Monthly Archives: February 2018

  • 0

Membangun Titik Temu

Category : Artikel

 Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna. Penciptaan manusia merupakan personifikasi dari keindahan dan kesempurnaan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah memuliakan anak Adam dan melebihkan dari makhluk lainnya.

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. al-Isrā’/ 17: 70)

Salah satu kesempurnaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain adalah akalnya. Akal merupakan karakter khusus yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal yang dimilikinya, manusia dapat melakukan improvisasi kehidupan.

Walaupun manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia dilengkapi dengan akal, namun, manusia hadir ke dunia ini dengan keragamannya. Perbedaan suku, bangsa, bahasa bahkan agama merupakan keniscayaan yang tidak dapat dinafikan. Menafikan keragaman sama seperti menafikan matahari di siang hari. Suatu kebodohan yang nyata apabila seseorang menghendaki kesatuan dan kesamaan dalam kehidupan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Ḥujurāt/ 49: 13)

Umat Islam telah diinformasikan oleh Allah Ta’ala bahwa ayah dan ibu kalian adalah  satu yakni Adam dan Hawa, namun sejalan dengan perputaran waktu, maka perbedaan tidak bisa dielakkan. Secara geografis manusia berada dalam satu tempat yakni planet bumi, namun fakta keberadaan kita beragam. Dan Allah Ta’ala menegaskan bahwa standar kemuliaan adalah ketaqwaan.

Dalam keragaman dan perbedaan pasti ada titik temu dan titik seteru, maka tugas kita adalah membangun titik temu bukan mencari titik seteru.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah, hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (QS. Alī Imrān/ 3: 64)

Titik temu antara muslim dan ahli kitab adalah doktrin ketauhidan. Semua agama samawi doktrin agamanya sama yaitu membangun ketauhidan di tengah masyarakan. Tiada tuhan selain Allah dan tidak menyekutukan dengan apa dan siapapun. Pada akhir zaman, manusia tidak menyekutukan Tuhannya dengan penyembahan kepada berhala, matahari, bulan atau bintang  namun mereka menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.

Titik temu:

  1. Titik temu kebangaaan.

Sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa ini adalah bangsa yang penuh dengan keragaman. Bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa dan suku. Keanekaragaman budaya menjadi sebuah keniscayaan. Titik temu kebangsaan diikat oleh satu kalimat ” Bhineka tunggal Ika”.

Doktrin kebangsaan bagi umat Islam adalah nafas, artinya tidak perlu lagi ditanya tentang nasionalisme kaum muslimin terhadap bangsanya karena sejak lahir setiap umat diajarkan bahwa cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman. Menurut ulama bahwa setiap muslim wajib hukumnya membela negaranya. Jihad kebangsaan dengan dedikasi yang tinggi telah diberikan oleh ulama dan santri di negeri ini.

  1. Titik temu antar umat beragama

Titik temu antara muslim dan non muslim adalah penegasan bahwa tiada tuhan selain Allah. Para pendiri negara ini telah membangun titik temu antar pemeluk agama dengan satu kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”.  Perbedaan pemeluk agama di Indonesia sebuah kenyataan sejarah yang tidak mungkin diingkari.

Mencari titik temu antar pemeluk agama dalam bingkai keindonesiaan adalah bukan mengakui semua agama itu benar karena pernyataan semua agama itu benar adalah sebuah kesalahan. Titik temu antar umat pemeluk agama adalah menyadari bahwa tuhan itu hanya satu yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kesadaran bahwa kita semua adalah orang beragama, maka prilaku keberagamaan adalah cermin dari kasih dan sayang Allah Ta’ala.

Titik temu antar pemeluk agama juga dapat terwujud dengan saling menghormati pemeluk agama masing-masing.

Allah berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. al-An’ām/ 6: 108).

  1. Titik temu internal umat Islam

Titik temu internal umat Islam menjadi sangat penting dan strategis. Karena agama pada tataran doktrin adalah sakral, namun agama pada tataran sosial adalah relatif.

Titik temu internal umat Islam adalah kesadaran adanya mazhab dan aliran, baik dalam ranah teologi, hukum maupun etika.

Setiap muslim bersaudara, maka bangunlah kebajikan diantara kita. Boleh jadi mazhab kita beda tapi agama kita satu yakni Islam. Para wali saat menyebarkan Islam di Nusantara, mereka sibuk mengislamkan orang kafir, tapi ironisnya di zaman sekarang, ada orang yang sibuk mengkafirkan orang Islam. Gerakan takfiri pasti bukan gerakan islam karena gerakan islam pasti gerakan islami yakni gerakan kerahmatan dan kedamaian.  Gerakan takfiri adalah gerakan yang mengkafirkan orang di luar golongannya. Kelompok ini sangat mudah menyesatkan dan mengkafirkan orang yang berpeda pemahaman dengan paham mereka.

