Monthly Archives: March 2018

  • 0

Dosen FU Apresiasi Acara Khotmil Qur’an di Masjid-Masjid Sekitar UIN Jakarta

Category : Berita

Cirendeu Ciputat. IQTAF News Online. Gabungan Kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an & Tafsir dan Ilmu Hadis (HMJ-IQTAF dan ILHA) mengadakan acara Tasmi’ atau Khotmil Qur’an bi al-Ghaib di sekitar masjid-masjid UIN Jakarta. Kegiatan ini diadakan oleh kepengurusan Departemen Keislaman HMJ-IQTAF & ILHA kerjasama dengan pengurus Laboratorium (Tafsir Hadis) Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Masjid Ruhama Jl. Tarumanegara 67 Cirendeu Ciputat Timur. [28/02/2018]

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari beberapa dosen pakar dalam Bidang al-Qur’an yang juga Hafidz-Hafidzah, seperti Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA, Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Dr. Hasani Ahmad Said, MA dan juga dosen lainnya saat berbincang di Group WhatsApp Silaturrahim Jurusan TH, yang sebelumnya Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengirimkan foto kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh pengurus HMJ.

“Alhamdulillah kegiatan Sima’an al-Qur’an atau Khotmil Qur’an yang dilaksanakan atas kerjasama HMJ-IQTAF & ILHA dengan Laboratorium Tafsir Hadis sudah berlajan ± 3 tahun; kegiatan yang dilakukan 4 kali dalam 1 tahun ini bertujuan: 1) Memperkuat hafalan hafidz-hafidzah mahasiwa UIN Jakarta, khususnya mahasiswa Fak. Ushuluddin; 2) Memperkuat kekeluargaan (silaturahmi) antar hafidz-hafidzah Lintas Program Studi dan Lintas Fakultas, juga antara mahasiswa dengan masyarakat; 3) Sosialisasi ke masyarakat sekitar UIN melalui masjid-masjidnya atas adanya pembinaan hafidz-hafidzah; 4) Membumikan teks al-Qur’an di masyarakat akademis dan non akademis; 5) Mendoakan kepada para pendiri UIN (IAIN/ADIA) dan semua civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; dan 6) Mendoakan kaum muslim.” Terang Kaprodi IQTAF

“Atas nama Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sekaligus pengampu matakuliah Tahfidz memohon dukungan dan do’a kepada semua, semoga kegiatan ini tetap istiqamah dan terlaksana dengan lancar tanpa ada kendala apapun.” Tambah Lilik

Selain itu, dosen pakar Qira’at yang juga Ketua Dewan Penasihat Nusantara Mengaji, Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA memberikan apresiasinya. “Tasmi’ Al-Qur’an oleh mahasiswa UIN Jakarta perlu digalakkan agar kesan masyarakat terhadap UIN Jakarta semakin bagus.” Terang Kiai Ahsin

Kegiatan tersebut juga mengingat Dr. Hasani Ahmad Said, MA yang saat itu aktif sebagai pengurus Lembaga Tahfizh dan Ta’lim al-Qur’an (LTTQ) Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebuah lembaga nonprofit yang memberikan fasilitas pembelajaran al-Qur’an untuk memasyaratkan al-Qur’an. “Kawan-kawan binaan saya di Masjid Fathullah, melalui wadah Lembaga Tahfidz dan Ta’lim Al-Qur’an (LTTQ) rutin tiap Ahad pagi (ba’da Subuh) mengadakan tahtim bi al-ghaib (Khatm al-Qur’an) di Masjid Fathullah. Kepengurusan di LTTQ 80% mahasiswa dari UIN, dan yang selainnya IIQ, PTIQ, UMJ dan dari kampus lain. Sebagian besar pengurus LTTQ mahasiswa Ushuluddin, maka dari itu kegiatan Tasmi’ ini sangat bersinergi dengan kegiatan LTTQ.” Jelas Hasani

“Saya harap pengurus LTTQ UIN Jakarta bisa membuat program-program ke-Qur’an-an yang berkelas Nasional/Internasional yang membanggakan.” Imbuh Kiai Ahsin

“Kurang lebih 4 tahun lalu saya dan kawan-kawan sudah menggagas Olimpiade Al-Qur’an tingkat Nasional  memperebutkan piala Wakil Menteri Agama RI diikuti PTAIN se-Indonesia”. Tambah Hasani (M.NTs)


  • 0

Kepemimpinan dalam Islam

Category : Artikel

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Secara rasional setiap komunitas membutuhkan seorang pemimpin. Karena sebagai makhluk sosial, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk mencapai hubungan yang harmonis diantara anggota masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpinan yang mengatur dan menata interaksi sosial tersebut.

