinisikan seorang pejabat publik yang menyampaikan informasi namun tidak sesuai fakta. Definisi yang lain tentang kebohongan publik adalah kebohongan yang disampaikan secara terbuka dengan berbagai media informasi kepada publik, siapapun yang menyampaikannya, pejabat atau bukan pejabat. Dalam kamus politik, pembohongan publik menurut kamus politik adalah upaya yang dilakukan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat secara tidak benar atau berusaha menutupi kebenaran karena ada maksud dan tujuan tertentu.

Dalam terminologi agama bohong adalah menyampaikan informasi tentang sesuatu yang tidak sesuai fakta القول او الاخبار عن الاشياء على خلاف ما هي عليه “Bohong atau dusta adalah perkataan atau informasi tentang sesuatu berbeda dengan yang ada.”

Berbohong dalam pandangan Islam termasuk dosa besar. Rasulullah saw bersabda, “maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang  dosa besar? Dosa besar itu ada tiga yaitu menyekutukan Allah dengan sesuatu, durhaka kepada orang tua dan berkata bohong.”

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. al-Naḥl/16: 105)

Dalam berkomunikasi ada tiga unsur utama.

  1. Pemberi informasi atau komunikator.

Seorang yang memberikan informasi baik secara langsung atau melalui media informasi harus memiliki kesadaran Ilahiyah karena semua perkataan dan perbuatan akan diminta pertanggungan jawab dihadapan Allah kelak pada hari kiamat.

Kesadaran ini sangat mendasar sehingga seseorang tidak mudah menyampaikan sesuatu yang tanpa diketahui kebenaran berita itu. Apabila seseorang menyebarkan berita dusta, maka termasuk pendusta. Dengan adanya kesadaran ilahiyat, seseorang tidak akan menyampaikan berita yang  tidak diketahui siapa sumber berita atau penulis berita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Ḥujurāt/46: 6)

Sebelum menginformasikan suatu berita, maka harus mengetahui terlebih dahulu siapa pembawa berita itu. Dalam dunia maya orang fasik mempunyai misi membuat kekacauan dan permusuhan dengan berita bohong sekalipun kemasannya islami. Mengetahui dengan benar siapa pembawa berita atau penulis berita adalah syarat utama dalam menyampaikan berita. Apabila seseorang tidak tahu siapa pembawa berita, maka tidak boleh berita yang yang diterimanya disampaikan lagi kepada orang lain.

  1. Penerima berita atau komunikan.

Penerima berita harus cerdas dan selektif. Saat seseorang membaca kiriman berita, karena sejalan dengan hasratnya, tanpa berpikir panjang lalu pesan yang diterimanya itu,  dikirim dan disebarkan lagi kepada orang lain. Penerima berita semacam ini sama dosanya dengan pembawa berita dusta.

Tidak sedikit orang awam menyampaikan berita karena dia beranggapan berita itu baik dan dia ingin menginformasikan kebaikan itu kepada orang lain.

Seorang komunikan jangan memiliki hasrat sebagai komunikator. Sebab berita yang disampaikan oleh komunikator belum tentu sama dengan yang dipahami oleh komunikan. Tugas penerima berita adalah menerima berita bukan menyampaikan berita. Apabila berita itu baik, maka baca dan simpan baik-baik dan tidak perlu sibuk menjadi komunikator. Kesalahan fatal yang terjadi sekarang adalah ketika orang awam merasa jadi ulama. Dengan sedikit ilmu agama yang didengar dari gurunya dan hanya berpegang kepada hadis Nabi “sampaikanlah walau satu ayat” lalu dia merubah diri seperti “muballigh” dan jadi ulama karbitan.

Dalam kondisi seperti ini setan menari di dalam hatinya, lalu menyalahkan orang lain bahkan menghina ulama yang sebenarnya.

  1. Isi berita atau pesan

Pesan atau isi berita adalah hal yang sangat penting. Para nabi disebut sebagai pembawa berita dan Rasul adalah orang yang menyampaikan berita. Berita yang dibawa oleh para nabi dan rasul adalah kebenaran. Ketauhidan, kemaslahatan dan kedamaian adalah isi berita atau pesan yang harus disampaikan kepada umat. Pesan yang baik akan membawa kebaikan dan kedamaian dan pesan yang buruk akan membawa kepada keburukan dan permusuhan.

Rasulullah saw berpesan,

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً, وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً. (رواه مسلم

Dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd ra, ia berkata Rasulullah saw bersabda, wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada Surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakunya kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta. (HR.  Muslim).

Kejujuran dalam penyampaikan dan menerima pesan cermin dari kepribadian seseorang.

Kejujuran intelektual adalah kepribadian intektual itu sendiri. ketidakjujuran atau kebohongan melambangkan rapuhnya kepribadian seseorang. Nabi mengingatkan kejujuran membawa kebaikan dan dusta mengantarkan kepada siksa dan neraka.

Hubungan harmonis yang membawa kepada kemaslahan umat adalah hubungan kejujuran antara komunikator dan komunikan dengan membawa pesan kejujuran, kedamaian dan kemaslahatan. Dan rusaknya masyarakat saat dusta telah menjadi budaya anak bangsa.

Allahu a’lam

Selamat pagi dan sampaikan pesan kejujuran, kedamaian dan ketenteraman.