Hati dalam Perspektif Al-Qur’an

  • 0

Hati dalam Perspektif Al-Qur’an

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Manusia mempunyai empat potensi batini yaitu hati (القلب), ruh (الروح), jiwa (النفس) dan akal (العقل). Secara etimologis qalbu artinya bolak balik. Hati kadang merasakan bahagia, kadang susah, kadang rajin ibadah, namun kadang malas merajalela dan sebagainya, hingga dalam untaian doa hamba bermunajat agar diberi kemantapan hati.

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينک وعلى طاعتک وعلى شکرک وحسن عبادتک

Duhai Tuhan yang membolak-balikkan hati, mantapkanlah hatiku dalam menjalankan agamamu, selalu taat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan indah beribadah kepada-Mu.

Mengelola batin agar relevan dengan kemauan Allah Ta’ala bukan hal mudah, harus ada kesungguhan dan keseriusan, untuk itu diperlukan pertolongan Allah yang mengatur pergolakan hati yang selalu berubah.

Hati yang diselimuti iman akan melahirkan ketenangan dan kedamaian (السکينة) namun hati yang membatu akan merasakan kegelisahan tak menentu.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Fath/48: 4)

Betapa indahnya hidup bila hati tenteram dan nyaman dan betapa tersiksa jiwa saat hati tidak nyaman, gelisah, kecewa, marah dan sebagainya. Seluruh perbuatan lahiriah pada hakikatnya hanyalah aktualisasi hati. Apabila hati tenang dan damai, maka semua bentuk perbuatan lahiriyah akan indah dan mempesona, namun bila hati gelisah, maka perbuatan cenderung kepada hal-hal yang negatif. Karena pada hakikatnya, pahala dan siksa adalah akibat dari gerak hati.

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. al-Baqarah/2: 225)

Hati orang yang beriman responsif terhadap apa yang didengar. Apabila orang yang beriman mendengar ayat-ayat Allah hatinya bergetar karena kerinduan kepada Allah Ta’ala. Dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah iman dan kuat tawakkalnya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. al-Anfal/8: 2)

Macam-macam hati Dalam al Qur’an

1. Hati yang membatu

Hati yang membatu adalah hati yang telah mati, baginya tidak berguna cucuran nasihat dan bimbingan agama. Hati yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat hati yang tertutup dari kebaikan. Karena hatinya telah mati, maka nasihat dan bimbingan agama tidak berguna lagi baginya. klaim kebenaran terhadap perbuatan dan tindakannya sangat arogan.

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.(QS. al-Baqarah/2: 7)

Mereka yang hatinya mati dan membatu mempunyai karakter sebagai berikut;

Pertama, menutup diri dari informasi orang lain. Menurut mereka kebenaran itu adalah apa yang ada pada mereka, maka selain pendapat mereka pasti salah dan tersesat.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. al-Baqarah/2: 6)

Kedua, klaim kebenaran. Orang yang hatinya membatu selalu mengklaim bahwa mereka adalah orang yang benar dan selalu melakukan kebenaran. Karena mata hatinya telah tertutup, maka sebesar apapun cahaya kebenaran yang disampaikan oleh orang lain tidak menembus dinding hatinya.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. al-Hajj/23: 46)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. (QS. al-Baqarah/2: 11)

Meraka yang hatinya membatu, tidak sadar bahwa perbuatannya merusak, namun karena pandangan hidupnya yang materialistis, hedonis kapitalistik dan serba instan, hingga mereka berani mengorbankan masa depan untuk kenikmatan sejenak hari ini.

Ketiga, tidak mampu memfungsikan hatinya secara cerdas. Orang yang hatinya mati, pada hakikatnya hanya menjalankan hidup dengan insting bukan dengan akal.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raf/7: 179)

Manusia yang tidak mampu mengelola hatinya akan cenderung materialistik. Saat hati, akal dan indrawi tidak berfungsi, maka karakter hewani mendominan dalam dirinya. Hingga ayat ini mengisyaratkan bagai binatang maksudnya manusia berperilaku binatang. Maksudnya adalah Manusia yang seperti ini lebih sadis dari binatang.

2. Hati yang sakit

Hati yang sakit adalah hati yang dipenuhi dengan penyakit hati. Diantara penyakit hati yang melanda masyarakat modern adalah;

Pertama, cinta dunia dan menganggap ringan urusan agama. Rasulallah saw bersabda, cinta dunia adalah puncak segala kesalahan. Dunia dan materi itu adalah alat dan sarana beribadah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan tujuan hidup adalah membangun cinta kepada Allah Ta’ala

Kedua, melalaikan sholat dan meremehkan amanat. Rasulallah saw bersabda ada dua hal yang sering dilalaikan oleh manusia manusia, yaitu sholat dan menunaikan amanat. orang yang hatinya berpenyakit akan malas mendirikan shalat, padahal shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat, berarti menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti dia menghancurkan agama. Tanda orang yang hatinya berpenyakit tidak amanah atau berkhianat. Di zaman sekarang ini, banyak orang mudah berjanji dan mudah pula mengingkari. Orang yang sedang kampanye mudah sekali mengumbar janji dan setelah jadi tidak perduli dengan janjinya.

Ketiga, ciri orang yang hatinya sakit beda kata dengan perbuatan. Kesehariannya hanya sibuk membangun citra baik bukan berbuat baik. Orang yang selalu membangun citra adalah orang yang sakit hatinya. Hingga tidak ada prestasi yang dibuatnya selain membangun citra baik untuk dirinya.

3. Hati yang sehat

Orang yang hatinya sehat adalah orang yang hatinya bersih dari riya dan syirik.
Ciri orang yang hatinya bersih dan sehat, sebagai berikut;

Pertama, selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. al-Ra’ad/13: 28)

Orang yang hatinya sehat selalu berdzikir dan dengan berdzikir diperolehnya ketenangan dan kedamaian dalam dirinya.

Kedua, khusyu’ dalam mendirikan shalat. Orang yang hatinya bersih dan sehat dalam menjalankan ibadah, hatinya sibuk bercumbu mesra dengan Tuhannya, sedangkan orang yang hatinya sakit, saat beribadah sibuk memperhatikan ibadah orang lain. Apabila tidak sama dengan ibadahnya, maka mereka langsung berkomentar bahwa ibadahmu salah dan tidak sesuai dengan sunnah nabi.

Ketiga, lembut dalam kata dan santun dalam perangai. Kata dan perbuatan adalah implementasi dan cermin dalam hati, orang yang hatinya sehat dan bersih akan mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan dan perbuatan menggembirakan.

wallahu a’lam!