Monthly Archives: April 2018

  • 0

Pengumuman: Forlap Dikti-Ristekdikti

Category : Pengumuman

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Berdasarkan hasil rapat pimpinan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Rabu, 18 April 2018, tentang kelengkapan data mahasiswa di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD DIKTI) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengintrusikan kepada semua mahasiswa untuk mengecek data dirinya ke link Forlap Dikti-Ristekdikti (https://forlap.ristekdikti.go.id/). Bagi mahasiswa yang belum terdaftar atau belum lengkap mata kuliahnya di Forlap tersebut harap segera mengirimkan datanya, berupa:

  1. Data Transkrip Nilai AIS
  2. Data Nilai di Forlap Dikti-Ristekdikti

Data tersebut dikirm ke email: humas.ushuluddin@uinjkt.ac.id paling lambat tanggal 2 Mei 2018. Kelengkapan data di Forla Dikti berpengaruh pada kelanjutan studi mahasiswa.

Demikian pengumuman ini disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

Jakarta, 26 April 2018

An. Dekan

Wakil Dekan Bidang Akademik

Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si

NIP. 19651129 199403 1 002


  • 0

Menuju Cinta Allah

Category : Artikel

Oleh: Fauzan NR

Mari renungkan pertanyaan ini, “Apakah kau mencintai Allah ?”

Nabi Muhammad Saw., merupakan rasul Allah (“the massenger of Allah”), nabi terakhir (khatam al-anbiyā`),  serta panutan dan teladanyang baik (qudwah/ uswah hasanaḥ) bagi umat Islam. Mengikuti sunnahnya merupakan tiket untuk mendapat cinta Allah, yaitu cinta dari Yang Mahapencinta yang didambakan oleh semua hamba yang mencintai-Nya.Allah berfirman;

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31 

“Katakan (Muhammad), ‘Bila kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Ālu ‘Imrān/3/31)

Saat menjelaskan ayat di atas, al-Ṭabarī dalam tafsirnya “Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīli Āyi al-Qur`ān” yang terkenal sebagai salah satu “Ummahāt al-Tafsīr” mengawali dengan memaparkan dua pendapat yang berbeda tentang sebab turunnya ayat. Menurutnya, yang lebih kuat adalah pendapat kedua. Pendapat ini berlandasan riwayat dari jalur Muhammad bin Ja’far bin al-Zubair. Al-Ṭabarī,berdasarkan riwayat tersebut, menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan utusan orang Nasrani Najrān yang mendatangi Nabi Muhammad Saw., yang menceritakan tentang Nabi ‘Īsā. Ayat ini dipahaminya sebagai bentuk perintah Allah kepada Nabi untuk memintabukti,apakah perkaataan utusan tersebut adalah benar-benar bentuk cinta kepada Allah dan pengagungan kepada Nabi ‘Īsā, dengan cara memerintahkan mereka untuk mengikuti Nabi. (Tafsir al-Ṭabarī).

Penafsiran al-Ṭabarī terhadap surah Ālu ‘Imrān/3/31memberi kesan bahwa ayat tersebut berlaku khusus untuk para utusan orang Nasrani Najrān, sehingga bisa pula dipahami bahwa ayat ini meminta bukti pada utusan tersebut dengan cara masuk Islam. Pemahaman terhadap ayat tersebut tidakhanya demikian. Bisa dipahami pula sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsīr bahwa ayat ini berlaku umum untuk siapapun yang mengaku cinta kepada Allah. Bukti pengakuan cintatersebut adalahdengancara mengikutiatau menyesuaikan semua perkara, baik ucapan atau perilaku sesuaiajaran dan anjuran Agama Nabi. Bila tidak, maka pengakuan tersebut adalah dusta.Menurutnya, ini sesuai dengan yang dikatakan Nabi dalam hadis sahīh;

مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَرَدُّ

“Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak berlandasan dari pekerjaan kami maka perbuatan tersebut tertolak (tidak diterima).”