Akal sulit menerima apabila ada sekelompok masyarakat hidup tanpa seorang pemimpin. “Nabi Muhammad saw berpesan, apabila kalian bertiga atau lebih dalam suatu perjalanan, maka angkatlah salah seorang diantara kalian sebagai pemimpinnya.”

Ini menunjukkan signifikasi seorang pemimpin dalam masyarakat.

Secara normatif, al-Qur’an menggunakan tiga term yang menunjukkan makna kepemimpinan.

  1. Khilafah

“Khilāfah” adalah sebuah sistem kepemimpinan yang pernah dirumuskan dan diaplikasikan pada masa islam klasik. Para ulama masa lalu telah mencoba memahami dan memformulasikan konsep khilafah sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an tentang kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan berbangsa.

Allah Ta’ala berfirman,

 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah/2: 30)

Pertanyaan malaikat bukan protes atau kritik kepada Allah Ta’ala tetapi keinginan mereka untuk menjadi khalifah karena mereka telah bertasbih dan menyucikan-Nya. Permohonan ini juga menjadi isyarat bahwa khilafah itu bukan sistem politik dunia tetapi sistem universal yang berlaku dunia dan akhirat hingga malaikat berhasrat juga untuk menjadi khalifah. Namun, Allah Ta’ala menjawab bahwa pengetahuan malaikat tentang itu tidak cukup hingga Allah Ta’ala menegaskan bahwa Dia Maha tahu dari apa yang diketahui oleh malaikat. Dari sini dapat dipahami bahwa makna khilafah bersifat universal.

  1. Wilayah

“Wilayah” artinya kepemimpinan. Orang yang memimpin disebut wali. Secara umum pemimpin umat adalah Allah Ta’ala, Rasulullah saw dan orang-orang beriman.

Allah Ta’ala berfirman.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. al Mā’idah/5: 55).

Para ulama berbeda pendapat tentang makna wali. Sebagian berpendapat bahwa makna wali adalah “teman dekat.” Sebagian yang lain berpendapat wali artinya “penolong” dan sebagian ulama mengatakan wali adalah “pemimpimpin.”

Dalam terminologi keindonesiaan, kata wali bermakna pemimpin, seperti kata wali kota artinya pemimpin kota bukan penolong kota dan bukan pula teman kota.

Allah Ta’ ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah ?” (QS. al-Nisā’/4: 144)

Ayat ini menjelaskan larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin bukan larangan berteman dengan orang kafir.

  1. Imamah

“Imamah” adalah sistem kepemimpinan dan orang yang memimpin disebut imam. Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat umum, baik kepemimpinan negara atau kepempinan “ibadah mahdah” seperti shalat. Pemimpin dalam ruang lingkup orang-orang yang bertakwa adalah “imām li al-muttaqīn” atau pemimpin bagi bagi orang-orang yang bertakwa.

Pemimpin orang yang beriman disebut “imām li al-mukminin” atau pemimpin orang beriman dan pemimpin manusia disebut “imām li al-nās” atau pemimpin seluruh manusia tanpa membedakan agama, suku, daerah dan sebagainya. Kepemimpinan ketiga inilah yang pernah “eksis” pada masa Rasulallah saw.

 Allah Ta’ala berfirman

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata, Dan saya mohon juga dari keturunanku. Allah berfirman, Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang yang zalim.” (QS. al-Baqarah/2: 124)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin harus adil dan orang-orang zalim tidak boleh menjadi pemimpin. Nabi Ibrahim adalah hamba Allah, setelah melalui proses pendekatan diri kepada Allah, hingga naik menjadi kekasih Allah atau “khalilullāh.” Setelah menjadi “khalilullāh” naik lagi menjadi rasulallah dan saat beliau menjadi Rasulallah saw, Allah Ta’ala mengangkatnya menjadi “imam” bagi seluruh manusia. Saat Nabi Ibrahim berharap agar semua keturunannya menjadi imam, Allah Ta’ala menjawab bahwa kepemimpinan tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang zalim.

