Monthly Archives: January 2018

  • 0

FU Mendapat Kunjungan dari Prodi IAT UNSIQ Wonosobo

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Dalam rangka pengembangan studi al-Qur’an dan Tafsir, audiensi akademik dan profesi, juga dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kerjasama dalam bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), maka perlu diupayakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan, pelatihan dan praktik Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT).

Alasan ini yang memotivasi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo Jawa Tengah untuk berkunjung di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, khususnya Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kegiatan ini dikemas dalam Studi Pengalaman Lapangan (SPL) atau Studi Banding tentang tatacara pengembangan Program Studi.

Penandatanganan MoU

Penandatanganan MoU

Mahasiswa yang mengikuti kurang lebih 40 orang yang didampingi Dr. M. Ali Mustofa Kamal, MA (Ketua Prodi IAT UNSIQ Wonosobo). Kehadiran mereka diterima langsung oleh Pimpinan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Meeting Room L.4 FU (23/01/2018). Mereka disambut Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA (Kaprodi IAT), Dra. Banun Binaningrum, M.Pd (Sekprodi IAT), Dr. Media Zainul Bahri, MA (Kaprodi Studi Agama-Agama), Rifqi Muhammad Fatkhi, MA (Kaprodi Ilmu Hadis), Dr. Abdul Hakim Wahid, MA (Sekprodi Aqidah dan Filsafat Islam), dan Nanang Tahqiq, MA (Dosen) Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam sambutannya, Lilik Ummi Kaltsum menyampaikan bahwa pengembangan prodi dilakukan dengan merancang profil-profil lulusan: “pertama, profil lulusan untuk menjadi mufassir pemula yang diturunkan pada kurikulum dan diimplementasikan pada Pelatihan Pengkaderan Mufassir Pemula (PPMP) dan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang kerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI dan Pusat Studi Al-Qur’an); kedua, sebagai peneliti / pengkaji al-Qur’an; dan ketiga, pengajar / kelembagaan al-Qur’an lulusan IAT tidak hanya bisa mengajar tapi juga dapat mendirikan lembaga-lembaga Qur’an.” Terang Kaprodi

Sharing Pengembangan Program Studi

Sharing tentang Keilmuan di Ushuluddin

Dalam tatacara pengembangan lulusan, pertanyaan disampaikan M. Ali Mustofa Kamal. “Bagaimana langkah awal yang dilakukan untuk pelatihan mufasir pemula? bagaimana input mahasiswa yang bagus? dan bagaimana Prodi IAT Jakarta melakukan pengembangan Prodi?” Tanya Mustofa

Hal ini dijawab oleh Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA selaku Kaprodi IAT. “Pengembangan Prodi sangat terkait dengan profil Prodi IAT, ada 3 Profil: pertama, sebagai mufassir pemula. Pengembangannya melalui kerjasama dengan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) melakukan Pelatihan Pengkaderan Mufassir Pemula (PPMQ). Outcome dari kegiatan ini berlangsung 3 minggu ini adalah mahasiswa mampu menafsirkan masing-masing ayat dari surat al-Sajadah dan mampu menghafal 3 surat (al-Sajadah, al-Jumu’ah dan al-Munafiqun). Kedua, lulusan IAT menjadi peneliti tentang al-Qur’an dan Tafsir. Pengembangannya melalui pengkaderan beberapa mahsiswa yang memiliki keahlian meneliti dengan kerjasama dengan LIPI. Ketiga, lulusan IAT menjadi pengembang lembaga pendidikan al-Qur’an. Untuk itu harus kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan al-Qur’an. Keempat, paling utama adalah kemampuan membaca al-Qur’an baik dan benar, serta penguasaan membaca Kitab-kitab Klasik.” Jawab Lilik [M.NTs]


  • 0

Musibah

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Allah berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS, al Baqarah/2:156)

Saat nabi Ya’kup as. bersama keluarganya pulang kembali ke Kan’an dari Faddan karena ayahnya, nabi Ishaq as meninggal dunia, di pertengahan jalan isteri tercinta, Rahil melahirnya  Bunyamin dan meningal dunia. Nabi Yusuf kecil menangis sambil memanggil, ibu…ibu…. Rahil dipanggil menghadap Allah Ta’ala dalam perjalanan. Dalam kesedihan, nabi Ya’kub menenangkan Yusuf dan berbisik, nak  ibumu telah dipanggil oleh Tuhannya, Penciptanya dan Kekasihnya.  Saat itu, saudara perempuan nabi Ya’kub berkata, wahai Ya’kub musibah tidak pernah sepi dari para nabi.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk/67:2)

