Dzikrullāh

  • 0

Dzikrullāh

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

 Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al Aḥzāb/33: 41)

Berdzikir, atau mengingat Allah adalah membangun kesadaran Ilahi di dalam diri. Membangun kesadaran berketuhanan dalam seluruh aktivitas merupakan modal utama  bagi masyarakat modern yang sering mengalami penyakit psikologis. Depresi, stress, prustasi dan sebagainya menjadi fenomena bagi masyarakat modern sekarang ini. Fenomena ini tidak hanya dialami oleh orang-orang miskin dan kurang berpendidikan tetapi juga menimpa orang-orang kaya dan mereka yang berpendidikan tinggi.

Kejenuhan, kekecewaan dan berbagai problem hidup memaksa mereka mencari solusi. Secara normatif, banyak ayat dan hadis yang memerintahkan agar setiap hamba selalu berdzikir dalam segala keadaan. al Qur’an memerintahkan agar selesai menunaikan haji, hendaknya berdzikir kepada Allah.

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. (QS. al-Baqarah/2: 200)

Allah Ta’ala  memerintahkan agar, setelah selesai menunaikan shalat hendaknya berdzikir kepada-Nya. Dan Allah Ta’ala mengingatkan agar berdzikir dilakukan, dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Ini mengisyaratkan pentingnya berdzikir bagi seorang hamba.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُم

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, duduk dan berbaring. (QS. al Nisā’/4: 103)

Berdzikir salah satu tanda orang cerdas. Tanda ulul albab (orang cerdas) adalah berdzikir dan berpikir. Berdzikir adalah membangun ketajaman hati dan berpikir adalah membangun kecerdasan akal. Kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual merupakan karakter utama kaum muslimin. Ketidakhadiran hati dalam setiap gerak akan melahirkan kehampaan jiwa. Mereka yang rajin shalat tanpa kehadiran hati tidak akan sampai kepada derajat khusyu’. Mereka yang sibuk dengan nilai-nilai eksoteris (lahiriah) dengan mencampakkan nilai-nilai esoteris (batiniah) akan melahirkan kebekuan hati.

Seorang cendekiawan yang bergelut dalam dunia akademik dengan berbagai teori tanpa kekuatan berdzikir akan kehilangan jati dirinya. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk ruhani yang memerlukan makanan ruhani yakni berdzikir.

Rasulullah saw. bersabda, “setiap orang mempunyai tujuan dan tujuan anak Adam adalah kematian, maka hendaknya kalian selalu berdzikir kepada Allah, agar mudah menghadapinya dan senang akan akhirat.” (‘Alī al-Mukhtārī, jilid. 1, h. 370)

Dalam hadis lain, Rasulallah saw bersabda, “tanda cinta kepada Allah adalah senang berdzikir kepada-Nya dan tanda orang yang benci kepada Allah adalah orang benci kepada dzikrullah.” (ibid)

Seseorang yang hatinya kosong dari dzikrullah, bagaikan rumah kosong tanpa penghuni. Seseorang yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi, pada akhirnya akan merasakan kesepian ditengah keramaian.  Tidak sedikit masyarakat modern yang nampaknya bahagia dan riang, namun sedih dan menangis di saat sendirian. Itu semua karena hilangnya esensi kemanusiaan di dalam hatinya. Esensi insani adalah dzikrullah yakni bersama Allah atau dzikrullah.

Rasulallah saw. mengingatkan bahwa ibadah yang paling tinggi derajatnya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berdzikir kepada Allah swt.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai malaikat yang berkeliling mencari orang-orang berdzikir. Allah bertanya kepada malaikat padahal Dia Maha Mengetahui.

Allah        : Hai malaikat, apa yang dikatakan oleh orang-orang yang berdzikir?

Malaikat   : Mereka sedang bertasbih kepadamu, bertakbir, membesarkan-Mu, memuji-Mu dan mengagungkan-Mu.

Allah        : Apakah mereka melihat-Ku ?.

Malaikat   : Belum, mereka tidak melihat-Mu

Allah        : Bagaimana bila mereka bisa melihat-Ku?

Malaikat   : Bila mereka bisa melihat-Mu, mereka akan bertambah ibadahnya, bertambah memuji dan menyucikan-Mu.

Allah        : Apa yang mereka minta kepada-Ku?

Malaikat   : Mereka minta surga kepada-Mu.

Allah        : Apakah mereka sudah melihat surga?

Malaikat   : Belum, mereka tidak melihat surga-Mu.

Allah        : Bagaimana bila mereka melihat surga-Ku?

Malaikat   : Mereka sangat ingin dan sangat senang

Allah        : Mereka berlindung dari apa?

Malaikat   : Mereka berlindung dari neraka

Allah        : Apakah mereka pernah melihat neraka?

Malaikat   : Belum dan mereka tidak bisa lihat neraka.

Allah        : Bagaimana bila.mereka melihat neraka?

Malaikat   : Mereka sangat takut dan akan lari dari neraka.

Allah        : Hai malaikat, saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka semua.

Ilustrasi di atas hanyalah isyarat bahwa orang-orang yang selalu berdzikir tidak akan merasa kesepian. Karena orang yang berdzikir akan selalu ditemani oleh kekasih-Nya, Allah Ta’ala.

Allah berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS, al-Baqarah/2: 152)

 Macam-macam dzikir:

  1. Dzikr al-Lisān

Dzikir bi al-lisān adalah berdzikir dengan menyebut dan memanggil asma Allah secara teratur dan konsisten. Teratur artinya mencari al ahwal al syarifah, yakni kondisi terbaik untuk berdzikir secara lisan dan mengulang-ulang penyebutan nama Allah. Pengulangan dalam berdzikir adalah cara untuk melihat respon batini, misalnya mengulang kalimat “لا اله الا الله” seratus atau seribu kali untuk melihat respon batini agar terjadi koneksitas batin.

Hati yang telah merespon asma Allah yang digemakan secara lisani akan merasakan kedamaian dan ketenteraman jiwa.

Manisnya dzikir kepada Allah dirasakan oleh mereka yang berdzikir.  Mereka yang mengerti tentang dzikir namun tidak berdzikir tidak akan merasakan manisnya berdzikir. Berdzikir secara lisan bisa dilakukan secara pribadi dan berjamaah, namun harus ada seorang mursyid yang membimbingnya sebab tanpa pembimbing dzikir tidak akan sampai tujuannya.

  1. Dzikr al-Qalb

Dzikr al-Qalb adalah berdzikir yang dilakukan melalui gerakan hati. Hati yang penuh dengan asma Allah akan memberikan sensitivitas batini dalam menjalankan kehidupan.  Hati yang selalu berdzikir adalah hati yang sehat atau qalb al-salīm. Dzikr bi al-Qalb pada hakikatnya sama dengan dzikr bi al-lisān, namun pada dzikru bi Qalbi peran lisan menjadi berkurang.

  1. Dzikr bi al Jawārih

Dzikr bi al-Jawārih adalah dzikir dengan seluruh anggota badan. Mereka yang berdzikir pada tahapan ini memiliki daya sensor yang kuat. Matanya hanya melihat kebaikan dan secara otomatis menolak keburukan. Tangannya hanya memegang dan menerima yang halal, dan secara otomatis dan sensitif dari semua perbuatan yang haram. Kakinya hanya dapat melangkah menuju kebaikan dan tidak akan mampu melangkah menuju sesuatu yang haram. Dzikir bentuk ketiga ini merupakan hasil dan aktualisasi dari bentuk dzikir pertama dan kedua.

Wallahu a’lām.

Selamat pagi dan selamat beraktifitas dengan penuh berdzikir