Monthly Archives: December 2016

  • 0

Hadits Tangisan Orang Biadab?

Category : Artikel

*tulisan ini dibuat untuk membiasakan diri melakukan verifikasi dan validasi setiap informasi yang kita terima, serta semaksimal mungkin memastikan kebenaran informasi itu terlebih dahulu sebelum membaginya kepada yang lain.

Setelah melihat tayangan Ahok menangis di persidangan, tak lama kemudian (hanya hitungan menit) bertebaranlah di media sosial dan pesan (Whatsapp), kemudian menjadi viral, sebuah “hadits” berikut ini:
ﺇﺫﺍ ﺗﻢ ﻓﺠﻮﺭ ﺍﻟﻌﺒﺪ، ﻣﻠﻚ ﻋﻴﻨﻴﻪ، ﻓﺒﻜﻰ ﺑﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ
“Saat sempurna kebiadaban seorang hamba, maka ia dapat memiliki (mengendalikan) dua matanya, lalu ia dapat menangis dengannya kapanpun ia mau.” (HR. Ibn ‘Adī dalam kitab al-Kāmil Juz 4 hlm. 150)

Sesaat memang biasa saja dengan hadits tangisan orang biadab yang diposting sebagai respon terhadap tangisan Ahok tersebut.

Namun, ada yang menggelitik saya yaitu saat memperhatikan akhir dari terjemah hadits tersebut -sebagaimana tertulis- diriwayatkan oleh Ibn ‘Adī dalam kitab al-Kāmil lengkap dengan penyebutan juz dan halamannya(?).

Pertama, bagi orang yang tidak pernah atau tidak akrab dengan literatur tersebut, niscaya akan dengan mudah mengimani postingan tersebut karena yang digunakan adalah “hadits” Nabi. Tapi, apa cukup yakin bahwa “hadits” itu dapat diduga keras adalah benar-benar sabda Nabi? Ingat lho, siapa yang berdusta atas nama Nabi dengan sengaja, maka neraka lah tempatnya. Apalagi “hadits” itu digunakan atau dipakai (diksi yang lagi tren saat ini) hanya untuk merespon tangisan Ahok.

Baiklah teman-teman, mari simak sejenak pelacakan terhadap riwayat hadits ini.

Hadits dengan redaksi di atas bersumber dari sebuah literatur karya Ibn ‘Adī (365 H), seorang ulama besar dalam periwayat hadits, yang berjudul lengkap al-Kāmil fī Ḍu‘afā al-Rijāl (bukan al-Kāmil saja), sebuah karya yang berisi kumpulan orang-orang yang “lemah” (baca: daif) dalam meriwayatkan hadits. Saya ulangi, kumpulan orang-orang yang “lemah”.

Di dalam karya tersebut, Ibn ‘Adī tidak sedang meriwayatkan hadits tangisan orang biadab tersebut, melainkan sedang menjelaskan salah satu periwayat kontroversial dalam integritas meriwayatkan hadits bernama Ibn Lahī’ah yang oleh sejumlah ulama hadits dinilai sebagai lemah, “mudallis” dan “munkar” (periwayatannya bertentangan dengan orang yang terpercaya).

Terlepas dari penilaian ulama terhadap sosok periwayat hadits tersebut, Ibn al-Jawzī (seorang ahli hadits dan sejarawan kenamaan w. 597 H.) berpendapat bahwa “hadits” tersebut tidak benar berasal dari Rasulullah. Demikian pula halnya, al-Sakhāwī (902 H) menilai hadits tangisan biadab ini sangat lemah (ḍa‘īf jiddan).

Dengan demikian, menggunakan hadits ini atau sekedar menuliskannya tanpa menyebutkan status kelemahan (baca: kedaifan) riwayat ini adalah sebuah kesalahan, apalagi kemudian menyebarkannya seakan-akan “hadits” tersebut sungguh-sungguh berasal dari Nabi.

