Category Archives: Artikel

  • 0

Makna Sujud

Category : Artikel

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Saat Iblis diperintahkan sujud kepada Adam, Iblis menolak seraya berkata, aku lebih baik dari Adam. Aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Di dalam sebuah hadis, Rasulallah saw menjelaskan, seandainya aku diperintahkan agar manusia sujud kepada manusia, niscaya aku perintahkan agar seorang isteri sujud kepada suaminya. Dalam hadis lain, Rasulullah saw mengingatkan, tempat yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah saat sujud.

Makna sujud dalam kasus nabi Adam dan Iblis tentu bukan sujud dalam makna kepasrahan total sebagaimana seorang hamba sujud kepada Allah Ta’ala, tetapi penghormatan seorang makhluk kepada makhluk lain. Murka Allah Ta’ala kepada Iblis bukan karena Iblis tidak mau sujud kepada Adam, tetapi karena Iblis melanggar atau menolak perintah Allah Ta’ala.

Seringkali dalam kehidupan, manusia melihat subjek bukan kepada obyek. Seperti seorang pengendara melewati lampu merah karena tidak ada polisi bukan karena aturan  larangan melewati lampu merah. Contoh lain, seorang santri takut melanggar kalau ada kyai dihadapannya, namun bila kyai tidak ada maka aturan tidak dihiraukannya. Prilaku seperti ini adalah personifikasi Iblis dalam jiwa para pelanggar aturan yang melihat subyek dan tidak memperhatikan obyek.

Kalimat pengandaian yang dilakukan nabi Muhammad saw terhadap isteri agar sujud kepada suaminya memberi makna bukan sujud hakiki tetapi menghormati dan taat kepada suami. Karena ketaatan seorang isteri terhadap suaminya merupakan salah satu cara menggapai kebahagiaan rumah tangga, maka nabi Muhammad saw menggunakan kata sujud untuk menunjukkan signifikansi ketaatan itu. Saat sayyidah Fatimah al Zahra meningga dunia, sayyidina Ali ibn Abi Thalib berdiri disamping jenazah mulia itu seraya berkata, duhai isteriku sayang, aku ridha padamu.

Makna sujud dalam konteks suami isteri adalah harmonisasi antara ketaatan dan keridhaan. Ketaatan isteri kepada suaminya adalah kunci kebahagiaan rumah tangga dan ridha suami kepada isterinya adalah kunci keselamatan saat menghadap Tuhannya.

Harapan dan cita-cita mulia seorang hamba adalah agar bisa selalu dekat dengan kekasihnya. Dan kekasih sejati adalah Allah Rabbul Izzati. Semua ibadah yang diniatkan selalu menggunakan kata lillahi Ta’ala yakni qurbatan ilallah Ta’ala. Saat yang paling indah adalah ketika seseorang bisa dekat dengan kekasihnya lalu menceritakan isi hatinya.  Shalat adalah puncak simbol kedekatan karena shalat adalah mikrajnya orang mukmin dan shalat adalah komunikasi yang sangat efektif dalam menyelesaikan semua problem kehidupan. Betapa banyaknya seseorang yang mengobati sakitnya hanya dengan konsultasi kepada seorang psikolog walau bayarannya mahal.

Sebagai insan al natiq, manusia perlu bicara dan  yang mendengarkan pembicaraannya. Saat seorang shalat sungguh dia sedang berbicara dan Allah Ta’ala pendengarnya. Dan pada saat yang bersamaan, Allah Ta’ala adalah pembicara dan hamba sedang mendengarkannya.

Dengan harmonisasi dialogis akan terjadi kehidupan yang penuh kedamaian, ketenteraman dan keindahan.  Itulah sebabnya kata akhir dalam shalat adalah ungkapan salam, yakni kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan.

Pendek kata, hakikat makna sujud adalah komitmen hamba kepada Tuhannya yang melahirkan kedamaian. Komitmen suami-isteri melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga dan kedekatan seorang hamba kepada Allah Ta’ala akan mengantarkan kepada jati diri manusia.

