Category Archives: Artikel

  • 0

Mahmud Yunus Sebagai Tokoh Pelopor Pendidikan di Indonesia

Category : Artikel

Oleh: Nia Ariyani[1]

Abstrak

Mahmud Yunus adalah Tokoh Pelopor Pendidikan di Indonesia. Kepeloporannya ini dapat dilihat dari berbagai macam literatur-literatur dalam berbagai macam bidang yang ia tuliskan. Di antaranya literatur dalam bidang pendidikan, bidang “fiqh” (fiqih), Bahasa Arab, Akhlaq, Tafsir, dan sebagainya. Dalam perkembangan Literatur Tafsir Indonesia, Mahmud Yunus menempati posisi dan peran penting bagi upaya-upaya penulisan berbagai macam literatur di Indonesia. Bahkan, ia disebut sebagai Bapak Pelopor Pendidikan di Indonesia.

Keyword: Mahmud Yunus, pelopor, pendidikan, tafsir.

Pendahuluan

Mahmud Yunus adalah pelopor pembaharuan pada dunia pendidikan Islam seperti pembaharuan dalam metode pengajaran dan pendidikan, pembaharuan kelembagaan dan pengenalan pengetahuan umum dan pembaharuan pengajaran Bahasa Arab, dan memasukkan pelajaran Agama ke kurikulum sekolah pemerintah.

Mahmud Yunus juga mempunyai kiprah pada lembaga pendidikan Islam, seperti berdirinya Madrasah School, Normal Islam, PGAI, SMI, dan merintis berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam.[2]

Begitu besar peran serta kontribusi yang telah dibangun oleh Mahmud Yunus. Sehingga, pada kesempatan ini penulis akan mendeskripsikan kepeloporan Mahmud Yunus dalam dunia Pendidikan, khususnya perannya di Indonesia. Untuk mengetahui peran kepeloporan tersebut, dalam karya ilmiah ini penulis menguraikan tentang biografi, latar belakang pendidikan, karya-karya, terutama karya Tafsir Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Biografi Mahmud Yunus

Mahmud Yunus dilahirkan pada tanggal 10 Februari 1899 M atau bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1316 H. Ia di desa Sungayang Batu Sangker, Sumatera Barat. Ibunya bernama Hafshah dan ayahnya bernama Yunus bin Incek. Ayahnya berasal dari marga Mandailing dan Ibunya dari suku Caniago.

Mahmud Yunus berasal dari keluarga yang memiliki keagamaan yang sangat kuat. Sehingga dalam keluarga telah terbina religiusitas di dalam diri Mahmud Yunus.

Pada awal tahun, 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak-balik masuk rumah sakit. Pada tahun, 1982 Mahmud Yunus memperoleh Gelar Doctor Honoris Causa di Bidang Ilmu Tarbiyah di IAIN Jakarta atau sekarang pada (2018) lebih dikenal dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian pada tahun 1982 Mahmud Yunus meninggal dunia.

Latar Belakang Pendidikan

Sejak kecil Mahmud Yunus sudah memperlihatkan kecenderungannya yang kuat dalam dalam belajar, khususnya kecenderungan memperdalam Ilmu Agama Islam. Ketika berusia 7 tahun Mahmud Yunus belajar membaca Al-Qur’an dengan kekeknya yang bernama M. Thahir atau biasa dikenal dengan Engku Gadang.

Pada tahun 1908, Mahmud Yunus meminta restu kepada Ibunya untuk belajar di sekolah yang baru dibuka disekitar tempat tinggalnya, yaitu masyarakat desa Sungayang. Mahmud Yunus belajar di sekolah pada siang hari, dan malam harinya Mahmud Yunus membantu kakeknya belajar mengaji. Setiap hari Mahmud Yunus melakukan runinitas ini dengan tekun dan penuh prestasi.

Pada Tahun 1910, Mahmud Yunus menjadi murid di Madras School,[3] yang madrasah ini dibuka oleh H. M. Thalib Umar.[4] Di Madras School inilah Mahmud Yunus hanya mempelajari ilmu-ilmu Keislaman, seperti: Ilmu nahwu dan Ilmu Sharaf, berhitung menurut sistem ahli hisab Arab, dan belajar mempraktikkan percakapan Bahasa Arab.