Syarat pemimpin

Pemimpin adalah orang yang paling berkualitas diantara anggota komunitas. Allah Ta’ala Maha Tahu siapa diantara umatnya yang paling berkualitas hingga diangkat menjadi nabi dan rasul. Nabi dan rasul adalah “al-musthafā” atau orang pilihan dan yang memilih dan mengangkatnya adalah Allah Ta’ala.

Pemimpin yang bukan nabi dan rasul dipilih dan diangkat oleh orang-orang diantara mereka.

Karena yang mengetahui orang cerdas hanyalah orang cerdas. Memberikan hak pilih kepemimpinan kepada orang awam hanya akan melahirkan kegagalam dalam memilih pemimpin. Oleh sebab itu politik adalah perwakilan komunitas bukan perwakilan pribadi. Al-Qur’an mengisyaratkan umat islam dengan “khairu ummat”, umat terbaik atau umat pilihan.

Allah Ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imrān/3:110).

Rasulallah saw ditanya tentang “khairu umat.”

Beliau menjawab, khairu umat itu mempunyai empat syarat, yaitu; Pertama, mereka yang paling banyak membaca teks maupun konteks. Kedua, orang yang paling bertaqwa, baik individual maupun sosial. Ketiga, orang yang paling banyak membangun jaringan silaturahim. Keempat, mereka selalu melalukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Dari beberapa ayat dan riwayat para ulama memformulasikan bahwa syarat pemimpin itu adalah.

  1. Adil
  2. Berilmu pengetahuan yang luas
  3. Sehat indrawi seperti sehat pendengaran, penglihatan dan pembicaraan.
  4. Sehat anggota tubuh dari kekurangan yang menghalanginya melakukan aktivitas.
  5. Memiliki pemikiran yang cerdas dalam menyikapi perkembangan politik dan kemaslahatan umat.
  6. Berani dalam menegakkan kebenaran.

Wallahu a’lam


  • 0

Mahmud Yunus Sebagai Tokoh Pelopor Pendidikan di Indonesia

Category : Artikel

Oleh: Nia Ariyani[1]

Abstrak

Mahmud Yunus adalah Tokoh Pelopor Pendidikan di Indonesia. Kepeloporannya ini dapat dilihat dari berbagai macam literatur-literatur dalam berbagai macam bidang yang ia tuliskan. Di antaranya literatur dalam bidang pendidikan, bidang “fiqh” (fiqih), Bahasa Arab, Akhlaq, Tafsir, dan sebagainya. Dalam perkembangan Literatur Tafsir Indonesia, Mahmud Yunus menempati posisi dan peran penting bagi upaya-upaya penulisan berbagai macam literatur di Indonesia. Bahkan, ia disebut sebagai Bapak Pelopor Pendidikan di Indonesia.

Keyword: Mahmud Yunus, pelopor, pendidikan, tafsir.

Pendahuluan

Mahmud Yunus adalah pelopor pembaharuan pada dunia pendidikan Islam seperti pembaharuan dalam metode pengajaran dan pendidikan, pembaharuan kelembagaan dan pengenalan pengetahuan umum dan pembaharuan pengajaran Bahasa Arab, dan memasukkan pelajaran Agama ke kurikulum sekolah pemerintah.

Mahmud Yunus juga mempunyai kiprah pada lembaga pendidikan Islam, seperti berdirinya Madrasah School, Normal Islam, PGAI, SMI, dan merintis berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam.[2]

Begitu besar peran serta kontribusi yang telah dibangun oleh Mahmud Yunus. Sehingga, pada kesempatan ini penulis akan mendeskripsikan kepeloporan Mahmud Yunus dalam dunia Pendidikan, khususnya perannya di Indonesia. Untuk mengetahui peran kepeloporan tersebut, dalam karya ilmiah ini penulis menguraikan tentang biografi, latar belakang pendidikan, karya-karya, terutama karya Tafsir Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Biografi Mahmud Yunus

Mahmud Yunus dilahirkan pada tanggal 10 Februari 1899 M atau bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1316 H. Ia di desa Sungayang Batu Sangker, Sumatera Barat. Ibunya bernama Hafshah dan ayahnya bernama Yunus bin Incek. Ayahnya berasal dari marga Mandailing dan Ibunya dari suku Caniago.

Mahmud Yunus berasal dari keluarga yang memiliki keagamaan yang sangat kuat. Sehingga dalam keluarga telah terbina religiusitas di dalam diri Mahmud Yunus.

