Category Archives: Berita

  • 0

Pesan KH. Ahsin Sakho Muhammad untuk Mahasiswa Ushuluddin (Pecinta Al-Qur’an)

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Pada kesempatan dalam acara Studium Generale dengan tema: “Trend Tahfidz Al-Qur’an di Indonesia (Melacak Akar Teologis-Historis)” yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Jakarta yang berlangsung di Teater Room Prof. Dr. H.A.R. Partosentono Lt. 4 Fak. Ushuluddin, Rabu [18/04/2018], dengan menghadirkan Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Dr. A. Husnul Hakim, MA dan Deden M. Makhyaruddin, MA. Pemateri utama, Ahsin Sakho Muhammad memberi pesan kepada para mahasiswa Ushuluddin, khususnya para penghafal al-Qur’an. Pesan yang ia sampaikan tidak lain atas kecintaannya terhadap Al-Qur’an.

Sebagai prakata, Ahsin Sakho Muhammad menyematkan pertayaan, mengapa perlu atau pentingnya kembali pada al-Qur’an? Bahwasannya al-Qur’an sebagai 1) Kitab suci umat Islam; 2) Kitab hidayah, mau’udzhah, syifā’ limā fī al-shudūr, rahmah, nūr; 3) Mukjizat terbesar sepanjang sejarah kenabian yang akan terus berkibar secara abadi, karena bersifat maknawi bukan maddy; 4) Mengawasi (muhaimin, muraqib) meluruskan apa yang bengkok dari umat-umat terdahulu; 5) Merangkum semua isi kandungan kitab-kitab suci agama samawi sebelumnya (Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil); 6) Kitab suci terlengkap, memuat segala sesuatu aturan (nizham) untuk kemaslahatan kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi; 7) Pokok kandungan al-Qur’an (tauhid, ahkām, tadzkir/peringatan); 8) Dipersembahkan kepada seluruh umat manusia (hūda li-nās); 9) Tidak ingin membuat orang susah [Thāhā: 2, al-Mā’idah: 6, al-Anbiyā’: 78]; 10) Satu-satunya kitab samawi yang mempunyai nilai orisinilitas atau keaslian yang tinggi; 11) Allah berjanji akan mengawal kesucian al-Qur’an sampai akhir zaman [al-Hijir: 9]; dan lain sebagainya.

Dari penjelasan akan pentingnya al-Qur’an di atas, maka sudah seharusnya tahfidz al-Qur’an sebagai puncak matakuliah di Ushuluddin dari semua matakuliah-matakuliah yang ada di UIN. Oleh karena itu, orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkan al-Qur’an disebut “Khairukum man Ta’alam al-Qur’ān wa ‘Allamahu” [riwayat al-Bukhari]. Selain itu, pesan penting disampaikan juga bagi para perempuan agar mencari imam yang mampu menghafal al-Qur’an, karena lelaki/suami yang hafal al-Qur’an termasuk memiliki pemahaman agama yang baik, sikap yang baik, bertutur kata yang baik, dan sebagainya. Dengan begitu, menghafal al-Qur’an bertugas menjaga kemurnian atau kesucian al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan bagi penghafal al-Qur’an adalah memahami makna-makna al-Qur’an. Untuk lebih mudah dalam memahami/belajar terjemahan al-Qur’an, agar menghadirkan ayat-ayat terkait topik-topik tertentu.

Sebagai manusia, sudah tentu sangat tergantung pada al-Qur’an, karena al-Qur’an mengatur irama kehidupan manusia. Orang yang cinta atau berkhidmat pada al-Qur’an, maka al-Qur’an akan mencintainya. Untuk itu, kita harus yakin akan keberkahan al-Qur’an, meskipun berkah itu sifatnya abstrak yang tidak diketahui oleh manusia.

Ketika menginginkan anak yang mampu cepat menghafal al-Qur’an, sebelum melahirkan, saat masih dalam kandungan –perut sang istri– dielus-elus oleh suami sambil dibacakan al-Qur’an. Sebab, satu (1) Triliun sel otak mampu menghafal informasi, menghimpun dan menganalisa informasi. Oleh karena itu, jangan lewatkan masa kanak-kanak untuk senantiasa menghimpun informasi dari al-Qur’an.