Ibnu Arabi berkata, saat engkau sujud di atas tanah sungguh engkau sedang bercinta dengan ayah bundamu karena kalian diciptakan dari tanah dan ayah bunda kalian adalah tanah. Tanah sebagai alat bersuci, diatas nama kita hidup, dari tumbuhan yang di atas tanah kita makan dan dari air yang keluar dari dalam tanah kita minum. Sujud adalah kebutuhan. Siapa yang sujud, akan bahagia dan tidak sujud akan gelisah dan sengsara.

Wallahu ‘alam.


  • 0

Menuju Cinta Allah

Category : Artikel

Oleh: Fauzan NR

Mari renungkan pertanyaan ini, “Apakah kau mencintai Allah ?”

Nabi Muhammad Saw., merupakan rasul Allah (“the massenger of Allah”), nabi terakhir (khatam al-anbiyā`),  serta panutan dan teladanyang baik (qudwah/ uswah hasanaḥ) bagi umat Islam. Mengikuti sunnahnya merupakan tiket untuk mendapat cinta Allah, yaitu cinta dari Yang Mahapencinta yang didambakan oleh semua hamba yang mencintai-Nya.Allah berfirman;

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31 

“Katakan (Muhammad), ‘Bila kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Ālu ‘Imrān/3/31)

Saat menjelaskan ayat di atas, al-Ṭabarī dalam tafsirnya “Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīli Āyi al-Qur`ān” yang terkenal sebagai salah satu “Ummahāt al-Tafsīr” mengawali dengan memaparkan dua pendapat yang berbeda tentang sebab turunnya ayat. Menurutnya, yang lebih kuat adalah pendapat kedua. Pendapat ini berlandasan riwayat dari jalur Muhammad bin Ja’far bin al-Zubair. Al-Ṭabarī,berdasarkan riwayat tersebut, menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan utusan orang Nasrani Najrān yang mendatangi Nabi Muhammad Saw., yang menceritakan tentang Nabi ‘Īsā. Ayat ini dipahaminya sebagai bentuk perintah Allah kepada Nabi untuk memintabukti,apakah perkaataan utusan tersebut adalah benar-benar bentuk cinta kepada Allah dan pengagungan kepada Nabi ‘Īsā, dengan cara memerintahkan mereka untuk mengikuti Nabi. (Tafsir al-Ṭabarī).

Penafsiran al-Ṭabarī terhadap surah Ālu ‘Imrān/3/31memberi kesan bahwa ayat tersebut berlaku khusus untuk para utusan orang Nasrani Najrān, sehingga bisa pula dipahami bahwa ayat ini meminta bukti pada utusan tersebut dengan cara masuk Islam. Pemahaman terhadap ayat tersebut tidakhanya demikian. Bisa dipahami pula sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsīr bahwa ayat ini berlaku umum untuk siapapun yang mengaku cinta kepada Allah. Bukti pengakuan cintatersebut adalahdengancara mengikutiatau menyesuaikan semua perkara, baik ucapan atau perilaku sesuaiajaran dan anjuran Agama Nabi. Bila tidak, maka pengakuan tersebut adalah dusta.Menurutnya, ini sesuai dengan yang dikatakan Nabi dalam hadis sahīh;

مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَرَدُّ

“Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak berlandasan dari pekerjaan kami maka perbuatan tersebut tertolak (tidak diterima).”

Lebih lanjut, Ibn Katsīr menjelaskan bahwa orang yang mengikuti Nabi ia akan mendapat sesuatu yang lebih tinggi dibanding pengakuan cintanya pada Allah, yaitu Allah mencintainya. Yang kedua ini lebih agung dibandingkan yang pertama. Sebagian ahli hikmah yang alim berkata;

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَب

“Urusannya bukanlah kau mencintai, tetapi kau dicintai.” (Tafsīr Ibn Katsīr)

Bertolak dari penafsiran Ibn Katsīr ini, maka dewasa ini, umat Islamyang mengaku cinta kepada Allah pun harus membuktikannya. Pembuktian tersebut dengan terus menjalankan ajaran-ajaran Nabi Muhammad yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis-hadis (Perkataan, perilaku dan ketetapan serta akhlak Nabi)yang sahīh. Bila tidak, maka pengakuannya adalah dusta, tidak dapat dibenarkan. Walaupun demikian, pemahaman Ibn Katsīr tentang keharusan semua ucapan dan perilaku sesuai ajaran dan anjuran Islam tidak serta-merta dipahami bahwa orang yang belum bisa atau bahkan tidak bisa mengikuti Nabi secara keseluruhan berarti tidak cinta kepada Allah.