Pada awal tahun, 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak-balik masuk rumah sakit. Pada tahun, 1982 Mahmud Yunus memperoleh Gelar Doctor Honoris Causa di Bidang Ilmu Tarbiyah di IAIN Jakarta atau sekarang pada (2018) lebih dikenal dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian pada tahun 1982 Mahmud Yunus meninggal dunia.

Latar Belakang Pendidikan

Sejak kecil Mahmud Yunus sudah memperlihatkan kecenderungannya yang kuat dalam dalam belajar, khususnya kecenderungan memperdalam Ilmu Agama Islam. Ketika berusia 7 tahun Mahmud Yunus belajar membaca Al-Qur’an dengan kekeknya yang bernama M. Thahir atau biasa dikenal dengan Engku Gadang.

Pada tahun 1908, Mahmud Yunus meminta restu kepada Ibunya untuk belajar di sekolah yang baru dibuka disekitar tempat tinggalnya, yaitu masyarakat desa Sungayang. Mahmud Yunus belajar di sekolah pada siang hari, dan malam harinya Mahmud Yunus membantu kakeknya belajar mengaji. Setiap hari Mahmud Yunus melakukan runinitas ini dengan tekun dan penuh prestasi.

Pada Tahun 1910, Mahmud Yunus menjadi murid di Madras School,[3] yang madrasah ini dibuka oleh H. M. Thalib Umar.[4] Di Madras School inilah Mahmud Yunus hanya mempelajari ilmu-ilmu Keislaman, seperti: Ilmu nahwu dan Ilmu Sharaf, berhitung menurut sistem ahli hisab Arab, dan belajar mempraktikkan percakapan Bahasa Arab.

Pada tahun 1924, Mahmud Yunus di Universitas Al-Azhar, mendapat prestasi istimewa. Ia mencoba untuk menguji kemampuannya dalam Ilmu-Ilmu Agama dengan mengikuti ujian akhir. Untuk memperoleh syahadah ‘alimiyyah, yaitu ujian akhir bagi siswi-siswa yang telah belajar sekurang-kurangnya 12 tahun (ibtidaiyyah 4 tahun, tsanawiyah 4 tahun, dan aliyyah 4 tahun). Ujian ini diikuti dengan baik oleh Mahmud Yunus. Sehingga dengan baik dan berhasil lulus serta mendapatkan ijazah (syahadah ‘alimiyyah). Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Darul ‘Ulum ‘Ulya, Mesir (1925), di sini pula ia mempelajari pengetahuan umum.

Setelah melalui berbagai macam pendidikan, Mahmud Yunus sangat terkesan dengan sistem pendidikan pada Darul ‘Ulum ‘Ulya. Sehingga, perkuliahan di Darul ‘Ulum ‘Ulya mulai dari tingkat pertama sampai tingkat ke IV dilalui dengan baik, bahkan pada tingkat terakhir mrmperoleh nilai tertinggi pada mata kuliyah Insya (mengarang).[5]

Literatur-literatur atau Karya-karya Mahmud Yunus

Karya Mahmud Yunus, berupa literatur-literatur dalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Ini menandakan bahwa Mahmud Yunus sangat produktif dalam mengahasilkan karya. Karya-karya Mahmud Yunus di antaranya: Bidang Pendidikan, Bidang Bahasa Arab, Bidang Fiqih, Bidang Tafsir, Bidang Akhlaq, Bidang Sejarah Islam, dan sebagainya. Berikut ini uraiannya:[6]

Bidang Pendidikan

Menghasilkan 6 (enam) karya:

  1. Pengetahuan Umum dan Ilmu mendidik
  2. Metodik Khusus Pendidikan Agama
  3. Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia
  4. Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran
  5. At-Tarbiyah wa At-Ta’lim
  6. Pendidikan di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat

Bidang Bahasa Arab

Menghasilkan 15 (lima belas) karya:

  1. Pelajaran Bahasa Arab 1
  2. Pelajaran Bahasa Arab 11
  3. Pelajaran Bahasa Arab 111
  4. Pelajaran Bahasa Arab 1V
  5. Metodik Khusus Bahasa Arab
  6. Kamus Arab Indonesia
  7. Contoh Tulisan Arab
  8. Muthala’ah wa al-Mahfuzhaat
  9. Durus al-Luqhah al-Arabiyah ‘ala Thariqati al-Hadistsah 1
  10. Durus al-Luqhah al-Arabiyah ‘ala Thariqati al-Hadistsah 11
  11. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah I
  12. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah II
  13. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah III
  14. Mukhadatsah al-‘Arabiyyah
  15. Al-Mukhtaraat li al-Muthala’ah wa al-Mahfuzhaat