Pada tahun 1924, Mahmud Yunus di Universitas Al-Azhar, mendapat prestasi istimewa. Ia mencoba untuk menguji kemampuannya dalam Ilmu-Ilmu Agama dengan mengikuti ujian akhir. Untuk memperoleh syahadah ‘alimiyyah, yaitu ujian akhir bagi siswi-siswa yang telah belajar sekurang-kurangnya 12 tahun (ibtidaiyyah 4 tahun, tsanawiyah 4 tahun, dan aliyyah 4 tahun). Ujian ini diikuti dengan baik oleh Mahmud Yunus. Sehingga dengan baik dan berhasil lulus serta mendapatkan ijazah (syahadah ‘alimiyyah). Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Darul ‘Ulum ‘Ulya, Mesir (1925), di sini pula ia mempelajari pengetahuan umum.

Setelah melalui berbagai macam pendidikan, Mahmud Yunus sangat terkesan dengan sistem pendidikan pada Darul ‘Ulum ‘Ulya. Sehingga, perkuliahan di Darul ‘Ulum ‘Ulya mulai dari tingkat pertama sampai tingkat ke IV dilalui dengan baik, bahkan pada tingkat terakhir mrmperoleh nilai tertinggi pada mata kuliyah Insya (mengarang).[5]

Literatur-literatur atau Karya-karya Mahmud Yunus

Karya Mahmud Yunus, berupa literatur-literatur dalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Ini menandakan bahwa Mahmud Yunus sangat produktif dalam mengahasilkan karya. Karya-karya Mahmud Yunus di antaranya: Bidang Pendidikan, Bidang Bahasa Arab, Bidang Fiqih, Bidang Tafsir, Bidang Akhlaq, Bidang Sejarah Islam, dan sebagainya. Berikut ini uraiannya:[6]

Bidang Pendidikan

Menghasilkan 6 (enam) karya:

  1. Pengetahuan Umum dan Ilmu mendidik
  2. Metodik Khusus Pendidikan Agama
  3. Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia
  4. Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran
  5. At-Tarbiyah wa At-Ta’lim
  6. Pendidikan di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat

Bidang Bahasa Arab

Menghasilkan 15 (lima belas) karya:

  1. Pelajaran Bahasa Arab 1
  2. Pelajaran Bahasa Arab 11
  3. Pelajaran Bahasa Arab 111
  4. Pelajaran Bahasa Arab 1V
  5. Metodik Khusus Bahasa Arab
  6. Kamus Arab Indonesia
  7. Contoh Tulisan Arab
  8. Muthala’ah wa al-Mahfuzhaat
  9. Durus al-Luqhah al-Arabiyah ‘ala Thariqati al-Hadistsah 1
  10. Durus al-Luqhah al-Arabiyah ‘ala Thariqati al-Hadistsah 11
  11. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah I
  12. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah II
  13. Durusu al-Lughah al-Arabiyyah III
  14. Mukhadatsah al-‘Arabiyyah
  15. Al-Mukhtaraat li al-Muthala’ah wa al-Mahfuzhaat

Bidang Fiqh

Dalam Bidang “Fiqh” (Menghasilkan 17 karya):

  1. Marilah sembahyang I
  2. Marilah sembahyang II
  3. Marilah sembahyang III
  4. Marilah sembahyang IV
  5. Puasa dan Zakat
  6. Haji ke Mekah
  7. Hukum Waris Dalam Islam
  8. Hukum Perkawinan Dalam Islam
  9. Pelajaran Sembahyang Untuk Orang Dewasa
  10. Soal Jawab Hukum Islam
  11. Al-Fiqhu al-Wadhih
  12. Fiqhu al-Wadhih al-Nawawy
  13. Al-Masailu al-Fiqhiyyah ‘ala Mazahibu al-Arba’ah

Bidang Tafsir

Menghasilkan 15 (limabelas) karya:

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim
  2. Tafsir Al-Faatihah
  3. Tafsir Ayat Akhlaq
  4. Juz ‘Amma dan Terjemahannya
  5. Pelajaran Huruf Al-Qur’an 1973
  6. Kesimpulan Isi Al-Qur’an
  7. Alif Ba Taa wa Juz ‘Amma
  8. Muhadharat wa Israiliyyah fii Tafsir wa al-Hadist
  9. Kamus Al-Qur’an I
  10. Kamus Al-Qur’an II
  11. Kamus Al-Qur’an Juz 1-30
  12. Surah Yasin dan Terjemahannya

Bidang Akhlaq

Bidang Akhlaq Menghasilkan 9 (Sembilan) karya:

  1. Keimanan dan Akhlaq I
  2. Keimanan dan Akhlaq II
  3. Keimanan dan Akhlaq III
  4. Keimanan dan Akhlaq IV
  5. Beriman dan Berbudi Pekerti
  6. Lagu-Lagu Pendidikan Agama atau Akhlaq
  7. Akhlaq Bahasa Indonesia
  8. Moral Pembangunan dalam Islam
  9. Akhlaq

Bidang Sejarah

Dalam bidang Sejarah menghasilkan 5 (lima) karya:

  1. Sejarah Pendidikan Islam
  2. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
  3. Tarikh Al-Fiqh Al-Islami
  4. Sejarah Islam di Minangkabau
  5. Tarikh Al-Islam

Bidang Perbandingan Agama

Dalam Bidang Perbandingan Agama menghasilkan 2 (dua) karya:

  1. Ilmu Perbandingan Agama
  2. Al-Adyaan
  3. Bidang Dakwah
  4. Pedoman Dakwah Islamiyyah
  5. Bidang Ushul Fiqh
  6. Mudzakarat Ushul Al-Fiqh
  7. Bidang Tauhid
  8. Durus At-Tauhid

Dari berbagai literatur-literatur yang Mahmud Yunus tulis di atas. Di sinilah ia mendapat gelar, Tokoh Pelopor Pendidikan di Indonesia. Selain itu, Mahmud Yunus juga termasuk pada tokoh pelopor Tafsir berbahasa Indonesia. Tafsiran Mahmud Yunus dalam dilihat pada contoh dibawah ini.

Contoh Penafsiran Tafsir Qur’an Karim Karya Mahmud Yunus

Di dalam kitab Tafsir Qur’an Karim, Mahmud Yunis menuliskan bahwa, Tafsir ini sertan kesimpilan isi al-Qur’an, bukanlah terjemahan dari kitab Bahasa Arab, melainkan hasil penyelidikan pengarang sejak berumur l.k 20 (duapuluh tahun) sampai sekarang 73 tahun. Dalam Tafsir Qur’an Kari mini yang lebih dipentingkan adalah  menerangkan dan menjelaskan petunjuk-petunjuk yang termaktub dalam al-Qur’an untuk diamalkan oleh kaum Muslimin.[7]

Berikut ini contoh penafsiran Tafsir Qur’an Karim, karya Mahmud Yunus, pada QS. al-Fīl ayat 1-5.[8]

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحبِ الْفِيْلِ (1) اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ (2) وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَ (3) تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ (5)

“Tidaklah Engkau (Muhammad) perhatikan bagaiman Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?[9](1); bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? (2); dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, (3); yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, (4); sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat), (5).”

“Adapun balatentara bergajah itu, Raja Yaman yang datang ke Negeri Mekkah hendak meruntuhkan Ka’bah dengan membawa laskar dan Gajah yang kuat. Setelah mereka hampir masuk ke Negeri Mekkah, lalu beberapa burung menjatuhkan batu (tanah yang keras), boleh jadi didalamnya banyak hama penyakit cacar, sehingga mereka semuanya dihinggapi penyakit itu, akhirnya badan mereka hancur luluh seperti daun kayu dimakan binatang atau ulat. Pendeknya maksud mereka hendak meruntuhkan Ka’bah tiadalah berhasil adanya.”[10]

Metodologi Tafsir Al-Qur’an Mahmud Yunus

Metodologi Tafsir adalah ilmu tentang metode penafsiran Al-Qur’an.[11] Atau biasa diartikan sebagai ilmu tentang cara penafsiran Al-Qur’an.

  1. Metode Penafsiran

Tafsir Al-Qur’an Mahmud Yunus, menunjukkan metode Taḥlīlī. Metode Taḥlīlī adalah metode menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkadung di dalamnya, yang urutannya disesuaikan dengan tertib surat yang ada dalam mushaf Ustmani.[12] Atau di dalam buku, Sejarah dan ‘Ulum Al-Qur’an, yamg ditulis oleh Azyumardi Azra, bahwa, Metode Taḥlīlī secara harfiah berarti, “Tafsir yang me-nguraikan berdasarkan bagian-bagian[13], atau tafsir parsial.”

  1. Corak Penafsiran (laun)

Corak penafsiran dalam beberapa ayat hanya dikutif beberapa kosa kata yang dapat dikatakan yang ditafsirkan merupakan kata kunci dari ayat.

  1. Metode Pemikiran Mahmud Yunus

Metode pemikiran Mahmud Yunus cendrung kearah penafsian bi al-Riwayah, yakni tafsir dengan riwayat atau disebut juga dengan Tafsir bi al-Mauqul (tafsir yang menggunakan pengutipan riwayat).[14]

Untuk mengetahui kecenderungan metode penafsirah Mahmud Yunus yang dapat dikategorikan dengan corak bi al-Riwayah, dapat dilihat dari bagaimana Mahmud Yunus menyingkap ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsirnya sebagai berikut: Dalam menafsirkan surah Al-Fath ayat 10 يَدُااللّهَ فَوْقَ اَيْدِهِمْ dan surat Ali-‘Imrat surat 26 dan 73 yang masing-masing ada kata بِيَدِكَ الْخَيْرِdan بِيَدِ اللهِyang ayat tersebut dapat membawa pemahaman antropomorpisme.

Mahmud Yunus mengartikan kata يَدٌ dengan tangan, maka dari sisi ni Mahmud Yunus memaknai teks Al-Qur’an secara harfiyah. Penafsiran ini didasarkan pada riwayah yang mengatakan bahwa ayat ini turun ketika orang-orang bersetia teguh kepada Muhammad, berjabat tangan dengan Muhammad, dan mengumpamakan tangan Nabi Muhammad sebagai tangan Allah, seperti yang diungkap Mahmud Yunus dalam Al-Qur’an Al-Karim. Jadi, penafsiran ini menunjukkan Metode Tafsir bi Al-Riwayah.

Sistematika pembahasan dalam menyusun Tafsirnya, Mahmud Yunus memulai dengan  bab ke- 1 (satu) berisi pendahuluan, bab ke-2 berisi tentang indeks-indeks istilah, bab ke-3 (tiga) berisi nama-nama surah dan juz, bab ke- 4 berisi teks, terjemah dan catatan-catatan, dan bab ke-5 berisi garis besar kandungan setiap surat.[15]

Penutup

Mahmud Yunus adalah tokoh pelopor pendidikan di Indonesia. Karyanya yang sangat banyak. Menunjukkan betapa banyak kontribusi yang Mahmud Yunus berikan pada Literasi dan Pendidikan di Indonesia.

Sosok teladan Mahmud Yunus, dapat menjadi contoh teladan bagi ge-nerasi penerus Bangsa Indonesia.Mengapa demikian?Karena seorang penggagas, literasi, dan pelopor pendidikan Indonesia sangat dibutuhkan banyak generasi yang mewarisinya (pendidikan).

Sebagai seorang pelopor pendidikan Mahmud Yunus memiliki beberapa pemikiran tentang Pendidikan Islam, sebagai berikut:

  1. Tujuan Pendidikan Islam adalah mendorong seseorang agar mengamalkan ajaran Islam secara sempurna.
  2. Kurikulum Pendidikan merupakan unsur-unsur penting dan tidak dapat terpisahkan dalam proses pembelajaran, juga tidak dipisahkan antara mata pelajaran umum dan mata pelajaran Agama.
  3. Tentang Kelembagaan, Mahmud Yunus mengubah sistem pendidikan yang sebelumnya individual menjadi klasikal. Maksudnya Guru mesti mengawasi dan mengarahkan potensi murid-muridnya secara maksimal.
  4. Tentang Pendidikan diprioritaskan Akhlak bagi pendidikan.[16]

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al-Karim

Amir, Mafri Literatur Tafsir Indonesia, Tangsel: Madzab Ciputat, 2013.

Amursid, M dan Asra, Amaruddin,  Jurnal Syahadah, Vol. III No. 2, Oktober 2015.

Azra, Azyumardi,  Sejarah dan ‘Ulum Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013.

Anwar, Rosihon, Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2005.

