Meredam Amarah

  • 0

Meredam Amarah

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Fenomena terakhir menunjukkan bahwa emosi masyarakat semakin meningkat. Masyarakat mudah tersinggung, dan marah hingga tidak dapat mengontrol diri kemudian jatuh kedalam perbuatan nista. Setelah itu datang penyesalan tiada guna.

Marah adalah percikan karakter setan sebagaimana awal penciptaannya. Saat Iblis ditanya oleh Allah, apa yang menghalangimu tidak mau sujud kepada Adam? Iblis menjawab, aku lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan Adam dari tanah.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata, aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. (QS. Shād/38: 76)

Iblis dengan rasionalisasi  sederhana mengklaim bahwa dirinya lebih baik karena tercipta dari api, sedangkan Adam lebih rendah karena diciptakan dari tanah. Sebenarnya amarah lah yang menjadi pemicu hingga Iblis tidak mau sujud kepada Adam, karena adam terlahir sebagai khalifah sedangkan Iblis tidak.

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (QS. al-Raḥmān/55:15).

Karakter pemarah adalah warisan setan yang diturunkan kepada manusia yang lemah imannya.

Menurut pandangan ulama ada empat  karakter manusia, yaitu:

  1. Babi adalah karakter serakah, jorok dan tidak mempunyai kepekaan sosial. Dari karakter ini manusia melakukan perbuatan yang mengotori jiwanya, seperti berzina, makan uang riba, uang haram dan sangat rakus kepada harta dan kekuasaan.
  2. Anjing adalah karakter pemarah. Karakter ini sering kali membuat manusia mudah emosi dan tersinggung, malakukan perbuatan jahat sekalipun terhadap orang yang dekat dengannya.
  3. Setan adalah karakter licik dan menipu. Dengan berbagai cara, manusia yang memiliki karakter seperti ini akan menghancurkan orang lain dengan keculasan dan dusta-dustanya.
  4. Ilahi yaitu karakter ketuhanan yang damai, sejuk dan menenteramkan. Karakter ini pada hakikatnya adalah karakter asasi manusia, namun karena berbagai faktor eksternal manusia cepat berubah dan keluar dari karakter ilahiyatnya.

(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ (رواه البخاري

Dari Abū Hurayrah ra bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw, berilah wasiat kepadaku. Sabda Nabi Saw, Janganlah engkau marah. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, janganlah engkau marah. (HR. al-Bukhārī)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِين. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan (hartanya) di waktu lapang atau susah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan bersikap pemaaf kepada manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Alī Imrān/ 3: 133-134)

Menahan amarah adalah  tanda orang beriman. Orang mukmin selalu menyejukkan, menenteramkan dan mendamaikan saudaranya. Prilaku emosional yang ditampilkan oleh seorang muslim adalah penyimpangan dari misi Islam yang sesungguhnya yakni menebar kasih kepada sesama. Melalui layar kaca dan media sosial sering kali kita dikejutkan oleh ungkapan kasar yang membakar emosi oleh oknum tokoh agama. Seruan jihad tanpa argumentasi yang jelas, mengusir orang berbeda mazhab bahkan mudah sekali menuduh orang lain dengan tuduhan sesat, kafir dan halal darahnya.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة

Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga (HR. al-Tabrānī dan dishahihkan oleh al-Mundzīrī)

Islam yang raḥmatan lil-‘alamīn harus disampaikan dengan penuh hikmah dan bijaksana. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Naḥl/ 16:125)

Rasulullah saw juga bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

Siapa yang menahan amarah padahal  mampu untuk melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia inginkan. (HR. Abū Dawud, al-Tirmidzī, Ibnu Mājah, dan Aḥmad)

Redamlah amarah dan rubahlah dengan cinta dan kasih sayang. Sampaikan pesan Ilahi dengan lemah lembut dan kasih sayang.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Alī Imrān/ 3:159)

Tegas adalah karakter umat Muhammad saw. bersikap tegas kepada orang yang jahat, munafik dan orang kafir adalah keharusan tetapi marah terhadap mereka adalah kesalahan. Anak muda yang teriak lantang membela islam namun disampaikan dengan penuh emosi dan amarah, sungguh tidak islami.

Di antara penyebab yang membangkitkan amarah adalah berbangga diri, keangkuhan, penghinaan, pertentangan, pengkhianatan, rakus kepada harta dan kedudukan. Ketika seseorang diusik harga dirinya, maka amarah timbul dalam dirinya. Saat harta dan kedudukannya diotak-atik, maka amarah bangkit, namun orang yang beriman dapat menahan amarahnya.

Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, umat memerlukan penyejuk hati dan penasehat jiwa agar umat tidak mudah emosi dan marah. Apabila seseorang marah, maka akalnya tidak berfungsi dan apabila akal tidak berfungsi, maka manusia akan menjadi seperti binatang buas.  Kemungkinan ada orang yang sedang stress atau kalap menghadapi kondisi seperti ini, maka mereka memancing emosi dan amarah umat dan saat umat terpancing dan marah, maka umat akan melakukan perbuatan diluar talar akal sehat, saat itu kehancuran di ambang pintu.

Rasulalkah saw berpesan, apabila amarah bergelora, maka tenangkanlah hati, berlindunglah kepada Allah Ta’ala dari godaan setan, duduklah apabila sedang berdiri, dan berbaringlah apabila sedang duduk, berwudhu dan mandilah agar percikan api yang bergelora di hati menjadi padam dengan air wudhu.

Wallahu a’lām

Selamat pagi dan redamlah amarah dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya.