Monthly Archives: March 2018

  • 0

Tipu Daya

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

“Ghurur” adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu  yang cocok dengan hawa nafsu karena tipu daya setan. Orang-orang yang telah tertipu oleh kenikmatan dunia dan rayuan setan sering berkata, kita harus menikmati dunia karena akhirat belum pasti adanya. Kita harus mendahulukan kepentingan hidup di dunia karena kita hidup di dunia dan akhirat masih lama. Mari kita nikmati masa muda dengan kenikmatan dunia sebelum datang usia tua. Gaya bahasa beracun ini sering kali menipu anak manusia.

Hidup di dunia hanyalah sementara dan tidak lama.  Perbandingan dunia dan akhirat satu hari di akhirat sama dengan 1000 atau 50.000 tahun di dunia. Karena dunia hanya sementara, maka semua yang ada di dunia juga sementara.

Hidup adalah sementara. kaya dan miskin, muda dan tua, sehat dan sakit, cantik dan jelek semuanya sementara dan sebentar lagi akan berakhir. Hati-hati oleh tipu daya setan sangat menggoda.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqmān/31: 33)

Setiap manusia akan diminta pertanggungan jawab terhadap semua yang dilakukannya saat hidup di dunia. Seseorang tidak akan bertanggung jawab atas perbuatan orang lain.

Tipu daya setan dan gemerlapan dunia sering kali memperdaya manusia hingga terjerumus kedalam kubangan dosa dan maksiat.

 Allah Ta’ala berfirman,

 يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka menjawab, benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” (QS. al-Ḥadīd/57: 14)

Mensiasati tipu daya

Para ulama sepakat bahwa untuk mencapai maqom tertentu dalam jejak spiritualitas ada tiga syarat utama.

  1. Mengenal hakikat

Dunia pada hakikatnya hanyalah halte kehidupan. Bila saatnya datang sang penjemput, semewah apapun dunia harus ditinggalkan. Kesadaran bahwa dunia hayalah tempat persinggahan sementara, akan membuat manusia selalu mawas diri.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat dunia, menginginkan hidup abadi di tempat sementara. Dan itu adalah kebodohan yang nyata.

 Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imrān/3: 185)

Kesadaran bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, sudah cukup sebagai terapi dalam menghadapi tipu daya setan. Seandainya Allah Ta’ala memberikan kekayaan dan kesehatan yang prima itu hanyalah sementara dan tak lama lagi semua itu akan sirna. Apabila manusia sedang mendapatkan penderitaan dengan ujian berupa sakit dan kekurangan harta, itu juga sementara dan sebentar lagi semua derita akan berlalu. Semua itu datang dan tak lama lagi akan pergi. Jangan bangga dengan kesehatan dan kekayaan karena sebentar lagi akan datang kemiskinan dan sakit di sekujur badan. Apabila manusia sedang ditimpa musibah, jangan sedih dan meratap, karena semua penderitaan akan berakhir.

 Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. al-An’ām/6: 32)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. al-Baqarah/2: 86)

Orang-orang yang tidak mengenal hakikat dunia, akan melakukan perbuatan yang melampaui batas, bersenang-senang dengan “sampah kehidupan”, bermaksiat, memakan yang haram dan menzalimi dirinya sendiri. Saat meninggal dunia, maka tempat kembalinya adalah jahanam.

Allah Ta’ala berfirman,

 فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya).” (QS. al-Nāzi’at/79: 37-39)

  1. Menata kondisi batin

Hati selalu berubah dan tidak tetap. Dalam kondisi tertentu, manusia merasakan dekat dengan Tuhannya, hatinya tenang dan damai, lalu berbagai amal soleh menghiasi kesehariannya. Namun, dalam waktu yang lain, manusia merasakan kehampaan dan kesendirian hingga terbawa oleh bisikan setan.

Untuk memelihara agar kondisi batin selalu terjaga dan berada dalam koridor Ilahiyat, maka manusia harus melakukan beberapa hal;

Pertama, berdoa agar Allah Ta’ala selalu membimbingnya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Allah yang membolak balikkan hati, tetapkan hatiku selalu dalam agamamu.