Kedua, mengingat hadits ini tidak terdapat di dalam karya-karya hadits populer (seperti Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, Sunan Abī Dāwūd, Sunan al-Nasā’ī, Sunan al-Tirmidzī, Ṣaḥīḥ Ibn Khuzaymah, Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, Sunan Ibn Mājah, dan kitab-kitab hadits populer lainnya), maka dapat dipastikan hanya orang-orang tertentu lah yang memiliki akses kepada karya Ibn ‘Adī, tempat “hadits” tersebut bersumber. Siapa dia? hampir dapat dipastikan, dia bukanlah seorang ustadz seleb yang sering tampil di tv, bukan juga dai-dai karbitan yang hanya bermodal kefasihan menyebutkan ayat al-Qur’an atau hadits, ia adalah seseorang yang familiar dengan literatur hadits.

Sampai di sini, terlihat jelas peran seseorang yang familiar dengan literatur keagamaan bahkan literatur klasik keislaman dalam penyebaran hadits tangisan biadab tersebut sebagai respon atas tangisan ahok. Apakah ini salah satu jenis pembodohan masyarakat (umat) yang dibungkus dengan agama? Orang ini pasti bukan orang bodoh atau awam, ia dapat dipastikan pintar atau menguasai agama yang dapat dikategorikan sebagai salah satu “ulama”. Hanya saja, sebagaimana yang Habib Rizieq sampaikan dalam salah satu pengajiannya, orang pandai ini disebut ‘Ulamā’ Sū’ (ulama buruk) yang membohongi atau menipu umat “pakai” ayat atau “pakai” hadits.

Ketiga, penyakit “copas” dan “share” yang menjangkiti masyarakat pelan-pelan harus diobati. Hentikan kebiasaan buruk itu, sebab Nabi pernah bersabda:

كفى بالمرء من الكذب أن يحدث بكل ما سمع

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta, jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Al-Ḥākim)

Hadits ini jika dikontekstualisasikan pada kondisi saat ini maka berarti: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta, jika ia mengcopas dan share semua yang ia baca dan terima di gadget atau laman medsosnya.” Kita tidak harus selalu menyebarkan semua yang kita ketahui dan pahami, tetapi kita wajib memahami betul apa yang kita sebarkan.

Terakhir, mengapa “hadits” tangisan orang biadab ini bisa dengan mudahnya langsung disematkan kepada Ahok? Karena Ahok dianggap biadab? Bagaimana dengan kita yang juga kerap kali menangis dalam beberapa kondisi? bukan karena kita biadab juga kan… ya sudahlah… silakan mengukur tingkat kebiadaban masing-masing.

Penulis: Rifqi Muhammad Fatkhi, MA

Baca lain:

       Hadits Tangisan Orang Biadab?


  • 0

Mahasiswa IQTAF Belajar Metode Pembelajaran Al-Qur’an di Ponpes Kuningan Jawa Barat

Category : Berita

Kuningan, Jawa Barat. IQTAF News. Sekitar 120 Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir berkunjung ke Pondok Pesantren Ash-Shidqu dan Pondok Pesantren Husnul Khotimah di Kuningan Jawa Barat (06/12/2016). Kegiatan ini merupakan Praktikum Pengalaman Lapangan (PPL) yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain mahasiswa dari Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir juga dari Prodi Studi Agama-agama dan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.

IMG_3978Dalam kegiatan ini, mahasiswa diberi tugas oleh dosen pendamping untuk mencatat informasi dan pengetahuan yang terkait tentang: 1) Kitab Tafsir dan Kitab Hadis apa yang dipakai dalam pengkajian kedua Pesantren tersebut?; 2) Bagaimana metode pembelajarannya?; dan 3) Bagaimana toleransi masyarakat Cigugur dan dikuatkan dengan dalil al-Qur’an dan hadis.

Pertama, Kitab-kitab tafsir yang digunakan dalam pengkajian di Pesantren As-Shidqu seperti Tafsir Jalalain, Tafsir al-Maraghi, Tafsir al-Munir, Tafsir al-Razi, Tafsir al-Thabari dan lain-lain. Sedangkan kitab-kitab hadis yang dipakai adalah Kutub al-Tis’ah dan kitab-kitab pendukung lainnya seperti Subulus Salam, Fath al-Bari, Jami’ al-Ushul dan lain-lain.[1] Tidak terlalu berbeda, Pondok Pesantren Husnul Khotimah juga menggunakan berbagai macam kitab-kitab tafsir, hanya saja dikumpulkan dalam bentuk satu kitab yang dicetak untuk dikaji. Adapun kitab hadis yang dipelajari adalah ‘Araba’in al-Nawawi.[2]