Iskandar, Edi, Mengenal Sosok Mahmud Yunus, dalam Potensia: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2017.

Malta, Rina, Pemikiran dan Karya-Karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus Tentang Pendidikan Islam (1920-1982). Masters Thesis, Universitas Andalas.

Syarifuddin, M. Anwar dan Azizy, Jauhar, Ilmu Ushuluddin, Vol. 2, No. 3 Januari-Juni 2015.

Syibromasili, Faidzah Ali dan Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, Tangsel: Lembaga Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012.

Yunus, Mahmud, Tafsir Qur’an Karim, h. 918-919.

 

____________________

[1]Nia Ariyani adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[2]Rina Malta, Pemikiran dan Karya-Karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus Tentang Pendidikan Islam (1920-1982).Masters Thesis, Universitas Andalas.

[3]Penamaan Madras School, berawal dari usulan sahabatnya, Abdullah Ahmad di Padang yang mendirikan Adabiyah School. Menurut Abdullah Ahmad, nama lembaga perlu dipertimbangkan dengan memakai istilah orang Eropa. Agar penjajah (Belanda) tidak mencurigai Lembaga Pendidikan seperti yang dialami selama ini.

[4]Muhammad Thaib Umar, lahir pada tahun 1874 di Sungayang.Ia berasal dari keluarga yang taat menjalankan Agama.

[5]Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, (Tangsel: Madzab Ciputat, 2013), cet. ke-2, h. 61-66.

[6]Mafri Amir, Literatur Tafsir Indonesia, h. 66.

[7]Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim (Jakarta: PT. Hidakarya Agung Jakarta, 2004), Cet. Ke-72, bagian pendahuluan V.

[8]Departemen Agama RI, Al-Qur’an Al-Karim, h, 601.

[9]Pasukan yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yanan yang hendak menghancurkan Ka’bah. Sebelum masuk ke kota Me’kah, pasukan tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

[10]Mahmud Yunus, Tafsir Qur’am Karim (Jakarta: PT. Hidakarya Agung Jakarta: 2004), Cet. Ke-73, h.918-919.

[11]Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir (Bandung: Pustaka Setia, 2005), Cet. Ke-3, h. 175.

[12]Faizah Ali Syibromasili dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern (Tangsel: Lembaga Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012), cet Ke-2, h, 6.

[13]Bagian-bagian dalam Tafsir Taḥlīlī, di antaranya: a. Menerangkan hubungan munasabah, menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat, menjelaskan hukum, menerangkan makna, dan unsur-unsur fashahah, bayan, dan i’jaznya yang ditafsirkan mengandung keindahan balaghah.

[14]Azyumardi Azra, Sejarah dan ‘Ulum Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), Cet. Ke-5, h. 174.

[15]M. Amursid dan Amaruddin Asra, Jurnal Syahadah, Vol. III No. 2, Oktober 2015, h. 12.

[16]Edi Iskandar, Mengenal Sosok Mahmud Yunus, dalam Potensia: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 3, No. 1, Januari-Juni 2017, h. 58-59.


  • 0

Tipu Daya

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

“Ghurur” adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu  yang cocok dengan hawa nafsu karena tipu daya setan. Orang-orang yang telah tertipu oleh kenikmatan dunia dan rayuan setan sering berkata, kita harus menikmati dunia karena akhirat belum pasti adanya. Kita harus mendahulukan kepentingan hidup di dunia karena kita hidup di dunia dan akhirat masih lama. Mari kita nikmati masa muda dengan kenikmatan dunia sebelum datang usia tua. Gaya bahasa beracun ini sering kali menipu anak manusia.

Hidup di dunia hanyalah sementara dan tidak lama.  Perbandingan dunia dan akhirat satu hari di akhirat sama dengan 1000 atau 50.000 tahun di dunia. Karena dunia hanya sementara, maka semua yang ada di dunia juga sementara.

Hidup adalah sementara. kaya dan miskin, muda dan tua, sehat dan sakit, cantik dan jelek semuanya sementara dan sebentar lagi akan berakhir. Hati-hati oleh tipu daya setan sangat menggoda.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqmān/31: 33)

Setiap manusia akan diminta pertanggungan jawab terhadap semua yang dilakukannya saat hidup di dunia. Seseorang tidak akan bertanggung jawab atas perbuatan orang lain.

