Author Archives: tafsirhadis

  • -

DEKAN LANTIK KETUA PRODI DAN SEKRETARIS PRODI: HARAPAN BARU UNTUK USUHULUDDIN

Category : Uncategorized

Fakultas Ushuluddin, Ciputat – Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Yusuf Rahman, MA melantik sejumlah ketua dan sekretaris program studi (Prodi) baru periode 2019-2023 di lingkungan FU UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,  pada Selasa, (25/06/2019). Sesuai dengan Surat Keputuran Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 538 Tahun 2019.

Untuk ketua prodi Studi Agama-agama (SAA), dekan melantik Syaiful Azmi, S.Ag, MA menggantikan Dr. Media Zainul Bahri, MA  sebagai ketua SAA yang sebelumnya menjabat sekretaris prodi Ilmu Tasawuf. Lisfa Sentosa Aisyah, MA yang sebelumnya menjabat sebagai Lektor Fakultas Ushuluddin kini sekretaris prodi SAA menggantikan Dra. Halimah SM, M.Ag. selanjutnya, dekan melantik Dra. Tien Rohmatin, MA menjadi ketua prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) yang sebelumnya masih menjabat sebagai ketua prodi AFI dan Dra. Banun Binaningrum, M.Pd menjadi sekretaris prodi AFI yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Adapun jabatan ketua prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir diisi Dr. Eva Nugraha, M.Ag yang sebelumnya menjabat Asisten Ahli/Koordinator Bidang Program Pengabdian kepada Masyarakat oleh Mahasiswa PPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sementara untuk sekretaris prodi IAT yaitu Fahrizal Mahdi, Lc, MIRKH yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Ahli. Pgs. sekretaris prodi Ilmu Hadis (IH). Di dua prodi lain, dekan melantik Ala’I Najib, MA sebagai ketua prodi Ilmu Tasawuf (IT) yang sebelumnya menjabat lektor Fakultas Ushuluddin dan Aktobi Ghozali, MA menjabat sebagai sekretaris prodi IT yang sebelumnya menjabat Lektor Fakultas Ushuluddin sedangkan ketua prodi Ilmu Hadis (IH) masih diposisikan oleh Rifqi Muhammad Fatkhi, MA dan Dr. Abdul Hakim Wahid, MA sebagai sekretaris prodi IH yang sebelumnya menjabat Asisten Ahli/Pgs. Sekretaris Aqidah dan Filsafat Islam.

Selanjutnya Dr. Bustamin, SE, M.Si diangkat menjadi ketua program S-2 magister untuk tiga prodi yaitu untuk Studi Agama-agama, Aqidah dan Filsafat Islam dan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang sebelumnya menjabat sebagai wakil dekan bidang administrasi umum selain itu posisi sekretaris prodi S-2 diisi oleh Dr. Ahmad Fudhaili, M.Ag yang sebelumnya menjabat Lektor Fakultas Ushuluddin.

Dalam pidato pelantikan, dekan meminta kepada para ketua dan sekretaris prodi baru Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saling bekerjasama untuk manajemen yang lebih baik guna kemaslahatan orang banyak (dosen dan mahasiswa) bekerja dengan serius untuk kemajuan FU UIN Syarif Hidayatullah Jakarta guna mencapai visi misi FU UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pelantikan dihadiri para wakil dekan Fakultas Ushuluddin diantaranya wakil dekan bidang akademik Kusmana, MA, Ph.D, wakil dekan bidang administrasi umum Dr. Lilik Ummi Kalstum, MA dan wakil dekan bidang kemahasiswaan, alumni Dr. Media Zainul Bahri, MA Bersama para tamu undangan.

 

(zham)

 


  • 0

Makna Sujud

Category : Artikel

Oleh : Dr. H.M. Zuhdi Zaini, MA

Saat Iblis diperintahkan sujud kepada Adam, Iblis menolak seraya berkata, aku lebih baik dari Adam. Aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Di dalam sebuah hadis, Rasulallah saw menjelaskan, seandainya aku diperintahkan agar manusia sujud kepada manusia, niscaya aku perintahkan agar seorang isteri sujud kepada suaminya. Dalam hadis lain, Rasulullah saw mengingatkan, tempat yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah saat sujud.

Makna sujud dalam kasus nabi Adam dan Iblis tentu bukan sujud dalam makna kepasrahan total sebagaimana seorang hamba sujud kepada Allah Ta’ala, tetapi penghormatan seorang makhluk kepada makhluk lain. Murka Allah Ta’ala kepada Iblis bukan karena Iblis tidak mau sujud kepada Adam, tetapi karena Iblis melanggar atau menolak perintah Allah Ta’ala.

Seringkali dalam kehidupan, manusia melihat subjek bukan kepada obyek. Seperti seorang pengendara melewati lampu merah karena tidak ada polisi bukan karena aturan  larangan melewati lampu merah. Contoh lain, seorang santri takut melanggar kalau ada kyai dihadapannya, namun bila kyai tidak ada maka aturan tidak dihiraukannya. Prilaku seperti ini adalah personifikasi Iblis dalam jiwa para pelanggar aturan yang melihat subyek dan tidak memperhatikan obyek.

