Musibah

  • 0

Musibah

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Allah berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS, al Baqarah/2:156)

Saat nabi Ya’kup as. bersama keluarganya pulang kembali ke Kan’an dari Faddan karena ayahnya, nabi Ishaq as meninggal dunia, di pertengahan jalan isteri tercinta, Rahil melahirnya  Bunyamin dan meningal dunia. Nabi Yusuf kecil menangis sambil memanggil, ibu…ibu…. Rahil dipanggil menghadap Allah Ta’ala dalam perjalanan. Dalam kesedihan, nabi Ya’kub menenangkan Yusuf dan berbisik, nak  ibumu telah dipanggil oleh Tuhannya, Penciptanya dan Kekasihnya.  Saat itu, saudara perempuan nabi Ya’kub berkata, wahai Ya’kub musibah tidak pernah sepi dari para nabi.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk/67:2)

Kematian dan kehidupan hanyalah batu ujian untuk mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang terbaik amalnya. Hidup di dunia adalah perjalanan atau safar menuju rumah keabadian. Di dalam perjalanan singkat ini banyak kendala dan ujian, sebagai sarana menuju kesempurnaan. Bila kesempurnaan ruhani telah tercapai, maka hamba akan meneruskan perjalanan ruhani yang lebih panjang menuju akhirat.

Salah satu cara untuk mencapai kesempurnaan ruhani, Allah memberikan berbagai ujian agar manusia mencapai derajat ahsan al-amala, manusia yang terbaik.

Rasulallah saw mengingatkan, besarnya pahala dan ganjaran, tergantung musibah dan cobaan yang menimpanya. Dan cobaan serta ujian tidak mungkin diluar batas kemampuan hamba, sekalipun ujian itu terasa lebih besar dari gunung.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. al Baqarah/2:286)

Ulama membagi musibah menjadi tiga macam.

  1. Kekurangan harta

Sebagai makhluk materi, manusia membutuhkan materi sebagai alat dan sarana mempermudah beribadah kepada Allah Ta’ala. Harta bukan tujuan apalagi kebanggaan, namun tidak sedikit manusia yany tergelincir karena kekurangan harta. Rasulallah saw bersabda,

کاد الفقر ان يکون کفرا

Hampir saja kefakiran menjadi sebab terjadinya kekufuran.

Kefakiran dan kemiskinan terkadang menjadi menyebab manusia lupa akan nikmat Allah Ta’ala yang diberikan kepadanya, padahal dalam keadaan bagaimanapun, pasti anugerah Allah Ta’ala lebih banyak dari kekurangan yang dirasakannya. Manusia menderita bukan karena rizki yang berkurang tetapi karena kurang bersyukur yang bersemayam dihatinya.

Nabi bersabda, ada dua hal yang paling dibenci manusia, kekurangan harta, padahal kurang harta akan mengurangi hisab kelak pada hari kiamat dan kematian, padahal kematian lebih baik dari fitnah.

Kaum materealistis, kapitalis dan hedonis menjadikan  materi segalanya. Siapa yang banyak modal akan berkuasa. Apabila seseorang berideologikan materialisme, pasti akan dikuasai oleh kaum kapitalis, tetapi orang yang menjadikan iman menjadi poros dalam kehidupannya, tidak akan pernah terjajah oleh mereka.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali Imran/3:14)

  1. Kurang ilmu

Musibah terbesar manusia yang kedua setelah kurang harta adalah kurang ilmu. Ilmu adalah cahaya, siapa yang berilmu tidak akan tersesat dalam perjalanan yang singkat ini, dan siapa yang tidak berilmu tidak akan pernah sampai tujuannya.

Ali ibn Abi Thalib kedatangan tamu, seraya bertanya, hai Ali mana yang lebih utama ilmu atau harta? Ali menjawab, ilmu, karena ilmu warisan para nabi, sedangkan harta warisan Qarun, Fir’aun dan Haman.

Pertanyaan yang sama disampaikan lagi oleh tamu berikutnya, Ali menjawab, ilmu lebih utama daripada harta karena harta harus engkau jaga tetapi ilmu akan menjagamu.

Pertanyaan yang sama diajukan lagi oleh tamu berikutnya. Ali menjawab, ilmu lebih utama daripada harta karena harta takut dengan pencuri sedangkan ilmu tidak takut dicuri.

Pertanyaan yang sama diulangi lagi, Ali menjawab, ilmu lebih utama daripada harta, karena harta mengeraskan hatimu sedangkan ilmu menerangi hatimu.

Pertanyaan yang sama diulangi lagi oleh tamu yang berikutnya, Ali menjawab, ilmu lebih utama dari harta karena harta membuat manusia sombong sedangkan ilmu  membuat manusia tawadhu.

Fenomena akhir zaman banyak ulama palsu, berpenampilan seperti ulama namun perangai pendosa. Salah satu tanda orang ulama adalah tidak sombong. Apabila ada seorang ulama merasa benar sendiri dan menyalahkan serta menyesatkan orang lain, itulah ulama palsu. apabila ada seorang ulama yang membangun emosi dan amarah umat serta menanamkan kebencian kepada orang lain, itulah tanda ulama palsu.

Musibah terberat negeri ini adalah karena kekurangan ilmu terutama ilmu agama, hingga tidak sedikit mereka yang tidak mempunyai kapasitas keilmuan dalam bidang agama dapat menyalahkan ulama yang sejak kecil mendalami agama.

Rasulallah saw berpesan, tanda akhir zaman, banyak pembaca al Qur’an tapi sedikit yang memahaminya. Dalam hadis lain, Nabi bersabda, tanda akhir zaman, banyak orang yang membaca al Qur’an tetapi tidak sampai ke hati.

  1. Tertutup hijab

Musibah terbesar yang akan dihadapi oleh manusia adalah tidak sanggupnya manusia memahami rahasia Allah yang terhampar di alam raya dan yang termaktub dalam kitab suci. Manusia akhir zaman seringkali beragama pada wilayah teks dan lari dari pemahaman konteks. Rasulallah saw bersabda, tanda akhir zaman adalah banyak manusia yang pandangan hidupnya adalah kebutuhan perut mereka, atau materialistis, agama akhir zaman adalah dinar dan dirham dan mereka tidak mau berhukum dengan hukum Allah.

Musibah terbesar anak manusia adalah karena mereka tidak sanggup memahami hakikat. Kekurangan ilmu dan tidak mau memahami rahasia dan hikmah tasyri’ akan menjadi bumerang bagi umat Islam. Pepatah mengatakan, seorang wali hanya bisa dikenali oleh seorang wali. Sekarang tidak sedikit, orang awan berpenampilan seperti wali, padahal mereka tidak memahaminya. Kajian tasawuf dan irfani dianggap sesat karena mereka berkata nabi bukan seorang wali. Inilah musibah ketika orang awam merasa memahami agama. Pada akhirnya, manuasia terjebak didalam kebodohannya sendiri. Karena mereka tidak memahami musibah yang sedang menimpa dirinya.

Wallahu a’lam

Selamat pagi dan selamat beraktifitas