Walau gerakan ini dilakukan oleh golongan Islam tertentu, namun gerakan ini sedang membangun titik seteru dalam internal umat Islam. Muslim sejati tidak akan mengkafirkan saudaranya karena yang boleh menilai seseorang kafir atau tidak adalah Allah Ta’ala.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Alī Imrān/3: 103)

Mari kita bangun titik temu dan meminimalisir titik seteru. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

 Wallahu a’lām

Selamat siang dan salam persatuan


  • 0

Meredam Amarah

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Fenomena terakhir menunjukkan bahwa emosi masyarakat semakin meningkat. Masyarakat mudah tersinggung, dan marah hingga tidak dapat mengontrol diri kemudian jatuh kedalam perbuatan nista. Setelah itu datang penyesalan tiada guna.

Marah adalah percikan karakter setan sebagaimana awal penciptaannya. Saat Iblis ditanya oleh Allah, apa yang menghalangimu tidak mau sujud kepada Adam? Iblis menjawab, aku lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan Adam dari tanah.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata, aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. (QS. Shād/38: 76)

Iblis dengan rasionalisasi  sederhana mengklaim bahwa dirinya lebih baik karena tercipta dari api, sedangkan Adam lebih rendah karena diciptakan dari tanah. Sebenarnya amarah lah yang menjadi pemicu hingga Iblis tidak mau sujud kepada Adam, karena adam terlahir sebagai khalifah sedangkan Iblis tidak.

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (QS. al-Raḥmān/55:15).

Karakter pemarah adalah warisan setan yang diturunkan kepada manusia yang lemah imannya.

Menurut pandangan ulama ada empat  karakter manusia, yaitu:

  1. Babi adalah karakter serakah, jorok dan tidak mempunyai kepekaan sosial. Dari karakter ini manusia melakukan perbuatan yang mengotori jiwanya, seperti berzina, makan uang riba, uang haram dan sangat rakus kepada harta dan kekuasaan.
  2. Anjing adalah karakter pemarah. Karakter ini sering kali membuat manusia mudah emosi dan tersinggung, malakukan perbuatan jahat sekalipun terhadap orang yang dekat dengannya.
  3. Setan adalah karakter licik dan menipu. Dengan berbagai cara, manusia yang memiliki karakter seperti ini akan menghancurkan orang lain dengan keculasan dan dusta-dustanya.
  4. Ilahi yaitu karakter ketuhanan yang damai, sejuk dan menenteramkan. Karakter ini pada hakikatnya adalah karakter asasi manusia, namun karena berbagai faktor eksternal manusia cepat berubah dan keluar dari karakter ilahiyatnya.

(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ (رواه البخاري

Dari Abū Hurayrah ra bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw, berilah wasiat kepadaku. Sabda Nabi Saw, Janganlah engkau marah. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, janganlah engkau marah. (HR. al-Bukhārī)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِين. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan (hartanya) di waktu lapang atau susah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan bersikap pemaaf kepada manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Alī Imrān/ 3: 133-134)

Menahan amarah adalah  tanda orang beriman. Orang mukmin selalu menyejukkan, menenteramkan dan mendamaikan saudaranya. Prilaku emosional yang ditampilkan oleh seorang muslim adalah penyimpangan dari misi Islam yang sesungguhnya yakni menebar kasih kepada sesama. Melalui layar kaca dan media sosial sering kali kita dikejutkan oleh ungkapan kasar yang membakar emosi oleh oknum tokoh agama. Seruan jihad tanpa argumentasi yang jelas, mengusir orang berbeda mazhab bahkan mudah sekali menuduh orang lain dengan tuduhan sesat, kafir dan halal darahnya.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة

Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga (HR. al-Tabrānī dan dishahihkan oleh al-Mundzīrī)

Islam yang raḥmatan lil-‘alamīn harus disampaikan dengan penuh hikmah dan bijaksana. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Naḥl/ 16:125)

Rasulullah saw juga bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

Siapa yang menahan amarah padahal  mampu untuk melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia inginkan. (HR. Abū Dawud, al-Tirmidzī, Ibnu Mājah, dan Aḥmad)

Redamlah amarah dan rubahlah dengan cinta dan kasih sayang. Sampaikan pesan Ilahi dengan lemah lembut dan kasih sayang.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Alī Imrān/ 3:159)

Tegas adalah karakter umat Muhammad saw. bersikap tegas kepada orang yang jahat, munafik dan orang kafir adalah keharusan tetapi marah terhadap mereka adalah kesalahan. Anak muda yang teriak lantang membela islam namun disampaikan dengan penuh emosi dan amarah, sungguh tidak islami.