Bidang Fiqh

Dalam Bidang “Fiqh” (Menghasilkan 17 karya):

  1. Marilah sembahyang I
  2. Marilah sembahyang II
  3. Marilah sembahyang III
  4. Marilah sembahyang IV
  5. Puasa dan Zakat
  6. Haji ke Mekah
  7. Hukum Waris Dalam Islam
  8. Hukum Perkawinan Dalam Islam
  9. Pelajaran Sembahyang Untuk Orang Dewasa
  10. Soal Jawab Hukum Islam
  11. Al-Fiqhu al-Wadhih
  12. Fiqhu al-Wadhih al-Nawawy
  13. Al-Masailu al-Fiqhiyyah ‘ala Mazahibu al-Arba’ah

Bidang Tafsir

Menghasilkan 15 (limabelas) karya:

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim
  2. Tafsir Al-Faatihah
  3. Tafsir Ayat Akhlaq
  4. Juz ‘Amma dan Terjemahannya
  5. Pelajaran Huruf Al-Qur’an 1973
  6. Kesimpulan Isi Al-Qur’an
  7. Alif Ba Taa wa Juz ‘Amma
  8. Muhadharat wa Israiliyyah fii Tafsir wa al-Hadist
  9. Kamus Al-Qur’an I
  10. Kamus Al-Qur’an II
  11. Kamus Al-Qur’an Juz 1-30
  12. Surah Yasin dan Terjemahannya

Bidang Akhlaq

Bidang Akhlaq Menghasilkan 9 (Sembilan) karya:

  1. Keimanan dan Akhlaq I
  2. Keimanan dan Akhlaq II
  3. Keimanan dan Akhlaq III
  4. Keimanan dan Akhlaq IV
  5. Beriman dan Berbudi Pekerti
  6. Lagu-Lagu Pendidikan Agama atau Akhlaq
  7. Akhlaq Bahasa Indonesia
  8. Moral Pembangunan dalam Islam
  9. Akhlaq

Bidang Sejarah

Dalam bidang Sejarah menghasilkan 5 (lima) karya:

  1. Sejarah Pendidikan Islam
  2. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
  3. Tarikh Al-Fiqh Al-Islami
  4. Sejarah Islam di Minangkabau
  5. Tarikh Al-Islam

Bidang Perbandingan Agama

Dalam Bidang Perbandingan Agama menghasilkan 2 (dua) karya:

  1. Ilmu Perbandingan Agama
  2. Al-Adyaan
  3. Bidang Dakwah
  4. Pedoman Dakwah Islamiyyah
  5. Bidang Ushul Fiqh
  6. Mudzakarat Ushul Al-Fiqh
  7. Bidang Tauhid
  8. Durus At-Tauhid

Dari berbagai literatur-literatur yang Mahmud Yunus tulis di atas. Di sinilah ia mendapat gelar, Tokoh Pelopor Pendidikan di Indonesia. Selain itu, Mahmud Yunus juga termasuk pada tokoh pelopor Tafsir berbahasa Indonesia. Tafsiran Mahmud Yunus dalam dilihat pada contoh dibawah ini.

Contoh Penafsiran Tafsir Qur’an Karim Karya Mahmud Yunus

Di dalam kitab Tafsir Qur’an Karim, Mahmud Yunis menuliskan bahwa, Tafsir ini sertan kesimpilan isi al-Qur’an, bukanlah terjemahan dari kitab Bahasa Arab, melainkan hasil penyelidikan pengarang sejak berumur l.k 20 (duapuluh tahun) sampai sekarang 73 tahun. Dalam Tafsir Qur’an Kari mini yang lebih dipentingkan adalah  menerangkan dan menjelaskan petunjuk-petunjuk yang termaktub dalam al-Qur’an untuk diamalkan oleh kaum Muslimin.[7]

Berikut ini contoh penafsiran Tafsir Qur’an Karim, karya Mahmud Yunus, pada QS. al-Fīl ayat 1-5.[8]

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحبِ الْفِيْلِ (1) اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ (2) وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَ (3) تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ (5)

“Tidaklah Engkau (Muhammad) perhatikan bagaiman Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?[9](1); bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? (2); dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, (3); yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, (4); sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat), (5).”

