Monthly Archives: February 2018

  • 0

Cinta dan Benci Karena Allah

Category : Artikel

Oleh:  Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Cinta dalam bahasa arab adalah Mahabbah. Ulama berbeda pendapat tentang makna mahabbah. Sebagian ulama berpendapat bahwa mahabbah berasal dari kata الصفى artinya jernih. Maksudnya adalah cinta itu suci dan tidak ternoda dengan dosa. Pendapat lain mengatakan, mahabbah berasal dari kata حبة الاسنان artinya gigi yang putih. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa mahabbah berasal dari kata الحباب artinya buih. Dalam konteks ini maksudnya adalah gejolak hati.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa mahabbah berasal dari kata حب bentuk jama’ dari kata حبة. Kata ini mengisyaratkan bahwa semua kejadian berasal dari benih cinta. Dan pendapat yang menarik mengatakan bahwa mahabbah berasal dari kata حبة القلب artinya lubuk hati yang paling dalam.

Benci dalam bahasa arab adalah الغضب artinya benci, marah, murka dan lain sebagainya. Sebagaimana halnya cinta, benci adalah perbuatan hati yang teraktualisasi balam bentuk perkataan, perbuatan dan sikap.

Cinta dan benci dua karakter yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Dan terkadang sangat tipis untuk membedakannya walau bertolak belakang.

وعن أَنَسٍ رضي الله عنه عن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاوَةَ الإيمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (البخاري ومسلم

Dari Anas ra dari Nabi saw bersabda, ada tiga hal, apabila ada ketiganya maka akan mendapatkan manisnya iman. Pertama, apabila Allah dan Rasulnya lebih dicintai selain dari keduanya. Kedua, seseorang tidak mencintai selain  karena Allah. Ketiga, dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci masuk neraka. (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

، (وعَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الإيمَان َ( رواه أبو داو

Dari Abī Umamah dari Rasulallah saw bersabda, siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, sungguh sempurna imannya. (HR. Abū Dawd).

  1. Bercinta karena Allah

Bercinta itu adalah tiga unsur yaitu pencinta, yang dicintai dan cinta itu sendiri.

Cinta itu sulit didefinisikan namun cinta itu ada dan dapat dirasakan. Dalam kajian irfani, cinta adalah maqom tertinggi. Maqam ini dicapai setelah melewati maqam sebelumnya, seperti tobat, muraqabah, mujahadah, muhasabah, rindu, dan sebagainya, maka siapa yang mengingkari adanya cinta, berarti dia mengingkari adanya maqam-maqam sebelumnya. Rasulullah saw berdoa, ya Allah berilah aku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu, kecintaan kepada yang mendekatkan aku kepada-Mu dan jadikanlah kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai dari air yang sejuk.

Unsur kedua dalam bercinta adalah yang dicinta. Allah adalah kekasih sejati, cintanya tidak terhingga kepada seluruh makhluk-Nya. Apabila seseorang merasakan getaran cinta kepada orang lain, itu adalah percikan cinta Ilahi. Cinta kepada ayah bunda, suami isteri, anak, guru, ulama dan sebagainya merupakan percikan dari cinta Allah kepada hamba.

Dan unsur ketiga dalam bercinta adalah cinta itu sendiri. Tidak ada yang dapat merasakan cinta selain seorang pencinta. Agama mengajarkan bercinta karen Allah bukan karena selainnya.

 أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ : ” يَا مُحَمَّدُ أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ ؛ فَإِنَّكَ مُفَارِقُه , وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ ؛ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ , وَعِشْ مَا شِئْتَ ؛ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ , وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ , وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

 

Bahwa Jibril mendatangi nabi Muhammad saw seraya berkata, hai Muhammad cintailah apa saja yang engkau kehendaki, tapi ingat engkau akan berpisah dengannya. Berbuatkan sekehendak hatimu, tapi ingat semua yang engkau lakukan akan diminta pertanggungan jawab. Hiduplah sekehendakmu tapi ingat engkau akan mati. Ingatlah seseungguhnya orang yang paling mulia adalah mereka yang shalat malam, dan orang orang kaya itu adalah mereka yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.

Tidak ada cinta yang abadi selain cinta Ilahi, maka apabila cinta hamba kepada sesama ingin abadi, maka sandarkanlah cinta itu hanya kepada Allah Ta’ala.

Namun sayangnya hamba sering berdusta, mereka bilang cinta kepada Allah tanpa bukti.  Saat nabi Musa sedang bermunajat, Allah berfirman, hai putra Imran sungguh berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku tapi saat malam sudah gelap, ia tertidur dariku. Bukankah setiap pencinta menyukai kesepian bersama kekasihnya?