Pesan terakhir untuk kedepan, perlu menggalakkan tahfidz al-Qur’an di semua lini Institusi Pendidikan baik Negeri maupun Swasta, dari tingkat Dasar sampai Perguruan Tinggi. Memberi penghargaan kepada mahasiswa yang hafal al-Qur’an. Dan perlu juga diperkuat dengan pengajaran Ilmu Qira’at, Rasm ‘Utsmani, sejarah permushafan, etika menulis dan mentashih al-Qur’an, dan lain sebagainya. (M.NTs)


  • 0

Studium Generale:  Pemahaman Penting Bagi Para Penghafal Al-Qur’an

Category : Berita

Gedung Fak. Ushuluddin. IQTAF News Online. Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru pertama kali mengadakan diskusi terkait tahfidz al-Qur’an yang bertajuk Studium Generale dengan tema: “Trend Tahfidz Al-Qur’an di Indonesia (Melacak Akar Teologis-Historis)” yang berlangsung di Teater Room Prof. Dr. H.A.R. Partosentono Lt. 4 Fak. Ushuluddin, Rabu [18/04/2018].

Diskusi ini sangat menarik karena menghadirkan pembicara yang ahli dalam bidang al-Qur’an yang juga penghafal al-Qur’an seperti Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Dr. A. Husnul Hakim, MA dan Dr. Deden M. Makhyaruddin, MA. Kegiatan ini berlangsung di Teater Room Lt. 4 Fak. Ushuluddin [18/04/2018].

Moderator menyampaikan bahwa seringkali Prodi ini mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan metode, pendekatan, ataupun ragam dalam penafsiran al-Qur’an, kali ini berkaitan langsung dengan al-Qur’an. Hal ini pengantar pertama disampaikan oleh Moderator, Hasanuddin Sinaga, MA. “Baru pertama kali ini atau jarang sekali saya mengalami Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengadakan diskusi tentang tahfidz al-Qur’an. Padahal tahfidz al-Qur’an berkaitan langsung dengan al-Qur’an.” Kesan Imam Masjid Istiqlal Jakarta

Selain itu, pembicara pertama disampaikan Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA. Ahsin menyampaikan kepada para mahasiswa pentingnya kembali kepada Al-Qur’an. “Mengapa kita perlu kembali pada al-Qur’an, baik terkait qiraat, hifdzul, dan dirasah al-Qur’an? Alasan pertama, sebagai kitab umat Islam, kitab hidayah, mukjizat, dan sebagai dunia-akhiratnya Indonesia. Seharusnya tahfidz al-Qur’an sebagai puncak mata kuliah di Ushuluddin dari semua matakuliah-matakuliah yang ada di UIN.” Jelas Kiai Ahsin

“Bagaimana seharusnya mahasiswa Ushuluddin mampu mencerna al-Qur’an dengan baik, karena tugas dari tahfidz al-Qur’an tidak lain untuk menjaga kemurnian atau kesucian al-Qur’an. “ Tambah mantan Rektor IIQ Jakarta, yang juga Pengasuh Ponpes Dar Al-Qur’an Arjawinangun Cirebon.

Yang menjadi pertanyaan penting dalam diskusi ini yakni, mengapa al-Qur’an perlu dihafal? Hal ini disampaikan Dr. A. Husnul Hakim, MA. “Penting bagi siapa saja, khususnya umat Islam untuk menghafal al-Qur’an, karena sebagaimana sabda Nabi saw. bahwasannya penghafal al-Qur’an termasuk keluarganya Allah [riwayat al-Hakim], paling berhak memperoleh syafa’atnya [riwayat Muslim], ibadah yang ringan tapi pahalanya banyak [al-Thabrani], paling berhak menjadi imam shalat [al-Thabrani], bahkan juga khatib jum’at [riwayat Muslim] dan lain sebagainya.” Terang Husnul

“UIN akan tetap selamat apabila hanya terdapat satu orang penghafal al-Qur’an. Lebih uniknya, di Indonesia banyak mufassir tetapi tidak hafal al-Qur’an. Menjadi seorang hafidz tidak wajib, namun bagi siapa yang menghafalnya harus selalu mura’ja’ah.” Tambahnya, yang juga mantan Dekan Fakultas Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan pendiri organisasi dalam gerakan kampanye menjaga hafalan al-Qur’an, Deden M. Makhyaruddin, MA. Singkatnya, Deden menerangkan akan pentingnya menghafal al-Qur’an. “Menghafal al-Qur’an, maka akan memberi syafa’at kepada penghafalnya. Banyak orang yang ahli tafsir, tapi tidak menghafal Qur’an. Ahli tafsir mampu merusak pemikiran seseorang, akan tetapi penghafal al-Qur’an senantiasa menjaga kemurniannya.” Jelas Deden, Pendiri Indonesia Muraja’ah. (M.NTs)