“Adapun balatentara bergajah itu, Raja Yaman yang datang ke Negeri Mekkah hendak meruntuhkan Ka’bah dengan membawa laskar dan Gajah yang kuat. Setelah mereka hampir masuk ke Negeri Mekkah, lalu beberapa burung menjatuhkan batu (tanah yang keras), boleh jadi didalamnya banyak hama penyakit cacar, sehingga mereka semuanya dihinggapi penyakit itu, akhirnya badan mereka hancur luluh seperti daun kayu dimakan binatang atau ulat. Pendeknya maksud mereka hendak meruntuhkan Ka’bah tiadalah berhasil adanya.”[10]

Metodologi Tafsir Al-Qur’an Mahmud Yunus

Metodologi Tafsir adalah ilmu tentang metode penafsiran Al-Qur’an.[11] Atau biasa diartikan sebagai ilmu tentang cara penafsiran Al-Qur’an.

  1. Metode Penafsiran

Tafsir Al-Qur’an Mahmud Yunus, menunjukkan metode Taḥlīlī. Metode Taḥlīlī adalah metode menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkadung di dalamnya, yang urutannya disesuaikan dengan tertib surat yang ada dalam mushaf Ustmani.[12] Atau di dalam buku, Sejarah dan ‘Ulum Al-Qur’an, yamg ditulis oleh Azyumardi Azra, bahwa, Metode Taḥlīlī secara harfiah berarti, “Tafsir yang me-nguraikan berdasarkan bagian-bagian[13], atau tafsir parsial.”

  1. Corak Penafsiran (laun)

Corak penafsiran dalam beberapa ayat hanya dikutif beberapa kosa kata yang dapat dikatakan yang ditafsirkan merupakan kata kunci dari ayat.

  1. Metode Pemikiran Mahmud Yunus

Metode pemikiran Mahmud Yunus cendrung kearah penafsian bi al-Riwayah, yakni tafsir dengan riwayat atau disebut juga dengan Tafsir bi al-Mauqul (tafsir yang menggunakan pengutipan riwayat).[14]

Untuk mengetahui kecenderungan metode penafsirah Mahmud Yunus yang dapat dikategorikan dengan corak bi al-Riwayah, dapat dilihat dari bagaimana Mahmud Yunus menyingkap ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsirnya sebagai berikut: Dalam menafsirkan surah Al-Fath ayat 10 يَدُااللّهَ فَوْقَ اَيْدِهِمْ dan surat Ali-‘Imrat surat 26 dan 73 yang masing-masing ada kata بِيَدِكَ الْخَيْرِdan بِيَدِ اللهِyang ayat tersebut dapat membawa pemahaman antropomorpisme.

Mahmud Yunus mengartikan kata يَدٌ dengan tangan, maka dari sisi ni Mahmud Yunus memaknai teks Al-Qur’an secara harfiyah. Penafsiran ini didasarkan pada riwayah yang mengatakan bahwa ayat ini turun ketika orang-orang bersetia teguh kepada Muhammad, berjabat tangan dengan Muhammad, dan mengumpamakan tangan Nabi Muhammad sebagai tangan Allah, seperti yang diungkap Mahmud Yunus dalam Al-Qur’an Al-Karim. Jadi, penafsiran ini menunjukkan Metode Tafsir bi Al-Riwayah.

Sistematika pembahasan dalam menyusun Tafsirnya, Mahmud Yunus memulai dengan  bab ke- 1 (satu) berisi pendahuluan, bab ke-2 berisi tentang indeks-indeks istilah, bab ke-3 (tiga) berisi nama-nama surah dan juz, bab ke- 4 berisi teks, terjemah dan catatan-catatan, dan bab ke-5 berisi garis besar kandungan setiap surat.[15]

Penutup

Mahmud Yunus adalah tokoh pelopor pendidikan di Indonesia. Karyanya yang sangat banyak. Menunjukkan betapa banyak kontribusi yang Mahmud Yunus berikan pada Literasi dan Pendidikan di Indonesia.

