Cinta dan Benci Karena Allah

  • 0

Cinta dan Benci Karena Allah

Category : Artikel

Oleh:  Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Cinta dalam bahasa arab adalah Mahabbah. Ulama berbeda pendapat tentang makna mahabbah. Sebagian ulama berpendapat bahwa mahabbah berasal dari kata الصفى artinya jernih. Maksudnya adalah cinta itu suci dan tidak ternoda dengan dosa. Pendapat lain mengatakan, mahabbah berasal dari kata حبة الاسنان artinya gigi yang putih. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa mahabbah berasal dari kata الحباب artinya buih. Dalam konteks ini maksudnya adalah gejolak hati.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa mahabbah berasal dari kata حب bentuk jama’ dari kata حبة. Kata ini mengisyaratkan bahwa semua kejadian berasal dari benih cinta. Dan pendapat yang menarik mengatakan bahwa mahabbah berasal dari kata حبة القلب artinya lubuk hati yang paling dalam.

Benci dalam bahasa arab adalah الغضب artinya benci, marah, murka dan lain sebagainya. Sebagaimana halnya cinta, benci adalah perbuatan hati yang teraktualisasi balam bentuk perkataan, perbuatan dan sikap.

Cinta dan benci dua karakter yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Dan terkadang sangat tipis untuk membedakannya walau bertolak belakang.

وعن أَنَسٍ رضي الله عنه عن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاوَةَ الإيمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (البخاري ومسلم

Dari Anas ra dari Nabi saw bersabda, ada tiga hal, apabila ada ketiganya maka akan mendapatkan manisnya iman. Pertama, apabila Allah dan Rasulnya lebih dicintai selain dari keduanya. Kedua, seseorang tidak mencintai selain  karena Allah. Ketiga, dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci masuk neraka. (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

، (وعَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الإيمَان َ( رواه أبو داو

Dari Abī Umamah dari Rasulallah saw bersabda, siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, sungguh sempurna imannya. (HR. Abū Dawd).

  1. Bercinta karena Allah

Bercinta itu adalah tiga unsur yaitu pencinta, yang dicintai dan cinta itu sendiri.

Cinta itu sulit didefinisikan namun cinta itu ada dan dapat dirasakan. Dalam kajian irfani, cinta adalah maqom tertinggi. Maqam ini dicapai setelah melewati maqam sebelumnya, seperti tobat, muraqabah, mujahadah, muhasabah, rindu, dan sebagainya, maka siapa yang mengingkari adanya cinta, berarti dia mengingkari adanya maqam-maqam sebelumnya. Rasulullah saw berdoa, ya Allah berilah aku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu, kecintaan kepada yang mendekatkan aku kepada-Mu dan jadikanlah kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai dari air yang sejuk.

Unsur kedua dalam bercinta adalah yang dicinta. Allah adalah kekasih sejati, cintanya tidak terhingga kepada seluruh makhluk-Nya. Apabila seseorang merasakan getaran cinta kepada orang lain, itu adalah percikan cinta Ilahi. Cinta kepada ayah bunda, suami isteri, anak, guru, ulama dan sebagainya merupakan percikan dari cinta Allah kepada hamba.

Dan unsur ketiga dalam bercinta adalah cinta itu sendiri. Tidak ada yang dapat merasakan cinta selain seorang pencinta. Agama mengajarkan bercinta karen Allah bukan karena selainnya.

 أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ : ” يَا مُحَمَّدُ أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ ؛ فَإِنَّكَ مُفَارِقُه , وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ ؛ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ , وَعِشْ مَا شِئْتَ ؛ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ , وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ , وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

 

Bahwa Jibril mendatangi nabi Muhammad saw seraya berkata, hai Muhammad cintailah apa saja yang engkau kehendaki, tapi ingat engkau akan berpisah dengannya. Berbuatkan sekehendak hatimu, tapi ingat semua yang engkau lakukan akan diminta pertanggungan jawab. Hiduplah sekehendakmu tapi ingat engkau akan mati. Ingatlah seseungguhnya orang yang paling mulia adalah mereka yang shalat malam, dan orang orang kaya itu adalah mereka yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.

Tidak ada cinta yang abadi selain cinta Ilahi, maka apabila cinta hamba kepada sesama ingin abadi, maka sandarkanlah cinta itu hanya kepada Allah Ta’ala.

Namun sayangnya hamba sering berdusta, mereka bilang cinta kepada Allah tanpa bukti.  Saat nabi Musa sedang bermunajat, Allah berfirman, hai putra Imran sungguh berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku tapi saat malam sudah gelap, ia tertidur dariku. Bukankah setiap pencinta menyukai kesepian bersama kekasihnya?

  1. Benci karena Allah

Cinta dan benci tidak dapat disatukan karena saling bertolak belakang.  Mencintai kebaikan dan kebenaran pada hakikatnya adalah cinta kepada Allah Ta’ala. Membenci keburukan, kekafiran, dan kemaksiatan juga bagian dari cinta kepada Allah Ta’ala.  Maka yang dimaksud dengan benci karena Allah melepaskan diri kita dari seseorang yang melakukan perbuatan dosa dan maksiat sekalipun dia orang yang kita cintai. Kita tidak membenci orangnya tapi kita benci perbuatannya yang melanggar larangan Allah Ta’ala.

Saat nabi Nuh mengeluh kepada Tuhannya karena anaknya tidak mau naik ke dalam safinat al-najah, perahu keselamatan, seraya berkata; ya Allah dia anakku. Allah menjawab, dia bukan anakmu. Dia adalah amal yang tidak baik.

Terkadang manusia tertipu. Saat orang-orang yang dicintainya, seperti anak, isteri dan saudara melakukan kejahatan, dosa dan maksiat, kita diam saja tidak melarangnya, padahal mereka sedang dalam kehancuran. Sikap seperti ini bukanlah karena cinta tapi sayang yang membuta. Rasulallah saw bersabda, orang yang mencintaimu  adalah orang menasihatimu. Kebencian seorang yang beriman bukan dilandasi iri hati atau marah tetapi karena Allah semata. Kebencian seorang mukmin kepada saudaranya yang sedang berbuat maksiat pada hakikatnya adalah bukan membenci saudara tapi membenci keburukan, kejahatan dan kemaksiatan yang melekat dalam diri saudaranya. Orang yang sanggup bercinta karena Allah dan membenci karena Allah sungguh telah sempurna imannya

wallahu a’lam.

Selamat pagi dengan menebar cinta kepada sesama.