Di antara penyebab yang membangkitkan amarah adalah berbangga diri, keangkuhan, penghinaan, pertentangan, pengkhianatan, rakus kepada harta dan kedudukan. Ketika seseorang diusik harga dirinya, maka amarah timbul dalam dirinya. Saat harta dan kedudukannya diotak-atik, maka amarah bangkit, namun orang yang beriman dapat menahan amarahnya.

Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, umat memerlukan penyejuk hati dan penasehat jiwa agar umat tidak mudah emosi dan marah. Apabila seseorang marah, maka akalnya tidak berfungsi dan apabila akal tidak berfungsi, maka manusia akan menjadi seperti binatang buas.  Kemungkinan ada orang yang sedang stress atau kalap menghadapi kondisi seperti ini, maka mereka memancing emosi dan amarah umat dan saat umat terpancing dan marah, maka umat akan melakukan perbuatan diluar talar akal sehat, saat itu kehancuran di ambang pintu.

Rasulalkah saw berpesan, apabila amarah bergelora, maka tenangkanlah hati, berlindunglah kepada Allah Ta’ala dari godaan setan, duduklah apabila sedang berdiri, dan berbaringlah apabila sedang duduk, berwudhu dan mandilah agar percikan api yang bergelora di hati menjadi padam dengan air wudhu.

Wallahu a’lām

Selamat pagi dan redamlah amarah dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya.


  • 0

 Harap dan Cemas

Category : Artikel

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Harap yang dimaksud dalam tulisan ini adalah (الرجاء) dan cemas adalah (الخوف). Imām al-Ghazālī dalam bukunya Iḥyā ‘Ulūm al-Dīn berkata bahwa harap dan cemas bagaikan dua sayap burung. Indahnya seekor burung saat terbang karena kekuatan dua sayapnya itu. Demikian pula seorang mukmin akan menjadi indah hidupnya apabila harap dan cemas kepada Allah selalu ada dalam hatinya. Dalam meniti jalan Ilahi seorang suluk harus melewati maqam ini.

Harap atau rajā’ adalah kesenangan  hati karena menanti idamannya. Seperti seorang petani menanti waktu panen datang. Setelah tanah subur dikelola, benih yang unggul ditanam, lalu  air yang jernih dialirkan,  maka beberapa bulan kemudian petani berharap datangnya musim panen. Inilah yang disebut rajā’ atau harap kepada Allah Ta’ala.

Orang yang  bertani di tanah yang tandus, tidak menyiapkan benih yang baik dan tidak pula membangun irigasi, lalu dia berharap panen yang melimpah, itu bukan harap namanya tapi berangan-angan.

Dunia adalah ladang akhirat. Tanah adalah hatinya, iman adalah benihnya dan amal soleh sebagai  aliran airnya, maka layak dia berharap karunia Allah di akhirat. Namun sebaliknya, orang yang tidak menggarap dunianya,  hatinya tidak diberikan benih dengan keimanan yang baik dan tidak pula disirami dengan amal saleh, lalu dia berharap kebaikan akhirat, maka itu adalah kebohongan yang nyata.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. al-Isrā’/17: 57)

Orang yang berbuat maksiat dan dosa lalu dia berharap mendapat ampunan dari Allah tanpa ada upaya perbaikan diri dan tidak pula bertaubat, maka itu adalah dusta yang nyata. Bagaimana mungkin orang yang tidak menanam benih, berharap panen yang berlimpah selain kebohongan belaka?

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah/2: 218)

Seseorang yang berharap kebaikan adalah orang yang telah berusaha berbuat baik. Ayat ini menegaskan bahwa setelah beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah Ta’ala, baru layak berharap. Oleh karena itu, orang yang tidak beriman dan tidak beramal soleh, maka harapannya adalah palsu. Orang yang tidak bekerja keras dan tidak pula serius dalam berkarier, maka jangan berharap mendapat kesuksesan di masa depan.

Dalam konteks akademis, seorang mahasiswa akan memperoleh lulus dengan hasil yang baik, apabila dia menyiapkan diri sejak awal perkuliahan dengan serius dan kerja keras. Rajin kuliah, mengerjakan tugas dengan baik, selalu hadir tepat waktu dan menghormati dosennya, setelah dia mengerahkan segalanya, maka layak dia berharap lulus tepat waktu dengan hasil yang terbaik. Namun sebaliknya, apabila ada mahasiswa yang main-main dalam kuliah, malas belajar, tidak mengerjakan tugas dan jarang  hadir kuliah, lalu dia berharap lulus dengan hasil yang baik, itu bukan harapan tetapi mimpi kosong namanya. Pendek kata, harap atau rajā’ diperoleh dengan kerja keras dalam mewujudkan kebaikan untuk masa depan yang gemilang.

