Kesalehan Sosial

  • 0

Kesalehan Sosial

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Para ulama mengatakan bahwa ada tiga teori yang menjelaskan tentang kehidupan sosial.

Pertama, kehidupan sosial manusia adalah karena adanya dorongan fitrah.

Saat Adam di surga, Allah Ta’ala menciptakan Siti Hawa karena secara fitrah tidak mungkin Adam tinggal sendiri di surga. Fitrah manusia menginginkan hidup bermasyarakat. Bermasyarakat bisa disebabkan karena ada kesamaan budaya, kesamaan bahasa atau kesamaan agama. Apabila ada sisi kesamaannya, maka manusia cenderung bermasyarakat.

Kedua, kehidupan sosial karena adanya faktor eksternal yang menyebabkan manusia hidup bersama.Walaupun secara pribadi, manusia bisa hidup sendiri, namun faktor sosial memaksanya untuk hidup bersama. Faktor eksternal sangat dibutuhkan karena ada sesuatu yang tidak dapat dikerjakan sendiri. Karena ketidakmampuan itu, maka manusia membutuhkan orang lain.

Ketiga, manusia melakukan kehidupan sosial karena tuntutan rasionalitas. Secara rasional manusia menyadari bahwa tidak mungkin hidup sendiri. Manusia adalah hewan yang berpikir atau manusia adalah makhluk yang suka berbicara. Kebutuhannya untuk mengaktualisasikan jati dirinya dibutuhkan orang lain untuk berkomunikasi.

Apapun teori yang disepakati, manusia adalah makhluk sosial. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungannya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Ḥujurāt/ 49: 13)

Secara eksplisit ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kehadirannya sebagai makhluk sosial bertujuan terciptanya kondisi saling mengenal, saling mencintai dan saling menolong agar tercapai tujuan sosial yakni manusia yang paling takwa. Takwa secara bahasa takwa artinya menjaga atau memelihara (وقاية النفس). Menjaga diri itu dapat dilihat dari dua sisi yaitu memelihara secara lahiriyah (وقاية النفس الظاهرة) yakni menjadi yang terbaik di tengah masyarakat dan memelihara sisi batiniyah (وقاية النفس الباطنة) yakni menjaga diri dan meningkatkan kualitas diri secara batini atau individu.

Dengan demikian, kesalehan tidak dapat didikotomikan antara kesalehan sosial dan kesalehan individual. Karena kesalehan sosial terwujud disebabkan adanya kesalehan individual. Dari orang yang baik akan melahirkan komunitas yang baik dan dari orang yang tidak baik akan melahirkan komunitas yang tidak baik.  Tidak mungkin terjadi seseorang yang secara individu taat kepada Allah rajin ibadah dan sebagainya, namun tidak baik secara sosial atau sebaliknya seseorang yang baik secara sosial, namun gagal dalam kesalehan individual.

Karakter kesalihan sosial

  1. Saling menolong dalam kebajikan dan takwa

Allah berfirman,

 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. al-Mā’idah/5: 2)

Kecenderungan manusia untuk berbuat baik adalah fitrah manusia. Ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan secara fitrah manusia ingin berbagi. Allah memerintakan manusia untuk saling menolong dalam kebaikan adalah fitrah manusia sebagai anggota masyarakat.

Semua manusia tidak menyukai sesuatu dosa dan permusuhan, karena dosa dan permusuhan melanggar fitrah insaniyah.  Saat Allah melarang manusia saling menolong dalam keburukan, dosa dan permusuhan, sejalan dengan fitrah manusia, baik sebagai pribadi maupun masyarakat.

  1. Memberi yang terbaik

قال رسول صلى الله عليه وسلم :  خيركم خيركم لأهله 

Rasulullah saw bersabda, sebaik-baik kalian adalah mereka yang berbuat baik kepada keluarganya.

Kesalehan sosial berangkat dari kesalehan individual kepada keluarga. Seseorang yang mampu berbuat baik kepada keluarganya, akan mampu berbuat baik kepada masyarakatnya, sebaliknya orang yang tidak sanggup membangun internal keluarga, tidak akan pernah sanggup membangun masyarakatnya. Apabila ada seseorang yang rajin shalatnya, rutin puasa sunnahnya, dan tekun membaca al-Qur’an, namun lalai memberi nafkah kepada anak isterinya, sungguh itu adalah ketaatan palsu dan menipu.

 وقال رسول الله :  خير الناس أنفعهم للناس  

Dan Rasulallah saw bersabda, sebaik-baik manusia adalah mereka yang lebih bermanfaat kepada sesama.

Setelah seseorang mampu menegakkan kebaikan kepada isteri dan anak-anaknya, lalu meningkat kepada komunitas yang lebih luas yaitu membangun kebaikan sosial. Siapa yang mampu melakukan kebaikan sosial, namun tidak sanggup membangun kebaikan di rumahnya, sungguh tipu daya iblis sedang memperdaya dirinya.

وقال :  خيركم من تعلم القران وعلمه 

Dan Rasulallah saw bersabda, sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.

Zakat ilmu adalah mengajarkannya, demikian nabi berpesan.

Transformasi keilmuan adalah tanggung jawab ulama. Seseorang yang dikarunia ilmu pengetahuan mempunyai tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan orang lain. Orang yang cerdas bukan mereka yang pandai secara intelektual, tetapi orang cerdas adalah yang mampu melakukan keseimbangan antara kecerdasan sosial, spiritual dan emosional.  al-Qur’an mengisyaratkan orang yang cerdas adalah mereka yang mumpuni dalam ilmu dan peduli kepada sesama.

  1. Menjaga Masyarakat

Menjaga diri, keluarga dan masyarakat adalah tugas kenabian. Tugas para nabi adalah menegakkan kalimat tauhid dalam seluruh lini kehidupan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. al-Taḥrīm/ 66: 6)

Hidup adalah perjuangan menegakkan kebaikan dalam keluarga dan masyarakat. Hanya orang-orang baik yang dapat menegakkan kebaikan di dalam rumah tangga dan masyarakatnya.

Kehidupan jahat yakni neraka kehidupan yang dikemas dengan keindahan dan kesenangan sering kali menipu manusia. Membangun dan menjaga umat dari upaya jahat iblis menjadi tanggungjawab orang-orang soleh.

Sebab kejahatan itu seringkali tampil dengan berani dan masif bukan disebabkan oleh kuatnya kejahatan, tetapi karena diamnya orang yang baik.

Suatu hari ada seseorang naik kapal laut. Setiap penumpang sudah mempunyai tiket dan tempat duduk masing-masing. Ada seorang penumpang yang sedang melubangi tempat duduknya. Apabila orang tersebut dibiarkan melubangi tempat duduknya, tentu yang tenggelam bukan hanya yang melubangi tempat duduk tapi semua penumpang yang ada di dalam kapal laut itu, demikianlah Rasulallah saw memberikan ilustrasi tanggung jawab sosial dalam kehidupan. Melakukan yang terbaik untuk orang lain adalah tanda sebuah kesalehan.

Kesalehan itu bukan anugrah tetapi upaya yang harus dilakukan secara serius dan kontinu demi terwujudnya kesejahterahan sosial.

Wallahu a’lam

selamat menikmati kopi dan saling berbagi