Kedua, Berzikir tanda orang hidup dan tanpa berzikir orang akan mati. Kehidupan ruhani adalah berzikir dan tanpa berzikir, ruhani akan mati dan membeku. Selalu mengingat Allah Ta’ala dan menyebut-nyebut nama-Nya akan membangunkan kesadaran berketuhanan atau “lahut” di dalam diri manusia.

Ketiga, melakukan “riyadhah al-nufūs”.  Penyucian diri adalah salah satu cara agar kondisi selalu dalam keadaan sehat dan tidak terjangkiti penyakit hati.

  1. Berbuat sesuai hakikat

Rasulullah bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)

Dunia tidak lebih hanya bagaikan mencelupkan jari ketengah samudera yang luas, lalu perhatikanlah berapa banyak air yang ada di jarimu, nah itulah dunia.

Berjalan di muka bumi sesuai  dengan pengetahuan manusia tentang hakikat dunia. Karena dunia hanya peristirahatan sejenak, maka berbuatlah sesuai dengan itu.

Banyak orang yang tidak menyadari tipu daya dunia ini mereka terpesona mengejar kesenangan hidup di dunia dan tidak peduli dengan kehidupan akhirat yang lebih besar.

Seluruh usaha dan tenaga dikerahkan untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan hidup di dunia. Mereka meghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan, kemuliaan dan kesenangan hidup di dunia. Mereka tidak peduli dengan ancaman Allah, mereka tidak takut mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah, Karena mereka tidak yakin akan adanya kehidupan akhirat. Bagi mereka kehidupan itu hanya kehidupan dunia saja. Kita hidup kemudian mati dan berlalu begitu saja tanpa dituntut pertanggungan jawab. Mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia yang penuh tipu daya.  Sehingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi selama lamanya.

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu berbuat sesuai dengan pengetahuannya tentang hakikat dunia. Dengan menyelaraskan antara amal dan ilmu, manusia akan selamat dari tipu daya dunia.

wallahu a’lam


  • 0

Geliat Pentahqiqan Naskah-naskah Nusantara di Fak. Ushuluddin UIN Jakarta

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA bercerita bahwa budaya Tahqiq (Filologi) di Mesir sangat banyak, karena para mahasiswa baik yang S2 maupun S3 di sana wajib membuat Tesis atau Disertasi kajian Tahqiq (Filologi), sehingga tradisi Tahqiq terus dilakukan sampai sekarang.

Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengusung Tema “Pendekatan Filologi (Tahqiq) dalam Kajian Al-Qur’an” yang berlangsung di Teater Room Lt. 4 Fak. Ushuluddin [20/03/2018]. Seminar tersebut menghadirkan beberapa pakar Tahqiq (Filologi) di antaranya: Dr. Mahrus El-Mawa, MA (Kasi Penelitian dan Pengelolaan HaKI Direktorat PTKI Ditjen Pendis Kementeriaan Agama RI), dan Dr. Islah Gusmian, MA (Kepala Pusat Kajian Naskah dan Khazanah Islam Nusantara/ IAIN Surakarta), juga Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA. (STAI Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah).

Pengantar pertama sebelumnya disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. Masri Mansoer, MA. Menurutnya, ‘sangat penting bagi kita dapat memahami pendekatan filologi klasik dalam upaya mengembangkan kajian al-Qur’an, maka tidak perlu diperdebatkan lagi, karena al-Qur’an otentik. Apabila, di dalam al-Qur’an dikatakan “…وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا” ini terjadi kreasi makna, apakah perempuan hanya diciptakan untuk kaum lelaki saja, atau sebaliknya? Maka untuk mengetahui makna-makna lain perlu pendekatan atau pemahaman ulang oleh pakar ahli sesuai disiplin keilmuannya.’ Terang Dekan, pakar Filsafat Islam.