Kedua, Habib Anis Assegaf menjelaskan metode pembelajaran yang digunakan di Ponpes As-Shidqu [As-Shidqot_untuk pondok putri][3] mengacu pada metode pesantren Darul Mustafa[4] di Yaman dengan 3 aspek penekanan yaitu: a) Masudul ‘Ilmi [agar ilmunya bertambah]; b) Tazkiyah, maksudnya ilmu tasawuf, wirid, zikir [mensucikan hati]; dan c) Taghogatu Da’wah, maksudnya adalah agar menjadi Da’i yang berkualitas. Contohnya, di Pesantren ini, diterapkan peraturan tidak boleh terlambat untuk berjama’ah (masbuk), apabila terlambat maka santri dihukum untuk melaksanakan shalat taubat.[5] Ketiga penekanan metode ini lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas dengan tujuan merubah yang baik menjadi lebih baik.[6]

Sedangkan metode pembelajaran di Pondok Pesantren Husnul Khotimah memakai metode modern mecontoh di Pesantren Gontor Jawa Timur dengan menerapkan Bahasa Inggris dan Arab dalam interaksi keseharian,[7] baik diskusi, ceramah dan lain-lain dalam proses pembelajaran di kelas.[8] Mata pelajaran yang diajarkan juga cukup banyak di antaranya, al-Qur’an, al-Hadis, Tafsir al-Qur’an, Ulum al-Qur’an, Ulum al-Hadis, Fiqh, Ushul Fiqh, Aqidah Akhlak, Shirah Nabawiyah, Fiqh Shiroh. Dalam bidang bahasa, di antaranya Bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Balaghah, Qawaid, Nahwu-Sharaf, dan Khaf/Imla’. Sedangkan bidang science dan social di antaranya Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Antropologi, Tata Negara, Komputer. Dan Ekstrakurikulernya dibagi beberapa bidang yaitu Bela Diri, Seni, dan Olahraga.[9]

Ketiga, Toleransi Masyarakat Desa Cisantana Kec. Cigugur Kab. Kuningan Jawa Barat. Asal mula terdapat banyak agama di wilayah ini adalah pada tahun 1965 ada sebuah agama yang diyakini mayoritas masyarakat, yaitu Agama Djawa Sunda (ADS). Ketika ada peraturan dari Negara yang mewajibkan penduduk Indonesia untuk memeluk salah satu dari lima agama yang disahkan oleh Negara, maka mayoritas masyarakat ADS beralih ke Agama Katolik dan ada pula yang beralih ke agama-agama lain.[10] Hingga saat ini perkembangan agama-agama tersebut masih terus beranak-pinak dari keturunan-keturunan yang dilahirkan secara turun-temurun di Desa Cisantana tersebut. Kondisi masyarakat pun terbilang harmonis menurut laporan Kepala Desa Cisantana (nama tidak diketahui). Menurutnya, desa tersebut belum pernah terjadi keributan dan konflik antar agama, karena hubungan kekeluargaan yang masih erat antar pemeluk agama, satu keluarga dengan nasab Ayah dan Ibu bisa saja memiliki agama yang beragam.[11]

Keharmonisan beragama Desa Cisantana tercermin dalam QS. Al-Kafirun [109]: 6;

َلَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Sosio-kultur tak ada sekat baik secara komunikasi, perkembangan ekonomi harus tetap bekerjasama dengan baik. Sementara dalam agama tak ada campur baur yang berarti dibatasi dengan toleransi.[12]

 

 

 

__________________________

[1] Syahrul Pebriandi, “Laporan Hasil Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) ke Pondok Pesantren As-Shidqu, Pondok Pesantren Husnul Khotimah dan Kampung Cigugur Kuningan”, 06 Desember 2016.

[2] Tria Meldiana, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir”

[3] Pada tahun 2015 pesantren ini meraih Juara 2 sebagai Pondok Pesantren Terbersih se-Jawa Barat.

[4] Tria Meldiana, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir”

[5] Anzah Muhimmatul Iliyyah, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin”, 06 Desember 2016.

