Monthly Archives: October 2017

  • 0

Lilik Ummi Kaltsum: Tidak Ada Seorang Perempuanpun yang Rela Dipoligami

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin, IQTAF News Online – Ketua Jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA. mengatakan bahwa tidak ada seorang perempuan pun yang rela dipoligami. Hal itu disampaikannya kepada redaksi islamidotco ketika bertamu di ruang kerjanya, jumat (13/10).

Sebagai perempuan, Lilik juga tidak akan bisa menerima jika ia dimadu. Bahkan ia sering bertanya kepada teman-temannya yang menjadi korban poligami. Ia pernah bertanya kepada salah satu temannya, mengapa ia rela dipoligami.

“Saya pernah bertanya kepada teman saya yang dipoligami. Kata saya waktu itu, bu kok temannya banyak di rumah? Teman saya waktu itu bilang, udah biarin biar sama-sama ngarasain rasanya dipoligami.”

Hal ini menunjukkan bahwa memang tidak ada seorang perempuan pun yang rela kasihnya dibagi. Ia juga menuturkan bahwa orang-orang yang poligami itu kelihatannya saja rukun di depan publik. Tetapi kenyataannya, di kehidupan pribadi mereka satu sama lain tidak rukun, bahkan sering bertengkar.

“Ini kan kasihan!” tuturnya.

Dosen tafsir yang juga hafal al-Quran ini juga mengatakan jika seorang laki-laki sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menikah dengan empat orang perempuan, dia akan mencari dan menambah lagi bagaimanapun caranya.

Lilik menuturkan, berdasarkan kisah-kisah yang dialami teman-temannya, istri terakhir biasanya mau dinikahi karena dijanjikan akan menjadi yang terakhir.

Namun, kenyataannya tidak akan bisa demikian. Laki-laki yang sudah terbiasa poligami akan menambah lagi madunya walaupun sudah berisitri empat. Salah satunya dengan menceraikan istri terdahulu. Dan ujung-ujungnya, istri yang dijanjikan menjadi terakhir itu akhirnya merasakan juga pahitnya dimadu.

Namun demikian, bagi doktor ilmu tafsir ini, ia tidak sampai mengatakan bahwa poligami haram. Karena kasus poligami tidak serta merta sama. Kasus poligami dalam pandangan Lilik sangat kompleks dan al-Quran tidak menjelaskan secara jelas keharamannya.

Tetapi ia meyakini bahwa inti dari Q.S. An-Nisa ayat tiga adalah anjuran untuk beristri satu atau monogami. Lilik juga menganjurkan agar membaca al-Quran tidak hanya fokus dengan fikih, tetapi juga harus menemukan ruhnya. Seperti dalam hal poligami ini, ruh dari ayat tersebut adalah kehalusan bahasa al-Quran untuk monogami. Jika hanya fokus pada fikih, ayat itu akan diotak-atik agar dapat dijadikan legitimasi. Bisa dengan cara mencari khilah ataupun yang lain.

Penulis: M. Alvin Nur Choironi

Baca:


  • 0

Gombal, Jika Ada Pelaku Poligami yang Berdalih “Atas Nama Perjuangan”

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin, IQTAF News Online – Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA. salah satu tokoh mufassir perempuan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berpendapat bahwa tidak ada orang sekarang yang poligami seperti Rasulullah Saw. Baginya, gombal saja jika ada pelaku poligami yang berdalih untuk perjuangan. Hal ini disampaikan ketika redaksi islamidotcot berkunjung ke ruang kerjanya.

“Rata-rata sekarang tidak ada (poligami) yang seperti Rasul. Rata-rata ujung-ujungnya biologis. Kalau toh alasan dakwah itu hanya dibuat-buat.”

Dosen tafsir ini kemudian bercerita tentang kisah teman-temannya yang poligami. Salah satu cerita yang sempat dibagikan ke redaksi islamidotco adalah kisah seorang pendakwah yang katanya mendapat ilham di Multazam untuk poligami. Dengan alasan ilham dari Multazam itu, si pendakwah mengutarakan keinginannya untuk poligami kepada Istrinya.

Pendakwah itu beralasan jika ilham dari Multazam tersebut tidak dilaksanakan, ia khawatir hidupnya kurang berkah. Bahkan menurut pendakwah itu, calon madunya sudah ditetapkan melalui ilham dari Multazam itu. Bagi Lilik, ini adalah gombalan laki-laki yang dibuat-buat.

Lilik tidak ingin menuduh siapapun yang melakukan poligami dengan alasan dakwah, perjuangan atau menolong orang. Namun, Lilik berpendapat, seharusnya perjuangan, dakwah atau menolong orang lain bisa dilakukan tanpa menikahi, apa lagi sampai poligami.

“Kalau mau membantu tanpa menikahi, apa tidak bisa? Kalau mau menyekolahkan anaknya, ya sudah, sekolahkan saja anaknya tanpa menikahi ibunya. Kalau dibilang banyak dosanya karena sering bertemu ibunya, ya menurut saya solusinya, carikan suami dan biayai semua keperluannya, kalau memang dia niat menolong. Jangan dinikahi sendiri! Kasihan jomblo-jomblo itu loh.” Tuturnya.