  1. Benci karena Allah

Cinta dan benci tidak dapat disatukan karena saling bertolak belakang.  Mencintai kebaikan dan kebenaran pada hakikatnya adalah cinta kepada Allah Ta’ala. Membenci keburukan, kekafiran, dan kemaksiatan juga bagian dari cinta kepada Allah Ta’ala.  Maka yang dimaksud dengan benci karena Allah melepaskan diri kita dari seseorang yang melakukan perbuatan dosa dan maksiat sekalipun dia orang yang kita cintai. Kita tidak membenci orangnya tapi kita benci perbuatannya yang melanggar larangan Allah Ta’ala.

Saat nabi Nuh mengeluh kepada Tuhannya karena anaknya tidak mau naik ke dalam safinat al-najah, perahu keselamatan, seraya berkata; ya Allah dia anakku. Allah menjawab, dia bukan anakmu. Dia adalah amal yang tidak baik.

Terkadang manusia tertipu. Saat orang-orang yang dicintainya, seperti anak, isteri dan saudara melakukan kejahatan, dosa dan maksiat, kita diam saja tidak melarangnya, padahal mereka sedang dalam kehancuran. Sikap seperti ini bukanlah karena cinta tapi sayang yang membuta. Rasulallah saw bersabda, orang yang mencintaimu  adalah orang menasihatimu. Kebencian seorang yang beriman bukan dilandasi iri hati atau marah tetapi karena Allah semata. Kebencian seorang mukmin kepada saudaranya yang sedang berbuat maksiat pada hakikatnya adalah bukan membenci saudara tapi membenci keburukan, kejahatan dan kemaksiatan yang melekat dalam diri saudaranya. Orang yang sanggup bercinta karena Allah dan membenci karena Allah sungguh telah sempurna imannya

wallahu a’lam.

Selamat pagi dengan menebar cinta kepada sesama.


  • 0

Hati dalam Perspektif Al-Qur’an

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Manusia mempunyai empat potensi batini yaitu hati (القلب), ruh (الروح), jiwa (النفس) dan akal (العقل). Secara etimologis qalbu artinya bolak balik. Hati kadang merasakan bahagia, kadang susah, kadang rajin ibadah, namun kadang malas merajalela dan sebagainya, hingga dalam untaian doa hamba bermunajat agar diberi kemantapan hati.

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينک وعلى طاعتک وعلى شکرک وحسن عبادتک

Duhai Tuhan yang membolak-balikkan hati, mantapkanlah hatiku dalam menjalankan agamamu, selalu taat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan indah beribadah kepada-Mu.

Mengelola batin agar relevan dengan kemauan Allah Ta’ala bukan hal mudah, harus ada kesungguhan dan keseriusan, untuk itu diperlukan pertolongan Allah yang mengatur pergolakan hati yang selalu berubah.

Hati yang diselimuti iman akan melahirkan ketenangan dan kedamaian (السکينة) namun hati yang membatu akan merasakan kegelisahan tak menentu.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Fath/48: 4)

Betapa indahnya hidup bila hati tenteram dan nyaman dan betapa tersiksa jiwa saat hati tidak nyaman, gelisah, kecewa, marah dan sebagainya. Seluruh perbuatan lahiriah pada hakikatnya hanyalah aktualisasi hati. Apabila hati tenang dan damai, maka semua bentuk perbuatan lahiriyah akan indah dan mempesona, namun bila hati gelisah, maka perbuatan cenderung kepada hal-hal yang negatif. Karena pada hakikatnya, pahala dan siksa adalah akibat dari gerak hati.

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. al-Baqarah/2: 225)

Hati orang yang beriman responsif terhadap apa yang didengar. Apabila orang yang beriman mendengar ayat-ayat Allah hatinya bergetar karena kerinduan kepada Allah Ta’ala. Dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah iman dan kuat tawakkalnya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. al-Anfal/8: 2)

Macam-macam hati Dalam al Qur’an

1. Hati yang membatu

Hati yang membatu adalah hati yang telah mati, baginya tidak berguna cucuran nasihat dan bimbingan agama. Hati yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat hati yang tertutup dari kebaikan. Karena hatinya telah mati, maka nasihat dan bimbingan agama tidak berguna lagi baginya. klaim kebenaran terhadap perbuatan dan tindakannya sangat arogan.

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.(QS. al-Baqarah/2: 7)

Mereka yang hatinya mati dan membatu mempunyai karakter sebagai berikut;

Pertama, menutup diri dari informasi orang lain. Menurut mereka kebenaran itu adalah apa yang ada pada mereka, maka selain pendapat mereka pasti salah dan tersesat.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. al-Baqarah/2: 6)

Kedua, klaim kebenaran. Orang yang hatinya membatu selalu mengklaim bahwa mereka adalah orang yang benar dan selalu melakukan kebenaran. Karena mata hatinya telah tertutup, maka sebesar apapun cahaya kebenaran yang disampaikan oleh orang lain tidak menembus dinding hatinya.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. al-Hajj/23: 46)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. (QS. al-Baqarah/2: 11)

Meraka yang hatinya membatu, tidak sadar bahwa perbuatannya merusak, namun karena pandangan hidupnya yang materialistis, hedonis kapitalistik dan serba instan, hingga mereka berani mengorbankan masa depan untuk kenikmatan sejenak hari ini.