Lebih lanjut, Ibn Katsīr menjelaskan bahwa orang yang mengikuti Nabi ia akan mendapat sesuatu yang lebih tinggi dibanding pengakuan cintanya pada Allah, yaitu Allah mencintainya. Yang kedua ini lebih agung dibandingkan yang pertama. Sebagian ahli hikmah yang alim berkata;

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَب

“Urusannya bukanlah kau mencintai, tetapi kau dicintai.” (Tafsīr Ibn Katsīr)

Bertolak dari penafsiran Ibn Katsīr ini, maka dewasa ini, umat Islamyang mengaku cinta kepada Allah pun harus membuktikannya. Pembuktian tersebut dengan terus menjalankan ajaran-ajaran Nabi Muhammad yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis-hadis (Perkataan, perilaku dan ketetapan serta akhlak Nabi)yang sahīh. Bila tidak, maka pengakuannya adalah dusta, tidak dapat dibenarkan. Walaupun demikian, pemahaman Ibn Katsīr tentang keharusan semua ucapan dan perilaku sesuai ajaran dan anjuran Islam tidak serta-merta dipahami bahwa orang yang belum bisa atau bahkan tidak bisa mengikuti Nabi secara keseluruhan berarti tidak cinta kepada Allah.

Pemahaman lain dari ayat ini bisa dikatakan bahwa Allah melegitimasi semua hal yang berkaitan dengan Nabi mulai dari ucapan, perilaku dan akhlaknya. Oleh sebab itu, semua hal tersebut juga bisa dipahami sebagai representasi atau bentuk dari cinta Allah. Seseorang yang bisa melakukan seluruhnya secara sempurna sebagaimana Nabi melakukan maka ia mendapatkan cinta Allah secara sempurna.Perkaraini –bila tidak mau dikatakan tidak mungkin- sangat sulit. Sebaliknya, bila tidak dapat melakukan secara sempurna maka sesuai itulah cinta Allah yang akan diperoleh.Akhirnya, dia yang dicintai Allah akan dicintai oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Muslim meriwayatkan, Nabi bersabda;

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّ يأُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْض (الحديث

Dewasa ini, banyak perkara-perkara penting yang “terlihat tidak penting” di kalangan umat Islam. Dikatakan demikian karena perkara-perkara tersebut sudah banyak dilupakan oleh umat Islam, khususnya para generasi muda. Perkara tersebut di antaranya adalah sejarah tentang Nabi, nama keluarga-keluarga Nabi, keistimewaan mereka serta peran penting dalam mendukung keberhasilan dakwahnya dan juga tentang para sahabat. Mereka adalah para pejuang keimanan yang harusnya selalu dikenang dan dicintai. Para pejuang suatu negara selalu dikenang dan dicintai serta diadakan perayaan dengan cara masyarakatnya masing-masing untuk mengenang mereka. Pejuang keimanan pun harusnya lebih dikenang dan lebih dicintai. Selain itu, mereka merupakan orang-orang yang berintraksi dengan Nabi, mengetahui tingkah lakunya. Mereka adalah pintu menuju Nabi. Maka mengenali mereka sebuah keharusan, karena ini adalah salah satu cara untuk mengikuti Nabi. Artinya, ini salah satu cara untuk membuktikan kecintaan kepada Allah hingga akhirnya menggapai cinta Allah.


  • 0

Pesan KH. Ahsin Sakho Muhammad untuk Mahasiswa Ushuluddin (Pecinta Al-Qur’an)

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Pada kesempatan dalam acara Studium Generale dengan tema: “Trend Tahfidz Al-Qur’an di Indonesia (Melacak Akar Teologis-Historis)” yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Jakarta yang berlangsung di Teater Room Prof. Dr. H.A.R. Partosentono Lt. 4 Fak. Ushuluddin, Rabu [18/04/2018], dengan menghadirkan Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Dr. A. Husnul Hakim, MA dan Deden M. Makhyaruddin, MA. Pemateri utama, Ahsin Sakho Muhammad memberi pesan kepada para mahasiswa Ushuluddin, khususnya para penghafal al-Qur’an. Pesan yang ia sampaikan tidak lain atas kecintaannya terhadap Al-Qur’an.