Penulis: M. Alvin Nur Choironi

Baca:


  • 0

Sebelum Membaca Ayat Poligami, Pahami Dahulu Gaya Bahasa Al-Qur’an 

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin, IQTAF News Online – Akhir-akhir ini isu poligami kembali muncul ke permukaan setelah seorang ustadz memperkenalkan istri ketiganya ke tengah publik. Hal ini menjadi objek pro-kontra di kalangan khalayak.

Selain itu, beberapa kajian tentang ayat al-Qur’an terkait isu poligami juga semakin banyak. Karena al-Qur’an sering kali dijadikan legitimasi karena memuat ayat tentang poligami di dalamnya.

Dari dulu hingga sekarang, kajian terkait ayat-ayat poligami memang selalu berulang. Hal ini mengingat fenomena poligami yang sering kali terjadi dan tak pernah habis.

Menanggapi fenomena poligami yang kembali ramai diperbicangkan ke tengah publik, salah satu ahli tafsir dari kalangan perempuan yang sekarang menjabat sebagai Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA. ikut bersuara.

Bunda Lilik, sapaan akrabnya oleh mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, mengatakan bahwa sebelum membaca ayat al-Qur’an tentang poligami, seseorang seharusnya mengerti dahulu bagaimana cara al-Qur’an memberikan nasehat, bagaimana etika dan gaya bahasa yang digunakan.

“Yang harus diketahui oleh banyak orang, Gaya bahasa al-Qur’an itu selalu mengakhirkan etika utama yang dituju.” Ungkap Lilik kepada redaksi islamidotco.

Menurut Lilik, gaya bahasa al-Qur’an dalam memberikan nasehat sangatlah khas. Tidak hanya pada ayat poligami, banyak ayat-ayat lain yang menggunakan gaya bahasa demikian.

Lilik mencontohkan, dalam surat al-Nahl ayat 126 disebutkan bahwa jika kalian disiksa, maka balaslah sesuai dengan siksaan yang setara. Hal ini bukan berarti al-Qur’an memerintahkan untuk balas dendam. Justru al-Qur’an ingin menampakkan sifat manusiawinya. Siapapun orang yang disakiti pasti memiliki naluri untuk membalas. Dan al-Qur’an menyebutkan itu, tapi bukan itu inti dari perintahnya.

Tetapi bagi Lilik, ayat tersebut tidak bisa dipotong hanya sampai perintah membalas dengan balasan yang sama. Ayat tersebut harus dilanjutkan pada potongan ayat yang menyebutkan: “Tetapi jika kalian bersabar, maka sesungguhnya itu lah yang lebih baik.” Karena inti dari ayat tersebut adalah nasehat al-Qur’an untuk bersabar jika disakiti. Bukan pada anjuran membalas dendam. Ini adalah sisi kemanusiaan yang ditampakkan al-Qur’an.

Begitu juga dengan ayat tentang poligami, yakni al-Nisa’ ayat 3. Ayat ini, menurut Lilik, tidak bisa diambil sepotong, yakni hanya sampai “fankihuu ma thaba lakum minan nisa’i matsna wa tsulatsa wa ruba`.”

Memahami ayat ini harus dilanjutkan sampai “Wa in khiftum an laa ta’dilu fa waahidatan.” Karena poin inti nasehat al-Quran adalah terdapat pada akhir ayat ini. Al-Quran sebenarnya ingin memberikan nasehat agar seorang laki-laki hanya menikah dengan seorang wanita saja.

Sama seperti ayat tentang balas dendam di atas, Lilik menjelaskan bahwa potongan ayat tentang menikah dua sampai empat dalam al-Nisa’ di atas bukanlah anjuran untuk poligami. Melainkan hanya cara al-Qur’an untuk menggiring manusia Arab pada saat itu agar menikah dengan satu orang saja. Karena budaya Arab saat itu sangat lumrah jika ada seorang laki-laki yang memiliki istri banyak, bahkan bisa lebih dari 50.

Bagi Lilik, al-Qur’an datang untuk menghormati perempuan. Namun al-Qur’an memberikan nasehat yang sangat halus, dengan mengangkat terlebih dahulu naluri manusiawi seseorang, yakni beristri banyak, setelah itu membatasi dengan 4 orang istri saja. Baru kemudian disampaikan inti dari nasehatnya, yakni anjuran untuk beristri satu (monogami).

Hal ini diperlukan karena jika langsung dengan gaya bahasa to the point, justru akan sangat memberatkan orang-orang yang sudah terbiasa dengan budaya beristri banyak.

Dengan gaya bahasa al-Qur’an yang sangat halus tersebut, Lilik justru sangat menyayangkan ulah segelintir orang yang mendakwahkan Islam dengan cara-cara keras dan kasar.

Penulis: M. Alvin Nur Choironi

Baca: Sebelum Membaca Ayat Poligami, Pahami Dahulu Gaya Bahasa Al-Quran