Monthly Archives: January 2018

  • 0

Membangun Peradaban

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA
Rasulallah saw bersabda,
أَدَّبَنِى رَبِّى اَحْسَنَ تَأْدِيْـبِى
Tuhanku telah mengajarkan adab kepadaku, maka ia menjadikan adabku menjadi baik. (HR Ibnu Hibban)
Ulama berbeda pendapat tentang kualitas hadis ini ditinjau dari segi sanad, namun mereka sepakat secara matan (redaksi hadis) bahwa hadis ini baik dan mendidik.
Para pakar bahasa memberikan makna yang beragam tentang arti adab. Sebagian menterjemahkan adab adalah pendidikan, hingga hadis itu bermakna, Tuhanku telah mendidik aku, hingga baiklah pendidikanku.
Sebagian lagi menterjemahkan kata “adab” dengan akhlak mulia, perangai yang baik, sopan santun dan sebagainya. Dalam makna ini hadis itu berarti, Tuhanku telah mengajarkan aku akhlak yang mulia, hingga menjadi mulia akhlakku. dan sebagian lagi menterjemahkan kata “adab” dengan peradaban, hingga hadis itu dimaknai, Tuhanku telah mengajarkan aku peradaban yang baik, hingga baiklah peradabanku.
Dengan memahami ketiga makna itu, dapat dipahami bahwa etika yang baik akan lahir dari pendidikan yang baik dan sebuah peradaban yang baik terlahir dari pendidikan dan akhlak yang baik.
Setiap manusia mempunyai dua tugas utama yang mulia.
1. Sebagai khalifah di muka bumi.
Sebagai khalifah manusia bertugas untuk membangun peradaban dirinya karena peradaban manusia adalah cermin dari karakter manusia itu sendiri.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al Baqarah/2: 30)
2. Sebagai pengabdi Allah atau Abdullah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.(QS. al Baqarah/2: 21)
Manusia yang sanggup menjadi hamba Allah akan mampu berkreasi sebagaimana Allah berkreasi, hingga Rasullah saw mengajarkan, berakhlaklah kalian sebagaimana akhlak Allah. Seseorang yang mengabdi kepada Allah mempunyai tiga tingkatan; Pertama, sebagai budak Tuhan. Pengabdian yang dilakukannya karena takut akan kekuasaan Tuhan, baik berupa siksa atau neraka. Kedua, sebagai pedagang, pengabdiannya kepada Tuhan karena ada keuntungan yang diperolehnya, baik keberuntungan materi atau keuntungan immateri kelak yakni pahala dan surga. dan Ketiga, sebagai kekasih Allah. Pengabdiannya kepada Allah semata-mata karena ingin memperoleh cinta Allah, karena mereka yakin cinta Allah kepada hamba-Nya melebihi dari segalanya.
Dengan dua fungsi yang dibangun secara seimbang maka manusia akan menjadi khalifah yang memiliki peradaban yang tinggi karena semua kreasinya merupakan personifikan Tuhan yang termenifestasi dalam setiap karya yang dihasilkannya.
Untuk membangun perabadan yang tinggi tidak mungkin dilakukan oleh satu generasi, tetapi harus adanya usaha yang berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya. Rasulullah saw berpesan,
أَدِّبُـوْا أَوْلاَدَكُمْ عَـلَى ثَلاَثِ حِصَـالٍ: حُبِّ نَبِـيِّكُمْ وَحُبِّ آلِ بَيْـتِهِ, وَتِـلاَوَتِ اْلقُـرْآنِ. فَإِنَّ حَمَـالَةَ الْقُـرْآنِ فِى ظِـلِّ عَـرْشِ اللهِ يَـوْمَ لاَ ظِـلَّ إِلاَّ ظِلُّـهُ مَعَ أَنْبِـيَآئِـهِ وَأَصْفِـيَآئِـهِ
Didiklah anak-anakmu dalam tiga hal, mencintai Nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Al Qur’an. Maka sesungguhnya orang yang membaca Al Qur’an berada dalam naungan Nya, bersama para Nabi dan orang-orang Suci.
Untuk menjaga perabadan mulia adalah dengan membangun cinta dan mengamalkan al Qur’an. Cinta yang baik adalah apabila yang dicintai itu yang terbaik. Manusia mulia yang wajib dicintai agar terbangun peradaban tinggi dan mulia adalah nabi Muhammad saw dan keluarganya. Dengan mencintai mereka akan lahir cinta sejati kepada sesama karena hanya dengan cinta, cinta itu dapat terwujud. Allah telah menjamin nabi Muhammad saw dan keluarganya sebagai manusia suci yang dapat dicintai dan diteladani. Allah berfirman,
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. al Ahzab/33: 33)
pondasi utama membangun peradaban adalah dengan mencintai Rasulallah saw dan keluarganya. Kebencian kepada Rasulallah saw, keluarganya dan kepada orang-orang mencintai mereka akan melahirkan peradaban yang merusak, kejam dan sadis. Cinta hanya dapat terwujud kokoh dengan cinta itu sendiri.
Ponsasi kedua untuk membangun peradaban yang tinggi adalah dengan mempelajari, memahami dan mengamalkan al Qur’an. karena al Qur’an adalah cermin dari sebuah peradaban yang tinggi. Saat sayyidah Aisyah, Ummul Mukminin ditanya tentang akhlak Rasulallah saw, beliau menjawab, akhlak Rasulallah adalah al Qur’an. Pendek kata, Rasulallah saw adalah al Qur’an berjalan dan itulah peradaban tertinggi di dunia ini.
Peradaban harus selalu dijaga dan dipelihara dengan cara melakukan tranformasi ilmiah kepada anak-anak sebagai pewaris sebuah peradaban. Rasulallah saw bersabda,
أدّبوا اولادكم و احسنوا ادابهم
Didiklah anak-anak kamu dengan pendidikan yang baik.
Dengan demikian perabadan yang tinggi bukan hanya kenangan masa lalu dan bukan pula mimpi dimasa depan.  Peradaban adalah aktualisasi kerja keras yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang. karena sesungguhnya peradaban yang  tinggi adalah cermin dari asma Allah yang Maha Tinggi.
wallahu a’lam.
selamat pagi, semoga kita menjadi pelaku dalam membangun peradaban yang tinggi. amin

  • 0

PENGUMUMAN: NILAI KKN

Category : Pengumuman

Kepada semua mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) diwajibkan mengisi di KRS-nya masing-masing dengan bobot KKN 4 sks. Bila tidak mencantumkan dalam KRS, nilai KKN tidak dapat dimasukkan ke Academic Information System (AIS).

Keterangan:

  • Pak David Rahari, S.Kom (IT) sudah tidak diperbolehkan menginput nilai KKN ke AIS;
  • Karena berkaitan dengan penyelesaian Laporan KKN masing-masing kelompok, maka penginputan Nilai KKN dilakukan oleh Dosen Pembimbing dan PPM;
  • Informasi lebih lanjut hubungi Kaprodi.

 

Mengetahui,

*Kaprodi IAT*