Harap dan Cemas

  • 0

 Harap dan Cemas

Category : Artikel

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Harap yang dimaksud dalam tulisan ini adalah (الرجاء) dan cemas adalah (الخوف). Imām al-Ghazālī dalam bukunya Iḥyā ‘Ulūm al-Dīn berkata bahwa harap dan cemas bagaikan dua sayap burung. Indahnya seekor burung saat terbang karena kekuatan dua sayapnya itu. Demikian pula seorang mukmin akan menjadi indah hidupnya apabila harap dan cemas kepada Allah selalu ada dalam hatinya. Dalam meniti jalan Ilahi seorang suluk harus melewati maqam ini.

Harap atau rajā’ adalah kesenangan  hati karena menanti idamannya. Seperti seorang petani menanti waktu panen datang. Setelah tanah subur dikelola, benih yang unggul ditanam, lalu  air yang jernih dialirkan,  maka beberapa bulan kemudian petani berharap datangnya musim panen. Inilah yang disebut rajā’ atau harap kepada Allah Ta’ala.

Orang yang  bertani di tanah yang tandus, tidak menyiapkan benih yang baik dan tidak pula membangun irigasi, lalu dia berharap panen yang melimpah, itu bukan harap namanya tapi berangan-angan.

Dunia adalah ladang akhirat. Tanah adalah hatinya, iman adalah benihnya dan amal soleh sebagai  aliran airnya, maka layak dia berharap karunia Allah di akhirat. Namun sebaliknya, orang yang tidak menggarap dunianya,  hatinya tidak diberikan benih dengan keimanan yang baik dan tidak pula disirami dengan amal saleh, lalu dia berharap kebaikan akhirat, maka itu adalah kebohongan yang nyata.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. al-Isrā’/17: 57)

Orang yang berbuat maksiat dan dosa lalu dia berharap mendapat ampunan dari Allah tanpa ada upaya perbaikan diri dan tidak pula bertaubat, maka itu adalah dusta yang nyata. Bagaimana mungkin orang yang tidak menanam benih, berharap panen yang berlimpah selain kebohongan belaka?

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah/2: 218)

Seseorang yang berharap kebaikan adalah orang yang telah berusaha berbuat baik. Ayat ini menegaskan bahwa setelah beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah Ta’ala, baru layak berharap. Oleh karena itu, orang yang tidak beriman dan tidak beramal soleh, maka harapannya adalah palsu. Orang yang tidak bekerja keras dan tidak pula serius dalam berkarier, maka jangan berharap mendapat kesuksesan di masa depan.

Dalam konteks akademis, seorang mahasiswa akan memperoleh lulus dengan hasil yang baik, apabila dia menyiapkan diri sejak awal perkuliahan dengan serius dan kerja keras. Rajin kuliah, mengerjakan tugas dengan baik, selalu hadir tepat waktu dan menghormati dosennya, setelah dia mengerahkan segalanya, maka layak dia berharap lulus tepat waktu dengan hasil yang terbaik. Namun sebaliknya, apabila ada mahasiswa yang main-main dalam kuliah, malas belajar, tidak mengerjakan tugas dan jarang  hadir kuliah, lalu dia berharap lulus dengan hasil yang baik, itu bukan harapan tetapi mimpi kosong namanya. Pendek kata, harap atau rajā’ diperoleh dengan kerja keras dalam mewujudkan kebaikan untuk masa depan yang gemilang.

Khauf adalah kepedihan dan terbakarnya hati karena adanya kemungkinan sesuatu yang akan menimpa dirinya pada masa yang akan datang. Seorang yang berbuat dosa dan maksiat pada masa lalu akan merasakan kekhawatiran yang sangat bahkan pedih hatinya karena membayangkan akan datangnya siksa, baik di dunia maupun di akhirat.