Sosok teladan Mahmud Yunus, dapat menjadi contoh teladan bagi ge-nerasi penerus Bangsa Indonesia.Mengapa demikian?Karena seorang penggagas, literasi, dan pelopor pendidikan Indonesia sangat dibutuhkan banyak generasi yang mewarisinya (pendidikan).

Sebagai seorang pelopor pendidikan Mahmud Yunus memiliki beberapa pemikiran tentang Pendidikan Islam, sebagai berikut:

  1. Tujuan Pendidikan Islam adalah mendorong seseorang agar mengamalkan ajaran Islam secara sempurna.
  2. Kurikulum Pendidikan merupakan unsur-unsur penting dan tidak dapat terpisahkan dalam proses pembelajaran, juga tidak dipisahkan antara mata pelajaran umum dan mata pelajaran Agama.
  3. Tentang Kelembagaan, Mahmud Yunus mengubah sistem pendidikan yang sebelumnya individual menjadi klasikal. Maksudnya Guru mesti mengawasi dan mengarahkan potensi murid-muridnya secara maksimal.
  4. Tentang Pendidikan diprioritaskan Akhlak bagi pendidikan.[16]

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al-Karim

Amir, Mafri Literatur Tafsir Indonesia, Tangsel: Madzab Ciputat, 2013.

Amursid, M dan Asra, Amaruddin,  Jurnal Syahadah, Vol. III No. 2, Oktober 2015.

Azra, Azyumardi,  Sejarah dan ‘Ulum Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013.

Anwar, Rosihon, Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2005.

Iskandar, Edi, Mengenal Sosok Mahmud Yunus, dalam Potensia: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2017.

Malta, Rina, Pemikiran dan Karya-Karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus Tentang Pendidikan Islam (1920-1982). Masters Thesis, Universitas Andalas.

Syarifuddin, M. Anwar dan Azizy, Jauhar, Ilmu Ushuluddin, Vol. 2, No. 3 Januari-Juni 2015.

Syibromasili, Faidzah Ali dan Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, Tangsel: Lembaga Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012.

Yunus, Mahmud, Tafsir Qur’an Karim, h. 918-919.

 

____________________

[1]Nia Ariyani adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[2]Rina Malta, Pemikiran dan Karya-Karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus Tentang Pendidikan Islam (1920-1982).Masters Thesis, Universitas Andalas.

[3]Penamaan Madras School, berawal dari usulan sahabatnya, Abdullah Ahmad di Padang yang mendirikan Adabiyah School. Menurut Abdullah Ahmad, nama lembaga perlu dipertimbangkan dengan memakai istilah orang Eropa. Agar penjajah (Belanda) tidak mencurigai Lembaga Pendidikan seperti yang dialami selama ini.

[4]Muhammad Thaib Umar, lahir pada tahun 1874 di Sungayang.Ia berasal dari keluarga yang taat menjalankan Agama.

[5]Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, (Tangsel: Madzab Ciputat, 2013), cet. ke-2, h. 61-66.

[6]Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, h. 66.

[7]Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim (Jakarta: PT. Hidakarya Agung Jakarta, 2004), Cet. Ke-72, bagian pendahuluan V.

[8]Departemen Agama RI, Al-Qur’an Al-Karim, h, 601.

[9]Pasukan yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yanan yang hendak menghancurkan Ka’bah. Sebelum masuk ke kota Me’kah, pasukan tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

[10]Mahmud Yunus, Tafsir Qur’am Karim (Jakarta: PT. Hidakarya Agung Jakarta: 2004), Cet. Ke-73, h.918-919.

[11]Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir (Bandung: Pustaka Setia, 2005), Cet. Ke-3, h. 175.

[12]Faizah Ali Syibromasili dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern (Tangsel: Lembaga Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012), cet Ke-2, h, 6.

[13]Bagian-bagian dalam Tafsir Taḥlīlī, di antaranya: a. Menerangkan hubungan munasabah, menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat, menjelaskan hukum, menerangkan makna, dan unsur-unsur fashahah, bayan, dan i’jaznya yang ditafsirkan mengandung keindahan balaghah.

[14]Azyumardi Azra, Sejarah dan ‘Ulum Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. Ke-5, h. 174.

[15]M. Amursid dan Amaruddin Asra, Jurnal Syahadah, Vol. III No. 2, Oktober 2015, h. 12.

[16]Edi Iskandar, Mengenal Sosok Mahmud Yunus, dalam Potensia: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2017, h. 58-59.