Ketiga, tidak mampu memfungsikan hatinya secara cerdas. Orang yang hatinya mati, pada hakikatnya hanya menjalankan hidup dengan insting bukan dengan akal.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raf/7: 179)

Manusia yang tidak mampu mengelola hatinya akan cenderung materialistik. Saat hati, akal dan indrawi tidak berfungsi, maka karakter hewani mendominan dalam dirinya. Hingga ayat ini mengisyaratkan bagai binatang maksudnya manusia berperilaku binatang. Maksudnya adalah Manusia yang seperti ini lebih sadis dari binatang.

2. Hati yang sakit

Hati yang sakit adalah hati yang dipenuhi dengan penyakit hati. Diantara penyakit hati yang melanda masyarakat modern adalah;

Pertama, cinta dunia dan menganggap ringan urusan agama. Rasulallah saw bersabda, cinta dunia adalah puncak segala kesalahan. Dunia dan materi itu adalah alat dan sarana beribadah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan tujuan hidup adalah membangun cinta kepada Allah Ta’ala

Kedua, melalaikan sholat dan meremehkan amanat. Rasulallah saw bersabda ada dua hal yang sering dilalaikan oleh manusia manusia, yaitu sholat dan menunaikan amanat. orang yang hatinya berpenyakit akan malas mendirikan shalat, padahal shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat, berarti menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti dia menghancurkan agama. Tanda orang yang hatinya berpenyakit tidak amanah atau berkhianat. Di zaman sekarang ini, banyak orang mudah berjanji dan mudah pula mengingkari. Orang yang sedang kampanye mudah sekali mengumbar janji dan setelah jadi tidak perduli dengan janjinya.

Ketiga, ciri orang yang hatinya sakit beda kata dengan perbuatan. Kesehariannya hanya sibuk membangun citra baik bukan berbuat baik. Orang yang selalu membangun citra adalah orang yang sakit hatinya. Hingga tidak ada prestasi yang dibuatnya selain membangun citra baik untuk dirinya.

3. Hati yang sehat

Orang yang hatinya sehat adalah orang yang hatinya bersih dari riya dan syirik.
Ciri orang yang hatinya bersih dan sehat, sebagai berikut;

Pertama, selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. al-Ra’ad/13: 28)

Orang yang hatinya sehat selalu berdzikir dan dengan berdzikir diperolehnya ketenangan dan kedamaian dalam dirinya.

Kedua, khusyu’ dalam mendirikan shalat. Orang yang hatinya bersih dan sehat dalam menjalankan ibadah, hatinya sibuk bercumbu mesra dengan Tuhannya, sedangkan orang yang hatinya sakit, saat beribadah sibuk memperhatikan ibadah orang lain. Apabila tidak sama dengan ibadahnya, maka mereka langsung berkomentar bahwa ibadahmu salah dan tidak sesuai dengan sunnah nabi.

Ketiga, lembut dalam kata dan santun dalam perangai. Kata dan perbuatan adalah implementasi dan cermin dalam hati, orang yang hatinya sehat dan bersih akan mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan dan perbuatan menggembirakan.

wallahu a’lam!


  • 0

Strategi Setan

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA
Sejak awal penciptaan manusia, Adam sudah bertarung melawan iblis. Pertarungan ini tidak akan pernah berakhir sampai hari kiamat. Setelah Adam dan Hawa terusir dari surga, setan dikutuk dan dilaknat oleh Allah Ta’ala karena melanggar perintah-Nya. Setan dendam kepada manusia dan dia minta ditangguhkan umurnya agar dapat merayu, menipu dan menjerumuskan anak manusia menuju jalannya.
Allah berfirman,
وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. (QS. al-Hijr/15: 35)
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
 