Kematian dan kehidupan hanyalah batu ujian untuk mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang terbaik amalnya. Hidup di dunia adalah perjalanan atau safar menuju rumah keabadian. Di dalam perjalanan singkat ini banyak kendala dan ujian, sebagai sarana menuju kesempurnaan. Bila kesempurnaan ruhani telah tercapai, maka hamba akan meneruskan perjalanan ruhani yang lebih panjang menuju akhirat.

Salah satu cara untuk mencapai kesempurnaan ruhani, Allah memberikan berbagai ujian agar manusia mencapai derajat ahsan al-amala, manusia yang terbaik.

Rasulallah saw mengingatkan, besarnya pahala dan ganjaran, tergantung musibah dan cobaan yang menimpanya. Dan cobaan serta ujian tidak mungkin diluar batas kemampuan hamba, sekalipun ujian itu terasa lebih besar dari gunung.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. al Baqarah/2:286)

Ulama membagi musibah menjadi tiga macam.

  1. Kekurangan harta

Sebagai makhluk materi, manusia membutuhkan materi sebagai alat dan sarana mempermudah beribadah kepada Allah Ta’ala. Harta bukan tujuan apalagi kebanggaan, namun tidak sedikit manusia yany tergelincir karena kekurangan harta. Rasulallah saw bersabda,

کاد الفقر ان يکون کفرا

Hampir saja kefakiran menjadi sebab terjadinya kekufuran.

Kefakiran dan kemiskinan terkadang menjadi menyebab manusia lupa akan nikmat Allah Ta’ala yang diberikan kepadanya, padahal dalam keadaan bagaimanapun, pasti anugerah Allah Ta’ala lebih banyak dari kekurangan yang dirasakannya. Manusia menderita bukan karena rizki yang berkurang tetapi karena kurang bersyukur yang bersemayam dihatinya.

Nabi bersabda, ada dua hal yang paling dibenci manusia, kekurangan harta, padahal kurang harta akan mengurangi hisab kelak pada hari kiamat dan kematian, padahal kematian lebih baik dari fitnah.

Kaum materealistis, kapitalis dan hedonis menjadikan  materi segalanya. Siapa yang banyak modal akan berkuasa. Apabila seseorang berideologikan materialisme, pasti akan dikuasai oleh kaum kapitalis, tetapi orang yang menjadikan iman menjadi poros dalam kehidupannya, tidak akan pernah terjajah oleh mereka.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali Imran/3:14)

  1. Kurang ilmu

Musibah terbesar manusia yang kedua setelah kurang harta adalah kurang ilmu. Ilmu adalah cahaya, siapa yang berilmu tidak akan tersesat dalam perjalanan yang singkat ini, dan siapa yang tidak berilmu tidak akan pernah sampai tujuannya.

Ali ibn Abi Thalib kedatangan tamu, seraya bertanya, hai Ali mana yang lebih utama ilmu atau harta? Ali menjawab, ilmu, karena ilmu warisan para nabi, sedangkan harta warisan Qarun, Fir’aun dan Haman.

Pertanyaan yang sama disampaikan lagi oleh tamu berikutnya, Ali menjawab, ilmu lebih utama daripada harta karena harta harus engkau jaga tetapi ilmu akan menjagamu.

Pertanyaan yang sama diajukan lagi oleh tamu berikutnya. Ali menjawab, ilmu lebih utama daripada harta karena harta takut dengan pencuri sedangkan ilmu tidak takut dicuri.

Pertanyaan yang sama diulangi lagi, Ali menjawab, ilmu lebih utama daripada harta, karena harta mengeraskan hatimu sedangkan ilmu menerangi hatimu.

Pertanyaan yang sama diulangi lagi oleh tamu yang berikutnya, Ali menjawab, ilmu lebih utama dari harta karena harta membuat manusia sombong sedangkan ilmu  membuat manusia tawadhu.