Selanjutnya pemaparan seminar dimulai dengan penjelasan Dr. Faizah Ali Syibromalisi yang sebelumnya diuraikan pendahuluan oleh moderator Drs. A. Rifqi Muchtar, MA. Faizah mengatakan bahwa kegiatan Tahqiq mengupas sejarah, esensi dan urgensi kajian Tahqiq (Filologi) dalam khazanah keilmuaan Islam, Tahqiq sendiri dibedakan dalam 2 periode; klasik dan modern. Dalam masa klasik aktivitas atau gerakan mentahqiq buku atau Manuskrip muncul dan berkembang ketika penyampaian ilmu tidak lagi secara oral atau “talaqqi” (tatap muka) yang bermula pada abad IV Hijriyah Ulama’ Hadis banyak yang melakukan aktivitas mentahqiq hadis-hadis riawayat pendahulunya untuk menilai keotentisitasannya. Sedangkan pada masa modern aktivitas tahqiq bertujuan untuk memproduksi kembali naskah-naskah kuno yang umurnya sudah ratusan tahun agar dapat kembali hidup dan dipelajari untuk generasi sekarang, dan seterusnya.

Dari kiri: Ala’i Nadjib, Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA, Dr. Mahrus el-Mawa, Dr. Bustamin, M.Si, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA, Dr. Husnul Hakim, MA, Dr. Islah Gusmian, MA dan Drs. A. Rifqi Muchtar, MA

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA menjelaskan pentingnya menghidupkan karya budaya di dalam turats seperti kitab tafsir, yang akan bertemu dengan kajian fiqih, balghah, qira’ah dll.  Ketika melakukan tahqiq maka muhaqqiq diberikan kesempatan untuk paham berbagai disiplin keilmuan, walaupun sangat penting kajian tahqiq tersebut tak sembarang naskah dapat dikaji, bukan berarti bahwa hanya karena naskah tersebut berusia ratusan tahun dan berbahasa Arab maka boleh ditahqiq, tetap ada kualifikasi dan standart kwalitas naskah yang dapat ditahqiq.

Diteruskan oleh Dr. Mahrus el-Mawa yang menjelaskan tentang kekayaan Manuskrip Qur’an Nusantara (MQN) yang sangat banyak dan tercecer bahkan diluar negeri. Tercatat ada 445 MQN yang ada di dalam negeri dan 203 MQN yang ada diluar negeri, sedangkan yang dimiliki Perpustakaan Nasional Indonesia ada 10 MQN (Ali Akbar, 2010). Sedikitnya minat dalam kajian Filologi Turast Nusantara menjadikan sedikit pula kajian tentangnya pada hal masih banyak turast karya ulama’ nusantara yang belum mendapatkan perhatian untuk dijadikan bahan kajian sehingga diharapkan dengan adanya seminar ini mampu untuk membangkitkan ketertarikan para mahasiswa Ushuluddin khususnya dalam mengkaji turast-turast yang ada di Nusantara.

Dalam upaya meningkatkan minat mahasiswa, Mahrus el-Mawa juga siap untuk membantu sekaligus mendanai bagi para mahasiswa/i yang ingin melakukan riset tentang kajian naskah-naskah kuno karya ulama’ Nusantara. Bahkan menurut Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum sebentar lagi akan mendirikan “Pusat Kajian Manuskrip Nusantara” (PKMN), juga Museum Turats yang khusus riset kajian Tahqiq Manuskrip Nusantara.

Tak jauh berbeda yang dipaparkan Dr. Islah Gusmian, MA seorang penggiat kajian naskah. Ia mengungkapkan  tentang asyiknya mempelajari Tahqiq (Filologi) pada naskah Nusantara, karena banyaknya temuan-temuan mengejutkan dalam naskah klasik tersebut, semisal dalam sebuah naskah berbahasa Arab yang ditemukan di Madura yang berbunyi “barang siapa menanam tembakau maka dirinya sama halnya dengan ziarah ke makam nabi Muhammad, dan barang siapa ‘ngudud’ (merokok) selepas shalat dhuhur maka Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan kepadanya”, juga dengan naskah kuno berbahasa Arab yang artinya “Rukun Islam itu cuma satu saja, yaitu Syahadat.” ini kalau di zaman sekarang sudah halal darahnya, kelakar Dr. Islah yang disambut gelak tawa para audience.