Pemahaman lain dari ayat ini bisa dikatakan bahwa Allah melegitimasi semua hal yang berkaitan dengan Nabi mulai dari ucapan, perilaku dan akhlaknya. Oleh sebab itu, semua hal tersebut juga bisa dipahami sebagai representasi atau bentuk dari cinta Allah. Seseorang yang bisa melakukan seluruhnya secara sempurna sebagaimana Nabi melakukan maka ia mendapatkan cinta Allah secara sempurna.Perkaraini –bila tidak mau dikatakan tidak mungkin- sangat sulit. Sebaliknya, bila tidak dapat melakukan secara sempurna maka sesuai itulah cinta Allah yang akan diperoleh.Akhirnya, dia yang dicintai Allah akan dicintai oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Muslim meriwayatkan, Nabi bersabda;

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّ يأُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْض (الحديث

Dewasa ini, banyak perkara-perkara penting yang “terlihat tidak penting” di kalangan umat Islam. Dikatakan demikian karena perkara-perkara tersebut sudah banyak dilupakan oleh umat Islam, khususnya para generasi muda. Perkara tersebut di antaranya adalah sejarah tentang Nabi, nama keluarga-keluarga Nabi, keistimewaan mereka serta peran penting dalam mendukung keberhasilan dakwahnya dan juga tentang para sahabat. Mereka adalah para pejuang keimanan yang harusnya selalu dikenang dan dicintai. Para pejuang suatu negara selalu dikenang dan dicintai serta diadakan perayaan dengan cara masyarakatnya masing-masing untuk mengenang mereka. Pejuang keimanan pun harusnya lebih dikenang dan lebih dicintai. Selain itu, mereka merupakan orang-orang yang berintraksi dengan Nabi, mengetahui tingkah lakunya. Mereka adalah pintu menuju Nabi. Maka mengenali mereka sebuah keharusan, karena ini adalah salah satu cara untuk mengikuti Nabi. Artinya, ini salah satu cara untuk membuktikan kecintaan kepada Allah hingga akhirnya menggapai cinta Allah.


  • 0

Kepemimpinan dalam Islam

Category : Artikel

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Secara rasional setiap komunitas membutuhkan seorang pemimpin. Karena sebagai makhluk sosial, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk mencapai hubungan yang harmonis diantara anggota masyarakat, maka diperlukan seorang pemimpinan yang mengatur dan menata interaksi sosial tersebut.

Akal sulit menerima apabila ada sekelompok masyarakat hidup tanpa seorang pemimpin. “Nabi Muhammad saw berpesan, apabila kalian bertiga atau lebih dalam suatu perjalanan, maka angkatlah salah seorang diantara kalian sebagai pemimpinnya.”

Ini menunjukkan signifikasi seorang pemimpin dalam masyarakat.

Secara normatif, al-Qur’an menggunakan tiga term yang menunjukkan makna kepemimpinan.

  1. Khilafah

“Khilāfah” adalah sebuah sistem kepemimpinan yang pernah dirumuskan dan diaplikasikan pada masa islam klasik. Para ulama masa lalu telah mencoba memahami dan memformulasikan konsep khilafah sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an tentang kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan berbangsa.

Allah Ta’ala berfirman,

 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah/2: 30)

Pertanyaan malaikat bukan protes atau kritik kepada Allah Ta’ala tetapi keinginan mereka untuk menjadi khalifah karena mereka telah bertasbih dan menyucikan-Nya. Permohonan ini juga menjadi isyarat bahwa khilafah itu bukan sistem politik dunia tetapi sistem universal yang berlaku dunia dan akhirat hingga malaikat berhasrat juga untuk menjadi khalifah. Namun, Allah Ta’ala menjawab bahwa pengetahuan malaikat tentang itu tidak cukup hingga Allah Ta’ala menegaskan bahwa Dia Maha tahu dari apa yang diketahui oleh malaikat. Dari sini dapat dipahami bahwa makna khilafah bersifat universal.

  1. Wilayah

“Wilayah” artinya kepemimpinan. Orang yang memimpin disebut wali. Secara umum pemimpin umat adalah Allah Ta’ala, Rasulullah saw dan orang-orang beriman.