Fenomena akhir zaman banyak ulama palsu, berpenampilan seperti ulama namun perangai pendosa. Salah satu tanda orang ulama adalah tidak sombong. Apabila ada seorang ulama merasa benar sendiri dan menyalahkan serta menyesatkan orang lain, itulah ulama palsu. apabila ada seorang ulama yang membangun emosi dan amarah umat serta menanamkan kebencian kepada orang lain, itulah tanda ulama palsu.

Musibah terberat negeri ini adalah karena kekurangan ilmu terutama ilmu agama, hingga tidak sedikit mereka yang tidak mempunyai kapasitas keilmuan dalam bidang agama dapat menyalahkan ulama yang sejak kecil mendalami agama.

Rasulallah saw berpesan, tanda akhir zaman, banyak pembaca al Qur’an tapi sedikit yang memahaminya. Dalam hadis lain, Nabi bersabda, tanda akhir zaman, banyak orang yang membaca al Qur’an tetapi tidak sampai ke hati.

  1. Tertutup hijab

Musibah terbesar yang akan dihadapi oleh manusia adalah tidak sanggupnya manusia memahami rahasia Allah yang terhampar di alam raya dan yang termaktub dalam kitab suci. Manusia akhir zaman seringkali beragama pada wilayah teks dan lari dari pemahaman konteks. Rasulallah saw bersabda, tanda akhir zaman adalah banyak manusia yang pandangan hidupnya adalah kebutuhan perut mereka, atau materialistis, agama akhir zaman adalah dinar dan dirham dan mereka tidak mau berhukum dengan hukum Allah.

Musibah terbesar anak manusia adalah karena mereka tidak sanggup memahami hakikat. Kekurangan ilmu dan tidak mau memahami rahasia dan hikmah tasyri’ akan menjadi bumerang bagi umat Islam. Pepatah mengatakan, seorang wali hanya bisa dikenali oleh seorang wali. Sekarang tidak sedikit, orang awan berpenampilan seperti wali, padahal mereka tidak memahaminya. Kajian tasawuf dan irfani dianggap sesat karena mereka berkata nabi bukan seorang wali. Inilah musibah ketika orang awam merasa memahami agama. Pada akhirnya, manuasia terjebak didalam kebodohannya sendiri. Karena mereka tidak memahami musibah yang sedang menimpa dirinya.

Wallahu a’lam

Selamat pagi dan selamat beraktifitas


  • 0

Hakikat Doa

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA
Allah berfirman,
 قالَ رَبُّكُمُ ادعوني أَستَجِب لَكُم ۚ إِنَّ الَّذينَ يَستَكبِرونَ عَن عِبادَتي سَيَدخُلونَ جَهَنَّمَ داخِرينَ
Dan Tuhanmu berfirman, berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadat dan berdoa kepada-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan terhina. (QS. al Ghafir/40: 60)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa berdoa adalah ibadah hingga Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Berdoa adalah salah satu cara berkomunikasi seorang hamba kepada Penciptanya.
Berdoa bukan karena dalam kesulitan, bukan pula karena kekurangan atau disaat musibah menimpa diri, tetapi berdoa adalah syariat yang diperintahkan Allah swt kepada hamba-Nya dalam segala kondisi, senang atau susah, suka maupun duka.
Allah memberi jaminan bahwa semua untaian doa yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, pasti diijabah-Nya. Namun, orang yang tidak mau berdoa dikategorikan sebagai orang sombong dan diancam dengan jahanam. Rasulallah saw mengingatkan, seandainya engkau mengangkat benda yang ringan sekalipun, maka berdoalah kepada-Nya. Karena pada hakikatnya, hamba tidak punya daya dan upaya dalam menggerakkan apapun selain atas bantuan-Nya.
Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dan tidak ada yang lebih dekat hamba dengan siapapun selain kepada Allah Ta’ala. Karena kedekatan itu, maka berdoalah sekalipun hanya lintasan hati karena Dia pasti mengabulkannya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.  (QS. al Baqarah/2: 186)
Hamba yang berdoa sambil berbisik atau hanya terdengar oleh telinganya sendiri, Allah pasti mendengar rintihan hati hamba-Nya dan pasti dikabulkan-Nya. Oleh karena itu, berdoa tidak usah berteriak atau dengan mengeraskan suara karena Dia Maha Mendengar semua harapan dan doa yang disampaikan.
Berdoalah dengan suara yang sendu, syahdu dan lembut dan jangan mengeraskan suaramu, apalagi saat berdoa sendirian di kesepian malam. Air mata hamba dan keduabelah tangan dihamparkannya saat berdoa, Allah sudah tahu permohonan hamba.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

 Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS al A’raf/7: 55)
Optimisme dan yakin bahwa doanya diijabah oleh Allah Ta’ala menjadi syarat bahwa doa akan dikabulkan. Apabila seorang hamba berdoa dalam kebimbangan antara dikabulkan atau tidak, niscaya doanya tidak dikabulkan.
Berdoa harus yakin dan optimis bahwa doa kita diterima dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun kepada-Nya.
Rasulallah saw bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda, berdoalah kepada Allah dan kamu yakin dikabulkan dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa hamba yang hatinya lalai.

 عن أبي هريرة أن رسول الله قال  لا يقل أحدكم إذا دعا۔ اللهم اغفر لي إن شئت ، اللهم ارحمني إن شئت 

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulallah saw bersabda, janganlah seorang diantara kamu berkata dalam doanya, ya Allah ampunilah aku bila Engkau mau dan sayangilah aku bila engkau mau.
Doa seperti ini tidak dibolehkan oleh nabi Muhammad saw karena tidak memiliki keyakinan dan ketetapan hati dalam berdoa.
Rukun doa:
1. Makrifat Allah
Seorang yang tidak tahu kepada siapa dia berdoa, kepada siapa dia bermohon dan kepada siapa dia bermunajat pasti doanya tertolak. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengenal, lalu menyampaikan permohonannya, tentu tidak mungkin
2. Hamba yakni orang yang berdoa
Al Da’i harus mempunyai kesadaran bahwa dia hamba yang lemah yang tidak memiliki apa-apa dihadapan Allah Ta’ala. Seseorang yang tidak mengenal dirinya pasti tidak mengenal Tuhannya.
3. Untaian doa yakni redaksi doa.
Sebaik-baiknya redaksi doa adalah;
Pertama, doanya para nabi yang termaktub dalam al Qur’an.
Kedua, doa yang diajarkan oleh Rasulallah saw yang terhimpun dalam hadis.
Ketiga, doa hamba yang keluar dari hati yang paling dalam dan bermakna baik.
4. Isi doa.
Salah satu yang sangat penting isi doa adalah kebaikan. Kebaikan untuk diri sendiri atau orang lain. Dalam redaksi hadis, doa ada yang berisi permohonan yang baik untuk suatu kaum dan ada pula doa yang berarti melaknat suatu kaum. Namun nabi Muhammad saw mengajarkan agar umatnya selalu berdoa untuk kebaikan orang lain.
Essensi doa:
Essensi doa yang selalu dipanjatkan oleh hamba kepada Tuhannya adalah sebagai berikut.
1. Doa adalah senjata orang yang beriman.
Rasulallah saw bersabda,

الدعاء سلاح المؤمنين

Doa adalah senjata orang-orang yang beriman.
Dalam menghadapi hidup, manusia seringkali menggunakan senjata materi dalam meraih kesuksesan. Namun, hakikat keberhasilan bukanlah usaha yang dilakukan tetapi untaian doa yang dipanjatkan lalu diiringi dengan semangat kerja yang optimal.
Doa harusnya menjadi pembuka awal dari setiap pertarungan di seluruh lini kehidupan.
2. Doa adalah intinya ibadah.
Rasulallah saw bersabda,
الدعاء مخ العبادة
Doa itu adalah intinya ibadah
Hakikat kehidupan adalah pengabdian. Dan pengabdian sejati adalah kepada Rabbul Izzati. Semua aktifitas hamba pada hakikatnya adalah realisasi doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba.
3. Doa adalah pintu kasih Allah swt.
Rasulallah saw bersabda,

الدعاء مفتاح الرحمة

Doa itu adalah kunci rahmat
Semua yang dinikmati manusia di dunia ini hanyalah kasih sayang Allah. Karena semua rizki yang dinikmati oleh seorang hamba lebih banyak yang diperoleh karena anugerah Allah dari pada hasil doa dan usaha manusia.
Oleh karena itu, supaya mampu menikmati karunia Allah Ta’ala sesuai dengan iradah-Nya kuncinya adalah berdoa.
Hidup ini adalah pengabdian dan pengabdian adalah permohonan dan doa, marilah berdoa dalam segala keadaan.
Wallahu a’lam.
Selamat malam dan selamat bermunajat.