Tipu daya setan dan gemerlapan dunia sering kali memperdaya manusia hingga terjerumus kedalam kubangan dosa dan maksiat.

 Allah Ta’ala berfirman,

 يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka menjawab, benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” (QS. al-Ḥadīd/57: 14)

Mensiasati tipu daya

Para ulama sepakat bahwa untuk mencapai maqom tertentu dalam jejak spiritualitas ada tiga syarat utama.

  1. Mengenal hakikat

Dunia pada hakikatnya hanyalah halte kehidupan. Bila saatnya datang sang penjemput, semewah apapun dunia harus ditinggalkan. Kesadaran bahwa dunia hayalah tempat persinggahan sementara, akan membuat manusia selalu mawas diri.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat dunia, menginginkan hidup abadi di tempat sementara. Dan itu adalah kebodohan yang nyata.

 Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imrān/3: 185)

Kesadaran bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, sudah cukup sebagai terapi dalam menghadapi tipu daya setan. Seandainya Allah Ta’ala memberikan kekayaan dan kesehatan yang prima itu hanyalah sementara dan tak lama lagi semua itu akan sirna. Apabila manusia sedang mendapatkan penderitaan dengan ujian berupa sakit dan kekurangan harta, itu juga sementara dan sebentar lagi semua derita akan berlalu. Semua itu datang dan tak lama lagi akan pergi. Jangan bangga dengan kesehatan dan kekayaan karena sebentar lagi akan datang kemiskinan dan sakit di sekujur badan. Apabila manusia sedang ditimpa musibah, jangan sedih dan meratap, karena semua penderitaan akan berakhir.

 Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. al-An’ām/6: 32)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. al-Baqarah/2: 86)

Orang-orang yang tidak mengenal hakikat dunia, akan melakukan perbuatan yang melampaui batas, bersenang-senang dengan “sampah kehidupan”, bermaksiat, memakan yang haram dan menzalimi dirinya sendiri. Saat meninggal dunia, maka tempat kembalinya adalah jahanam.

Allah Ta’ala berfirman,

 فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya).” (QS. al-Nāzi’at/79: 37-39)

  1. Menata kondisi batin

Hati selalu berubah dan tidak tetap. Dalam kondisi tertentu, manusia merasakan dekat dengan Tuhannya, hatinya tenang dan damai, lalu berbagai amal soleh menghiasi kesehariannya. Namun, dalam waktu yang lain, manusia merasakan kehampaan dan kesendirian hingga terbawa oleh bisikan setan.

Untuk memelihara agar kondisi batin selalu terjaga dan berada dalam koridor Ilahiyat, maka manusia harus melakukan beberapa hal;

Pertama, berdoa agar Allah Ta’ala selalu membimbingnya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Allah yang membolak balikkan hati, tetapkan hatiku selalu dalam agamamu.

Kedua, Berzikir tanda orang hidup dan tanpa berzikir orang akan mati. Kehidupan ruhani adalah berzikir dan tanpa berzikir, ruhani akan mati dan membeku. Selalu mengingat Allah Ta’ala dan menyebut-nyebut nama-Nya akan membangunkan kesadaran berketuhanan atau “lahut” di dalam diri manusia.

Ketiga, melakukan “riyadhah al-nufūs”.  Penyucian diri adalah salah satu cara agar kondisi selalu dalam keadaan sehat dan tidak terjangkiti penyakit hati.

  1. Berbuat sesuai hakikat

Rasulullah bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)

Dunia tidak lebih hanya bagaikan mencelupkan jari ketengah samudera yang luas, lalu perhatikanlah berapa banyak air yang ada di jarimu, nah itulah dunia.

Berjalan di muka bumi sesuai  dengan pengetahuan manusia tentang hakikat dunia. Karena dunia hanya peristirahatan sejenak, maka berbuatlah sesuai dengan itu.

Banyak orang yang tidak menyadari tipu daya dunia ini mereka terpesona mengejar kesenangan hidup di dunia dan tidak peduli dengan kehidupan akhirat yang lebih besar.