Sebagai prakata, Ahsin Sakho Muhammad menyematkan pertayaan, mengapa perlu atau pentingnya kembali pada al-Qur’an? Bahwasannya al-Qur’an sebagai 1) Kitab suci umat Islam; 2) Kitab hidayah, mau’udzhah, syifā’ limā fī al-shudūr, rahmah, nūr; 3) Mukjizat terbesar sepanjang sejarah kenabian yang akan terus berkibar secara abadi, karena bersifat maknawi bukan maddy; 4) Mengawasi (muhaimin, muraqib) meluruskan apa yang bengkok dari umat-umat terdahulu; 5) Merangkum semua isi kandungan kitab-kitab suci agama samawi sebelumnya (Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil); 6) Kitab suci terlengkap, memuat segala sesuatu aturan (nizham) untuk kemaslahatan kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi; 7) Pokok kandungan al-Qur’an (tauhid, ahkām, tadzkir/peringatan); 8) Dipersembahkan kepada seluruh umat manusia (hūda li-nās); 9) Tidak ingin membuat orang susah [Thāhā: 2, al-Mā’idah: 6, al-Anbiyā’: 78]; 10) Satu-satunya kitab samawi yang mempunyai nilai orisinilitas atau keaslian yang tinggi; 11) Allah berjanji akan mengawal kesucian al-Qur’an sampai akhir zaman [al-Hijir: 9]; dan lain sebagainya.

Dari penjelasan akan pentingnya al-Qur’an di atas, maka sudah seharusnya tahfidz al-Qur’an sebagai puncak matakuliah di Ushuluddin dari semua matakuliah-matakuliah yang ada di UIN. Oleh karena itu, orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkan al-Qur’an disebut “Khairukum man Ta’alam al-Qur’ān wa ‘Allamahu” [riwayat al-Bukhari]. Selain itu, pesan penting disampaikan juga bagi para perempuan agar mencari imam yang mampu menghafal al-Qur’an, karena lelaki/suami yang hafal al-Qur’an termasuk memiliki pemahaman agama yang baik, sikap yang baik, bertutur kata yang baik, dan sebagainya. Dengan begitu, menghafal al-Qur’an bertugas menjaga kemurnian atau kesucian al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan bagi penghafal al-Qur’an adalah memahami makna-makna al-Qur’an. Untuk lebih mudah dalam memahami/belajar terjemahan al-Qur’an, agar menghadirkan ayat-ayat terkait topik-topik tertentu.

Sebagai manusia, sudah tentu sangat tergantung pada al-Qur’an, karena al-Qur’an mengatur irama kehidupan manusia. Orang yang cinta atau berkhidmat pada al-Qur’an, maka al-Qur’an akan mencintainya. Untuk itu, kita harus yakin akan keberkahan al-Qur’an, meskipun berkah itu sifatnya abstrak yang tidak diketahui oleh manusia.

Ketika menginginkan anak yang mampu cepat menghafal al-Qur’an, sebelum melahirkan, saat masih dalam kandungan –perut sang istri– dielus-elus oleh suami sambil dibacakan al-Qur’an. Sebab, satu (1) Triliun sel otak mampu menghafal informasi, menghimpun dan menganalisa informasi. Oleh karena itu, jangan lewatkan masa kanak-kanak untuk senantiasa menghimpun informasi dari al-Qur’an.

Pesan terakhir untuk kedepan, perlu menggalakkan tahfidz al-Qur’an di semua lini Institusi Pendidikan baik Negeri maupun Swasta, dari tingkat Dasar sampai Perguruan Tinggi. Memberi penghargaan kepada mahasiswa yang hafal al-Qur’an. Dan perlu juga diperkuat dengan pengajaran Ilmu Qira’at, Rasm ‘Utsmani, sejarah permushafan, etika menulis dan mentashih al-Qur’an, dan lain sebagainya. (M.NTs)