Berkata iblis, ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. (QS. al-Hijr/15: 36)
قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ
Allah berfirman, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. (QS. al-Hijr/15: 37)
Allah Ta’ala  mengabulkan permintaan setan agar ditangguhkan dan dipanjangkan umurnya untuk menggoda manusia. Namun tipu daya dan godaan iblis tidak akan mempunyai efek bagi mukmin yang ikhlas.
Setan secara etimologis artinya jauh, maka setan adalah makhluk yang menjauhkan manusia dari kebenaran. Setan adalah sifat jahat yang ada pada manusia dan jin. Sedangkan secara terminologis setan adalah siapa saja, baik jin atau manusia yang melakukan kejahatan hingga menjauhkan manusia dari kebenaran.
Kesadaran akan sejarah menjadi sangat signifikan dan strategis karena bagaimanapun sejarah adalah sesuatu yang berulang walau dalam format yang berbeda.
Setan dan Iblis yang dihadapi oleh Adam tentu tidak berbeda dengan iblis dan setan yang dihadapi oleh manusia di zaman sekarang ini. Untuk itu, supaya manusia tidak tertipu, maka kesadaran sejarah pertarungan Adam dan Iblis harus dijadikan i’tibar agar kita tidak terusir untuk yang kedua kalinya dari surga menuju luar surga, dari kebaikan menjadi keburukan dari kedamaian menjadi kerusuhan dan dari beradab menjadi kebiadaban.
Sadar bahwa setan adalah musuh dan hendaknya dijadikan musuh untuk selamanya.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin. (QS. al-An’am/6: 112)
Pertarungan antara kebaikan dan keburukan tidak akan pernah selesai . Setiap nabi atau orang yang memerankan peran kenabian pasti ada musuhnya, baik berupa manusia atau jin.
Manusia dan jin yang jahat dapat bekerjasama untuk menghancurkan orang-orang yang baik. Setan dengan berbagai penampilannya akan memerangi umat manusia dengan berbagai cara. Itulah sebabnya Allah selalu memerintahkan agar berlindung kepada-Nya
Setelah manusia mengenal setan dan Allah Ta’ala telah menginformasikan bahwa setan adalah musuh anak manusia, maka manusia harus menjadikan setan itu sebagai musuh selamanya.
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir/35: 6)
Strategi Setan:
1. Menanamkan rasa takut di tengah masyarakat
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran/3: 175)
Upaya strategis setan untuk membangun rasa takut di tengah masyarakat dilakukan secara sistematis. Menyebar berita yang menakutkan, penganiayaan bahkan pembunuhan terhadap orang-orang baik. Berita hoax menjadi salah satu senjata ampuh untuk membuat masyarakat gelisah dan tidak nyaman.
2. Menanamkan permusuhan dan kebencian
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ
Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. (QS. al Ma’idah/5: 91)
Orang yang membangun permusuhan dan kebencian di masyarakat adalah setan.  Kekuatan umat akan melemah bahkan hancur apabila umat saling bertikai, dan saling bermusuhan.  Sungguh ironis, pada masa lalu umat saling membenci dan bermusuhan disebabkan minuman khamer dan perjudian, namun di zaman sekarang umat menjadi saling membenci dan bermusuhan karena perbedaan mazhab dan pemahaman. Orang yang mengajak orang lain dalam kebencian dan permusuhan adalah setan walau mereka berjubah keagamaan.
3. Memperindah kemaksiatan
Setan akan memperindah kemaksiatan dengan kemasan cinta dan kasih sayang. Perzinaan, kemaksiatan dan kejahatan dikemas menjadi sesuatu yang baik dan indah hingga para pelakunya tidak malu lagi.
تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (QS. al-Nahl/16: 63)
4. Membangun rasa was dan bisikan jahat dalam hati manusia
 
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ
Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga) (QS. al-A’raf/7: 20)
Sebuah tindakan kejahatan adalah akibat bisikan jahat yang bersemayam di dalam hati. Bisikan jahat itu adalah rekayasa setan dalam menjerumuskan manusia ke dalam kenistaan dan setelah itu manusia menyesal selamanya. Saat Adam dan Hawa dibisikkan oleh setan hingga keduanya melanggar aturan Allah Ta’ala, maka setan di zaman sekarang akan membisikkan kejahatan kepada anak Adam supaya mereka melakukan kejahatan dan kemaksiatan
5. Menghalangi kebaikan
Baik dan buruk, benar dan salah, jujur dan dusta selalu ada dalam setiap zaman.  Sebagian mereka ada orang-orang yang selalu mengajak kepada iman dan amal soleh dan apa pula orang-orang yang menghalangi terwujudkan kebaikan di tengah masyarakat. Setan dalam berbagai bentuknya akan menghalangi manusia dari berjuang di jalan Allah Ta’ala.
 وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ
Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan jahat mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). (QS. al-Ankabut/29: 38)
Pertarungan antara kebenaran dengan kebatilan selamanya akan terjadi. nabi Ibrahim dan nabi Musa simbol kebenaran sedangkan Namruz dan Fir’aun adalah simbol kebatilan. Pertarungn itu selamanya selalu ada. Manusia tinggal memilih mau memerankan Ibrahim dan Musa atau Namruz dan Fir’aun.
Wallahu a’lam!
Selamat pagi, jum’at penuh berkah dan jadilah petarung yang ikhlas.