Khauf adalah kepedihan dan terbakarnya hati karena adanya kemungkinan sesuatu yang akan menimpa dirinya pada masa yang akan datang. Seorang yang berbuat dosa dan maksiat pada masa lalu akan merasakan kekhawatiran yang sangat bahkan pedih hatinya karena membayangkan akan datangnya siksa, baik di dunia maupun di akhirat.

Khauf atau cemas ini akan dapat menggoncang hati seseorang apabila mengetahui dua hal:

  1. Dia mengenal Allah Ta’ala.

Seorang yang mengenal Allah Ta’ala, pasti akan merasa takut yang sangat apabila sadar akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya pada masa lalu.  Seorang yang mengetahui buasnya harimau tentu akan ketakutan dan cemas yang sangat apabila dia ada didekatnya. Namun sebaliknya, dia tidak akan takut berada di dekat harimau apabila dia tidak tahu buasnya harimau.

Rasulullah saw bersabda, “seandainya kalian tahu sebagaimana aku tahu tentang akhirat, pasti kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

  1. Mengetahui bahayanya dosa dan maksiat.

Perbuatan dosa dan maksiat adalah racun yang mematikan hati. Apabila seseorang melakukan perbuatan dosa dan maksiat dan dia tahu akibat dari perbuatannya itu pasti akan menangis sepanjang hidupnya. Nabi Adam as ketika memakan buah khuldi bertaubat dan menangis selama 200 tahun. seraya berdoa,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata, ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. al-A’rāf/7: 23)

Ulama menjelaskan khauf itu adalah menjaga diri dari semua perbuatan dosa, lahir maupun batin. Abū al-Qāsim al-Ḥakīm berkata,

 من خاف من شيء هرب منه ، ومن خاف من الله عز وجل هرب إليه

Siapa yang takut terhadap sesuatu, maka dia akan lari darinya dan siapa yang takut kepada Allah, maka dia akan lari kepada-Nya.

Takut atau khauf kepada Allah harus berlari mendekat kepada-Nya bukan menjauh dari-Nya.

‘Alī ibn Abī Thālib berkata; “maukah kalian kuberi tahu tentang siapa yang benar-benar faqih? Yaitu orang yang tidak memberi kelonggaran kepada orang lain untuk berbuat maksiat, yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah. Tidak membuat mereka merasa aman dari ancaman Allah Swt. Juga tidak meninggalkan al-Qur’an (karena tidak suka dengannya), lalu mencari selainnya. Dan tidak ada kebaikan dari suatu ibadah yang pelakunya belum mengerti aturan agama.”

“Dan ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa membuat seseorang berfikir akan Tuhannya dan tidak ada baiknya bagi bacaan yang tidak disertai dengan renungan.”

Dalam kesempatan lain beliau berkata, “tidak akan melakukan perbuatan zina seseorang yang mempunyai harga diri.

Orang berzina karena tidak ada khauf di dalam hatinya. Dan seorang pezina tidak mempunyai harga diri dihadapan Allah Ta’ala. Karena saat seseorang berzina, imannya keluar bagaikan seseorang yang melepas baju kurungnya dari tubuhnya.

Dan sesungguhnya orang yang bertakwa itu akan merasakan kenikmatan dunia dan nikmat di akhirat nanti. Mereka juga menikmati dunia bersama pencinta dunia, sedang para pencinta dunia tidak akan bersama-sama mereka untuk merasakan kenikmatan akhirat.

Ibrāhīm ibn Syinān berkata,

 إذا سكن الخوف في القلب ، أحرق مواضع الشهوات منه ، وطرد رغبة الدنيا عنه .

Apabila khauf bersemayam di hati, niscaya akan terbakar  tempat syahwat darinya dan akan tercampakkan kesenangan dunia darinya.

Apabila khauf memenuhi hati seorang hamba, niscaya akan terbakar keinginan syahwatnya dan akan hilang kesenangannya terhadap dunia, namun siapa yang tidak ada rasa khauf di dalam hatinya, dia merasa aman memperturutkan syahwatnya dan merasa aman dari siksa akhirat.

Ibnu Taimiyah berkata, khauf itu adalah menjauhkan diri dari segala yang haram.

Harap dan cemas selamanya harus ada dalam dada. Dan dengan adanya rajā’ dan khauf manusia akan selalu waspada menuju kehidupan abadi.

Tiada harap tanpa amal shaleh dan tiada cemas tanpa makrifat kepada Allah

wallahu a’lam

Selamat pagi dan optimis selalu