Kalimat pengandaian yang dilakukan nabi Muhammad saw terhadap isteri agar sujud kepada suaminya memberi makna bukan sujud hakiki tetapi menghormati dan taat kepada suami. Karena ketaatan seorang isteri terhadap suaminya merupakan salah satu cara menggapai kebahagiaan rumah tangga, maka nabi Muhammad saw menggunakan kata sujud untuk menunjukkan signifikansi ketaatan itu. Saat sayyidah Fatimah al Zahra meningga dunia, sayyidina Ali ibn Abi Thalib berdiri disamping jenazah mulia itu seraya berkata, duhai isteriku sayang, aku ridha padamu.

Makna sujud dalam konteks suami isteri adalah harmonisasi antara ketaatan dan keridhaan. Ketaatan isteri kepada suaminya adalah kunci kebahagiaan rumah tangga dan ridha suami kepada isterinya adalah kunci keselamatan saat menghadap Tuhannya.

Harapan dan cita-cita mulia seorang hamba adalah agar bisa selalu dekat dengan kekasihnya. Dan kekasih sejati adalah Allah Rabbul Izzati. Semua ibadah yang diniatkan selalu menggunakan kata lillahi Ta’ala yakni qurbatan ilallah Ta’ala. Saat yang paling indah adalah ketika seseorang bisa dekat dengan kekasihnya lalu menceritakan isi hatinya.  Shalat adalah puncak simbol kedekatan karena shalat adalah mikrajnya orang mukmin dan shalat adalah komunikasi yang sangat efektif dalam menyelesaikan semua problem kehidupan. Betapa banyaknya seseorang yang mengobati sakitnya hanya dengan konsultasi kepada seorang psikolog walau bayarannya mahal.

Sebagai insan al natiq, manusia perlu bicara dan  yang mendengarkan pembicaraannya. Saat seorang shalat sungguh dia sedang berbicara dan Allah Ta’ala pendengarnya. Dan pada saat yang bersamaan, Allah Ta’ala adalah pembicara dan hamba sedang mendengarkannya.

Dengan harmonisasi dialogis akan terjadi kehidupan yang penuh kedamaian, ketenteraman dan keindahan.  Itulah sebabnya kata akhir dalam shalat adalah ungkapan salam, yakni kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan.

Pendek kata, hakikat makna sujud adalah komitmen hamba kepada Tuhannya yang melahirkan kedamaian. Komitmen suami-isteri melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga dan kedekatan seorang hamba kepada Allah Ta’ala akan mengantarkan kepada jati diri manusia.

Ibnu Arabi berkata, saat engkau sujud di atas tanah sungguh engkau sedang bercinta dengan ayah bundamu karena kalian diciptakan dari tanah dan ayah bunda kalian adalah tanah. Tanah sebagai alat bersuci, diatas nama kita hidup, dari tumbuhan yang di atas tanah kita makan dan dari air yang keluar dari dalam tanah kita minum. Sujud adalah kebutuhan. Siapa yang sujud, akan bahagia dan tidak sujud akan gelisah dan sengsara.

Wallahu ‘alam.


  • 0

Berkesempatan Magang di Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal TMII Jakarta Timur

Category : Cerita

Pada hari Rabu, 21 Maret 2018, merupakan hari penutupan Bimbingan Pentashihan Mushaf al-Qur’an 2018 yang telah dilaksanakan selama lebih kurang 3 minggu (05-21 Maret 2018) sekaligus pengumuman peserta magang pada gelombang pertama. Alhamdulillah, 10 nama mahasiswa yang diberikan kesempatan magang di LPMQ Bayt al-Qur’an tersebut dilihat dari nilai hasil ‘Pre-Test’ dan ‘Post-Test’ mereka masing-masing. Nama-nama tersebut adalah: Fradhita Sholikha, Himmatur Rif’ah, Lutfah Nuraliyah, Nike Nilasari, Qurrata A’yun, Siti Falihatul Fitria, Solihatina Sadita, Syahrul Pebriandi, Thias Anugrah Bintang, dan Widad Ali. Sepuluh nama tersebut dipersilahkan untuk maju ke depan bangku narasumber untuk  mendapatkan pengarahan dari salah satu panitia LPMQ bernama Bu Ida Zulfiyah. Diberitahukan olehnya, bahwa besok kami mulai magang dan harus berangkat menuju kantor LPMQ Bayt al-Quran yang berdekatan dengan TMII, karena akan ada Forum General Discussion (FGD). Setelah mendapatkan arahan dari beliau, kami pun menghadap ke Bu Lilik Ummi Kaltsum, selaku kepala jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir untuk diberikan arahan pula mengenai perjalanan besok menuju kesana, kesediaan diri, dan kesediaan waktu yang akan kami jalani.