  • 0

Dosen FU Apresiasi Acara Khotmil Qur’an di Masjid-Masjid Sekitar UIN Jakarta

Category : Berita

Cirendeu Ciputat. IQTAF News Online. Gabungan Kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an & Tafsir dan Ilmu Hadis (HMJ-IQTAF dan ILHA) mengadakan acara Tasmi’ atau Khotmil Qur’an bi al-Ghaib di sekitar masjid-masjid UIN Jakarta. Kegiatan ini diadakan oleh kepengurusan Departemen Keislaman HMJ-IQTAF & ILHA kerjasama dengan pengurus Laboratorium (Tafsir Hadis) Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Masjid Ruhama Jl. Tarumanegara 67 Cirendeu Ciputat Timur. [28/02/2018]

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari beberapa dosen pakar dalam Bidang al-Qur’an yang juga Hafidz-Hafidzah, seperti Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA, Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA, Dr. Hasani Ahmad Said, MA dan juga dosen lainnya saat berbincang di Group WhatsApp Silaturrahim Jurusan TH, yang sebelumnya Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengirimkan foto kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh pengurus HMJ.

“Alhamdulillah kegiatan Sima’an al-Qur’an atau Khotmil Qur’an yang dilaksanakan atas kerjasama HMJ-IQTAF & ILHA dengan Laboratorium Tafsir Hadis sudah berlajan ± 3 tahun; kegiatan yang dilakukan 4 kali dalam 1 tahun ini bertujuan: 1) Memperkuat hafalan hafidz-hafidzah mahasiwa UIN Jakarta, khususnya mahasiswa Fak. Ushuluddin; 2) Memperkuat kekeluargaan (silaturahmi) antar hafidz-hafidzah Lintas Program Studi dan Lintas Fakultas, juga antara mahasiswa dengan masyarakat; 3) Sosialisasi ke masyarakat sekitar UIN melalui masjid-masjidnya atas adanya pembinaan hafidz-hafidzah; 4) Membumikan teks al-Qur’an di masyarakat akademis dan non akademis; 5) Mendoakan kepada para pendiri UIN (IAIN/ADIA) dan semua civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; dan 6) Mendoakan kaum muslim.” Terang Kaprodi IQTAF

“Atas nama Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sekaligus pengampu matakuliah Tahfidz memohon dukungan dan do’a kepada semua, semoga kegiatan ini tetap istiqamah dan terlaksana dengan lancar tanpa ada kendala apapun.” Tambah Lilik

Selain itu, dosen pakar Qira’at yang juga Ketua Dewan Penasihat Nusantara Mengaji, Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA memberikan apresiasinya. “Tasmi’ Al-Qur’an oleh mahasiswa UIN Jakarta perlu digalakkan agar kesan masyarakat terhadap UIN Jakarta semakin bagus.” Terang Kiai Ahsin

Kegiatan tersebut juga mengingat Dr. Hasani Ahmad Said, MA yang saat itu aktif sebagai pengurus Lembaga Tahfizh dan Ta’lim al-Qur’an (LTTQ) Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebuah lembaga nonprofit yang memberikan fasilitas pembelajaran al-Qur’an untuk memasyaratkan al-Qur’an. “Kawan-kawan binaan saya di Masjid Fathullah, melalui wadah Lembaga Tahfidz dan Ta’lim Al-Qur’an (LTTQ) rutin tiap Ahad pagi (ba’da Subuh) mengadakan tahtim bi al-ghaib (Khatm al-Qur’an) di Masjid Fathullah. Kepengurusan di LTTQ 80% mahasiswa dari UIN, dan yang selainnya IIQ, PTIQ, UMJ dan dari kampus lain. Sebagian besar pengurus LTTQ mahasiswa Ushuluddin, maka dari itu kegiatan Tasmi’ ini sangat bersinergi dengan kegiatan LTTQ.” Jelas Hasani

“Saya harap pengurus LTTQ UIN Jakarta bisa membuat program-program ke-Qur’an-an yang berkelas Nasional/Internasional yang membanggakan.” Imbuh Kiai Ahsin

“Kurang lebih 4 tahun lalu saya dan kawan-kawan sudah menggagas Olimpiade Al-Qur’an tingkat Nasional  memperebutkan piala Wakil Menteri Agama RI diikuti PTAIN se-Indonesia”. Tambah Hasani (M.NTs)