Allah Ta’ala berfirman.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. al Mā’idah/5: 55).

Para ulama berbeda pendapat tentang makna wali. Sebagian berpendapat bahwa makna wali adalah “teman dekat.” Sebagian yang lain berpendapat wali artinya “penolong” dan sebagian ulama mengatakan wali adalah “pemimpimpin.”

Dalam terminologi keindonesiaan, kata wali bermakna pemimpin, seperti kata wali kota artinya pemimpin kota bukan penolong kota dan bukan pula teman kota.

Allah Ta’ ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah ?” (QS. al-Nisā’/4: 144)

Ayat ini menjelaskan larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin bukan larangan berteman dengan orang kafir.

  1. Imamah

“Imamah” adalah sistem kepemimpinan dan orang yang memimpin disebut imam. Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat umum, baik kepemimpinan negara atau kepempinan “ibadah mahdah” seperti shalat. Pemimpin dalam ruang lingkup orang-orang yang bertakwa adalah “imām li al-muttaqīn” atau pemimpin bagi bagi orang-orang yang bertakwa.

Pemimpin orang yang beriman disebut “imām li al-mukminin” atau pemimpin orang beriman dan pemimpin manusia disebut “imām li al-nās” atau pemimpin seluruh manusia tanpa membedakan agama, suku, daerah dan sebagainya. Kepemimpinan ketiga inilah yang pernah “eksis” pada masa Rasulallah saw.

 Allah Ta’ala berfirman

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata, Dan saya mohon juga dari keturunanku. Allah berfirman, Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang yang zalim.” (QS. al-Baqarah/2: 124)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin harus adil dan orang-orang zalim tidak boleh menjadi pemimpin. Nabi Ibrahim adalah hamba Allah, setelah melalui proses pendekatan diri kepada Allah, hingga naik menjadi kekasih Allah atau “khalilullāh.” Setelah menjadi “khalilullāh” naik lagi menjadi rasulallah dan saat beliau menjadi Rasulallah saw, Allah Ta’ala mengangkatnya menjadi “imam” bagi seluruh manusia. Saat Nabi Ibrahim berharap agar semua keturunannya menjadi imam, Allah Ta’ala menjawab bahwa kepemimpinan tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang zalim.

Syarat pemimpin

Pemimpin adalah orang yang paling berkualitas diantara anggota komunitas. Allah Ta’ala Maha Tahu siapa diantara umatnya yang paling berkualitas hingga diangkat menjadi nabi dan rasul. Nabi dan rasul adalah “al-musthafā” atau orang pilihan dan yang memilih dan mengangkatnya adalah Allah Ta’ala.

Pemimpin yang bukan nabi dan rasul dipilih dan diangkat oleh orang-orang diantara mereka.

Karena yang mengetahui orang cerdas hanyalah orang cerdas. Memberikan hak pilih kepemimpinan kepada orang awam hanya akan melahirkan kegagalam dalam memilih pemimpin. Oleh sebab itu politik adalah perwakilan komunitas bukan perwakilan pribadi. Al-Qur’an mengisyaratkan umat islam dengan “khairu ummat”, umat terbaik atau umat pilihan.

Allah Ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imrān/3:110).

Rasulallah saw ditanya tentang “khairu umat.”

Beliau menjawab, khairu umat itu mempunyai empat syarat, yaitu; Pertama, mereka yang paling banyak membaca teks maupun konteks. Kedua, orang yang paling bertaqwa, baik individual maupun sosial. Ketiga, orang yang paling banyak membangun jaringan silaturahim. Keempat, mereka selalu melalukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Dari beberapa ayat dan riwayat para ulama memformulasikan bahwa syarat pemimpin itu adalah.

  1. Adil
  2. Berilmu pengetahuan yang luas
  3. Sehat indrawi seperti sehat pendengaran, penglihatan dan pembicaraan.
  4. Sehat anggota tubuh dari kekurangan yang menghalanginya melakukan aktivitas.
  5. Memiliki pemikiran yang cerdas dalam menyikapi perkembangan politik dan kemaslahatan umat.
  6. Berani dalam menegakkan kebenaran.

Wallahu a’lam