Esok harinya, kami berkumpul di halte UIN Jakarta pukul 07.00 (khawatir terkena macet di perjalanan), dan menunggu ‘Busway’ arah Ciputat-Kampung Rambutan. Alhamdulillah, kami sampai di lokasi dengan selamat dan penuh harapan  pada pukul 08.00. Sesampai disana, kami merasakan sebuah kesejukan dan ketenangan hadir dari depan gedung tersebut. Nuansa Qurani yang membalut, ditambah dengan gemercik pancuran air mancur yang ada di depan pintu masuk tersebut. Seketika itu, kami masuk ke dalam gedung tersebut dari arah pintu masuk. MāsyāAllāh, begitu menakjubkan, terdapat beberapa macam al-Qur’an, kaligrafi, kolofon, prasasti, dan lukisan lainnya yang terdapat di museum tersebu untuk dipajang dan diabadikan. Sungguh indah, karena semua ini telah dilestarikan dari tahun ke tahun, hari ke hari, dan untuk menghindarkan kemusnahan secara perlahan-lahan, merupakan sebuah bentuk penjagaan dalam seni, budaya, dan tradisi. Setiap jenis tersebut, diberikan ruang masing-masing dan tulisan berupa sejarah asal mulanya dan asal daerahnya. Meskipun sudah sangat lama sekali, namun karena usaha untuk melestarikan sudah bisa dilihat di museum ini.

Setelah kami mengelilingi museum tersebut, kami menuju ke ruang LPMQ di berlokasi di lantai 3 untuk mengikuti ‘Forum General Discussion’ (FGD) yang diadakan setiap hari Kamis. Alhamdulillah, kami disambut baik oleh Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang bekerja disini. Mereka semua selalu mengayomi, membina kami selama seminggu ke depan kami magang di kantor ini.

Selama seminggu kami magang, kami memiliki kesan yang sangat tidak mungkin untuk dilupakan. Kami mendapat banyak pengalamn disini, pelajaran, yang memang al-Quran itu harus dijaga kemurniannya. Tugas kami disini ialah mentashih Mushaf al-Quran. Di hari kedua, pertama kalinya kami ditugaskan untuk mentashih Mushaf al-Qur’an dari al-Qur’an cinta, hari ketiga mentashih al-Quran Digital Kemenag RI, dan di hari kelima kami mentashih al Quran tajwid warna. Sungguh sangat tidak dibayangkan, ketika kami mentashih dari beberapa mushaf al-Quran tersebut, konsentrasi dan keteliatan adalah modal awal untuk dapat mentashih secara benar dan tepat. Ternyata tidak hanya bacaan al Qurannya saja yang diteliti, namun seperti tanda waqaf, hizb, penggolongan surah, juga harus diteliti.

Hari demi hari telah kami lalui selama lima hari, rutinitas kami selam seminggu seperti ini. Tiap pagi berkumpul di halte UIN Jakarta pada pukul 08.00. dan sampai lokasi sekitar pukul 09.00. Sesuai kesepakatan, kami mulai bekerja di kantor pukul 09.00-15.00. Meski terkadang kami merasa lelah, dan pulang dalam keadaan mengantuk dan lemas. Namun berkat dari sebuah pengalaman tersebut, kami merasakan kenyamanan dengan mereka semua, perhatian yang penuh, dan keikhlasan kami mengabdi untuk masyarakat pula. Karena al-Qur’an yang telah ditashih pastinya akan dibaca, dipelajari oleh masyarakat banyak, baik di kalangan awam maupun atas.

Alhamdulillah, lima hari telah berlalu kami lewati, dan di hari terakhir kami melaksanakan penutupan magang bersama Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu LPMQ. Banyak kesan, pesan, pelajaran, dan kenangan selama kami mengabdi di sini. Merupakan suatu peluang dan motivasi bagi mahasiswa jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsiragar bisa berdiskusi dan bergabung kembali disini bersama mereka semua. Pesan dari mereka, kapanpun kalian akan berkunjung kesini, ketika di waktu luang, jenuh, dengan maksud dan tujuan tertentu, silahkan datang kesini saja, pintu kantor akan selalu terbuka untuk kalian.

Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, yang telah membimbing, mengarahkan, dan berbagi pengalaman dengan kami selama magang disini. Waktu yang singkat, hari yang terus berlalu, perjalanan yang panjang, selama disini kami mendapatkan kesan yang baik, bisa mentashih berbagai macam mushaf al-Qur’an, yang nantinya akan digunakan dan diabadikan oleh masyarakat Muslim yang benar-benar ingin mengambil sebuah pelajaran dari al-Qur’an. Semoga pahala dan kebaikan akan selalu tercurahkan kepada Bapak dan Ibu sekalian, dan mohon doanya agar kami bisa segera menyelesaikan pendidikannya di jenjang S1 ini, dengan tepat waktu, sesuai proses, dan dimudahkan oleh Nya, Aamiin. (Syahrul Priandi)