Khauf atau cemas ini akan dapat menggoncang hati seseorang apabila mengetahui dua hal:

  1. Dia mengenal Allah Ta’ala.

Seorang yang mengenal Allah Ta’ala, pasti akan merasa takut yang sangat apabila sadar akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya pada masa lalu.  Seorang yang mengetahui buasnya harimau tentu akan ketakutan dan cemas yang sangat apabila dia ada didekatnya. Namun sebaliknya, dia tidak akan takut berada di dekat harimau apabila dia tidak tahu buasnya harimau.

Rasulullah saw bersabda, “seandainya kalian tahu sebagaimana aku tahu tentang akhirat, pasti kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

  1. Mengetahui bahayanya dosa dan maksiat.

Perbuatan dosa dan maksiat adalah racun yang mematikan hati. Apabila seseorang melakukan perbuatan dosa dan maksiat dan dia tahu akibat dari perbuatannya itu pasti akan menangis sepanjang hidupnya. Nabi Adam as ketika memakan buah khuldi bertaubat dan menangis selama 200 tahun. seraya berdoa,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata, ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. al-A’rāf/7: 23)

Ulama menjelaskan khauf itu adalah menjaga diri dari semua perbuatan dosa, lahir maupun batin. Abū al-Qāsim al-Ḥakīm berkata,

 من خاف من شيء هرب منه ، ومن خاف من الله عز وجل هرب إليه

Siapa yang takut terhadap sesuatu, maka dia akan lari darinya dan siapa yang takut kepada Allah, maka dia akan lari kepada-Nya.

Takut atau khauf kepada Allah harus berlari mendekat kepada-Nya bukan menjauh dari-Nya.

‘Alī ibn Abī Thālib berkata; “maukah kalian kuberi tahu tentang siapa yang benar-benar faqih? Yaitu orang yang tidak memberi kelonggaran kepada orang lain untuk berbuat maksiat, yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah. Tidak membuat mereka merasa aman dari ancaman Allah Swt. Juga tidak meninggalkan al-Qur’an (karena tidak suka dengannya), lalu mencari selainnya. Dan tidak ada kebaikan dari suatu ibadah yang pelakunya belum mengerti aturan agama.”

“Dan ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa membuat seseorang berfikir akan Tuhannya dan tidak ada baiknya bagi bacaan yang tidak disertai dengan renungan.”

Dalam kesempatan lain beliau berkata, “tidak akan melakukan perbuatan zina seseorang yang mempunyai harga diri.

Orang berzina karena tidak ada khauf di dalam hatinya. Dan seorang pezina tidak mempunyai harga diri dihadapan Allah Ta’ala. Karena saat seseorang berzina, imannya keluar bagaikan seseorang yang melepas baju kurungnya dari tubuhnya.

Dan sesungguhnya orang yang bertakwa itu akan merasakan kenikmatan dunia dan nikmat di akhirat nanti. Mereka juga menikmati dunia bersama pencinta dunia, sedang para pencinta dunia tidak akan bersama-sama mereka untuk merasakan kenikmatan akhirat.

Ibrāhīm ibn Syinān berkata,

 إذا سكن الخوف في القلب ، أحرق مواضع الشهوات منه ، وطرد رغبة الدنيا عنه .

Apabila khauf bersemayam di hati, niscaya akan terbakar  tempat syahwat darinya dan akan tercampakkan kesenangan dunia darinya.

Apabila khauf memenuhi hati seorang hamba, niscaya akan terbakar keinginan syahwatnya dan akan hilang kesenangannya terhadap dunia, namun siapa yang tidak ada rasa khauf di dalam hatinya, dia merasa aman memperturutkan syahwatnya dan merasa aman dari siksa akhirat.

Ibnu Taimiyah berkata, khauf itu adalah menjauhkan diri dari segala yang haram.

Harap dan cemas selamanya harus ada dalam dada. Dan dengan adanya rajā’ dan khauf manusia akan selalu waspada menuju kehidupan abadi.

Tiada harap tanpa amal shaleh dan tiada cemas tanpa makrifat kepada Allah

wallahu a’lam

Selamat pagi dan optimis selalu