[6] Imas Maulida, “Laporan PPL Kunjungan Pondok Pesantren As-Shidqu dan Husnul Khatimah” (Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016)

[7] Evi Latifah, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Kuningan”.

[8] Mega Nur Fadhila, “Tugas PPL ke Kuningan”.

[9] Tria Meldiana, “Laporan PPL Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir”

[10] Khanifatur Rahma, “Laporan Kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke Kuningan Jawa Barat”, 2016.

[11] Penida Nur Apriani, “Laporan Praktek Pengalaman Lapangan ke Kuningan Jawa Barat”, (Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016)

[12] Penida Nur Apriani, “Laporan Praktek Pengalaman Lapangan ke Kuningan Jawa Barat”, (Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016)


  • 0

M. Alvin Nur Choironi, Ketua Tim Jurnal KULMINASI

Category : Berita

Gedung Kemahasiswaan, IQTAF NewsPada acara penganugerahan SAA (Student Achievement Award) Rabu (7/12/2016) lalu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Prod. Dr. Yusran Razak menyampaikan sambutan yang terkesan istimewa. Setelah naik ke atas panggung, di sampingnya didirikan tripod dengan pigura yang ditutup kain biru.

“Saat ini, mahasiswa UIN Jakarta akan memiliki jurnal sebagai basis penguatan riset di UIN Jakarta,” ujar Prof. Yusran di hadapan para hadirin yang terdiri dari para Dekan, Wakil Dekan, serta mahasiswa-mahasiswa undangan SAA.

Gemuruh tepuk tangan membahana di Auditorium Utama Harun Nasution. Prof. Yusran membuka kain penutup, tampak pigura yang dijelaskan olehnya. “Dengan ini saya resmikan jurnal ilmiah mahasiswa UIN Jakarta. Jurnal ini adalah karya mahasiswa, dinamakan KULMINASI,”. Tak lama, para redaktur jurnal mahasiswa dan beberapa pengelola kampus naik ke panggung dan berfoto bersama Warek III yang memegang cetakan jurnal.

KULMINASIJurnal KULMINASI ini diinisiasi oleh beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Pelatihan Riset Mahasiswa yang diselenggarakan Kemahasiswaan UIN Jakarta. “Pelatihan riset dan karya ilmiah yang diselenggarakan beberapa bulan lalu diharapkan menjadi pemacu semangat teman-teman mahasiswa dalam menggerakkan gairah ilmiah di UIN Jakarta,” tutur Khoirul Umam, salah satu petugas administrasi yang mengurusi pelatihan riset mahasiswa ini di Gedung Kemahasiswaan kepada BERITA UIN.

Selanjutnya, jurnal KULMINASI ini berisi himpunan artikel dari pelbagai disiplin keilmuan. Tercatat ada 10 artikel ilmiah yang dimuat di jurnal ini, baik dari bidang studi agama, politik internasional, ekonomi, pendidikan, juga biologi. Sebagaimana dituturkan oleh Alvin Nur Choironi, ketua tim jurnal KULMINASI, penyusunan jurnal ini diharapkan tidak berhenti pada peluncuran saja.

“Selanjutnya kami berharap, di masa-masa selanjutnya KULMINASI bisa lebih dikenal oleh masyarakat UIN khususnya mahasiswa, sehingga dapat menjadi saluran karya-karya intelektual mereka,” ujar mahasiswa prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir ini. “Selanjutnya, kami akan coba mempublikasikan jurnal ini ke sivitas akademika UIN, dan mendiskusikannya lebih lanjut dengan LP2M dan PPIM UIN Jakarta,” imbuhnya.

Alasan mengapa jurnal ini dinamakan KULMINASI, sebut Alvin, adalah usaha mahasiswa melalui jurnal ini untuk mencapai kulminasi atau puncak interaksi keilmuan, intelektual serta dialog multidisipliner, khususnya di kalangan mahasiswa.

Selain kegiatan peluncuran jurnal ilmiah mahasiswa, SAA 2016 lalu menganugerahkan penghargaan untuk kurang lebih 230 prestasi mahasiswa dari berbagai kriteria dan kategori. Kategori yang mendapat penghargaan adalah di bidang kompetisi dan pembicara berskala nasional maupun internasional, karya tulis, aksi sosial dan hafiz Al-Quran. (lrf/Iqbal Syauqi)