Dr. Islah Gusmian juga menjelaskan bahwa dengan mempelajari dan mengetahui naskah kuno dapat pula diketahui sejarah kebudayaan dan peradaban itu sendiri, sehingga sangat penting bagi para akademisi Program Studi Tafsir terutama untuk konsen melakukan kajian Tahqiq kitab-kitab Ulama’ Nusantara, agar menghidupkan kembali tradisi leluhur dalam membangun lokalitas dan kepribadiaan bangsa dalam frame keagamaan. (Mohammad Makhlad/Ed: M.NTs)


  • 0

Ratusan Mahasiswa Padati Teater Fak. Ushuluddin

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Seminar Nasional dengan tema; “Pendekatan Filologi (Tahqiq) dalam Kajian Al-Qur’an” di Teater Prof. Dr. Ar. Partosentono Lt. 4 FU pada Selasa (20/03/2018).

Seminar Nasional ini dimoderatori oleh Drs. A. Rifqi Muchtar, MA (Dosen Fakultas Ushuluddin) dan menghadirkan empat narasumber yang mumpuni atau pakar dalam bidang kajian al-Qur’an dan pakar dalam bidang Ilmu Filologi. Keempat narasumber tersebut adalah Dr. Faizah Ali Syibromalisi (Tim Tahqiq Kementerian Agama RI), Dr. Mahrus El-Mawa, MA (Kasi Penelitian dan Pengelolaan HaKI Direktorat PTKI Ditjen Pendis Kementeriaan Agama RI), dan Dr. Islah Gusmian, MA (Kepala Pusat Kajian Naskah dan Khazanah Islam Nusantara/ IAIN Surakarta), juga Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA. (STAI Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah).

Dalam Acara Seminar Nasional ini yang berlangsung di Teater Room Fakultas Ushuluddin (FU) tidak hanya dipadati oleh Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, turut hadir juga mahasiswa diluar UIN Jakarta, seperti dari UIN Yogjakarta, PTIQ Jakarta, IIQ Jakarta, STFI Sadra dan lain sebagainya. Hal ini disampaikan oleh Rifa Tsamratus Sa’adah, salah satu peserta mengatakan bahwa acara Seminar ini dihadiri dari berbagai Fakutas yaitu Fakultas Ushuluddin (FU), Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), dan bahkan dihadiri oleh Mahasiswa yang berasal dari UIN Jogjakarta.” Selain itu, Rifa juga mengatakan, “Seminar ini sangat bermanfaat bagi Mahasiswa karena para narasumber berasal dari pakar Filologinya secara langsung.” Pungkas Mahasisiwi Prodi IQTAF dan Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Tangerang Selatan.

Dengan adanya acara seminar ini memancing para pegiat kajian al-Qur’an dan Tafsir dengan pendekatan filologi sebagai suatu metode yang dipakai memahami teks naskah-naskah kuno ini sangat bermanfaat untuk para peneliti. Tentunya, kehadiran mahasiswa-mahasiswa dari luar UIN Jakarta tidak lain bertujuan untuk menambah pengetahuan atau wawasan terkait dengan kajian al-Qur’an. Seperti salah satu mahasiswa asal UIN Yogyakarta, Tubagus Syafiq; Tubagus mampir ke Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta untuk menghadiri Seminar Nasional ini yang berbarengan dengan acara “Halaqah Kebangsaan” pada 21-23 Maret 2018 dalam Simposium Tafsir Nusantara dan Munas IV Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Tubagus menyampaikan; “Kami, lima (5) delegasi dari UIN Yogyakarta ke Jakarta untuk mengikuti Halaqah Kebangsaan yang diadakan oleh FKMTHI di Jakarta, kami tiba pada 20 Maret 2018 lebih awal untuk sempatkan waktu berkunjung ke Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta hadir dalam seminar ini. Dan Kami mendapat informasi seminar ini dari grup WhatsApp.” Terang Pengurus HMJ-IAT UIN Yogyakarta. (Nia Ariyani-FU)