Seluruh usaha dan tenaga dikerahkan untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan hidup di dunia. Mereka meghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan, kemuliaan dan kesenangan hidup di dunia. Mereka tidak peduli dengan ancaman Allah, mereka tidak takut mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah, Karena mereka tidak yakin akan adanya kehidupan akhirat. Bagi mereka kehidupan itu hanya kehidupan dunia saja. Kita hidup kemudian mati dan berlalu begitu saja tanpa dituntut pertanggungan jawab. Mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia yang penuh tipu daya.  Sehingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi selama lamanya.

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu berbuat sesuai dengan pengetahuannya tentang hakikat dunia. Dengan menyelaraskan antara amal dan ilmu, manusia akan selamat dari tipu daya dunia.

wallahu a’lam


  • 0

 Ayah Bunda

Category : Artikel

Oleh: Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Kehadiran anak manusia di muka bumi tidak dapat dilepaskan dari ayah bunda.  Allah Ta’ala telah menciptakan manusia di muka bumi, dan itu disebut sebagai “sebab hakikat”, yakni pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala. Ayah bunda yang menjadi penyebab manusia ada di muka bumi disebut sebagai “sebab pendekat”, yakni karena melalui proses pernikahan ayah bunda, maka jadilah anak manusia.

Seseorang tidak dapat keluar dari hukum sebab akibat bahwa keberadaannya  adalah karena adanya ayah  bunda. Allah Ta’ala sebagai sebab hakikat dan ayah bunda menjadi sebab pendekat, maka wajib bagi manusia untuk beribadah kepada-Nya dan berbakti kepada ayah bunda.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ayah bunda dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra/17: 23)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ayah bundamu.” (QS. al-Nisa’/4: 36)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

 “Katakanlah, marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dan, berbuat baiklah terhadap ayah bundamu.” (QS. al-An’am/6: 151)

Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa kewajiban manusia adalah mengabdi kepada Tuhannya dan berbakti kepada ayah bundanya. Siapa yang mengabdi kepada Tuhannya, namun tidak berbakti kepada ayah bundanya, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya.

Rasulullah saw bersabda,

 عن عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ . قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra, aku bertanya kepada nabi Muhammad saw, perbuatan apakah yang dicintai oleh Allah? Rasulullah saw menjawab, shalat pada waktunya. Kemudian apa ya Rasulullah? berbakti kepada ayah bunda. Kemudian apa ya Rasulullah? Berjihad di jalan Allah.

 Tiga amal yang menyebabkan Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya:

 Pertama, shalat pada waktunya sebagai manifestasi ketaatan kepada-Nya.

Kedua, berbakti kepada ayah bunda, sebagai ungkapan syukur kepada keduanya. Rasulullah saw bersabda, siapa yang tidak bersyukur atau tidak berterima kasih kepada ayah bunda, maka dia tidak akan pernah bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Ketiga, berjihad di jalan-Nya.

Hadis di atas mengisyaratkan hal sangat penting. Seseorang akan dapat berjihad dengan baik, apabila shalatnya sudah bagus dan telah berbakti kepada ayah bunda. Apabila ibadahnya belum bagus, hubungan kepada ayah bunda kurang baik, maka jihadnya hanyalah hawa nafsu.

 عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : رضى الرب في رضى الوالد , وسخط الرب في سخط الوالد . رواه الترمذي

Dari ‘Abdullah Ibn ‘Umar ra, dari Nabi saw bersabda,  ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah karena murka orang tua.

Allah Ta’ala akan ridha kepada seseorang yang telah mendapat ridha orang tua dan Allah akan murka kepada anak yang durhaka kepada ayah bunda sekalipun ahli. ibadah. Apabila seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya, namun dia maksiat kepada Tuhannya, maka baktinya kepada ayah bunda hanya manipulasi belaka.

  1. Jangan berkata “ah”

Apabila ayah bunda telah berusia senja, fisiknya sudah lemah dan tak berdaya, dan engkau menemaninya sebagaimana mereka menjagamu sejak kecil, maka jangan sekali-kali menyakiti perasaannya dengan kata-katanya yang tidak sopan. Saat engkau masih anak-anak dan engkau melakukan kesalahan, maka dengan cinta dan kasih sayang dirubahnya kesalahanmu menjadi kebaikan. Ayah bunda tidak pernah marah kepadamu walau engkau mengotori tubuhnya dengan kotoranmu. Ayah bunda juga selalu menggendong dan menciummu walau badanmu berat dan kotor. Ayah bunda selalu memberi makan kepadamu walau mereka dalam keadaan lapar.  Saat engkau sakit, ayah bunda sedih dan berhari-hari tidak tidur menjaga dirimu. Kini keduanya telah tua renta, terkadang sering lupa bahkan saat keduanya sakit tidak mau cerita. Maka jangan berkata sesuatu yang menyakiti perasan keduanya. Bila engkau tidak sanggup melakukan sebagaimana mereka melakukan kebaikan kepadamu saat engkau masih kecil, dan itu pasti kamu tidak sanggup melakukannya, maka jagalah lisanmu dari kata-kata yang dapat melukai hati ayah bunda.

  1. Jangan menggentak ayah bunda

Membentak ayah bunda akan melukai hati ayah bunda. Ketika ayah bunda sudah semakin tua, terkadang perilakunya seperti anak- anak. Oleh karena itu, perlu kasabaran, cinta dan kasih sayang dalam berkhidmat kepadanya. Jangan membentak mereka saat mereka melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati.

ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما

 “Dan jangan membentak keduanya dan hendaklah berkata kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.”

Rendahkan dirimu dihadapan mereka, artinya berlaku sopan dan penuh kasih sayang karena kasih sayang mereka telah kamu nikmati sejak lahir bahkan sebelum kamu dilahirkan sampai usiapunn masuk usia tua.

Diriwayatkan bahwa seorang anak muda mendatangi Rasulallah saw dan bertanya, “ya Rasulallah saw, aku mempunyai seorang ibu dan aku telah berbakti kepadanya, tetapi dia selalu marah kepadaku, apa yang harus aku lakukan?” Rasulallah saw menjawab, “berbaktilah kepadanya.”

Beberapa hari kemudian anak muda ini menghadap Rasulallah saw dan berkata, “ya Rasulallah saw, aku sudah berbakti kepada ibuku, tetapi dia masih marah kepadaku, apa yang harus aku lakukan?” Rasulallah saw menjawab, “berbaktilah dan berilah dia makan.” Beberapa hari kemudian, anak ini datang lagi dan berkata yang sama. Lalu Rasulallah saw bersabda kepada anak muda itu, “hai anak muda, berbaktilah kepadanya, dan ketahuilah, seandainya kamu potong daging pahamu, lalu kamu serahkan kepadanya, maka belum cukup baktimu kepadanya.”

Kasih sayang ayah bunda tidak akan pernah terbayar sekalipun seorang anak menyerahkan semua mobilnya, rumahnya, dan semua kekayaannya. Kasih ibu tiada bertepi, kasih ayah sepanjang masa dan itu tidak akan pernah terbayar dengan apapun kecuali berbakti kepada ayah bunda.

  1. Berdoa

 Berdoa bagi ayah bunda adalah syariat. Salah satu tanda anak yang soleh adalah anak yang mendoakan ayah bundanya.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له، رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, apabila anak adam meninggal dunia, maka terputus semua amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yakni anak yang selalu mendoakannya. (HR. Muslim)

Diriwayatkan, suatu hari datang seorang laki menghadap Rasulallah saw dan bertanya, “ya Rasulullah saw, ayah bundaku telah tiada, apakah ada kewajibanku berbakti kepada keduanya?”

Rasulullah saw menjawab, “ada nak. Ada empat kewajiban bagi seorang anak terhadap ayah bunda yang telah tiada.”

Pertama, mendoakan keduanya. Kedua, memohon ampun untuk keduanya. Ketiga, memuliakan teman ayah bunda yang masih hidup. Keempat, bersahabat dengan teman ayah bunda sebagaimana mereka bersahabat sewaktu mereka masih hidup.”

 wallahu a’lam.

*Selamat jalan nenek kami tercinta AMISAH binti SAINI*

Semoga kami, anak cucu-mu menjadi anak dan cucu yang soleh, yang selalu mendoakanmu. Engkau adalah mutiara kami. Doa kami menyertai keberangkatanmu.

*Muhammad Zuhdi Zaini* Cucu.

Amisah binti Saini

Lahir : 10 Nopember 1913

Wafat : 20 Maret 2018

Prosesi Pemakaman

Hari ini, 21 Maret 2018

Jam. 07 Pagi di Karen Tengsin, Tanah Abang Jakarta Pusat.